Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Monday, December 15, 2014

Festival GLOW, Eindhoven!

Pasti kita sering mendengar kalau di luar negeri itu biasanya banyak festival. Nah, di Belanda juga seperti itu. Bulan lalu, ada salah satu festival meriah yang diadakan di kota tempat saya tinggal, Eindhoven. Namanya Festival GLOW. Festival ini merupakan festival tahunan yang diadakan di Eindhoven. 

For your information, Eindhoven itu dikenal sebagai kota cahaya - light city - licht stad. Yaa..kalau mau dirunut-runut, ini karena Philips, iya Philips yang jadi salah satu perusahaan besar di dunia itu, lahir di kota ini. Kan kita tahu juga kalau salah satu produknya yang terkenal adalah lampu. Lalu apa hubungannya dengan festival ini? Pertunjukan utama dari festival ini adalah dengan mempergunakan lampu (dengan bermacam bentuk tentunya), di setiap bagian fetivalnya. Dan tidak tanggung-tanggung, lokasinya menyebar di penjuru pusat kota. Jadi memang musti mempersiapkan banyak tenaga. Oh iya, kalau soal waktu, biasanya festival ini diadakan bulan November sekitar satu minggu lamanya. Kalau-kalau ada yang ingin menjadikan referensi festival yang ingin dikunjungi untuk tahun depan. Dan pastinya..festival ini paling baik dinikmati malam hari. Ya iyalah..

Selanjutnya, seperti biasa, biarkan foto-foto yang memberikan sedikit gambaran festivalnya.

Saya tidak tahu ini istilahnya apa. Pokoknya, bangunan gereja ini dijadikan background untuk pertunjukan. Sudah sering sih pertunjukan macam ini dimana-mana. Tapi dengan background gereja yang merupakan bangunan klasik, ini yang menjadikannya salah satu pertunjukan paling menarik. (Sayang kualitas kameranya tidak bagus untuk mengambil gambar di malam hari)

Salah satu cafe di sudut kota yang sedang ramai pengunjung. Anyway, jarang-jarang lho di Belanda banyak kerumunan orang begini.

Yang satu ini semacam hasil prakarya yang dipajang di suatu lokasi semacam taman. Salah satu tempat yang baru sekali itu saya kunjungi karena lagi-lagi ini di salah satu sudut yang jarang saya lewati. Lumayan juga menemukan tempat baru.

Untuk sampai ke tempat satu ini, harus menggunakan bus dengan perjalanan sekitar 10 menit. Beruntungnya, busnya gratis. Dan dari sini, perjalanan baru dimulai. Ada hampir 20 wahana yang ada di tempat ini.

Kalau ingin tahu cara kerjanya, cukup dengan melewati lampu-lampu ini dibawahnya. Lampu ini mendeteksi panas tubuh untuk kemudian menyala kalau ada orang yang lewat dibawahnya.

Lampu-lampu yang dipasang dijalanan ini pun juga mendeteksi pejalan yang lewat di atasnya. Kalau ada yang lewat, lampu-lampu ini akan menyala.

Kalau yang satu ini bisa dibilang lebih ke arah seni yang menggabungkan lampu-lampu dan prinsip optik. Ada beberapa jenis bentuknya. Kalau melihat secara langsung, akan semakin takjub.

Ada salah satu tempat yang diberi pencahayaan warna-warni. Saat lampu-lampu itu menyala dan mengenai salah satu bangunan, ya bisa dilihat seperti di atas. 


Dengan memanfaatkan lampu warna-warni yang sama, susunan balok-balok ini menjadi bagus dilihat.

Batu-batu ini berisi lampu. Jika ingin menyalakannya, justru harus meletakkannya di lantai. Kalau dipegang lampunya akan mati.

Salah satu bangunan unik dengan pencahayaan yang unik pula.

Terakhir...saya numpang narsis dengan teman-teman saya :D



Wednesday, January 15, 2014

Mengisi Waktu di Misi 14 Hari

Postingan telat? Tak Apalah ya.. *abaikan*

Nah,, sekitar dua minggu lalu, selama dua minggu penuh (23 Desember 2013- 4 Januari 2014) saya 'ikut-ikutan' acara yang dibuat oleh rekan saya, Fina, acara  untuk mengisi liburan anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya. Jadi kan akhir tahun lalu menjadi liburan akhir semester untuk adik-adik SD kita. Fina berinisiatif untuk membuat acara mengisi liburan adik-adik SD di lingkungan rumahnya. Namanya mengisi liburan konsepnya fun- fun saja. Tapi, tetap ada muatan positif yang ingin ditanamkan kepada anak-anak ini. 

Awalnya, saya sendiri sebenarnya baru saja mengenal Fina. Bahkan bertatap muka dengannya, dan beberapa teman baru lainnya, baru sehari sebelum pelaksanaannya. Kalau saya pikir aneh juga. Terlibat dalam two-week-event dengan orang-orang yang beberapa baru saya kenal. 'That's gonna be awesome!', I thought. Itu baru dengan panitianya. Kalau dengan adik-adiknya yang ada sekitar 40an anak yang belum pernah saya kenal sebelumnya, jelas akan memberikan pengalaman tersendiri. Namun demikian, karena semangat kami yang satu visi alhamdulillah acaranya berjalan lancar.

Kurang lebih itu alasan saya mengiyakan kenapa saya mau terlibat. Saat ditawari via whatsapp ya saya iyakan saja. Ohiya, lokasinya juga dekat dengan rumah saya ding. Jadinya ya kenapa tidak?

Untuk acara, bentuknya seperti membuat 'every single day has its own theme'. Fina sudah dengan sangat rapinya mengonsep tema-tema per-harinya bahkan sebelum saya join. Jadi tinggal menjalankan konsep itu dengan detil masing-masih tema. Berhubung ada 14 hari, dibutuhkan PJ untuk memikirkan bentuk acara tiap-tiap hari. Kalau jam pelaksanaannya sendiri dari jam 9 pagi sampai 12 siang. Anak-anak diberikan semacam buku harian juga sebagai monitoring harian. Ada bintang apresiasi juga yang diberikan setiap harinya kepada anak-anak untuk membuat mereka semangat.

Okelah lanjut ke acara per harinya aja deh ya:

1. Word Day
Sebagai hari pertama, bentuknya tidak terlalu berat tentunya. Karena baru bertemu pertama kalinya, tentu menitikberatkan lebih ke perkenalan. Seperti halnya di sekolah kami bersama-sama memilih ketua kelas dan membuat tata tertib kelas. Nah untuk kegiatan 'bermain'-nya me-refer ke word day hari itu kami membuat tulisan ' AKU BANGGA MENJADI ANAK INDONESIA'! Jadi ingat lagu Tasya saat kecil dulu :D
Hasil prakarya hari pertama
Salah satu 'curhatan' di Buku Harian anak-anak

2. Sharing Day
Di hari kedua, temanya sedikit lebih berat. Teman saya alumni Pengajar Muda, Faisal, berbagi cerita tentang anak-anak di Tambora, Tanah Sumbawa. Melihat kondisi teman-teman di Tambora yang berbeda jauh dengan di Jakarta menyadarkan anak-anak untuk peka dan bersyukur atas yang dimiliki saat ini. Selain itu, semangat belajarnya harus tidak boleh kalah dengan teman-teman yang di Tambora sana. Setelah sharing tadi, masing-masing anak disuruh untuk membuat surat atau gambar untuk teman-teman di Tambora. 

Faisal menjelaskan kondisi teman-teman di Tambora
Salah satu surat yang ditulis untuk teman-teman di Tambora

3. Movie Day
Nah kalo hari ketiga ini lumayan ringan. Hari itu kita cuma menonton. Kita bawa tuh proyektor agar bisa menonton rame-rame. Judul film yang kami tonton adalah 'Rumah Tanpa Jendela'. Tapi tetep ya, bukan sekedar menonton, anak-anak harus tahu pesan yang diambil dari film itu. Jadi ada kuis yang musti dijawab biar tahu pesan yang ada di film itu.
Suasana saat nonton :)

4. Dream Day
Saya itu suka penasaran dengan cita-cita dari anak kecil. Kalau mereka menyebutkan cita-cita, mereka seringkali terlihat lucu. Di Misi 14 Hari, hari tentang cita-cita ditempatkan di hari keempat ini. Awalnya mereka dikenalkan dengan berbagai macam profesi, not the common ones apparently. Setelah itu, mewarnai gambar profesi. Selanjutnya baru menceritakan cita-cita di dalam grup dan tidak lupa mendoakan masing-masing cita-citanya. Terakhir, kita berkomitmen untuk meraih cita-cita itu dengan 'menandai' janji kita. Semoga cita-cita kita terkabul, aamiin :)
Semua cita-cita dikumpulkan di dalam botol ini

We promise to pursue our dreams

5. Sport Day
Inilah hari yang menggunakan fisik sepenuhnya. Namanya juga Sport Day. Anak-anak zaman sekarang kan sudah jarang beraktivitas fisik, jadi kita kenalkan lagi. Sesi pertamanya adalah senam dengan musik fenomenal Psy, Gangnam Style. Setelah itu dilanjutkan dengan permainan tradisional gobag sodor dan kasti. Bisa dibilang olahraga lah ya. Lagipula, mengenalkan lagi permainan tradisional ke mereka kan?
Dimulai dengan senam pagi dulu


Kasti, salah satu olahraga yang diajarkan


6. Science Day
Ini hari yang berkaitan dengan fisika. Fasilitatornya pun dari teman-teman Fisika UI. Sepertinya akan berat nih? Well,, memang ilmunya mungkin rada berat, tapi aktivitasnya tetap seru. Jadi waktu itu kami menjadikan buah-buahan sebagai sumber listrik, untuk menyalakan lampu LED. Anak-anak heran dan antusias untuk membuktikannya. Kalau ilmunya nanti lagi deh belajarnya :p

Percobaan rangkaian listrik dengan buah


7. Hello Day
Another difficult day, mungkin? Menurut saya lho ya. Seusia SD saya dulu sepertinya akan sulit untuk melakukan misi hari ke-7 ini. Bahasa kerennya di hari ini adalah tentang sosialisasi. Macam anak SD tahu istilah itu, ha?hahaha..Lebih dari itu malah. Mereka harus belajar tentang pencegahan demam berdarah dengan gerakan 3M plus penggunaan bubuk abate. Setelah itu, mereka mengkampanyekannya door to door ke warga. And, they were doing great eventually!
Kampanye mengunjungi warga tentang pencegahan DBD


8. Clean Day
Okay..Clean Day itu tentang kesadaran 'bersih-bersih'. Awalnya dikenalkan tentang pentingnya kebersihan, obviously. Contoh paling simpel adalah menyimpan sampah di kantong kalau tidak menemukan tempat sampah. Setelah itu, baru kita membuat poster tentang kebersihan lingkungan. The best one, received award of course!
Hasil poster dari salah satu kelompok, and this group is the winner!

9. Art Day
Di hari 'kesenian' ini, lagi-lagi kami membuat prakarya. Bukan sekedar prakarya tentunya. Ada pesan 'terima kasih' yang ditujukan ke siapapun. Rata-rata anak-anak membuatnya ditujukan kepada orang tua mereka. 
Salah satu ucapan yang dibuat

Hasil kerajinan anak-anak


10. Health Day
Di hari ke-10, Health Day, ada dua hal yang kami pelajari terkait kesehatan yaitu pentingnya cuci tangan dan gosok gigi. Tidak hanya itu, kami juga mempraktekan cuci tangan dan gosok gigi yang baik dan benar seperti yang disampaikan oleh teman-teman FKG. 

Praktek cuci tangan yang baik dan benar

Praktek langsung sikat gigi


11. Plant Day
Plant day ini PJ-nya saya sendiri (terus?) Awalnya saya bingung kalau hanya mengajarkan cara menanam. Jadi saya sempat berikan alasan kenapa kita musti mencintai tanaman dan melestarikannya. Nah setelah itu baru praktek menanam. Menanam tanaman hias di polibag saja sih sebenarnya. Semoga mereka semakin mencintai lingkungannya.
Mereka juga tahu kalau cacing baik untuk tanaman

Hasil akhir menanam


12. Cake Day
Cake Day ini seru juga lho. Anak-anak diajari untuk membuat kue. Kue yang simpel saja,bola-bola cokelat, tapi seru! Waktu itu kami juga membuat lemon tea!
Pembuatan bola-bola cokelat


13. Outbound Day
Sepertinya ini menjadi salah satu hari yang paling seru dibandingkan hari lainnya. Penuh dengan aktivitas fisik dan beberapa jenis permainan. Ada lima pos yaitu estafet karet gelang, joget balon, gobak sodor, voli balon air, dan estafet tepung. Kotor pasti! Tapi seru banget!
Estafet karet gelang

Gobak sodor


14. Culture Day
Culture Day ini menjadi tema di hari terakhir. Saat itu anak-anak dikenalkan dengan salah satu budaya Indonesia yaitu wayang. Ada pertunjukkan wayang kulit, wayang golek bahkan wayang orang juga. Setelah itu, anak-anak diminta untuk membuat mozaik wayang.
Pertunjukan Wayang Orang

Mozaik wayang


Untuk penutupannya sendiri sama dengan Culture Day. Tokoh masyarakat setempat mendukung kami dalam menyelenggarakan acara ini. Mereka membantu menyewakan tenda untuk penutupan. Saat penutupan ini semua anak-anak dan orang tuanya diundang. Seluruh hasil kegiatan juga ditampilkan disini. Anak-anak dengan inisiatifnya juga membuat pertunjukan untuk penutupan tersebut. Mengharukan sekali..

Selesai penutupan, selesai sudah acara Misi 14 Hari. Setelah ini saya akan jarang sekali dengan teman-teman baru saya, baik para fasilitator maupun anak-anak. Tapi yang pasti saya bersyukur atas pengalaman yang saya dapatkan dari acara ini. 

Terakhir tentu saya berterima kasih kepada Fina dan teman-teman, anak-anak, dan yang lainnya yang memberikan saya pengalaman berharga ini. 

PS: Cerita lengkapnya sampai ke aktivitas harian silakan cek di blog Fina.

*) All photos are from blog fina,too.

Friday, August 16, 2013

Biasa Mudik, Ini Bukan Mudik Biasa

Tepat satu menit sebelum tengah hari HP saya berdering. Ternyata telepon dari petugas bus yang menunggu kedatangan saya. Satu menit berikutnya saya seharusnya sudah berada di terminal. Tapi kenyataannya setengah perjalanan pun belum saya tempuh. Dengan nada sopan ibu di seberang bilang bahwa saya tetap akan ditunggu. Toh busnya sendiri juga belum datang. Setidaknya demikianlah keterangan petugas tersebut yang sedikit menenangkan saya.

Mudik kali ini sepertinya akan menjadi cerita tersendiri. Kalau bicara firasat, semenjak meninggalkan rumah pun rasa-rasanya kok memang ada yang mengganjal hati. Diawali dengan packing yang gelagapan dari hari sebelumnya. Lalu pagi hari sebelum berangkat tadi, karena tidur yang kebablasan menjadikan keberangkatan tadi sangat terburu-buru. Macet menuju terminal ini pun di luar dugaan. Seharusnya saya sudah sampai terminal sejak lima belas menit yang lalu.

Setengah jam berikutnya, akhirnya saya sampai di terminal. Buru-buru saya menuju loket dan mencari petugas bus yang menunggu saya. Dan beruntungnya saya benar-benar masih ditunggu. Walaupun saya merasa bersalah karena terlambat, saya memang tidak menelepon kembali petugas tersebut untuk memastikan atau mungkin memohon agar tidak ditinggal. Entahlah, saya hanya tidak ingin. Tapi toh akhirnya memang saya tidak ditinggal kan?

Hanya sebentar saja saya berbicara dengan petugas tersebut. Disana saya hanya menukar kuitansi dengan tiket. Dan wait? Fasilitas makan malam di-cancel karena hanya tiga orang yang menginginkan fasilitas tersebut. Aduh,, buka puasa saya nanti bagaimana ceritanya. Sepuluh ribu dari 350 ribu rupiah dikembalikan sebagai pengganti uang makan malam. Kecapekan saya karena macet tadi membuat saya malas beradu argumen. Pun sepertinya akan sia-sia saja. Dengan langkah gontai saya menuju bus. Terpampang di sisi bus tulisan 'Angkutan Lebaran 2002'. Benar-benar bercanda ini. Pantas saja bentuknya sudah ya-begitu-lah. Busnya terlihat seperti kakek renta karena besi-besi yang keropos dan cat yang mengelupas. Saya mencari kursi nomer 13 milik saya. Setelah mengatur tas-tas, saya langsung duduk. Dudukannya terlalu tegak. Tuas pengatur dudukan tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Okay, inilah kursi nomor 13 sodara-sodara. Saya semakin siap kalau-kalau ada kejutan lagi di depan sana. Pukul 13.00 bus yang saya tumpangi meninggalkan terminal. Be nice with me, ya Pak Tua.

Sekitar pukul empat saya terbangun dari tidur. Semenjak masuk tol tadi memang saya hanya mengabiskan waktu untuk tidur atau membaca. Rekan duduk sebelah saya- anak kecil seusia awal belasan tahun- sedang ngemil makanan dengan adiknya yang duduk di depan. Rupanya dia tidak puasa. Udara terasa panas sekali seakan AC-nya tidak berfungsi. Sepertinya inilah yang membangunkan saya. Tidak juga. Di luar berbagai jenis kendaraan berjajar hampir tidak bergerak. Inilah yang membuat udara bus makin panas. Ketika saya cek google-maps, ternyata saya sedang di sekitar Cikampek. Di depan sana ada perempatan, mungkin disanalah titik kemacetannya. Hanya beberapa ratus meter. Dan itu saya jadikan penghiburan diri.

Setelah melalui dua jam yang terasa panjang, bus berhasil membebaskan diri. Benar saja, perempatan tersebut yang menjadi biang -kemacetan. Orang-orang yang masih menunaikan puasa mulai riuh berbuka. Saya sendiri hanya mengambil beberapa teguk air dan sebungkus beng-beng. Seharusnya bus akan berhenti sebentar lagi untuk memberikan kesempatan berbuka. Orang-orang yang membawa bekal, lantas menyantap bekal mereka masing-masing. Lambatnya jalan bus ini membuat kantuk saya datang kembali. Tidur mungkin pilihan yang tepat sambil menunggu tempat pemberhentian.

Orang-orang di bagian depan ramai sekali, terutama didominasi oleh teriakan ibu-ibu. Sontak saya kaget lalu terbangun. Mobil tiba-tiba menepi. Karena masih mengumpulkan nyawa, saya masih belum begitu bisa mencerna situasi. Lamat-lamat saya dengar suara ibu-ibu yang menyebutkan api atau semacamnya. Ternyata muncul api dari dashboard sopir. Saya pun bingung bagaimana bisa terjadi. Tapi memang demikian infonya. Penumpang yang duduk di belakang saya menasehati sopir untuk segera berhenti beristirahat karena sudah waktunya istirahat sejam beberapa jam yang lalu. Terlebih lagi bagi yang berpuasa juga belum berbuka puasa. Saya langsung ingat kalau perut saya hanya diganjal sebungkus beng-beng. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9.

Akhirnya bus berhenti. Saya kurang tahu ini di daerah mana karena saya juga tidak begitu hafal. Buru-buru saya mencari makan malam-buka puasa. Soto dan teh manis yang hangat sepertinya akan bersahabat dengan perut saya yang telat makan ini. Setelah memesan, saya langsung menuju kasir. Harga totalnya 28 ribu rupiah saja. Baiklah ceritanya ini nombok 18 ribu dari uang yang dikembalikan petugas tadi. Perut yang kenyang memang mangantarkan pada kantuk. Sekembalinya saya ke bus, saya langsung tidur sajalah.

Benar saja, tak perlu menunggu waktu lama bus pun langsung berangkat. Tak jauh dari tempat keluar rumah makan bus mengisi bensin di pom yang letaknya tak begitu jauh. Ternyata saya tidak langsung tertidur. Penjual makanan dan minuman berlalu lalang di dalam bus menawarkan makanannya. Saya ditawari miz*ne seharga tujuh ribu rupiah. Woww wait,,walaupun saya jarang sekali meminum minuman ini saya kira harganya tidak semahal itu. Tapi memang akhirnya tidak saya beli juga minuman itu. Sesaat sebelum bus melanjutkan perjalanan bapak bangku sebelah memasangkan earphone beats yang setahu saya mahal itu ke handphone nokia monochrome. Iya monochrome. Kombinasi yang tak lazim bukan? Oalah, dunia ternyata sedang ingin menghibur saya. Senyum tersungging. Tertawa, di dalam hati saja. Tak lama saya terlelap.

Saya terbangun karena kegerahan. Tangan saya mencari-cari HP untuk mengecek waktu. Ternyata tepat tengah malam. Mata saya berkeliling mempelajari keadaan. AC mati karena mesin mati. Mesin mati karena bus berhenti. Masuk akal! Panasnya minta ampun!

Sepertinya keadaan tidak sesederhana itu. Mobilnya ternyata berhenti di tengah jalan, mogok! Sebagian penumpang sudah turun dari bus. Kepanasan seperti halnya saya. Saya lantas ikut-ikutan turun. Dan akhirnya saya mendapati kenyataan bahwa oli busnya habis. What??!! Apalagi ini? Di belakang bus kendaraan mengular dan macet. Banyak polisi sudah di sekitaran bus mengatur jalanan yang macet, menginterogasi sopir-kondektur, atau melakukan kontak dengan polisi lain. Sementara itu, oli pun sedang diisi. Entah mendapatkan oli dari mana awak bus tersebut.

Kondisi bus memang mengkhawatirkan terkait dengan usianya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa bus tersebut seharusnya digunakan sebagai angkutan lebaran lebih dari satu dekade lalu. Menyadari kondisi ini, tidak hanya penumpang yang khawatir, tapi juga para polisi. Sempat saya dengar kalau polisi ingin memaksa untuk memindahkan penumpang ke bus lain dengan catatan semua biaya ditanggung pihak bus. Setidaknya demikianlah yang saya dengar. Dari awak bus saya mendengar kalau dia akan memberhentikan bus dan dari arah Solo menuju Jakarta untuk menjadi bus pengganti.

Bus berhasil berjalan normal kembali. Dalam waktu setengah jam kami sudah tiba di Terminal Cirebon. Awak bus memenuhi janjinya untuk memberikan bus pengganti. Tapi kami harus menunggu satu jam ke depan. Okay, safety first. Di Cirebon pukul satu malam padahal normalnya sekitar magrib. Sudahlah, safety first okay.

Pukul tiga pagi, saat waktu sahur, bus akhirnya datang. Kondisinya jauh lebih baik dari bus sebelumnya tentunya. Setidaknya hal ini melegakan bagi kami para penumpang dan tidak membuat khawatir. Para penumpang bergegas naik dan menempati tempat duduk sesuai dengan nomor tempat duduknya. Dan tak perlu waktu lama kami langsung berangkat. Sebelum melanjutkan perjalanan terlalu jauh, bus sempat mampir ke rumah makan untuk memberikan kesempatan bagi yang ingin melakukan sahur.

Dengan kondisi bus yang baik ini , perjalanan pun berlanjut aman dan nyaman. Dalam dua belas jam bus tiba di Terminal  Tirtonadi, Solo. Lumayan lama. But, it's okay yang penting selamat. Saya sempat khawatir tidak memperoleh bus ke arah rumah saya. No more bad luck now! Masih ada bus mengarah rumah saya. Dalam satu atau dua jam ke depan I'll be at my home. Well, perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, 28 jam. Beginilah mudik, kalau tidak begini, bukan mudik namanya. Some say so...


  

Thursday, July 4, 2013

Event Sharing dan Diskusi: Makna Sebuah Perjalanan

Berhubung saya saat ini sedang menjadi pengangguran, jadinya banyak waktu luang. Terlebih waktu luang untuk melakukan hal iseng. Dan satu ketika, saya iseng-iseng mengikuti sharing dan diskusi tentang traveling yang diadakan oleh salah satu komunitas traveling yaitu TravellersID (@TravellersID). Sendiri saja, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti  sharing tersebut. Sharing tersebut bertemakan "Makna Sebuah Perjalanan". Satu lagi, diskusinya ini for free alias gratisan, so kenapa tidak?

Untuk pembicaranya sendiri, diundang lima orang traveler Syukron, Lukman, Agustinus, Dina, Ryan. Syukron merupakan perwakilan dari Kaskus Traveler. Lukman merupakan traveler dari Hifatlobrain. Agustinus Wibowo merupakan traveler dan penulis buku. Sedangkan Dina-Ryan merupakan pasangan traveler yang tidak memiliki rumah dan traveling keliling dunia selama bertahun-tahun. Dari kesemuanya, yang saya tahu sedari awal hanya pasangan Dina-Ryan ini. Sesampainya disana, banyak sekali traveler yang baru saya tahu. Termasuk Agustinus Wibowo yang sudah menelurkan tiga buku keren.

Di postingan ini akan saya coba menuliskan kembali dari apa-apa yang disampaikan oleh tiap-tiap traveler tersebut. Tapi, mohon maaf sekali mungkin tidak semuanya dapat saya tuliskan kembali disini. Maklum, keterbatasan memori otak saya dan tidak saya catat (kesalahan besar pastinya),hehe. Yang penting bermanfaat dan menambah keinginan buat traveling more kan? Okay, mari kita mulai.

  1. Syukron, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, merupakan perwakilan dari TravellerKaskus (@TravellerKaskus ). Agan satu ini berbagi kisah tentang dirinya yang berasal dari tanah Papua tapi pada awalnya tidak menyadari seperti sekarang ini, bahwa Papua sudah menjadi seperti surga. Perantauannya ke ibukota selain menambah ilmu ternyata menambah pertemanan. Dan ketika di Jakarta inilah yang membuatnya heran kenapa orang-orang melakukan traveling. Bahkan kampung halamannya menjadi salah satu destinasi favorit. Tentu, hal ini membuatnya semakin bangga dengan tanah kelahirannya tersebut. Untuk alasan dia kenapa begitu mencintai traveling, simply karena ingin mencari teman-teman baru, bertemu orang-orang baru, dan itu sangat manyenangkan. Dan memang, menemukan karakter-karakter baru dalam setiap perjalanan kita memberikan pelajaran tersendiri bagi diri kita bukan?

  1. Lukman, traveler satu ini perwakilan dari Hifatlobrain (@Hifatlobrain). Saya tidak familiar dengan komunitas tersebut. Tapi yang pasti traveler ini niat sekali  karena katanya jauh-jauh dari Surabaya cuma untuk berbagi cerita di sharing waktu itu. Satu poin menarik yang dia ungkapkan adalah melalui traveling mengajarkan dirinya menjadi lebih kritis dan analitis untuk menjadi lebih 'manusiawi'. Lukman memberikan contoh ketika dirinya ke Bali sekitar tahun 2006, dia mendapati warga lokal mengantre air bersih padahal di sampingnya ada bangunan hotel menjulang tinggi. Kontras sekali bukan? Traveling memang mempertajam nurani diri. Akan tetapi, dalam dirinya kadang ada tekanan batin dengan hal yang digelutinya ini. Seringkali dipertanyakan oleh keluarga mengenai profesi yang settle. Atau terkadang muncul tekanan-tekanan ketika dia membandingkan kondisinya dengan kondisi teman sebayanya. Tapi pada akhirnya dia mendapati pencerahan bahwa mungkin ketika dirinya di posisi seperti teman-temannya yang lain, dia tidak akan sebahagia seperti saat ini. Dengan kondisinya sekarang dia sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya. Dan ketika ada hal yang diinginkannya, ya harus berusaha keras terlebih dahulu untuk mendapatkannya. Benar-benar pemikiran yang keren ya? Buah dari sering-sering traveling sepertinya.

  1. Pasangan suami istri Dina-Ryan atau biasa dikenal Dua Ransel (@DuaRansel ), salah satu traveler favorit saya. Saya sih takjub melihat keduanya tidak tanggung-tanggung melepaskan tempat tinggal settle dengan segala printilannya dan hidup di manapun di tanah di bumi ini dengan berbekal ransel mereka masing-masing. Ya, hanya ransel saja, bahkan dina menyebutkan bahwa ranselnya itu lah rumahnya. Dina berbagi kisah ketika pertama kali keduanya bertemu di Jepang dan memberikan kenangan yang sangat membahagiakan bagi keduanya. Perjalanannya ini pun dijadikannya sebagai contoh bahwa traveling itu bukan sekedar destinasi. Setiap pejalan akan memperoleh experience unik walaupun pada destinasi yang dituju sama. Melalui perjalanannya dalam empat tahun terakhir mengajarkannya bahwa traveling itu yang hidup itu sendiri. Hidup itu tidak selalu untuk menjadi hidup normal tapi untuk menciptakan hidup yang baik , tidak ada stereotype buruk dan open minded, it's just simple life. Sementara itu, walaupun Ryan tak banyak bercerita, melalui traveling, dia hidup dengan sederhana, hidup dengan bebas, hidup di setiap momen yang ada tanpa ada perencanaan dan selalu siap untuk segala kondisi, apapun itu.

  1. Last but not least, Agustinus Wibowo (@avgustin88 ) sesorang yang menulis buku yang hasil dari traveling di berbagai negara. Sorry to say, saya sendiri belum membaca bukunya tapi sudah banyak yang merekomendasikan. Walaupun sudah malang melintang di berbagai negara, ternyata dulunya dia bukan orang yang menyenangi traveling alias anak rumahan. Dia menceritakan traveling pertamanya yang termotivasi oleh temannya- orang Jepang yang berani berkeliling Asia Tenggara padahal tidak bisa berbahasa Inggris. Perjalanan pertamanya adalah pergi ke Mongolia . Sebuah perjalanan yang tidak berjalan mulus karena dirampok. Namun, menurutnya, hal-hal seperti inilah yang menyenangkan dari traveling- ketika ada 'kerikil' perjalanan dan tidak semua berjalan dengan semestinya. Dan dari kerikil tersebut selalu ada hal yang diajarkan. Misalnya, ketika dia jatuh sakit karena hepatitis saat di Pakistan kemudian ditolong oleh seseorang yang justru merawat dengan sangat baik dengan diberikan ranjang dan kamar terbaik. Dan dari situ pula dia mendapat pelajaran dari orang yang menolongnya tersebut bahwa " Dalam hidup tidak penting seberapa banyak yang dikumpulkan tapi seberapa banyak yang bisa diberikan dan seberapa besar membuat hidup ini berarti untuk orang lain". What a thought! Satu hal lagi dia menyampaikan bahwa "Pada akhirnya pulang adalah jalan yang harus diambil oleh setiap pejalan". Superb!! I am wondering his books tells about.

Kira-kira demikianlah hasil saya mengikuti sharing dan diskusi "Makna Sebuah Perjalanan". Mas Toni dari TravellersID pun berharap melalui diskusi dan sharing ini para traveler dapat menggali lebih tentang traveling bahwa ini bukan hanya mengenai destinasi-destinasi perjalanan yang ada, keindahan-keindahan tempatnya, atau cara ke tempat-tempat tersebut, tetapi lebih kepada memperoleh pengalaman dari setiap perjalanan yang dilakukan oleh tiap pejalan, tentang makna sebuah perjalanan.

Terakhir saya tutup dengan quote yang saya peroleh dari undangan acara ini: " If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home" ~ James A. Michener.


PS: Pesertanya masih dapet souvenir lho dari TravellerKaskus padahal acaranya gratisan,hehe. Tidak tanggung-tanggung souvenirnya dapat banyak, ada poster, kalender, CD wisata Indonesia, guidebook wisata Indonesia. Mantap!!


Wednesday, June 12, 2013

Paralayang di Langit Batu, Malang

Paralayang? Salah satu hal yang tak pernah saya bayangkan untuk saya coba. Bukan karena saya memiliki acrophobia- phobia terhadap ketinggian, tapi saya tidak menyangka akan menjadi seorang pertualang sampai-sampai memberanikan diri untuk mencoba olahraga ekstrim satu ini. Dan jadilah, saat itu saya yang ingin memacu adrenalin, mencoba olahraga paralayang. Kala itu, di Batu Malang saya memperoleh pengalaman mengudara dengan paralayang ini.

Lalu bagaimana saya mencapai Batu, Malang saat itu? Sebenarnya bisa dibilang merupakan suatu kebetulan untuk berlibur di Malang. Hal ini karena pada saat itu kantor saya mengirim saya ke daerah Malang. Melewati salah satu weekend di Malang yang lengang, saya dan beberapa teman berkeinginan untuk sekaligus berliburan. And finally, kami memutuskan untuk pergi ke Batu karena memang sudah terkenal dengan tempat wisatanya.

Pada awalnya kami belum juga mengetahui ke daerah wisata mana yang akan kami kunjungi. Mencari tempat wisatanya sendiri tidak lebih mudah daripada saat menentukan Kota Batu sebagai tujuan kami. Jadi, sebenarnya waktu itu setengah tidak peduli dan setengah awam juga. Satu hal yang pasti, kami ingin ke Batu, ingin bermalam di sana, ingin liburan di Batu esok harinya, that’s it! Akhirnya, setelah makan malam di Penyetan Bu Kris, Malang,  kami serombongan langsung menuju Batu, ke penginapan di daerah Songgoriti lebih tepatnya.

Sesampainya di penginapan, tugas utama kami adalah mencari tujuan wisata esok hari. Waktu itu sebenarnya kami masih lumayan lelah karena pekerjaan. Tapi, apa boleh buat daripada keesokan harinya tidak jelas. Beruntungnya kami membawa leptop yang mempermudah googling sana-sini. Browsing,sambil ngemil, sambil ngobrol, sambil nonton TV,dan..done! Esok harinya kami berencana untuk paralayang, air terjun coban rondo, BNS lalu pulang.

Keesokan paginya kami sudah bersiap-siap untuk paralayang ria. Sembari mencari sarapan pagi kami hubungi mas yosi-CP paralayang. Kami mendapatkan kontaknya dari googling malam sebelumnya. Sebenarnya base penyedia paralayang ini tidak jauh dari tempat kami menginap. Namun sialnya, rombongan sudah lebih dahulu menuju bukit tempat paralayang. Kami beruntung membawa driver pada saat itu sehingga memudahkan kami menyusul ke bukitnya. Untuk mencapai bukit ini, kami mengikuti jalan ke arah Kediri. Selain mengikuti panduan Masy Yoshi, di beberapa tempat di pinggir jalan terdapat papan penunjuk arah bukit, sangat membantu. Dan yang tak kalah penting adalah pemandangan menuju bukitnya itu, indah sekali!!
Ternyata wisatawan yang ingin mencoba paralayang ini lumayan banyak juga. Sesampainya di bukit, sudah banyak yang mengantre. Saya sendiri harus menunggu beberapa waktu sampai tiba giliran saya. Sebenarnya malah bagus kalau ada waktu menunggu. Jadi bisa memiliki waktu untuk membulatkan tekad atau membatalkannya. Waktu itu memang sensasinya,yaa…begitulah..tidak bisa digambarkan, silakan dicoba sendiri :p

Berhubung ini salah satu olahraga yang cukup ekstrim, security itu penting. Yang menjadi concern pertama adalah berat badan. Berat badan ini menjadi pertimbangan pasangan tandemnya nanti (Saya kurang tahu untuk kualifikasi paralayang solo). Karena saya termasuk yang underweight jadilah saya dipasangkan dengan tandem yang agak gemuk. Kedua adalah alas kaki. Sangat disarankan untuk menggunakan sepatu, sepatu outdoor lebih bagus lagi. Saat itu saya hanya menggunakan sendal tapi Mas Yoshi dengan baik hati mencarikan sepatu untuk saya. Selanjutnya adalah perlengkapan lain seperti helm, strap pengaman, parasut ekstra dan lainnya yang juga disediakan dari sana. Yang terakhir dan yang tidak kalah penting adalah pengarahan untuk mengudara nanti. Harap diperhatikan sebaik-baiknya.

Setelah salah satu teman saya terjun, tiba giliran saya untuk terjun. Hamparan Kota Malang ada di depan saya dan membuat kaki saya di bawah sana sedikit gemetar. Informasi dari guide-nya paralayang ini 90% tidak akan pernah jatuh. Terlepas dari benar atau tidaknya, cukup menghibur saya kala itu. Parasut sudah dipasang, tandem sudah di belakang saya, siap meluncur! Dan akhirnya run..run..run..and jump!!

I’m flyiiingg!!” Teriak saya dalam pikiran. Speechless pada awalnya. Kemudian, setelah beberapa saat beradaptasi dengan sensasinya, saya mulai berbincang dengan tandem saya. Sang tandem memberikan kursus kilat untuk mengendarai paralayang tersebut. Waktu yang cukup lama di udara sampai-sampai saya tahu kalau untuk dapat menjadi atlet paralayang harus kursus dan mengambil lisensi, tahu kalau atlet paralayang bisa pergi jalan-jalan yang bahkan ke luar negeri, dan lain sebagainya tentang paralayang. 

Puncak dari pengudaraan saya adalah ketika saya ditawari untuk manuver ‘mengayun’. Saya tidak tahu manuver macam apa itu sampai saya mengalaminya.  Ternyata itu adalah manuver berputar dengan parasut sebagai pusat putarannya (sebagai gambaran seperti wahana ontang-anting di dufan) dengan kecepatan luar biasa. Sepertinya itu pengalaman kecepatan tertinggi saya, bahkan sampai saya tidak bisa berkata-kata hanya mampu berteriak karena angin menerpa wajah saya. Fiuh,, benar-benar menegangkan. Terlebih lagi, teman saya tidak merasakan manuver itu dengan tandem mereka masing-masing (bangga,hehe)

Setelah sekitar 20 menit terbang di udara akhirnya kami bersiap mendarat. Proses mendarat tidaklah semudah yang dibayangkan karena harus mengendalikan paralayang sedemikian sehingga tepat di titik tertentu. Kalau tidak berhasil, ya paling nyungsep di ladang penduduk. Tugas saya sangat mudah yakni meluruskan kaki saja ke depan dan mempercayakan pendaratan ke tandem. Bagi saya ini termasuk sulit karena rasa-rasanya ingin mendarat dengan kaki sendiri. Bayangkan saja kalau kendali mendarat tidak sepenuhnya atas kontrol diri kita, pasti masih khawatir. Tapi akhirnya saya sanggup menguasai diri dan mempercayakan kepada tandem. Jadilah, pendaratan yang mulus.

It was totally amazing experience. Mencoba paralayang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya tentu sangat menegangkan. Akan tetapi, pengalaman tersebut sangat memuaskan dan sangat menyenangkan.



PS: 
  • Postingan ini sebenarnya postingan editan dari versi Bahasa Inggrisnya. Kemudian saya ikutsertakan dalam lomba Jelajah Bumi Papua. Sampai ada pengumuman baru saya post disini. Sayangnya saya tidak memenangkan lomba tersebut.
  • Saya tidak mencantumkan foto-foto disini. Silakan dilihat original versionnya disini.


Note: 
  • Contact Person Mas Yoshi bisa googling dengan keyword “ paralayang batu malang"
  • Biaya paralayang Rp 350.000 dan jika ingin menyewa kamera Go Pro ada tambahan biaya Rp 100.000
  • Sebaiknya berangkat dari pagi agar tidak ketinggalan seperti pengalaman saya kecuali membawa mobil pribadi
  • Bagi yang ingin menginap, kawasan Songgoriti banyak menyediakan penginapan
  • Sebaiknya datang pada saat hari cerah dan jangan lupa perlengkapan seperti sepatu, celana panjang, baju lengan panjang, atau kacamata jika diperlukan.



Saturday, June 1, 2013

Trip To Jogja - Gudeg Yu Djum

Gudeg Yu Djum
Wisata kuliner di Jogja itu sepertinya hal yang wajib dilakukan. Sebagai referensi saya sempat memantau salah satu linimasa di twitter yang memberikan rekomendasi-rekomendasi tempat-tempat yang menyajikan makanan yang lezat. Pas tiba waktunya di Jogja dan memilih-milih tempat makan, saya teringat kalau Gudeg Yu Djum termasuk salah satu menu yang banyak direkomendasikan. Alhasil, ke tempat inilah saya dan teman-teman menuntaskan late lunch.

Kalau searching di google, terdapat beberapa cabang dari Gudeg Yu Djum. Untuk pusatnya sepertinya yang di kaliurang. Tapi, waktu itu kami mencicipinya di daerah Wijilan. Hal ini dikarenakan tempatnya yang tidak begitu jauh dari pusat kota. Mengingat kami harus beredar di sekitar kota sembari wisata kota dan menunggu teman saya lainnya yang akan datang.

Kami bersantap siang (yang telat) sekitar pukul tiga sore. Jadi, kami mampir untuk makan siang itu di waktu antara saya ke Tamansari dan Malioboro. Waktu itu perut saya benar-benar keroncongan karena paginya saya tidak sempat sarapan. Saat brunch di McD pukul 11 siang sebelumnya saya juga tidak memesan makanan seperti halnya yang lainnya. Oleh karena itu, saya sangat tidak sabar untuk menjejali perut saya dengan gudeg yang terkenal ini. 

Popularitas gudeg ini sepertinya memang tidak terbantahkan. Ketika saya menghampiri restonya, ada deretan mobil panjang didepannya. Tiba di depan resto lesehan itu, terlihat ramai sekali, bahkan ada yang makan sambil berdiri. Memang sih tempatnya bisa dibilang sempit. Kami bahkan sempat berpikir untuk makan di dalam mobil. But, thank God, ada bangku kosong tersisa sehingga bisa kami tempati.

Walau perut tak sabar menunggu, nyatanya mau tak mau kami harus menunggu. Usai kami memesan, butuh waktu yang cukup lama sampai kami dilayani. Padahal, hampir dari kami semua memesan menu yang sama Nasi-Gudeg-Telur-Paha. Ternyata, antrean sebelum kami memang masih banyak. Dan walaupun harus bersabar beberapa waktu, tentunya Si Gudeg datang jua.


Penyajian Gudeg Yu Djum
Gudegnya sendiri disajikan di atas piring bambu berlapis daun pisang. Dari penampilannya memang terlihat lezat dengan komposisi lengkap gudeg-krecek-semur telur-semur ayam. Tak perlu menunggu lama saya langsung melahap makanan didepan saya tersebut. Rasanya memang nikmat. Apa ya? Menurut saya cita rasa gudegnya itu pas jawanya, pas jogjanya. Berhubung saya juga lapar berat saya makan dengan lahapnya.  Yummy..walaupun porsinya terlihat sedikit, tapi mengenyangkan juga,hehe
Menyantap Gudeg Yu Djum

Afdol juga akhirnya jalan-jalan di Jogja yang lengkap dengan wisata kuliner juga. Ya..walaupun hanya satu makanan otentik Jogja yang kami coba. Lebih baik daripada tidak sama sekali kan?





Related Posts:

Friday, May 31, 2013

Trip To Jogja - Malioboro dan Benteng Vredeburg

Manusia Pohon, berlokasi di dekat perempatan.
Usai menikmati wisata sejarah Tamansari saya melanjutkan ke tempat wisata selanjutnya. Kali ini saya menikmati wisata sendiri saja karena yang lain lebih memilih untuk berbelanja. Waktu yang saya miliki lumayan lama sebelum menuju Borobudur karena sekaligus menanti kedatangan teman saya yang lainnya. Berhubung menanti teman saya yang satu ini, saya memilih untuk tetap berkeliling di daerah kota yakni Malioboro dan Benteng Vredeburg.

Ibu penjual sate
Walaupun hari semakin sore, namun sepanjang jalanan malioboro ramai sekali. Bahkan semakin sore malah semakin banyak pengunjung yang tumpah ruah di jalanan. Untuk wisatawan yang datang dari luar kota mungkin sibuk di dalam toko-toko yang umumnya menjajakan baju batik atau kaos-kaos khas jogja. Sementara yang lain, orang-orang yang duduk-duduk santai di pinggir jalan, yang menikmati riuhnya jalanan di suasana sore kota jogja adalah orang-orang lokal,  I guess. Pemandangan lainnya tentunya ramainya kendaraan yang juga menyesaki jalanan, dari kendaraan bermotor maupun kendaraan khas Malioboro -dokar dan becak. Dan satu lagi, ternyata semakin sore ibu-ibu penjaja sate keliling semakin banyak. Begini toh pemandangan akhir minggu Kota Jogja?

Wisatawan asing di pinggir jalan Malioboro

Dokar- kereta kuda yang disewakan di jalanan
Malioboro

Tak hanya melihat-lihat suasana Jalanan Malioboro, saya juga menyambangi beberapa toko. Sudah jauh-jauh ke  Jogja tapi pulang tanpa kenang-kenangan rasanya kurang afdhol. Berhubung kebanyakan toko menjajakan batik, yowis saya juga mencari batik saja. Dari beberapa toko yang saya masuki, saya simpulkan kalau Malioboro ini menyediakan berbagai macam kualitas batik. Dari batik cap yang murah hingga batik tulis yang terkenal mahal. Saya sendiri pada akhirnya membeli batik cap sajalah untuk menambah koleksi baju kondangan (sebenarnya budget minim sih,hehe). Satu hal yang sebenenarnya saya cari adalah toko souvenir yang menjual kerajinan-kerajinan tangan. Tapi sayangnya saya tidak menemukanya. Ada beberapa yang menjajakan souvenir seperti sekedar gelang, kalung, blangkon atau iket. Akan tetapi saya ingin melihat yang lebih banyak :D Atau mugkin saja saya tidak menyusuri Malioboro di tempat yang tepat.

Museum Benteng Vredeburg

Monumen Serangan Umum Sebelas Maret- sebelah
Museum Vredeburg
Merasa puas berkeliling tapi teman yang ditunggu belum datang juga, akhirnya saya mampir ke Benteng Vredeburg yang lokasinya masih di sekitar Maliboro. Dari namanya, benteng ini tentu dibuat pada zaman Belanda. Ketika saya memasuki benteng ini, terdapat loket untuk memasuki museum. Saya sendiri kurang tahu mengenai museum ini dan apa isinya karena saat itu sudah ditutup. Mungkin karena waktu sudah cukup sore. Akhirnya saya hanya berkeliling di dalam benteng saja. Tentu saja hanya membutuhkan waktu yang singkat saja.

Gedung BNI di dekat perempatan
Penjelajahan saya harus diakhiri ketika teman saya menjemput saya. Cukup puas menikmati Malioboro dengan "me-time" saya. Lalu, tinggal menuju Borobudur untuk acara selanjutnya.


Note:
- Bagi yang suka fotografi ada beberapa objek yang menarik terutama objek bangunan-bangunan
- Untuk mengambil objek bangunan mungkin harus 'steril' dan pengalaman saya saat itu, akan sulit untuk 'steril' kalau banyak pengunjung. Jadi, hindarilah saat-saat weekend :D
- Sebaliknya, kalau ingin menikmati Malioboro yang ramai, silakan datang saat weekend.
- Berkeliling dengan jalan kaki sepertinya tepat tapi syaratnya harus punya stamina tinggi. Kalau ingin tidak terlalu capek bisa menyewa dokar atau becak




Related Posts:
Trip To Jogja - Tamansari
Trip To Jogja - Gudeg Yu Djum
Trip To Jogja - Malam Waisak 2013, Borobudur
Trip To Jogja - Menanti Mentari di Punthuk Setumbu dan Jelajah Borobudur Pagi Hari
Trip To Jogja - Vihara Mendut dan Beringin Kembar