Showing posts with label jogja. Show all posts
Showing posts with label jogja. Show all posts

Monday, June 10, 2013

Trip To Jogja - Vihara Mendut dan Beringin Kembar

Vihara Buddha Mendut

Destinasi terakhir dalam trip saya ke Jogja yang lalu adalah Biara Budha Mendut dan Beringin Kembar. Biara Budha Mendut ini terletak di sebelah candi Mendut Magelang sedangkan Beringin Kembar yang terletak di Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Di rencana perjalanan, kami merencanakan untuk mengunjungi beberapa candi atau ke Kaliurang sambil menuju Jogja. Akan tetapi, keberangkatan kami ngaret dari waktu yang direncanakan. Sekitar pukul 9 kami baru berangkat menuju Jogja. Tapi, jika diperhitungkan, waktunya terlalu mepet kalau mampir ke beberapa tempat. Akhirnya disepakati untuk mampir ke Candi Mendut saja. 

Patung di pinggir kolam pintu masuk
Untuk mencapai Candi Mendut tidaklah lama. Mungkin hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Langsung saja kami turun dari Mobil dan mengarah pintu masuk. Dalam perjalanan pintu masuk, tiba-tiba kami mempertanyakan apakah boleh menaiki candi mengingat candinya kecil seperti itu. Kami terhenti di depan Biara Budha Mendut sambil mendiskusikan hal ini. Kemudian, ajaibnya, kami malah memasuki biara ini dan tidak jadi masuk ke Candi Mendut. 

Tentu bukan hal yang remeh yang menarik kami memasuki biara ini. Arsitektur biara ini sangat bagus. Bukan hanya satu bangunan saja, tapi semacam kompleks. Berbagai macam patung Budha atau semacamnya ada disini. Awalnya kami ragu apakah boleh memasuki biara ini. Tapi kami melihat beberapa turis asing berada di dalam jadi kami ikut masuk. Satu hal lagi, untuk memasuki, tidak ada penjaga apalagi tiket masuk (makanya awalnya kami ragu)

Tepat setelah melewati gerbang akan ada kolam dengan teratai yang cantik. Di sebelah kirinya ada bangunan tertutup dan di depan bangunan tersebut terdapa patung Budha tidur. Tentu tidak semegah yang ada di Thailand. Tapi cukup besar dan yang pasti ini di Indonesia. Padahal saya sendiri serasa tidak berada di Indonesia. Setelah melewati kolam tersebut, terdapat dua bangunan di kanan dan kiri. Sepertinya ini bangunan utama untuk beribadah. Di depan bangunan yang sebelah kiri terdapat semacam menara kecil yang memiliki patung Budha di dalamnya. Kedua bangunan yang saya sebutkan tadi di dalamnya sangat lapang yang bagian depannya patung Budha juga.

Patung Buddha

Patung Buddha 
Foto kami berlima di depan patung Buddha

Lanjut setelah dua bangunan tersebut, sisanya adalah monumen-monumen dengan ornamen patung Budha. Beberapa ditempatkan di dalam gazebo kecil. Ada juga lonceng besar yang diletakkan di dalam gazebo. Lonceng inilah yang menjadi ujung perjalanan di kompleks biara ini. 

Kemudian kami bergegas menuju Jogja. Tujuan untuk berkunjung ke Candi Mendut gagal. Pertanyaan yang kami lontarkan di awal terjawab saat kami meninggalkan Mendut. Di kejauhan turis terlihat berada di atas Candi Mendut. Baiklah,,tidak boleh ada penyesalan.

Dalam waktu kurang lebih dua jam, kami sampai di Jogja. Tempat berkumpul kami adalah di sekitar Malioboro karena sudah ada teman kami yang ada di sana dan ada beberapa teman yang bersama saya juga ingin mampir membeli oleh-oleh di Malioboro. Tapi lagi-lagi, disini kami berputar haluan. Tidak langsung menuju Malioboro malah menuju Alun-alun Kidul menuju Beringin Kembar.

Hal ini tidak lain karena kami penasaran dengan Beringin Kembar ini. Bagi yang belum tau, Beringin Kembar ini adalah dua pohon beringin besar, masing-masing berpagar putih, yang terletak di tengah alun-alun (lapangan besar). Jadi kalau melihatnya semacam gerbang besar. Ada beberapa mitos mengenai beringin ini, bagi yang dapat melewati di antara dua beringin ini, termasuk orang yang berhati tulus. Ada pula yang menyebutkan kalau akan melancarkan rezeki. Bahkan sopir kami bilang kalau keinginannya dapat terkabul. Semakin penasaran lah kami.

Beringin  Kembar- Foto dari Blog detik

Teman yang mencoba melewati Beringin Kembar
Walaupun dikejar waktu, kami mencobanya. Sebenarnya hanya tiga orang dari kami yang mencobanya. Di siang hari yang panas itu, banyak juga pengunjung yang lain yang mencobanya. Dan benar saja banyak yang gagal. Ketiga teman saya yang mencobanya juga gagal. Satu orang mencoba dua kali, dua orang
lagi mencoba sekali. Usaha terbaik teman saya adalah berhasil melewati tapi sebelum di garis pagar terluar, dia sudah mau menabrak pagar pembatasnya. Seru sekali melihat orang-orang yang tidak bisa berjalan lurus ini. Bagi yang ingin mencoba dan tidak membawa penutup mata, disewakan penutup mata seharga Rp 3 ribu. Sayang sekali saya tidak sempat mencobanya. Tapi saya juga tidak mau malu juga kalau tidak bisa melewati :D

Akhirnya perjalanan kami selesai sampai disini. Selanjutnya beberapa teman saya berbelanja di Malioboro dalam waktu satu jam. Pukul satu kami dintar ke Stasiun Jebres, Solo dengan tergesa-gesa. 15 menit sebelum kereta datang, kami tiba di stasiun dan langsung bertolak kembali ke Jakarta.

Related Posts:


Saturday, June 8, 2013

Trip To Jogja - Menanti Mentari di Punthuk Setumbu dan Jelajah Borobudur Pagi Hari

Candi Borobudur tampak depan
Sebelumnya, saya kira hanya sunrise di Bromo yang menjadi primadona tujuan wisata. Tetapi, saat googling untuk trip ke jogja ini saya menemukan banyak ulasan untuk menikmati matahari terbit di Borobudur. Then, without second thought, I won't gonna miss this one. I mean like, saya akan berada di Magelang karena bermalam di sana dan sepertinya mengejar sunrise yang satu ini juga tidak kalah menarik dibandingkan ketika saya di Bromo sekali waktu dulu.

Sebagai info, terdapat dua spot yang terkenal untuk menikmati matahari terbit yaitu di Candi Borobudur sendiri dan di Bukit Punthuk Setumbu. Untuk menikmati matahari terbit di atas candi itu biayanya sungguh mengagetkan. Saya melihat review-nya di televisi beberapa hari sebelum keberangkatan saya yang menyebutkan bahwa tiket masuk candi untuk menikmati candi ini seharga Rp 250 ribu. Bahkan, saya menemukan beberapa blog yang menyebutkan kalau harganya di atas Rp 300 ribu,hmm... Untuk alternatif kedua- sunrise  di Bukit Punthuk Setumbu di beberapa literatur tidak menyebutkan biayanya. Beberapa bahkan menyebutkan free of charge. Well, we'll see later on. Jadilah, kami memilih untuk menikmati matahari terbit di alternatif kedua ini.

Diawali dengan bangun pagi-pagi sekali setelah tidur hanya sekitar satu jam, saya sontak beranjak dari tempat tidur. Anehnya saya tidak begitu mengantuk walaupun hanya tidur sebentar. Dengan persiapan secepat kilat, sekitar pukul 4 pagi saya dan teman saya sudah menyusuri jalan kampung menuju mobil yang sudah siap menanti kami di jalan besar sana. Tak lupa saya mengontak teman saya di penginapan lain. Dan, baiklah... mereka baru bangun. We surely need more plenty of time.


Setelah menunggu beberapa saat di penginapan mereka, langsung saja kami menuju Bukit Punthuk Setumbu. Bukan perjalanan yang lama jika mengendarai mobil. Saya juga tidak heran kalau perjalanannya singkat karena saya sempat mengecek di google maps jaraknya hanya 6 km. Hal yang perlu diwaspadai adalah track menuju ke Desa Karangrejo yang hanya memiliki jalanan yang sempit dan minim cahaya karena tidak ada lampu di sepanjang perjalanan. Kami sempat mampir di mushola desa tersebut untuk melaksanakan ibadah sholat subuh terlebih dahulu. Mushola ini merupakan pilihan yang paling tepat untuk sholat subuh daripada menunggu sholat subuh di penginapan terlebih dahulu. Karena bisa jadi akan terlambat untuk menikmati matahari terbitnya. Usai sholat subuh, mobil melanjutkan sedikit lagi perjalanannya sampai ke batas akhir jalur mobil.


Perjalanan mencapai bukit memang tidak bisa menggunakan mobil sepenuhnya. Kami harus melewati jalan setapak. Berbeda dari info yang saya ketahui sebelumnya, sebelum melewati rute jalan setapak ini dikenakan tiket sebesar Rp 15 ribu per orang. Entah kami yang terlambat atau terlalu cepat, dalam perjalanan kami mencapai bukit tidak banyak orang yang kami temui. Senter adalah perlengkapan wajib untuk melalui jalan setapak ini karena memang tidak ada lampu penerangan sepanjang perjalanan. Kami hanya mengandalkan senter yang ada di HP kami. Kendala lainnya adalah jalanan yang sangat licin akibat hujan yang turun di malam harinya. Tentu hal ini sangat merepotkan kalau alas kaki yang digunakan tidak pas.

Mendekati bukit, pepohonan yang mengiringi perjalanan kami mulai berkurang. Bulan purnama terlihat bulat sempurna di sisi barat karena tidak ada awan mendung. Beberapa menit berikutnya kami tiba di bukit itu. Bukitnya seperti tebing memanjang mengingatkan saya akan bukit tempat saya mencoba paralayang tempo hari. Tapi sedikit kurang lapang. Ada semacam gazebo tingkat yang terbuat dari bambu dan di sebelahya didirikan beberapa tenda. Ternyata memang ada yang jauh lebih niat sampai-sampai berkemah di sana.

Tepat saat kami tiba ada lampion yang siap diterbangkan. Selain ada yang menerbangkan beberapa lampion pasca acara malam tadi , ternyata ada yang membawa ke bukit ini untuk dilepas. Walaupun hanya satu lampion, tetap mengagumkan. Mungkin setidaknya sedikit mengobati kekecewaan wisatawan yang gagal melihatnya. Lampionnya terbang menjauhi bukit ke arah dua gunung besar di depan kami Merapi dan Merbabu. Inilah view  kami nantinya dua gunung, hutan-hutan, dan Candi Borobudur di bagian kanan pemandangan.

Setelah menikmati lampion, kami berpencar. Entah teman-teman saya mengambil posisi di bukit bagian mana untuk menikmati matahari terbit. Saya sendiri mengambil bagian di sebelah kanan karena memang agar lebih dekat dengan Candi Borobudur. Saya berjongkok tepat di bibir bukit menunggu matahari menunjukkan tanda-tanda penampakkannya.

Beberapa saat setelah saya memposisikan diri, orang-orang sudah mulai mempergunakan kameranya masing-masing. Semburat jingga kemerahan memang sudah mulai terlihat di horizon. Siluet dua gunung yang megah juga semakin terlihat. Namun, untuk candinya masih membutuhkan waktu beberapa saat lagi. Sayang, langit di sisi timur sedang berawan. Dan, saya lihat di sekeliling orangnya jauh lebih banyak dibanding saat saya datang. Dua kali lipatnya mungkin.

Matahari terbit dari balik gunung

Beberapa menit selanjutnya, orang-orang semakin riuh. Bukan hanya volume manusia yang bertambah tapi memang pemandangannya sangat bagus. Matahari muncul dari balik dua gunung itu tepat seperti apa yang kita bayangkan di kelas menggambar saat kecil dulu. Warna jingga-merah semakin terlihat di langit. Saya seperti melihat lukisan. Saya bahkan lebih banyak mengamatinya daripada mengambil gambarnya karena memang lebih bagus dinikmati menggunakan mata sendiri. Saya tidak mau mata saya kehilangan banyak momen karena harus berkonsentrasi dengan kamera. Sementara itu, penampakan Candi Borobudur tidak begitu menarik perhatian saya karena candinya kelihatan kecil. Merapi-Merbabu di depan saya ini jauh melebihi ekspektasi saya.

Candi Borobudur dari Punthuk Setumbu, saat kabut turun

Pemandanganya memang kurang sempurna karena matahari tertutupi awan. Saya menunggu dan berharap melihat matahari. Namun sayangnya, saya gagal bahkan sampai saat saya meninggalkan bukit. Saat hari beranjak semakin terang, saya mencari teman-teman saya satu sama lain untuk segera kembali. Sesaat sebelum saya kembali saya menikmati pemandangan dari bukit untuk terakhir kalinya. Dan seperti sebuah sihir hutan-hutan yang terhampar di antara bukit dan gunung terselimuti kabut. Warna hijau gelap pepohonan diselubungi warna putih kabut.

Puas di Bukit Punthuk Setumbu, kami kembali ke tempat parkir mobil. Perjalanannya sama dengan rute sebelumnya, jalan setapak yang licin. Tapi, sedikit lebih mudah karena hari sudah terang. Kami sempat berhenti sejenak karena ada spot untuk melihat Candi Borobudur. Lokasinya dilalui rute ini. Walaupun kaki dan celana sedikit kotor karena jalanan becek, kami tetap masuk ke dalam mobil. Kami sempat ingin sekedar menumpang mencuci kaki di kamar mandi warga. Tapi, kami semua serentak mengurungkan niat karena dikenakan tarif :D

Sekembalinya dari menikmati matahari terbit, kami memiliki rencana masing-masing. Saya dan salah satu teman saya melanjutkan untuk memasuki Candi Borobudur lagi, ada yang langsung kembali ke penginapan, sedangkan yang lainnya pergi sarapan. Pada saat perjalanan kembali, ternyata pemandangan menuju Bukit Punthuk  Setumbu tidak kalah bagus. Beberapa kali kami melewati persawahan yang asri.

Pukul enam pagi, masih terlalu pagi (saya kira) untuk memasuki suatu kawasan wisata. Namun sebaliknya, sudah banyak sekali pengunjung yang datang ke candi ini. Padahal saya mengharapkan candi ini masih sepi agar lebih puas menjelajah atau berfoto. Kebanyakan pengunjung yang datang sepertinya siswa tingkat SD atau SMP yang mengadakan studi wisata. Beberapa turis asing juga tampak berdatangan di waktu sepagi itu.

Tiket masuk Candi Borobudur adalah Rp 30 ribu. Jalur yang saya lalui sama persis dengan yang saya lalui malam sebelumnya. Tapi, pemandangannya jauh lebih menyegarkan. Selain udara yang sejuk, taman-taman dan bunga juga menyegarkan mata.
Taman di kawasan Candi Borobudur

Sebelum memasuki kawasan candi, setiap pengunjung dipinjamkan kain batik putih bercorak hitam. Sejak beberapa waktu lalu memang diberlakukan peraturan untuk wajib mengenakan kain batik ini bagi siapapun yang mengunjungi candi. Saya sendiri menyukai hal ini karena semakin terasa authenticity-nya. 
Stupa


Sebelum memasuki candi Borobudur ini sendiri, harus melewati tanjakan tangga terlebih dahulu. Setelah itu sampai di pelataran berumput. Barulah menaiki tangga yang ada di badan candi yang megah ini. Diharapkan untuk berhati-hati saat melalui tangga yang ada di candi karena tanjakannya terlalu tajam. Selain itu, tangga untuk turun dan naik dibedakan jalurnya agar pengunjung tidak bentrok. Terdapat beberapa petugas pengamanan yang berjaga-jaga serta memberikan arahan untuk jalur penjelajahan. 

Kami berdua memutuskan untuk menjelajah candi dari pelataran paling atas terlebih dahulu. Satu putaran penuh kami berkeliling kemudian turun ke pelataran di bawahnya selanjutnya. Demikian seterusnya sampai beberapa kali tapi tidak seluruh pelataran kami lalui. Tentu saja beberapa kali kami mengambil foto dengan latar stupa atau bagian candi lainnya. Karena ramainya pengunjung, tidak mudah untuk mendapatkan spot yang 'bersih'. 

Walaupun tidak bisa menikmati Candi Borobudur dengan ribuan malam sebelumnya, setidaknya saya mendapat kesempatan untuk menikmati candi di pagi harinya. Kami harus bergegas kembali ke Jogja sehingga pukul 8 kami sudah meninggalkan candi.




Related Posts:



Tuesday, June 4, 2013

Trip To Jogja - Malam Waisak 2013, Borobudur

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui ~Al-Baqarah: 216 (tepat saya baca di twitter saat akan menulis post ini)

Kami memburu dengan waktu. Bertolak dari Jogja pukul lima sore membuat was-was apakah akan terkejar event tujuan kami, Festival Seribu Lampion. Kami tahu kalau puncak acara tersebut cukup larut. Tapi dengan kesimpangsiuran informasi tentang macetnya jalanan, cara untuk masuk, dan lain sebagainya sangat realistis kalau kami harus bersiap di Borobudur secepat yang kami bisa. Bahkan ada teman saya sudah berada di kawasan candi sedari pukul empat sore. Berkejar-kejaran dengan waktu ini pun karena 'pemberi akses masuk' yang sedang bersama teman kami di lokasi tak bisa menunggu hingga larut.

Sekitar setengah delapan kami tiba di kawasan candi. Walaupun kami sedang ditunggu, kami sepakat untuk menuju penginapan terlebih dulu. Terlalu banyak barang yang musti dibawa kalau tidak kami drop dahulu di penginapan. Mobil yang kami sewa juga harus segera kembali karena kesepakatannya hanya mengantar sampai candi Borobudur, tanpa menunggu. 

Sesegera mungkin kami menuju penginapan yang terletak tepat di pinggir jalan, "Thank God.. ternyata tidak jauh", pikirku. Namun sayangnya itu adalah penginapan yang salah. Dua penginapan dengan nama yang sama, apa-apaan ini? Setelah dikonfirmasi kepada si pemilik penginapan ternyata penginapan yang kami cari berada di dalam perkampungan. Kami bergegas dalam rintik hujan. Sementara itu, setelah seharian berkeliling, tumpukan asam laktat di kaki saya mulai bereaksi. "Sial, baru mau dimulai ini..", umpat saya dalam hati. Dalam gelapnya gang kampung sesekali saya lihat halaman-halaman khas kampung nan luas tersebut sudah jadi lahan parkir dadakan. Lima-menit-jalan-cepat akhirnya sampai di penginapan yang sebenarnya.

Tak banyak yang kami lakukan di penginapan dan memang begitu seharusnya. Antre untuk bebersih diri, sholat dan mengisi ulang baterai gadget yang ada. Sementara yang satu sedang apa yang lain beristirahat sebisanya, bergantian satu sama lain. Sembari menunggu satu sama lain ini, saya coba menghubungi teman saya yang sedang bersama 'pemberi akses' yang ternyata anak kepala desa. Namun, sialnya mereka telah berangkat duluan. Jadi, kami harus bertemu di dalam kawasan candi dan mencari sendiri cara untuk masuk.

All set up, kami menuju ke Candi Borobudur. Hujan masih tak kunjung reda, hanya sesekali saja reda tapi kembali rintik lagi. Tiba di depan gerbang, we didn't have any idea to get in. Menghubungi teman kami yang sudah masuk lebih awal juga percuma karena percakapan kami via HP sangat buruk. Kami memang harus menemukan cara sendiri ternyata. Di gerbang sisi barat ini sudah banyak juga orang yang ingin masuk. Di tengah-tengah hujan yang makin tak bersahabat seketika ada petugas yang membuka pintuk gerbang. Sontak kami ikut merangsek masuk melalui gerbang tersebut. Beruntung sekali! Beberapa rombongan sesudah kami kalau tidak salah tidak diijinkan untuk masuk. 

Berhasil memasuki kawasan candi, kami semakin tergesa-gesa. Tapi, kami tidak tahu harus mengarah kemana. Mencoba menghubungi teman saya, dengan cerdasnya teman saya menyebutkan kalau tempat berkumpul di sisi timur. Kami memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Sepertinya teman saya yang diseberang tidak bisa mendengar apa yang saya bicarakan. Tapi sebaliknya saya bisa mendengar jelas apa yang diucapkan dari seberang. Selain clue tersebut, tentu kami mengikuti kemana arah orang berjalan. 

Menyeberangi dari sisi satu ke sisi lainnya ternyata bukanlah jarak yang dekat. Terlebih lagi, kaki saya semakin pegal. Terlebih lagi hujan tak kunjung berhenti. Terlebih lagi jalanan yang kami lewati adalah jalanan setapak yang masih tanah yang gelap tanpa lampu. Di bagian atas terlihat Puncak Borobudur yang menakjubkan lantaran cahaya lampu sorot. Saya dan salah satu teman saya berjalan setengah berlari dan menyalip beberapa orang di depan kami. Sisanya, hilang dalam kegelapan sudah dan tidak tampak. Akhirnya, setelah melewati tanjakan kami berdua tiba di kumpulan orang yang banyak sekali jumlahnya. Di kejauhan depan kami, terlihat patung keemasan di altar dengan badan candi-tak hanya puncak- berdiri megah di belakangnya. 

Teman saya masuk menyusup dalam keramaian sedangkan saya mengekor dibelakangnya. Hujan semakin deras dan air hujan berhasil merembes menembus jaket dan baju berlapis dua saya. Kami semakin maju ke depan, ya saya jujur berusaha menuju barisan paling depan (yang pada akhirnya sangat saya sesali). Sesekali saya berhenti, karena memang tidak ada ruang di depan saya-stuck, karena ada yang menyerah dan ingin keluar dari kerumunan, karena menggigil kedinginan dan sekedar menumpang payung orang, karena saya terhenti oleh pikiran. 

Di tengah riuhnya orang-orang, sepertinya pikiran saya mampu meredam suara di sekitar saya. Saya berhenti dan mempertanyakan untuk apa orang-orang sebanyak ini berkumpul disini. Apakah memang harus seberjuang ini untuk mendapati apa yang diinginkan, pemenuhan batin. Menyelinap melalui beberapa orang lagi, saya mempertanyakan apakah semua ini pantas untuk saya perjuangkan, jauh-jauh hari saya persiapakan, beberapa jam berdiri basah kuyup-yang sangat mungkin membuat saya sakit keesokan harinya- sebelum ribuan lampion yang direncanakan menerangi langit Borobudur nanti. 

Mata saya mendongak, mencari-cari teman saya. Dia sudah bergerak ke depan lagi, berarti saya juga harus maju karena saya tidak ingin kehilangan partner di tengah-tengah manusia sebanyak ini. Saya menyesak masuk. Teman saya di depan, lompat satu orang di depan saya, setidaknya dalam jangkauan pandangan saya. Di sisi kiri saya ada dua perempuan di bawah payung besar yang juga sedikit memayungi saya (thanks to those girls). Di sisi kanan saya ada pasangan turis asing yang menggunakan jaketnya untuk menutupi kepala keduanya dan sang pria mendekap erat si wanita. Dan..ya..kami berjuang dan berkorban. Di titik ini saya mendapat sugesti diri kalau inilah yang namanya berjuang. Bahkan untuk hal sekecil ini, perjuangan itu perlu dan tak semudah yang dibayangkan. Segala hal yang kita inginkan sangat pantas, sangat harus diperjuangkan apapun itu.

Tiba di acara pradaksina- umat budha mengelilingi Candi Borobudur-, massa dari bagian belakang mendorong ke depan. Mungkin banyak yang ingin mendokumentasikan para bhante yang melakukan ritual pradaksina. Tapi pasti percuma saja. Para bhante tidak mungkin kelihatan kecuali bagi orang-orang  di barisan depan. Mau menikkan kamera pun, payung-payung juga menutupi pemandangan. Belum lagi hujan masih saja ditumpahkan dari langit. Silakan saja mengambil foto kalau tidak sayang dengan kamera ataupun HP yang dipunyai oleh masing-masing pengunjung. Saya sendiri pun mengandangkan kamera saya di tas dan mengamankan HP di kantong saja, nothing to do but just stand.. 

Ya..saya hanya berdiri, dalam keriuhan, dalam lantunan doa yang diperdengarkan melalui speaker. Teman saya masih dalam jangkauan saya, di depan. Di sisi kanan saya masih pasangan turis yang sama. Saya semakin kuyup-sesekali jaket saya peras, dan entah kenapa lantunan doa yang dikumandangkan menjadi sayup menjadi permainan pikiran saya sendiri. 'Okay..saya berjuang, saya sudah dapat hikmah perjuangan, lalu apa?'. 'Apakah tepat waktu dan tepat tempat atas apa yang saya perjuangkan ini?'. Pikiran saya mengajak ke ranah lebih spesifik, ke acara ini sendiri. Mempertanyakan apakah saya tepat berdiri di situ. Saya merasa ada yang salah. Saya meragukan kenapa harus berdiri sedari tadi di tengah kerumunan orang, basah, capek tapi acara lampionnya masih nanti. Ini jelas-jelas salah. Ini bukan tempat saya. Ada orang yang lebih berhak dari saya untuk berdiri di situ. Dan saya mengambilnya yang mana dalam keyakinan saya pun diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain. Oh God.. What did I do? I am so guilty..

Saya memandang berkeliling. Orang-orang sebanyak ini, tak seharusnya berada disini. Sebagian besar pasti hanya menginginkan part lampionnya saja. Saya menyalahkan diri saya dan orang-orang lain yang tidak beribadah untuk datang nanti saja ketika lampion akan diterbangkan. Bahkan saya sempat berpikir kenapa pelepasan lampion harus di hari yang sama dengan hari waisak (okay,,saya yang harus tau diri dan tak mempermasalahkan urutan prosesi yang sudah diatur oleh panitia, tapi tetap saja menurut saya itu paling masuk akal). Saya sempat berpikir untuk jadi anak manja saja yang sedari awal menyerah. Bila demikian kondisinya tentu saya tak akan mengambil 'jatah' orang yang lebih berhak. 

Sekali waktu saya bertemu mata dengan turis di sisi kanan saya, terlihat kecewa tapi sempat tersenyum yang sepertinya dipaksakan. Mereka terlihat sama kecewanya dengan saya, atau setidaknya saya pikir begitu. Sama dalam artian kecewa dengan alasan yang sama, bahwa kami yang tidak berhak tidak seharusnya di sana.  Saya tidak bisa membayangkan kalau kondisinya dibalik. Padahal dengan baiknya ummat budha memperbolehkan ummat lain untuk mengikuti ibadah mereka. Tapi yang mereka peroleh tidaklah sepadan. Jauh dari sepadan malah. Saat itu saya berpikir kalau saya akan berusaha untuk tidak akan melakukan hal semacam ini lagi. Ini tentang kepercayaan yang berhubungan dengan Tuhannya masing-masing. Di titik ini saya mendapatkan hikmah toleransi. Bahwa ketika berhubungan dengan kepercayaan saya akan berusaha untuk tidak bersinggungan dengannya. Bismillah.. Insya Allah..

Satu ketika saya didesak lagi dari belakang. Apakah orang-orang ini tidak mengerti? Saya ingin benar-benar pergi dari tempat saya kala itu. Sepertinya pengunjung memang kelewatan karena lantunan doa yang terdengar mulai disisipi larangan agar pengunjung tidak mengacau. Wisatawan semakin mendorong ke depan karena altar sedang ditinggalkan oleh jemaah yang berkeliling. Sementara itu, melalui speaker, pengunjung diharapkan untuk tidak maju dan sebaliknya dimohon untuk mundur. Saya dan teman saya sepakat untuk mundur. Tapi kebanyakan pengunjung tetap maju, sementara yang lain bergeming. Sulit sekali melawan arus seperti itu. Mengikuti arahan, kami berdua menuruni anak tangga. Tiba di bawah pohon, kami berdiam di sana sekaligus meneduh. 

Hujan semakin deras. Beberapa lampu sorot mati sementara prosesi pradaksina masih berlangsung. Jaket saya sudah beberapa kali saya peras. Kami masih bertahan di kawasan candi. Berharap acara lampionnya tetap dijalankan seperti yang dijadwalkan. Teman saya bertanya kepada panitia berbaju putih tentang kemungkinan ini. Sayangnya, pelepasan lampion tidak akan dilakukan kalau kondisinya masih hujan. Semakin kecil harapan kami untuk acara pelepasan lampion. Tapi toh kami tetap bersikukuh menunggu, berharap, ya..berharap.

Usai prosesi pradaksina, diumumkan mengenai pelepasan lampion. Saya tidak heran kalau nantinya dibatalkan. Justru terbersit rasa senang. Agar cukup sampai tahun ini saja kekacauan seperti ini terjadi Tidak ada hal semacam ini lagi di tahun-tahun berikutnya. Agar semua yang mendapat pelajaran tentang toleransi. Dan benar saja acara lampion dibatalkan, lebih tepatnya ditunggu terlebih dahulu selama 30 menit. Kalau masih hujan, pelepasan lampion benar-benar dibatalkan. Yang miris adalah ketika seruan "huuu" terdengar ramai menanggapi pengumuman tersebut. Saya masih menunggu dan berdoa semoga hujan tetap diturunkan hingga 30 menit ke depan.

30 menit berselang dan hujan tetap turun. Akhirnya pelepasan lampion resmi dibatalkan. Saya waktu itu masih menunggu di bawah pohon yang sama. Ada sedikit harapan tapi saya lebih menunggu bukti. Bukti bahwa Allah akan memberi pelajaran kepada kita semua. Dengan caraNya, dia menunjukkan kekuasaanNya. Semoga kita semua mendapatkan pelajaran berharga dari perayaan waisak tahun ini.

Walapun sudah dinyatakan batal kami berdua tetap menunggu. Entah menunggu apa. Menyaksikan beberapa umat budha yang lewat usai ibadah mereka. Saya lega walaupun saya tidak tahu apa yang mereka rasakan. Mereka sangat berhak untuk kesal terhadap wisatawan yang tak bertanggung jawab. Terhadap siapapun dan apapun yang mengganggu ibadah mereka. Sementara itu, dari kejauhan saya juga melihat bunga-bunga, buah-buahan, dan lainnya yang di altar diambil seenaknya (saya kurang tau ini diperbolehkan atau tidak, yang pasti terlihat kacau dan jadi 'nyampah'). Yang lainnya, ada beberapa orang yang mengambil foto dengan background patung budha atau Borobudurnya sendiri. 

Perjalanan kami tutup dengan setengah mengitari Borobudur sebelum akhirnya diberhentikan oleh satpam karena sudah sepi. Sinyal HP sudah membaik ditandai dengan info dari teman saya yang menunggu di warung makan. Kami berdua lantas beranjak meninggalkan candi saat tanpa saya sadari hujan sudah reda. Lihat kan? Allah bekerja dengan caraNya untuk memaparkan bukti-bukti kepada kita agar kita belajar dari apa yang telah kita lalui. Allah pun telah membuat kami terlambat datang dan tidak mengikuti prosesi waisak dari awal agar kami tidak mengganggu sejauh itu. Saya merasa sangat beruntung, saya tetap diberikan hikmah walaupun saya sedang di acara ibadah ummat lain. Alhamduillah..

Terakhir, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada rekan-rekan ummat budha yang yang merasa terganggu oleh saya dan yang lainnya yang mengambil hak kalian semua. Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Dan saya tidak ingin mendatangi festival lampion ini lagi kalau masih bersinggungan di hari yang sama saat waisak. Semoga Indonesia tetap rukun antar umat beragamanya, aamiin

(Epilog) Setelah makan malam, kami kembali ke penginapan. Dari penginapan ada satu lampion terlihat di langit. Beberapa saat kemudian diikuti lampion-lampion lain. Saya mengajak teman-teman saya untuk melihat di Borobudur. Akan tetapi, ternyata hanya beberapa lampion saja yang diterbangkan. Saya dan dua orang teman tidak tahu cara untuk melewati gerbang sedangkan yang lain yang berhasil melalui gerbang dari sisi lain diusir oleh satpam,hehe.. Memang bukan rejeki. Tapi, kami sempat menyaksikan satu lampion yang di terbangkan di Bukit Punthuk Setumbu keesokan paginya. Oh iya, sesampai di Jakarta, saya membaca beberapa info kalau lampion diterbangkan Minggu malam saat saya sudah dalam perjalanan pulang. Memang begini seharusnya. Kalau jadwalnya seperti ini, mungkin tahun depan saya iktu, mungkin ya. 

Note:
- Sangat tidak direkomendasikan menghadiri pelepasan lampion (pasti kebanyakan ngincer lampionnya kan?) kalau masih bersinggungan dengan ibadah ummat budha. Jadi datang pas lampionnya saja menjelang malam. Biarkanlah saudara-saudara kita melaksanakan ibadahnya dengan khidmat. Semoga untuk tahun-tahun berikutnya ditutup untuk umum, aamiin.
- Kalau masih berkeinginan untuk datang, please jaga sikap, ya tingkah, ya omongan, ya pakaian. Bagi yang sudah dewasa saya tidak perlu menjabarkan batasan-batasannya. Kalau ingin tahu lebih, silakan googling lagi. Siapkan juga segala hal untuk segala kemungkinan, fisik, payung, jas hujan, obat-obatan, dll.
- Tidak ada foto sama sekali di tulisan ini karena saya memang tidak mengambil foto.
- Sekali lagi saya doakan semoga semua mendapatkan pelajaran atas peristiwa ini.


Related Posts:







Saturday, June 1, 2013

Trip To Jogja - Gudeg Yu Djum

Gudeg Yu Djum
Wisata kuliner di Jogja itu sepertinya hal yang wajib dilakukan. Sebagai referensi saya sempat memantau salah satu linimasa di twitter yang memberikan rekomendasi-rekomendasi tempat-tempat yang menyajikan makanan yang lezat. Pas tiba waktunya di Jogja dan memilih-milih tempat makan, saya teringat kalau Gudeg Yu Djum termasuk salah satu menu yang banyak direkomendasikan. Alhasil, ke tempat inilah saya dan teman-teman menuntaskan late lunch.

Kalau searching di google, terdapat beberapa cabang dari Gudeg Yu Djum. Untuk pusatnya sepertinya yang di kaliurang. Tapi, waktu itu kami mencicipinya di daerah Wijilan. Hal ini dikarenakan tempatnya yang tidak begitu jauh dari pusat kota. Mengingat kami harus beredar di sekitar kota sembari wisata kota dan menunggu teman saya lainnya yang akan datang.

Kami bersantap siang (yang telat) sekitar pukul tiga sore. Jadi, kami mampir untuk makan siang itu di waktu antara saya ke Tamansari dan Malioboro. Waktu itu perut saya benar-benar keroncongan karena paginya saya tidak sempat sarapan. Saat brunch di McD pukul 11 siang sebelumnya saya juga tidak memesan makanan seperti halnya yang lainnya. Oleh karena itu, saya sangat tidak sabar untuk menjejali perut saya dengan gudeg yang terkenal ini. 

Popularitas gudeg ini sepertinya memang tidak terbantahkan. Ketika saya menghampiri restonya, ada deretan mobil panjang didepannya. Tiba di depan resto lesehan itu, terlihat ramai sekali, bahkan ada yang makan sambil berdiri. Memang sih tempatnya bisa dibilang sempit. Kami bahkan sempat berpikir untuk makan di dalam mobil. But, thank God, ada bangku kosong tersisa sehingga bisa kami tempati.

Walau perut tak sabar menunggu, nyatanya mau tak mau kami harus menunggu. Usai kami memesan, butuh waktu yang cukup lama sampai kami dilayani. Padahal, hampir dari kami semua memesan menu yang sama Nasi-Gudeg-Telur-Paha. Ternyata, antrean sebelum kami memang masih banyak. Dan walaupun harus bersabar beberapa waktu, tentunya Si Gudeg datang jua.


Penyajian Gudeg Yu Djum
Gudegnya sendiri disajikan di atas piring bambu berlapis daun pisang. Dari penampilannya memang terlihat lezat dengan komposisi lengkap gudeg-krecek-semur telur-semur ayam. Tak perlu menunggu lama saya langsung melahap makanan didepan saya tersebut. Rasanya memang nikmat. Apa ya? Menurut saya cita rasa gudegnya itu pas jawanya, pas jogjanya. Berhubung saya juga lapar berat saya makan dengan lahapnya.  Yummy..walaupun porsinya terlihat sedikit, tapi mengenyangkan juga,hehe
Menyantap Gudeg Yu Djum

Afdol juga akhirnya jalan-jalan di Jogja yang lengkap dengan wisata kuliner juga. Ya..walaupun hanya satu makanan otentik Jogja yang kami coba. Lebih baik daripada tidak sama sekali kan?





Related Posts:

Friday, May 31, 2013

Trip To Jogja - Malioboro dan Benteng Vredeburg

Manusia Pohon, berlokasi di dekat perempatan.
Usai menikmati wisata sejarah Tamansari saya melanjutkan ke tempat wisata selanjutnya. Kali ini saya menikmati wisata sendiri saja karena yang lain lebih memilih untuk berbelanja. Waktu yang saya miliki lumayan lama sebelum menuju Borobudur karena sekaligus menanti kedatangan teman saya yang lainnya. Berhubung menanti teman saya yang satu ini, saya memilih untuk tetap berkeliling di daerah kota yakni Malioboro dan Benteng Vredeburg.

Ibu penjual sate
Walaupun hari semakin sore, namun sepanjang jalanan malioboro ramai sekali. Bahkan semakin sore malah semakin banyak pengunjung yang tumpah ruah di jalanan. Untuk wisatawan yang datang dari luar kota mungkin sibuk di dalam toko-toko yang umumnya menjajakan baju batik atau kaos-kaos khas jogja. Sementara yang lain, orang-orang yang duduk-duduk santai di pinggir jalan, yang menikmati riuhnya jalanan di suasana sore kota jogja adalah orang-orang lokal,  I guess. Pemandangan lainnya tentunya ramainya kendaraan yang juga menyesaki jalanan, dari kendaraan bermotor maupun kendaraan khas Malioboro -dokar dan becak. Dan satu lagi, ternyata semakin sore ibu-ibu penjaja sate keliling semakin banyak. Begini toh pemandangan akhir minggu Kota Jogja?

Wisatawan asing di pinggir jalan Malioboro

Dokar- kereta kuda yang disewakan di jalanan
Malioboro

Tak hanya melihat-lihat suasana Jalanan Malioboro, saya juga menyambangi beberapa toko. Sudah jauh-jauh ke  Jogja tapi pulang tanpa kenang-kenangan rasanya kurang afdhol. Berhubung kebanyakan toko menjajakan batik, yowis saya juga mencari batik saja. Dari beberapa toko yang saya masuki, saya simpulkan kalau Malioboro ini menyediakan berbagai macam kualitas batik. Dari batik cap yang murah hingga batik tulis yang terkenal mahal. Saya sendiri pada akhirnya membeli batik cap sajalah untuk menambah koleksi baju kondangan (sebenarnya budget minim sih,hehe). Satu hal yang sebenenarnya saya cari adalah toko souvenir yang menjual kerajinan-kerajinan tangan. Tapi sayangnya saya tidak menemukanya. Ada beberapa yang menjajakan souvenir seperti sekedar gelang, kalung, blangkon atau iket. Akan tetapi saya ingin melihat yang lebih banyak :D Atau mugkin saja saya tidak menyusuri Malioboro di tempat yang tepat.

Museum Benteng Vredeburg

Monumen Serangan Umum Sebelas Maret- sebelah
Museum Vredeburg
Merasa puas berkeliling tapi teman yang ditunggu belum datang juga, akhirnya saya mampir ke Benteng Vredeburg yang lokasinya masih di sekitar Maliboro. Dari namanya, benteng ini tentu dibuat pada zaman Belanda. Ketika saya memasuki benteng ini, terdapat loket untuk memasuki museum. Saya sendiri kurang tahu mengenai museum ini dan apa isinya karena saat itu sudah ditutup. Mungkin karena waktu sudah cukup sore. Akhirnya saya hanya berkeliling di dalam benteng saja. Tentu saja hanya membutuhkan waktu yang singkat saja.

Gedung BNI di dekat perempatan
Penjelajahan saya harus diakhiri ketika teman saya menjemput saya. Cukup puas menikmati Malioboro dengan "me-time" saya. Lalu, tinggal menuju Borobudur untuk acara selanjutnya.


Note:
- Bagi yang suka fotografi ada beberapa objek yang menarik terutama objek bangunan-bangunan
- Untuk mengambil objek bangunan mungkin harus 'steril' dan pengalaman saya saat itu, akan sulit untuk 'steril' kalau banyak pengunjung. Jadi, hindarilah saat-saat weekend :D
- Sebaliknya, kalau ingin menikmati Malioboro yang ramai, silakan datang saat weekend.
- Berkeliling dengan jalan kaki sepertinya tepat tapi syaratnya harus punya stamina tinggi. Kalau ingin tidak terlalu capek bisa menyewa dokar atau becak




Related Posts:
Trip To Jogja - Tamansari
Trip To Jogja - Gudeg Yu Djum
Trip To Jogja - Malam Waisak 2013, Borobudur
Trip To Jogja - Menanti Mentari di Punthuk Setumbu dan Jelajah Borobudur Pagi Hari
Trip To Jogja - Vihara Mendut dan Beringin Kembar


Tuesday, May 28, 2013

Trip To Jogja - Tamansari

Gerbang Masuk Tamansari

Destinasi pertama pada Trip Jogja saya yang lalu adalah Tamansari. Tadinya, saya dan teman-teman ingin ke Malioboro. Akan tetapi, sopir rental mobil kami menyarankan untuk mengunjungi Tamansari terlebih dahulu karena kalau sore dikhawatirkan akan tutup. Jadilah kami menuju Tamansari terlebih dahulu sebelum tempat-tempat lainnya.

Tamansari dikenal sebagai kompleks pemandian permaisuri dan selir sultan jogja. Info ini juga saya peroleh dari sopir rental kami. Pada saat di Tamansari kami memang minim informasi karena kesalahan tidak menyewa guide yang menjelaskan sejarah Tamansari sendiri. Alhasil sekembalinya dari Tamansari masih lumayan 'gelap info'. Tapi, kalau ingin mengetahui lebih jelas tentang sejarahnya sudah banyak yang mengulas. Jadi, silakan googling saja,hehe

Ya, selama di Tamansari bisa dibilang saya hanya wisata bangunan. Seperti yang saya sebutkan tadi, karena kami tidak menyewa guide, jadi informasi mengenai seluk beluk Tamansari juga kurang. Selain itu, sesaat setelah memasuki Tamansari, hujan deras mengguyur tanah jogja. Berhubung kompleks Tamansari merupakan kompleks bangunan terbuka, kami harus berteduh terlebih dahulu. Ruginya lagi, otomatis waktu yang kami punyai semakin berkurang karena menunggu hujan reda.

Lokasi Tamansari ini sendiri termasuk di pusat Kota Jogja. Seingat saya tidak jauh dari lokasi Malioboro. Namun, jalanan menuju Tamansari perlu masuk ke dalam gang-gang yang sempit. Kalau menyewa rental mobil pasti akan sangat mudah. Untuk angkutan umum saya sendiri kurang tahu. Mungkin alternatif yang dapat digunakan adalah becak. 

Memasuki kompleks Tamansari, akan ada halaman yang memanjang. Halaman ini digunakan sebagai parkir mobil-mobil pengunjung. Akan tetapi, menurut saya space-nya cukup sempit. Apalagi kalau pengunjung sedang ramai. Mungkin ada tempat di sisi kanan kiri halaman tadi yang bisa dijadikan tempat parkir. But, I am afraid there's no more space. Tapi tidak ada salahnya dicoba untuk dipertanyakan kemungkinannya,hehe

Setelah melewati halaman memanjang, kita dapat menemui loket penjualan tiket masuk Tamansari. Tiket masuknya relatif murah seharga 3000 rupiah saja. Kemudian, setelah usai membeli tiket, dapat langsung memasuki kompleks Tamansari melalui semacam gapura utama. Di dalam bangunan semacam gapura tersebut teradapat semacam ruangan-ruangan kecil. 

Selamat datang di Tamansari
Ornamen patung di gerbang pintu masuk
Selepas dari gapura tersebut, kita masuk ke area semacam taman. Di taman ini terdapat pepohonan dan tanaman-tanaman yang disusun rapi dalam pot. Selain itu terdapat bangunan -bangunan yang berdiri sendiri seperti gazebo terbuka tanpa pintu. Nah, di bangunan inilah saya meneduh saat hujan deras turun dengan beberapa turis lainnya. Beruntung ada bangunan ini sebagai tempat meneduh. 






Pemandangan - pemandangan taman
Setelah menunggu cukup lama, sepertinya ada 30 menit, saya melanjutkan ke area berikutnya. Walaupun masih gerimis rintik-rintik, saya harus bergerak. Kalau tidak, tentu saya akan kehabisan waktu. Untuk memasuki area berikutnya saya harus melewati semacam gapura lagi dengan tangga menurun. Setelah menuruni tangga ini, terdapat dua kolam. Sepertinya, inilah kolam yang disebut sebagai tempat pemandian permaisuri atau sultan. Arsitekturnya memang bagus, simetris. Dan saya rasa inilah pusat dari kompleks Tamansari ini.

Kolam di bagian utama Tamansari
Kolam dari sisi seberangnya

Menara di samping kolam

Menyeberangi kolam yang ada, saya melewati gapura serupa  gapura serupa sebelumnya. Namun, sebaliknya, tangga yang dilewati harus menanjak. Setelah melewati tangga menanjak ini, saya sampai di halaman luas. Sepertinya desainnya sama dengan taman yang saya lewati sebelumnya. Hanya saja, tidak terdapat tanaman-tanaman hias atau bangunan mirip gazebo. Hanya area yang luas. Di ujung area ini, masih terdapat bangunan kecil lainnya. Tapi, setelah saya telusuri hanya, bangunan dengan ruangan-ruangan kecil yang memiliki pintu keluar menuju perumahan warga.

Selesai menyusuri kompleks Tamansari dari ujung ke ujung. Saya bergegas kembali ke mobil karena ada tempat lain yang musti dikunjungi. Sementara itu hari semakin sore. Sedangkan saya harus sampai di Borobudur petang harinya.


Note:
- Terkait dengan lahan parkir yang saya sebutkan sebelumnya, apabila khawatir dengan tempat yang ada, sebaiknya datang di waktu yang tidak ramai.  Atau mungkin, musti dikonfirmasi apakah ada lahan parkir yang lain atau tidak.
- Saya sarankan untuk menyewa guide untuk menjelaskan segala hal tentang Tamansari sendiri.
- Agar tidak terjebak hujan, mungkin sebaiknya trip dilakukan saat hari cerah.


Related Post:

Trip To Jogja - Waisak Trip 2013 (Pembukaan)

~Tulisan ini hanya pembukaan dan rangkuman dari trip saya ke Jogja 24-27 Mei 2013 
Akhir minggu lalu, trip ke Jogja berhasil dieksekusi. Dengan berbagai unexpected conditions yang ditemui dalam perjalanannya, akhirnya usai sudah trip menyambangi Kota Jogja dan Kota Magelang. Well, saya tidak mau memungkiri kalau ada sedikit rasa kekecewaan. Akan tetapi, saya tidak mau menyesalinya karena memang ada esensi lain yang saya dapatkan. Dan, trip kemarin benar-benar menyenangan kok, kan banyak teman-teman saya yang ikut :)

Untuk peserta dalam perjalanan ini sendiri ada 10 orang. Jumlah yang termasuk banyak bukan? Selain saya ada Edy, Adul, Wakid, Bugi, Imam, Lisana, Yunika, Gardina, Chica. Thank you all sudah menjadi partner jalan-jalan selama di Jogja-Magelang walaupun waktu datang tidak sama, tujuan tidak sama, waktu pulang pun tidak sama. Namun, kita masih berusaha untuk menyesuaikan satu sama lain. Very nice..

Selama kurang lebih dua hari, ada beberapa tempat yang sempat saya kunjungi. Diantara tempat-tempat tersebut yaitu Tamansari, Malioboro, Benteng Vrederburg, Borobudur, Bukit Punthuk Setumbu, Biara Ibadah di Mendut, dan terakhir Beringin Kembar. Tidak begitu banyak tempat yang sempat saya kunjungi dalam dua hari karena memang tidak dua hari sepenuhnya (alasan,hehe...)

Terakhir tidak lupa saya mau mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yaitu Zella-junior semasa saya SMA yang memberikan tumpangan mandi, mas didik, mas arifin dan mas iskandar dari asyik transport yang memberikan pelayanan rental mobilnya, pak kepala desa dan ibu homestay anita, terima kasih semuanya.

At last, berikut ini keseluruhan rundown trip saya kemarin. Cerita detilnya nanti masing-masing mungkin ya..

Jumat, 24 Mei 2013
17.00                     Standby di Terminal Ranti, Jakarta Timur
20.00                     Berangkat dari Terminal Pinang Ranti menuju Jogjakarta

Sabtu, 25 Mei 2013
11.00                     Tiba di Terminal Jombor, Jogjakarta- Brunch di McD
12.00                     Sholat dan Mandi di daerah Monjali
13.00                     Menuju Tamansari
14.30                     Makan siang di Gudeg Yu Djum
15.30                     Malioboro, Benteng Vrederburg, dan sekitarnya (sambil menunggu teman)
17.00                     Menuju Borobudur
20.00                     Sampai di daerah Borobudur, mampir penginapan, langsung ke Candi Borobudur

Minggu, 26 Mei 2013

00.00                    Makan dan Menuju Penginapan
4.00                     Menuju Bukit Punthuk Setumbu
6.00                     Menuju Candi Borobudur
8.00                     Kembali ke Penginapan
9.00                     Menuju Jogja
9.30                     Mampir di Wihara Mendut
11.00                   Tiba di Beringin Kembar
12.00                   Tiba di Kawasan Malioboro
13.30                   Menuju Solo
15.45                   Tiba di Stasiun Jebres
16.00                   Bertolak menuju Jakarta

Senin, 27 Mei 2013

2.00                    Tiba di Stasiun Jatinegara
4.00                    Menuju rumah
5.00                    Tiba di rumah dengan selamat :)


Demikian rangkuman jalan-jalan di Jogja weekend lalu, sisanya nanti lagi :)


Related Post: