Tuesday, April 26, 2016

Salam Rindu Untuk Ibu

Akan ada banyak hal yang membuat kita rindu atas apa yang kita tinggalkan di tanah air sana di kala kita menjalani pendidikan di negeri orang. Barangkali makananya, suasananya, teman, atau keluarga? Ya keluarga. Ijinkan saya berbagi sedikit cerita tentang kerinduan kepada keluarga yang terpaut jarak belasan ribu kilometer di sana. Perbedaan jarak dan waktu menciptakan kerinduan. Sementara rindu memicu pikiran untuk mengenang. 
Sudah sedari kecil saya lumayan sering terpisah dari orang tua. Dari semenjak usia lima tahun kalau tidak salah ingatan saya. Dalam perjalanannya, beberapa kali saya harus terpisah kota, provinsi, hingga terpisah pulau. Tapi, butuh waktu 20 tahun hingga sekarang ini, bahkan harus berada di benua berbeda, dengan konsekuensi perbedaan waktu yang ada, untuk dapat mencerna betul sekuat itu hubungan yang dinamakan cinta akan keluarga, lantaran rindu yang tercipta.
Syukur alhamdulillah kedua orang tua saya masih sehat wal’afiat hingga saat ini. Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan kepada beliau berdua. Kali ini, saya secara khusus akan bercerita tentang Ibu, sosok yang sangat saya cintai dan saya hormati, yang tanpanya tidaklah mungkin saya sampai di titik ini, tanpa mengesampingkan andil dan perjuangan bapak tentunya. 

Restu Ibu (Orang Tua) adalah Restu Allah SWT
Ibu saya itu berlatar pendidikan sekolah dasar, pun demikian dengan bapak. Cerita akan kehidupan sekolahnya dulu menjadi dongeng sebelum tidur tapi juga menjadi cerita pemupuk semangat untuk sekolah yang tinggi. Bahwa sekalipun memiliki keinginan bersekolah, ada banyak hal yang pada akhirnya membuat pendidikan sekolah dasar saja “cukup”. Setidaknya untuk zaman itu. Dan di lingkungan itu. Sekitar dua puluh tahun berikutnya, di saat generasi saya bersekolah, keadaan tak berubah signifikan. Pendidikan sekolah menengah pertama dirasa “cukup”. Lahir di lingkungan yang minim informasi akan pentingnya pendidikan membuat keluarga kami memiliki kecenderungan mengamini pemikiran masyarakat pada umumnya.
Nasib agaknya membawa saya lebih jauh, perjalanan pendidikan saya tidak terhenti sekedar menuntaskan “pendidikan wajib belajar sembilan tahun”. Ketika saya sampaikan ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, orang tua saya merestui keinginan tersebut. Tingkat pendidikan SMA ini saja sudah termasuk awam bagi kedua orang tua saya. Saya ingat betul kalau saat itu saya harus mendaftarkan diri ke sekolah SMA tanpa didampingi orang tua. Yang mengkhawatirkan bukanlah jarak yang jauh dari desa ke kota. Tapi, kalau-kalau ada kebutuhan yang harus ditangani orang tua saat pendaftaran, bisa apa bocah sekecil saya? Tiga tahun sebelumnya, ibu mendampingi bahkan sampai di bangku ruang kelas. Tapi, tidak ada lagi untuk kali berikutnya. Itu titik pertama saya, bahwa saya percaya dengan restu dan doa orang tua, saya masih bisa meraih pendidikan saya. 
Terkadang takdir itu memang lucu, setelah masuk selang berapa minggu setelah diterima di SMA, saya harus pindah SMA. Saya mengambil kesempatan beasiswa pendidikan SMA di Jakarta. Untuk meringankan beban orang tua, demikian pikir pendek saya. Menjelang akhir kelulusan SMA, saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi ke tingkat sarjana. Menjadi permasalahan tersendiri ketika kami sekeluarga semakin awam akan tingkat pendidikan ini. Saya pun sebelumnya tidak pernah terbersit untuk melanjutkan kuliah. Sama sekali.  Pendidikan SMA saya kira sudah lebih dari cukup dengan mindset saya saat itu. Padahal itu sudah tahun 2007.
“Bayaran 27 juta itu pakai uang siapa nanti, lé? Ibu tidak punya uang sebanyak itu.”, demikian respon ibu saya ketika saya beri tahu jumlah uang biaya masuk kuliahnya.
“ Nanti kita datang saja dulu saat daftar ulang ya, Bu. Kalau memang harus bayar semahal itu, saya langsung tidak melanjutkan kuliah. Yang penting sekarang diperbolehkan dan mohon doanya saja.”, timpal saya dalam percakapan melalui telepon saat itu. Saya masih ingat betul saat itu saya langsung menelepon ibu seketika setelah mendapatkan surat untuk daftar ulang beserta besaran biaya awal masuk kuliah.
Terus demikian hingga sekarang, saya hanya berbekal restu orang tua dan sedikit kenekatan diri sampai akhirnya mengenyam pendidikan S2 saat ini. Keluarga saya bukan keluarga terpelajar dan cukup untuk membiayai pendidikan saya hingga saat ini. Sejak dari bangku SMA hingga saat ini, pendidikan saya selalu diberi jalan melalui beasiswa. Menengok kembali ke belakang, satu poin utama yang saya yakini adalah restu orang tua. Seringkali kita dengar cerita tentang pendidikan tinggi yang diraih adalah dengan otak cerdas atau perjuangan keras. Dalam kasus saya, yang saya percayai betul bahwa ini adalah buah dari doa restu dan dukungan orang tua. Karena restu orang tua, Allah memudahkan seluruh perjalanan saya hingga pendidikan saat ini.

Perjuangan Menyokong Kebutuhan Keluarga
Tak pernah sekalipun, sejauh pikiran saya mencoba membayangkan, mampu memahami kerasnya perjuangan Ibu saya. Termasuk di dalamnya perjuangan secara fisik maupun mental. Dulu, karena mengikuti arus lingkungan sekitar, kedua orang tua saya merantau ke kota, Jakarta, dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga kami. Ibu berjualan jamu, sedang bapak saya sebagai penjual mie ayam. Tipikal pekerjaan yang dipilih perantau yang berasal dari kampung halaman saya, Solo. Jadilah, sejak kecil saya sudah tinggal bersama mbah kakung dan mbah putri. Layaknya kebanyakan teman sebaya juga. 
Bicara soal ibu yang berjualan jamu, inilah yang saya pikir sebagai perjuangan berat. Setiap hari, ibu berjualan jamu yang digendongnya, berjalan kaki dari hunian kampung sampai kompleks perumahan. Entah berapa kilometer jauhnya, yang pasti ibu berangkat dari pukul tujuh pagi sampai pukul satu tengah hari. Terkadang saya dapati ibu pulang dengan basah karena keringat saat matahari sedang terik-teriknya. Atau di lain waktu, kain jariknya basah kuyup karena air hujan atau banjir di jalur kelilingannya. Beberapa cerita dibagikan ke saya sesampainya di rumah seperti: “Jamunya ndak habis, terus ibu buang saja karena sudah siang.” Atau “ Ibu tadi ndak berani nyebrang sungai, ibu takut karena airnya terlalu tinggi. Terus nanti kalau ndak bisa pulang ya gimana?” Cerita ibu seperti itulah kadang kala yang saya dengar.
Kondisi berubah ketika simbah sedang sakit ditambah dengan lahirnya adik saya. Saat itu saya masih SMP. Hanya bapak yang merantau ke Jakarta. Saat itu, saya lihat betul betapa luar biasa ibu saya mengurusi kami semua. Mulai dari mengurusi simbah yang sakit, adik saya yang masih bayi, termasuk saya yang sekolah juga. Urusan sawah tak ketinggalan menjadi pengawasan ibu juga. Sebelumnya, urusan sawah itu masih bisa ditangani oleh kedua simbah saya dengan baik. Berhubung simbah sakit, kami semua harus bekerja ekstra untuk kehidupan keluarga.
Saat itu juga adalah saat-saat kondisi finansial keluarga kami memburuk. Ibu harus mencari cara untuk menambah penghasilan. Ibu mengusahakan apapun yang bisa dijual hasil dari kebun. Pernah sekali waktu, saat itu sedang musim biji mete yang menjadi salah satu hasil kebun untuk kami jual. Tiap beberapa hari sekali kami mengambil hasilnya. Tidak jarang kami membawa serta adik saya yang masih bayi untuk ikut ke sawah. Suatu saat pengawasan kami sempat lengah sehingga adik saya  merangkak ke bibir jurang. Beruntung kami melihatnya sebelum adik saya terjun ke jurang itu. Seingat saya, kami bukannya khawatir berlebihan, malah menjadi “kenangan yang menghibur” kalau mengingat cerita itu. Meski kemudian saya paham, bahwa hal itu bukanlah perjuangan sepele. Ibu yang saat itu, telah mempertaruhkan banyak hal di dalam perjuangannya.
Bagaimana kalau sekarang? Ibu tetap melakukan pekerjaan menjual jamu itu, hingga hari ini. Sejak saya mau masuk kuliah, ibu terus berusaha keras menyokong kebutuhan sehari-hari saya meski tanpa harus memikirkan biaya kuliahnya. Ada adik saya juga yang masih harus dipikirkan kelanjutan pendidikannya. Saya pikir ibu tetap akan terus berjuang di jalan itu hingga saya menyelesaikan pendidikan ini dan menyokong kebutuhan keluarga. Saya tidak tahu kapan ibu akan berhenti dari rutinitas pekerjaan ini. Setiap kali saya bertanya, “kok sudah ke Jakarta saja?”. “ Ya daripada di kampung tidak ada kegiatan, le”, demikian jawab ibu saya kalau tidak ada pekerjaan terkait masa panen atau cocok tanam di sawah. Jawaban yang sepertinya diharapkan agar saya tidak terlalu ikut memikirkan keluarga saya.  

Pengorbanan Untuk Berpisah Dari Anak-anaknya
Memisahkan ibu dari anaknya menjadi hal yang berat bagi keduanya. Sang anak akan kurang mendapatkan kasih saya ibu. Selain itu, peran ibu sebagai pendidik juga tidak didapatkan. Saya yang dulu menerima kondisi itu dengan wajar karena saya pikir memang begitulah cara kami hidup. Karena memang yang demikian itu lazim adanya di lingkungan hidup bermasyarakat di kampung halaman.
Hampir setiap kali ibu pamitan untuk berangkat ke perantauan, saya selalu menangis. Dari menangis tertahan dan sesenggukan sampai menangis histeris. Sebagai anak kecil saya hanya berpikir kalau cuma saya yang sedih tapi tidak dengan ibu saya. Tentu kemudian akhirnya saya pahami bahwa hal itu tidak benar. Meninggalkan anaknya untuk kemudian diasuh dan dididik bukan oleh tangannya sendiri, memerlukan tekad pengorbanan yang kuat. Kesedihannya saya yakin jauh lebih besar dibandingkan dengan kesedihan saya. Tangis seorang anak kecil bisa saja diredam dalam hitungan jam. Sedangkan ibu, segala perjuangan sehari-harinya diharapkan menjadi cara untuk melupakan kesedihan itu. Ditambah lagi, bukan hanya dengan saya, ibu juga harus melakukan pengorbanan yang sama kepada adik saya. Pengorbanannya semata-mata karena ingin menyekolahkan anak-anaknya semampu yang ibu bisa. 
Tak pernah sekalipun saya  dapati ibu saya mengeluh bahkan menitikkan air mata untuk melalui segala pengorbanan ini. Saya melihat teguhnya kekuatan yang ditunjukkan dengan pengorbanan itu. Saya yang sekarang ini masih tidak sanggup memahami seberapa besar kekuatan yang dibutuhkan bagi ibu untuk semua itu. Sangat besar kiranya.
Kemudian saya teringat saat dimana kekuatan itu tak mampu menahan kesedihan ibu. Saat dimana saya diantar di bandara sebelum perjalanan studi saya. Sampai sesaat saya hendak boarding, ibu masih terlihat biasa saja. Saat tiba pamitan terakhir, ibu tidak kuasa menahan tangisnya. Sejujurnya saya sedikit kaget melihat ibu menangis, salah satu tangis ibu yang terkuat yang pernah saya lihat. Saya tahan diri saya kuat-kuat untuk tidak melihat wajah ibu saat itu. Tangisnya semakin kuat ibu memeluk saya.  Di dalam pelukannya yang erat, saya rasakan betul bahwa perpisahan itu berat bagi ibu. Dari linangan air matanya, dari nafasnya yang tak beraturan, dari suara tangisnya yang sesekali tertahan.  Saat itu saya sadar kondisi telah bertukar, saya yang dulu selalu menangis jika ditinggal ibu, menjadi harus menahan air mata sekuat-kuatnya untuk meninggalkannya.  

Kebahagiaan untuk Ibu
Setelah apa yang saya lalui sejauh ini, sejujurnya saya tidak tahu betul apa yang membahagiakan ibu saya. Walaupun tentu saya akan berbuat apapun sebagai seorang anak untuk membuat ibunya bahagia. Tidak pernah kami berbincang tentang konsep bahagia seperti apa yang ibu inginkan. Kalau sekiranya memang ingin hidup sewajarnya layaknya lingkungan sekitar, tentu saya tidak akan diarahkan untuk terus sekolah. Demikian juga halnya kalau materi menjadi parameter bahagia,  saya kira ibu tidak akan merestui untuk melanjutkan studi ini. Selalu dan selalu ibu berkata, “ Ibu ndak mengerti apa-apa, kalau menurut kamu itu baik, ibu hanya bisa merestui dan mendo’akan.” Dan apakah ibu saya bahagia semata karena memberikan kebebasan pilihan dalam koridor kebaikan tersebut? Entahlah. Tapi Jika memang demikian adanya, saya tentu bersyukur jika pilihan-pilihan hidup saya itu membuat ibu bahagia.
Pada dasarnya, selain karena memang mimpi pribadi, pilihan saya untuk melanjutkan studi sampai di Belanda ini merupakan cara saya untuk membahagiakan ibu. Bahagia karena bangga mampu mengantarkan anaknya sampai titik ini. Bahwa dirinya dulu harus bekerja keras untuk menuntaskan pendidikan sekolah dasarnya, namun kondisi itu tidak perlu lagi dilalui oleh anaknya. Bahwa pendidikan memang pilihan bekal yang tepat bagi anaknya meski harus menjadi berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Itu yang kiranya ingin saya persembahkan kepada ibu dengan menuntaskan pendidikan saya. Sementara belum banyak bantuan materi yang saya berikan, saya harap ini menjadi salah satu cara membahagiakan ibu.
Pada akhirnya, hal terpenting yang saya maknai betul adalah tentang ikatan kami. Tanpa studi di luar negeri, saya kira ikatan saya dan ibu tidak akan sekuat ini. Belum pernah saya dapati kecintaan pada ibu, dan keluarga, sebelum saya hijrah ke sini. Saya dan ibu, tidaklah seperti kekhawatiran saya dulu, yang akan memiliki ikatan kaku dan kurang terbuka karena tumbuh di lingkungan suku Jawa. Saya sebagai anak bisa leluasa menceritakan apapun. Sedangkan ibu juga tidak segan meminta pertimbangan dari anaknya. Dalam perbincangan kami, ibu selalu terdengar berusaha mengikuti topik yang saya sampaikan. Sekalipun itu hal yang awam baginya. Saya pun belajar mendengarkan cerita ibu, tentang apapun itu serta menyampaikan dengan sabar hal-hal yang terdengar tidak lazim baginya. Melihat perkembangan ini membuat saya bahagia. Yang berkembang dan belajar sejatinya bukan hanya saya. Ini bukan lagi tentang pendidikan saya seorang, tapi pelajaran bagi saya dan ibu, serta Bapak dan adik saya, tentang peningkatan diri, tentang ikatan dan cinta dalam keluarga. Saya sangat bersyukur dan bahagia dapat memaknai hal ini. Saya harap demikian pula dengan ibu. Ibu mampu berbahagia, bukan hanya karena melihat pencapaian anaknya, tetapi juga kemajuan yang ada pada dirinya.

Penutup
Pada akhirnya, ibu juga tidak dapat membaca tulisan ini. Jangankan internet, ibu baru mau menggunakan HP beberapa tahun lalu. Namun, biarkan saya mencatat kisah seorang ibu yang menjadi pendorong utama pendidikan anaknya.
Saya bukan seorang brilian dengan berbagai prestasi. Tapi dengan restu ibu, kaki saya mampu sejauh ini melangkah. Saya bukan seorang yang bekerja dengan gigih. Tapi dengan mengingat perjuangan dan pengorbanan ibu, saya mampu bertahan sedikit lebih lama. Saya bukanlah seorang berpendirian teguh. Tapi dengan dukungan semangat dan do’a ibu, segala urusan dengan baik terlewati. 
Satu hal yang pelajari betul-betul dan perlu saya ingat adalah bahwa ibu selalu ada dalam perjalanan hidup saya. Apapun yang ibu lakukan, memiliki andil dalam setiap perjuangan saya. Selalu. Setiap waktu. Semoga semuanya lancar dan saya dapat berjumpa dengan ibu, dalam kurun waktu yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Aamiin.


Note: Tulisan ini juga dipublish di website PPI Belanda: http://ppibelanda.org/salam-rindu-untuk-ibu/