Showing posts with label snorkeling. Show all posts
Showing posts with label snorkeling. Show all posts

Monday, April 28, 2014

Karimunjawa, Apalagi ya?

Selain snorkeling dan menikmati indahnya matahari pagi maupun sore, saya menyempatkan menikmati beberapa tempat lainnya. Tempat-tempat tersebut diantaranya Bukit Love, Mangrove Taman Nasional Karimun Jawa, dan Pantai Ujung Gelam. Ah iya, saya tambahkan wisata kuliner malam hari di Lapangan Karimunjawa juga ya.

1. Bukit Love

Kami mendatangi tempat ini di waktu bebas hari ketiga. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar sama sekali keberadaan tempat ini. Beruntung sekali bapak sopir pick up menawarkan untuk pergi ke tempat ini terlebih dahulu sebelum ke mangrove karena tempatnya searah jadi sekalian mampir. Dituruti sajalah ya secara beliau ini pasti lebih tahu. 

Bukit Love ini merupakan sebuah bukit yang menyajikan pemandangan laut, hutan, dan perbukitan Karimunjawa. Bisa dibilang mirip dengan Bukit Malimbu yang ada di Lombok. Sebagai penanda, terdapat semacan monumen kecil bertuliskan "LOVE". Sebenarnya saya sendiri kurang tahu kenapa disebut Bukit Love. Sayangnya, saya juga tidak menanyakan ke Si Bapak sejarah atau peruntukan tempat ini. Sementara itu, jalan menuju bukit ini sudah dicor dengan baik. Menurut Si Bapak, jalan itu nanti akan dibuat menembus sampai jalanan di sebelah Pantai Nyamplung Ragas. Jadi, akan ada track melingkar untuk menikmati spot-spot bagus tersebut. Untuk menikmati tempat ini tidak dikenakan biaya apapun alias gratis.


Monumen kecil penanda Bukit Love

Pemandangan Laut Karimunjawa dari atas bukit

Tidak hanya laut kita juga dapat melihat perbukitan di sisi kanan

Dapat melihat bulan di hari cerah. Ini salah satu yang saya dapati saat berada di Bukit Love


2. Mangrove Taman Nasional Karimun Jawa

Inilah tujuan kami menyewa pick up, menuju Mangrove Taman Nasional Karimun Jawa. Kami mengetahui tempat ini dari peta yang ada di penginapan. Lokasinya berada di sisi barat Pulau Karimunjawa. Jadi, waktu itu saya pikir bisa sekalian mampir ke Pantai Ujung Gelam. Tidak hanya jauh, jalan aspal menuju mangrove rusak di beberapa tempat. Oleh karena itu, waktu untuk menuju kesana lumayan lama, kurang lebih satu jam.

Sampai di hutan mangrove tersebut, sayangnya belum dibuka. Tempat tersebut baru dibuka pukul 8 pagi, setidaknya begitu yang kami baca di papan pengumuman. Tapi kami tidak perlu menunggu lama karena beberapa saat kemudian penjaga datang kemudian memperbolehkan kami masuk walaupun belum pukul 8. Untuk masuk taman nasional ini harus membayar tiket masuk 2.500 rupiah per orang.

Tidak perlu khawatir untuk trekking di tempat ini karena jalurnya sudah dibuat dengan papan dengan rapi. Sesekali, di sepanjang jalur itu, akan menemui rumah kecil yang bisa dijadikan untuk tempat istirahat. Awalnya, hanya pohon-pohon bakau yang kami lihat. Kemudian sampai di ujung jalur pepohonan bakau mulai berkurang dan tempatnya lebih terbuka. Tempat itu lebih mirip seperti rawa yang sedang ditumbuhi bakau-bakau kecil. Di tempat ini pula ada semacam menara yang dapat digunakan untuk melihat sekeliling. Lagi, perbukitan Karimunjawa yang indah dapat pula disaksikan dari menara ini. Untuk dapat keluar dari taman mangrove ini kami harus menembus hutan lebat bakau lagi. Satu hal yang musti diingat saat mengunjungi tempat ini adalah membawa lotion anti nyamuk. Serius, tidak hanya banyak, nyamuknya juga ganas.


Pintu masuk taman mangrove. (Photo by Edy)

Bagian ujung jalur. Terdapat menara dan bakau-bakau kecil

Pemandangan perbukitan Karimunjawa

Sisi menara

Pemandangan perbukitan apabila dilihat dari atas menara. (Photo by Edy)



3. Pantai Ujung Gelam

Saya sudah ingin sekali ke Pantai ini sejak hari pertama, untuk menikmati matahari terbenam. Pantai Ujung Gelam ini memang seringkali saya dengar merupakan salah satu spot untuk menikmati matahari terbenam. Sayang sekali pihak agency tidak mengakomodir untuk ke tempat ini. Jadinya, kami mengunjungi di pagi hari ketiga yang cerah kalau tidak mau dikatakan terik.

Ternyata lokasi pantai ini sudah kami lewati saat menuju taman mangrove. Jadi, maksudnya Si Bapak adalah mengunjungi pantai ini sekaligus dalam perjalanan pulang menuju penginapan. Saya bilang, menyewa mobil adalah keputusan yang sangat tepat untuk menuju Pantai Ujung Gelam. Dari pintu masuk, jaraknya masih cukup jauh sekali. Alternatifnya, memang kapal yang digunakan untuk snorkeling sekalian digunakan untuk mampir ke pantai ini.

Akhirnya, saya bilang saya tidak menyesal walaupun saya mengunjungi Pantai Ujung Gelam bukan sore hari. Pantai ini memang indah sekali dengan pasir halus dan putih, air laut jernih, bahkan ikan-ikan banyak yang berenang ke tepian pantai. Di hari secerah itu, pemandangan pantai itu makin cantik. Untuk saya sendiri, awalnya saya bermain-main dengan pasir putih yang halus. Pasirnya juga dingin jadi membuat adem di hari terik itu. Tapi akhirnya saya tidak tahan untuk tidak nyebur ke laut dan berenang dengan ikan-ikan. Dan jika ingin menikmati pemandangan indah pantai ini, coba telusuri pantai ini dari ujung ke ujung. Jangan pula khawatir kelaparan karena ada warung-warung yang berjualan di pantai ini. 


Pemandangan pantai di sisi kiri. (Photo by Edy)

Perahu kecil. (Photo by Edy)

Ini salah satu pemandangan terbaik selama saya di Karimunjawa.

Pasir putihnya halus sekali. Ini di bagian kanan pantai.

Pantai ini juga bisa dikunjungi dengan menggunakan kapal. 

4. Kuliner Malam di Lapangan Karimunjawa

Saya tidak lega kalau tidak menambahkan bagian ini. Selain pemandangan-pemandangan yang cantik, ada kuliner lezat yang wajib dinikmati di Karimunjawa. Tidak hanya itu, harganya juga murah. Kuliner yang saya maksud adalah seafood bakar. Kami tidak berhasil mendapatkannya di malam pertama karena ramai sekali sehingga harus antre luar biasa lama. Akhirnya kami menyerah dan berusaha di hari kedua. 

Di hari kedua kami sudah memesan sejak sore hari bahkan saat ibu penjualnya baru buka. Oke saya menyebutkan harga yang murah karena memang harganya murah. Cumi yang sangat besar hanya seharga 30ribu, ikan kakap merah yang besar juga seharga 60ribu, untuk lobster, well saya tidak tahu harga pasarannya ya, tapi kami mendapatkan yang ukuran kecil dengan harga 40ribu. Ibunya terlihat jujur saat bilang kalau tidak mengambil untung banyak. Sudah begitu saya masih minta bonus dan akhirnya diberi satu bonus lobster,hehe. Tapi memang sih dibandingkan dengan saat saya di Gili Trawangan dulu yang disini relatif lebih murah. Tidak ada perbedaan harga pula untuk pengunjung lokal atau mancanegara. Dan satu hal yang harus sampaikan juga adalah sambal yang sangat enak, kedua jenisnya baik yang ada citarasa asam maupun manis. Saya bertanya ke ibu penjual memang katanya itu sambal khas Karimunjawa dan bersifat rahasia. Baiklah.. Dan walaupun kami makan seafood bakar tersebut setelah makan malam di penginapan, kami tetap makan dengan lahap seperti orang yang kelaparan. Ya mau bagaimana lagi, semuanya enak,haha


Seafood bakar. (Photo by Rifky)

Related posts:

Snorkeling Time di Kepulauan Karimunjawa

Hal wajib yang musti dilakukan saat mengunjungi Karimunjawa tentu saja adalah snorkeling. Dengan durasi 3 hari 2 malam, saya mendapatkan jatah snorkeling di tiga tempat yaitu di dekat Pulau Menjangan, di dekat Pulau Tengah, dan terakhir di dekat Pulau Kecil. Setidaknya itu yang diagendakan oleh agency rombongan kami. Snorkeling di hari pertama dilakukan di dekat pulau menjangan sedangkan dua sisanya dilakukan di hari berikutnya.

1. Pulau Menjangan

Pulau Menjangan terletak relatif dekat dengan Pulau Karimun Besar. Sebenarnya terdapat Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil. Lokasi snorkeling saya waktu itu di dekat Pulau Menjangan Besar. Setelah selesai snorkeling, kami di ajak ke penangkaran hiu yang ada di Pulau Menjangan Kecil. 

Snorkeling di tempat pertama ini kurang begitu memberikan impression bagi saya pribadi. Mungkin kekhasan perairan Karimunjawa berarus tenang dan jernih kali ya. Malah awalnya saya sedikit kecewa karena di tempat kapal berhenti beberapa karang hancur. Saat itu saya juga ingin sekali ada foto underwater yang mana fotonya dilakukan di dekat-dekat kapal dan harus bergantian. Akhirnya saya kurang begitu menjelajahi spot snorkeling tersebut. Dan memang jika ingin menikmati keindahan bawah lautnya harus menjauh dari kapal biasa berhenti. Ketika saya menjelajahi bagian-bagian lain memang bagus kok. Sayang terkendala di waktu jadi tidak banyak yang mampu saya jelajahi.

Selesai dari aktivitas snorkeling tersebut, kami menuju ke Pulau Menjangan Kecil. Di pulau ini terdapat penangkaran hiu. Sebelum sampai di pulau ini, dari kejauhan terlihat ramai sekali manusia berjejalan di sana. Karena efek hari libur panjang sepertinya. Yang pasti setibanya saya di pulau ini, saya tidak melakukan apa-apa. Biasanya orang akan masuk ke kolam yang berisi hiu dan berfoto, atau memegan hiu untuk difoto, atau hewan lain seperti penyu atau ikan fugu (atau biasa disebut ikan buntal). Saya tidak tertarik sama sekali malah merasa kasihan melihat hewan-hewan itu diperlakukan seperti itu. Bisa dibayangkan mereka diajak berfoto dengan diangkat di udara yang bukan tempat hidupnya. Saya tidak berlama-lama di penangkaran itu, pergi ke pantainya sebentar dan kemudian kembali ke kapal.


2. Pulau Tengah 

Snorkeling di dekat Pulau Tengah ini dilakukan di hari kedua. Untuk mencapai Pulau Tengah perlu menempuh waktu yang cukup lama mengingat lokasinya yang cukup jauh. Sebagai gambaran dermaga Karimunjawa terletak di ujung selatan agak ke barat dari Pulau Karimun Besar sedangkan lokasi Pulau Tengah berada di sebelah timur Pulau Karimun Besar. Jadi kapal harus memutari pulau terlebih dahulu. Tapi, walaupun jaraknya cukup jauh, pemandangan Pulau Karimun Besar yang indah akan mengantarkan kita mencapai Pulau Tengah. Bukit-bukit Pulau Karimun Besar tidak kalah indah dilihat dari sisi lain pulau. Dan lagi saya tidak bosan mengatakan ciri khas air yang tenang dari laut Karimunjawa. Bagi saya laut hari itu seperti kolam renang raksasa.

Perjalanan menuju Pulau Tengah akan disuguhi pemandangan seperti di atas

Sebenarnya spot snorkeling kali ini masih relatif jauh dari Pulau Tengah. Bisa dibilang di tengah laut. Yang pasti yang saya ingat adalah spot ini jauh lebih baik daripada spot sebelumnya. Mungkin kita masih bisa menemukan karang-karang rusak seperti halnya di spot sebelumnya tapi coba saja menjelajah. Saya menemukan terumbu karang berwarna-warni, ikan-ikan yang beraneka warna bukan hanya yang berukuran kecil tapi yang ukurannya besar-besar. Gerombolan ikan-ikan besar juga bisa terlihat yang membuat saya ingin mengejar mereka. Dan di tempat ini, saya juga menemukan anemon. Berharap ada ikan badut alias nemo? Tentu saja! Tapi yang saya temui, well.. bisa dibilang saudaranya. Warnanya orange cenderung cokelat tapi masih dengan garis putih juga. Fisiologis tubuhnya juga berbeda. Bertemu itu saja saya sudah senang bukan main. Tapi, kalau mau menjelajah lebih jauh dan teliti mungkin akan menemukan si ikan nemo tadi karena teman saya berhasil menemukan ikan itu di spot ini.

Pulau Tengah tidak hanya memberikan pemandangan bawah laut yang indah. Jika singgah di pulaunya, kita akan mendapati pemandangan yang indah juga. Kami singgah disana karena agenda kami makan siang. Di dermaga bahkan kami masih tertarik untuk snorkeling lantaran airnya yang sangat jernih. Tapi tidak begitu lama. Menyusuri dermaga ada hiu-hiu yang berenang di kolamnya. Jauh lebih banyak dan terlihat lebih baik, setidaknya bagi saya, karena kolam tersebut dilarang dimasuki oleh pengunjung. Sambil menunggu makan siang dimasak jelas saya menjelajahi pulau tersebut. Dan tidak dipungkiri, pemandangannya indah sekali.


Sekumpulan hiu yang ada di dermaga Pulau Tengah



Tidak hanya bersandar di dermaga, kapal-kapal juga langsung dapat bersandar di pantai berpasir putih

Kita akan mendapati pasir ini jika berkeliling pulau

Air laut yang jernih dengan latar belakang perbukitan

Saat itu air masih sedikit pasang, jadi harus menyeberangi air yang jernih ini agar dapat mengelilingi pulau.

Sisi lain Pulau Tengah, pantai berpasir putih


3. Pulau Kecil

Usai makan siang, kami melanjutkan snorkeling di Pulau Kecil. Menurut saya inilah spot terbaik dibandingkan dua spot sebelumnya. Sejak dari spot kedua saya memang sudah tidak peduli dengan foto underwater sehingga waktu menjelajahi spot ini semakin banyak. Tidak ada habisnya, saya menyusuri sekitaran pulau tersebut menikmati terumbu karang yang indah. Keindahannya semakin bertambah ketika mendapatkan cahaya matahari yang terik. Beraneka macam ikan juga saya temui yang mana lebih beragam lagi. Saudara nemo yang saya sebutkan sebelumnya banyak ditemui disini. Saya juga menemukan yang mirip juga dengan warna yang lebih cerah. Anemon yang biasa dilihat warna orange, saya sempat melihat yang warna ungu. Saya juga sempat mendapati ikan yang sedang berterlur. Ada juga bintang laut berlengan banyak dengan ukuran yang besar, jauh lebih lebar dari telapak tangan manusia apabila dilebarkan, serta berwarna sangat cerah. Disekujur tubuhnya ditumbuhi duri-duri. Itu kali pertama saya melihat langsung bintang laut seperti itu. Dan terakhir, saya berhasil menemukan si ikan badut, terletak dekat sekali dengan dermaga tapi sangat dalam. Perjuangan sekali untuk dapat melihatnya karena harus menahan rasa sakit di telinga saya. Maklum free-diver pemula. Karena keasyikan menikmati pemandangan bawah lautnya, saya tidak sempat singgah ke Pulau Kecil. Padahal sepertinya menyusuri Pulau Kecil tidak kalah menyenangkan. Tapi apa daya karena waktu semakin sore dan perjalanan menuju Pulau Karimun Besar cukup lama.


Pantai di Pulau Kecil (Photo by Rifky)

Pulau Kecil dilihat dari dermaga ( Photo by Rifky )


Foto-foto penampakan bawah laut Karimunjawa berikut ini di ambil oleh teman saya Rifky. 





Akhirnya saya memiliki foto saat snorkeling. (Photo by  travel agent)


Related Posts:

Friday, April 25, 2014

Kepulauan Karimunjawa, Mimpinya Terwujud Juga (Brief)

Kontur Pulau Karimunjawa yang berbukit-bukit. Saya tidak mengira sebelumnya kalau seperti itu. Tidak lupa, air laut yang tenang khas Karimunjawa. Jadi terlihat seperti kolam renang raksasa.


Sudah dari tahun lalu saya merencanakan berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa. Tapi ntah kenapa gagal maning, gagal maning. Padahal sudah dipersiapkan. Akhirnya, April 2014 ini mimpi tersebut terwujud juga. Kepulauan Karimunjawa, Jepara, checked!

Dalam trip kali ini, jumlah akhir rombongan saya adalah 12 orang padahal awalnya berjumlah 16 orang. Orang-orang itu adalah saya sendiri, Uci, Pia, Vanes, Aje, Yunika, Ocha, Dewi, Edi, Oka, Rifki, Ardi. Sebagian besar dalam rombongan ini adalah teman-teman kampus UI saya dulu. Sebagian besar lagi adalah rekan-rekan Teknik Elektro UI 2007. Saya jadi merasa tidak enak membebankan mengurusi ini-itu kepada +Suci Ayunda, mengurusi jalan-jalan anak elektro. Jadi, sudah sepantasnya saya berterima kasih kepada beliau ini. 
Inilah rombongan 12 orang yang ke Karimunjawa. 

Walaupun trip ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, kami memutuskan untuk menggunakan travel agency. Ada beberapa alasan sih kenapa kami menggunakan agency. Pertama, most of peserta rombongannya adalah karyawan, untuk confirm segitu banyak hal dalam trip rada kerepotan. Kedua, tripnya sendiri hanya di Karimunjawa itu saja. Maksud saya bukan yang trip dengan jangkauan destinasi yang banyak, jadi dipasrahkan ke agency saja. Ketiga, dokumentasi pasti disediakan oleh pihak agency. Yes,,, sudah berapa kali saya trip snorkeling tapi dokumentasi bawah lautnya itu lho tidak punya. Kalau agency pasti punya kamera underwater, jadi ada kenang-kenangan yang dibawa pulang. Berikutnya, ada hal-hal yang bisa dilakukan agency dengan baik yang tidak bisa dilakukan kalau kita lakukan sendiri. Terakhir dan untuk merangkum semuanya adalah tidak perlu repot, tinggal terima jadi.

Memang kami menggunakan travel agency, tapi masih ada part menggembel ria. Kami berangkat masih menggunakan kereta ekonomi 50 ribu saja. Kami juga capek-capek berjalan dari Stasiun Poncol menuju Simpang Lima. Bahkan kami bermalam di masjid sebelum menuju Jepara. Bagi saya sih seru sekali!

Nah, kalau untuk destinasi, dalam trip Karimunjawa ini ada beberapa tempat yang kami kunjungi. Pertama, kami sempat mampir ke Lawang Sewu di Semarang. Kemudian untuk di Karimunjawa, kami snorkeling di tiga tempat, Menjangan Besar, Pulau Tengah, dan Pulau Kecil. Tempat yang lainnya adalah Pantai Nirwana, Pantai Nyamplung Ragas, Bukit Joko Tuwo, Pantai Ujung Gelam, Bukit Love dan Mangrove Taman Nasional Karimunjawa. Nah untuk cerita masing-masing destinasi akan saya post di postingan berikutnya.

Yang pasti, Kepulauan Karimunjawa ini memang indah sekali. Sulit untuk move on dari keindahan alamnya. Tidak percaya, silakan cek nanti foto-fotonya.Haha..



Related Posts:

Monday, April 14, 2014

Bertaruh Dengan Cuaca, Wisata Pulau Tunda

Ada satu lagi nih alternatif jalan-jalan murah deket ibu kota. Biasanya kan pulau seribu tuh yang murah tapi puas. Nah yang ini masuk ke Provinsi Banten yakni Pulau Tunda. 

Awalnya.. biasalah namanya pengangguran lagi bingung jalan-jalan kemana. Nah, ada temen-temen BPI yang nawarin ke pulau tunda ini. Asing juga sih sama namanya. Terus googling sebentar kayaknya bagus juga. Wait, masih musim hujan kalo bulan Maret kan? Lumayan mengkhawatirkan juga sebenarnya. 

Tapi akhirnya ya saya iyakan ajakan teman saya. Dari hasil menjelajah dunia maya dengan singkat katanya bisa snorkeling. Terus bisa trekking juga. Bahkan bisa ketemu lumba-lumba. Termasuk juga alasan deket dari Jakarta itu wajib diperhitungkan,hehe

Kalau masalah transport kesana sih waktu itu terima jadi. Namanya juga ikut open trip. Malahan sewa elf segala. Intinya kalau buat yang mau ke Pulau Tunda ini, silakan transport ke Dermaga Karangantu. Kemudian, dilanjutkan kapal ke Pulau Tunda itu menggunakan kapal. Mudahnya sih memang kalau sudah kontak guide dulu, seperti halnya yang kami lakukan. Semua-semuanya hampir sudah disiapkan deh.

Tengah hari kita sudah sampai di Pulau Tunda. Homestay tempat menginap juga tidak jauh dari dermaganya. Sekalinya datang langsung beberes dulu dilanjutkan dengan ishoma. Penting ini sebelum melanjutkan petualangan. 

Pulau Tunda ini ternyata tidak sesuai bayangan saya. Memang sih saya tidak begitu banyak melakukan riset untuk pulau ini sebelum berangkat. Tadinya saya kira pulau ini berupa gugusan kepulauan seperti Kepulauan Seribu. Tapi ternyata pulau ini hanya pulau tunggal. Saya kira juga kalau pulau ini sudah terkenal sehingga banyak wisatawan yang berkunjung. Nyatanya, hanya rombongan kami dan beberapa orang saja. Lalu, pemukiman penduduknya juga layaknya pemukiman masyarakat biasa. Bukan seperti pemukiman daerah wisata gitu..

Lanjut ke petualangan deh ya? Oke.. Yang pertama adalah snorkeling. Airnya sih masih lumayan tenang tapi eh tapi..visibility-nya kurang bagus euy. Katanya sih imbas masih musim hujan itu. Jadinya arus bawah lautnya masih kencang gitu. Karena penasaran tetep ajalah ber-snorkeling ria,haha.. Kemudian lanjut ke spot berikutnya. Hasilnya tetep sama saja. Padahal, walau samar-samar, karang dan ikan-ikannya lumayan bagus lho. Berhubung kondisinya begitu, acara snorkeling memang tidak begitu lama. Baliklah kita ke homestay.

Pulangnya ke homestay ini buat siap-siap menikmati sunset. Tapi sebelum itu, kami menikmati kelapa muda terlebih dahulu. Buah kedondong di depan homestay jadi sasaran kami juga. Nah, setelah itu kami berjalan membelah pulau menuju sisi baratnya. Perjalanannya ternyata cukup jauh juga. Kemudian sampailah kami untuk menikmati matahari terbenam. Salah satu momen yang saya sukai saat jalan-jalan. 


Ada semacam rawa saat menuju spot untuk melihat sunset



Pemandangan matahari terbenam di Pulau Tunda

Pemandangan lain menjelang matahari terbenam


Saat hari semakin gelap, kami kembali ke homestay lagi. Waktunya  mandi, makan malam, dan sesi ngobrol-ngobrol. Oh iya, ada juga acara bakar-bakar ikan dan cumi. Hmm.. Yummyyy… Baru deh setelah itu waktunya istirahat.


Malamnya ada sesi pelepasan lampion juga ternyata
Keesokan paginya agendanya sama snorkeling dan trekking pulau. Pagi harinya di awali terlebih dahulu untukmenik mati matahari terbit. Untuk snorkeling, spot yang diambil adalah sisi lain pulau. Sebenarnya spot ini akan dikunjungi hari sebelumnya . Tapi cuaca kurang mendukung sehingga ombaknya sangat kencang. Sialnya, pagi itu ombak juga kurang bersahabat. Padahal pemandangan bawah lautnya bagus sekali. Setidaknya dapat pengalaman snorkeling di ombak besar. Sesuatu sekali memang capeknya,haha..


Ini pemandangan matahari terbit dari dermaga Pulau Tunda

Snorkeling memang lagi-lagi tidak begitu lama, dilanjutkan dengan trekking pulau. Saat trekking ini saya makin menyadari bahwa pulau ini besar juga ternyata. Bahkan ada yang bercocok tanam, sesuatu yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Selain ada ladang untuk bercocok tanam, kami juga melewati padang ilalang yang luas. Adeemm.. Serius! Bukan seperti sedang liburan di pantai atau semacamnya. Di ujung jalur yang kami telusuri adalah tempat untuk menyemai bibit-bibit bakau. Satu fakta yang saya dapati adalah bahwa butuh waktu yang lama ternyata untuk bakau-bakau itu tumbuh. 


Bakau muda, tapi jangan salah usianya sudah beberapa tahun

Padang alang-alang dalam perjalanan menyusuri Pulau Tunda


Menemukan makhluk kecil yang biasa kita mainkan waktu kecil
 homestay dan bersiap-siap untuk pulang. Well, ada saja hal-hal yang tidak diharapkan saat liburan kan? Yang penting tetep harus hepi-hepi. Meski demikian, ada bonusnya kok ternyata. Saat pulang kami mampir ke pulau empat, pulau tak berpenghuni yang bagus juga buat disinggahi.

Usai dari situ, habislah petualangan saya di Pulau Tunda. Kami kembali ke homestay dan bersiap-siap untuk pulang. Well, ada saja hal-hal yang tidak diharapkan saat liburan kan? Yang penting tetep harus hepi-hepi. Meski demikian, ada bonusnya kok ternyata. Saat pulang kami mampir ke pulau empat, pulau tak berpenghuni yang bagus juga buat disinggahi.





Jenis bintang laut yang baru saya temui sekali ini

Ada yang bertahan hidup, ada yang harus merelakan hidup

Angsa yang entah datang dari mana di Pulau Empat yang tidak berpenghuni

Sekali ini saya melihat kalkun hidup secara langsung
Menjaga di garis depan


Friday, January 3, 2014

Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Excitement Murah Dekat Ibukota

Terumbu karang saat snorkeling di sekitar Pulau Harapan *

Seperti yang saya sempat saya sebutkan di postingan trip saya ke Lombok, saya merasa kurang puas snorkeling di Lombok. Lalu, saya browsing ke web BPI dan beruntung sekali mendapatkan open trip dengan harga yang lumayan murah. Rencana saya adalah trip yang tidak jauh dari Jakarta. Dan dari semua yang ada, saya tertarik dengan dengan trip ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu seharga 300 ribu. Cukup murah dibandingkan dengan open trip yang lain.

Kepulauan Seribu menjadi salah satu destinasi tepat bagi warga Jakarta yang sibuk. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bisa dilakukan saat weekend, sabtu-minggu. Biayanya pun tidak terlalu mahal. Tapi, wisatanya tidak kalah bagus dengan destinasi lain yang jauh dari Jakarta. Pilihan kepulauannya bermacam-macam, banyak sekali. Jadi sangat cocok bagi warga Jakarta yang hanya memiliki waktu libur yang singkat tapi ingin menikmati wisata pantai yang indah.

Untuk mencapai Kepualauan Seribu harus menyeberang dahulu menggunkan kapal umum dari Muara Angke. Ada pula alternatif kapal cepat, tapi saya belum mencobanya. Berangkatnya pun bukan dari Muara Angke. Saya menggunakan busway menuju Muara Angke karena kalau dari rumah saya dekat dengan koridor Pinang Ranti-Pluit. Dengan rute ini, saya tidak perlu transit antar koridor. Kapal dari Muara Angke berangkat sekitar pukul setengah 8 pagi. Jadi berangkat setengah 6 pagi pun estimasinya tidak akan terlambat karena jalanan Jakarta, weekend pula, tidak terlalu macet.

Ini kali pertama saya menuju Muara Angke menggunakan busway. Saya kurang begitu mengerti harus turun dimana untuk melanjutkan dengan angkot B.01 menuju pelabuhan. Saya pun nyasar. Saya turun di halte terakhir-Pluit. Lalu, saya malah menaiki angkot B.01 yang baru dari arah pelabuhan. Menyebut kata 'angke' sebagai petunjuk bukanlah hal yang bijak sehingga saya salah arah. Saya turun di Season City, mencari taksi untuk mengantar ke pelabuhan. Cukup sulit mendapatkan taksi dengan argo. Itu pun tidak bisa mengantar sampai ujung sehingga saya harus menyambung dengan ojek. Walaupun sempat pasrah ditinggal kapal, saya berhasil mencapai kapal sebelum berangkat. Dalam 2-3 jam berikutnya saya berjemur di bagian atas kapal karena terlalu penuh.

Pulau Harapan ini termasuk pulau yang jauh lebih ke utara dibandingkan pulau besar lainnya seperti Pulau Pari, Pulau Tidung, dan Pulau Pramuka. Logikanya airnya lebih bersih karena lebih jauh dari Jakarta. Makanya saya memilih Pulau Harapan dibandingkan dengan yang lain. Saat saya sampai memang sepertinya terlihat lebih baik dibandingkan dengan Pulau Pramuka yang saya kunjungi saat kuliah dulu. Pemilik homestay sudah menjemput kami di dermaga. Dari situ, kami langsung menuju homestaynya.

Homestay tempat kami menginap berupa satu rumah. Tapi menurut saya kurang proper untuk ukuran 18 orang. Walaupun ada TV dan AC yang menjangkau beberapa ruangan, hanya ada kasur tanpa ranjang dua buah, dan satu buah karpet. Ada sofa di teras rumah. Saat tidur tentu nantinya kurang nyaman. Kamar mandi yang disediakan pun hanya ada satu (tapi nantinya akan dipinjamkan kamar mandi tetangga). Setelah beberes sebentar kami langsung menyantap makan siang yang disediakan oleh pemilik homestay.

Acara selanjutnya adalah snorkeling time dan hopping island. Kami berkesempatan untuk snorkeling di tiga titik. Tempat pertama adalah introduction spot which is suatu tempat dengan kedalaman hanya sekitar 1-1,5m, hanya setinggi perut-dada. Dasarnya berupa pasir putih. Saya rasa kalau airnya surut akan menjadi pulau berpasir putih. Pun begitu kami bisa menemui ikan-ikan kecil dan bulu babi. Di tempat yang agak dalam, mulai ada terumbu karang. Tidak lama kami 'pemanasan' di tempat ini. 

Spot snorkeling pertama yang tidak begitu dalam dengan dasar pasir putih

Di spot kedua, semakin bagus lagi. Terumbu karangnya sangat beragam dan ikan juga berwarna-warni dengan berbagai macam. Tapi sayang ada beberapa tempat yang karangnya hancur. Sepertinya karena jangkar kapal. Di spot ini saya mulai menyempurnakan teknik free diving saya karena saya penasaran sejak dari Lombok. Dari awal saya tidak menggunakan pelampung sama sekali. 

Lanjut ke spot ketiga, saya berhasil menyempurnakan teknik free diving saya. Akhirnya saya puas berhasil melakukannya. Memang kuncinya adalah tidak panik. Dari kesemuanya, spot ketiga ini memang yang paling bagus. Terumbu karangnya jauh lebih bagus, jenis ikannya lebih banyak. Yang berkesan dari spot ketiga ini adalah saya menemukan bulu babi belang-belang, ada schooling ikan-entah ikan apa, dan bermain dengan karang yang bergerak karena arus, bergerak seperti anemon tapi berwarna putih dengan bentuk seperti bunga. Kondisinya bisa saya bilang perfect karena selain pemandangan bawah air yang indah, energi saya juga tidak habis. Padahal saya berenang dari ujung ke ujung tanpa pelampung. Yang tidak mengenakkan adalah di beberapa tempat bisa jadi menemukan arus yang tiba-tiba dingin yang membuat tidak nyaman. Overall, saya puas, sangat puas malah sekalipun dibandingkan dengan snorkeling di Gili sebelumnya. Saya juga akhirnya berhasil menyempurnakan teknik free diving saya. Mantap!

Terumbu karang yang bisa dilihat saat snorkeling *

Puas snorkeling, berikutnya adalah island hopping. Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau Perak. Pulau ini tidak berpenghuni tetapi ada orang yang berjualan. Untuk menyusuri pulau ini juga tidak terlalu jauh. Ada juga yang mendirikan tenda di Pulau ini. Kalau ingin snorkeling sepertinya juga bisa. Pulau selanjutnya adalah Pulau Bira Besar. Di pulau ini ada semacam resort tapi sepertinya sudah jarang dikunjungi karena terlihat sangat sepi. Tidak perlu snorkeling di dekat pantai ini karena terumbu karang dan ikan-ikan dapat dilihat dengan jelas dari dermaga. Sekalipun ingin snorkeling harus waspada dengan bulu babi. Jadi dinikmati saja dari dermaga. Pulau terakhir hari itu adalah Pulau Bulat, tempat kami menikmati sunset. Pulaunya kecil hanya butuh beberapa menit untuk mengitari pulau itu. Setelah mengitarinya, saya langsung mencari spot menikmati matahari terbenam. Dan terbukti, matahari terbenamnya benar-benar cantik.

Pasir di Pantai Pulau Perak

Pulau Bira Besar

Pemandangan matahari terbenam dari Pulau Bulat

Acara malam kami adalah bakar ikan dan istirahat tentunya. Dan sesuai dugaan memang sedikit merepotkan. Mandi sebelum bakar ikan perlu mengantre cukup lama. Tidur pun beberapa langsung di lantai tanpa alas beruntung cuaca pantai bukan cuaca yang dingin. Bahkan ada yang tidur di sofa teras. Tapi malam itu best moment-nya memang bakar ikan di pinggir pantai. Ikannya super enak!

Keesokan paginya, cuaca kurang begitu bagus. Pagi harinya ketika saya menunggu matahari terbit, langit mendung tertutup awan. Awalnya saya kira trip kami tidak berlanjut pagi itu karena ombak juga terlalu kencang. Semakin menjelang siang angin semakin kalem jadi perjalanana kami lanjutkan. Pertama kami ke penangkaran penyu. Di sana kami bisa melihat berbagai ukuran penyu sisik. Pengunjung yang datang sangat banyak dan mengangkat penyu sisik itu. Saya sendiri tidak tega melihatnya jadi tidak mengangkatnya. Pulau kedua adalah Pulau Pemanggaran. Saat itu, air pantainya belum surut jadi kami hanya bisa bermain di dermaganya saja. Yang menarik saat mengunjungi pulau ini adalah airnya yang berwarna hijau tosca. Kami juga bisa melihat ikan berwarna-warni yang berenang di tepian dermaga. Ada satu pulau yang ingin kami kunjungi tetapi tidak diperbolehkan oleh penjaganya. Padahal pulau itu terlihat bagus bahkan dari kejauhan. Setelah itu, kami bersiap kembali ke homestay.

Menunggu matahari terbit di Pulau Harapan

Air laut hijau tosca di Pulau Pemanggaran

Setelah berkemas-kemas di homestay, beberapa waktu kemudian kami sudah menuju pelabuhan. Seperti halnya kami berangkat kami memilih untuk di bagian atas kapal. Tapi percayalah ini bukan pilihan yang tepat karena tengah hari paparan matahari sangat panas. Apalagi kalau kurang beruntung tanpa ada angin. Dua jam berikutnya kami sampai di Muara Angke lagi. Dan sebelum berpisah dengan yang lainnya kami sempatkan untuk makan ikan bakar dulu di Muara Angke. Setelah itu, trip dengan teman-teman yang baru saya kenal itu pun resmi selesai.


*) Foto dari rekan BPI