Showing posts with label childhood. Show all posts
Showing posts with label childhood. Show all posts

Monday, January 4, 2016

Sarapan Wajib: Sego Goreng (Memori 7)

Masih dalam euforia pergantian tahun, banyak sekali hal yang ingin dituliskan. Kalau orang-orang ingin menuliskan resolusi-resolusinya untuk setahun ke depan, hmm..hal demikian itu pula yang bergentayangan di kepala saya. Tidak cuma itu, ada hal-hal yang mau saya syukuri betul sepeninggal tahun lalu. Ada hal-hal yang sedikit agak serius yang ingin saya abadikan. Ada banyak acara jalan-jalan  yang mustinya saya catat sebagai pengingat. Ahh..tapi agaknya keinginan tangan dan kehendak benak cenderung memilih topik ringan. Mengajak kembali ke masa lalu yang jelas tidak ada kaitannya dengan momen tahun baru ini.

Beberapa saat yang lalu, pikiran saya dibanjiri memori ritual pagi sebelum berangkat sekolah, sarapan. Kalau orang jaman sekarang, yang tahu gaya hidup sehat, ya tidak mau melewati aktivitas satu ini. Banyak sekali pakar-pakar kesehatan  yang menganjurkan betul untuk sarapan. Kedua embah saya pun mewanti-wanti  betul kalau sebelum berangkat sekolah harus sarapan. Saya toh manut saja, bukan karena sadar buat hidup sehat, tapi karena takut diomelin saja. Ya masa pagi-pagi memulai aktivitas dengan tensi tinggi. Tapi pas tahu khasiat sarapan pagi, saya jadi berpikir "behh..mantep juga didikan mbah saya dulu".

Nah tapi...agak-agak rancu juga apakah sarapan yang saya konsumsi selama 9 tahun lamanya ini menyehatkan atau tidak. Ya kurang lebih selama itulah, dari SD sampai SMP. Dari senin sampai minggu. Iya..tujuh hari seminggu. Paling cuma bolong sekali-sekali. Mungkin paling sering bolongnya ya pas SMP. Dan dari tadi belum disebut sarapan saya. Sarapan yang saya maksud, yang wajib hampir ada setiap pagi, adalah sego goreng  alias nasi goreng. 

Ya gimana ya..sarapan ini memang termasuk yang paling gampang disajikan di pagi hari. Tinggal pakai nasi sisa kemarin, berbumbu garam, bawang, dan cabai pun jadi. Nah, tidak lupa minyak dan moto (alias vetsin) yang banyak yang bikin enak. Minyaknya minyak jelantah pula. Tahu kan kenapa diragukan akan kesehatannya? :D Tanpa kecap tanpa telur. Kecap dan telur tuh barang mahal. Wong saya baru sering makan nasi goreng dengan kecap dan telur itu ya pas sudah keluar dari kampung, saat saya SMA berarti. Ya sudahlah, perut anak kampung itu yang penting kenyangnya, kesehatan nomor dua. Yang penting tidak lemes saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Satu hal yang menarik lagi. Ini soal vetsin. Berita bahwa vetsin membuat bodoh juga sampai di telinga kami yang meskipun tinggal di dusun. Saat saya komplain ke Simbok  (Mbah Putri) saya, beliau nyeletuk , "Halah... itu lho mbak Dwi (tetangga dan saudara jauh) juga dikasih makan moto tapi masih saja tetep pinter!" (Dalam bahasa jawa). Saya ya diam saja, karena memang begitu kenyataannya, si mbak Dwi itu pinter. Sekarang pun saya pecinta Indomie, ya sudah lah ya. Hidup micin!!

Agaknya menu wajib ini bukan hanya tradisi keluarga, tapi tradisi satu kampung. Sarapan teman-teman sebaya saya pun juga itu, sego goreng. Paling-paling kalau mau dimodifikasi cuma ditambahi topping (ceilee topping). Tambahannya kalau tidak karak (kerupuk beras yang dibuat dari boraks) ya cengkaruk (nasi aking yang digoreng). Lagi-lagi ini dimana sehatnya ya? Tenang saja, belum juga ada kecap dan telur yang sedikit menambah gizi kok. Jadi ya kalau ke sesama teman, tidak ada iri-irian atau topik perbincangan "sarapanmu apa hari ini?" atau " wahh..sarapanmu enak ya?". Nope! Wong ya podho kabeh .:D

Tapi kita bahagia-bahagia saja. Sepertinya yaa..Saya sih bahagia mengingatnya. Apalagi kalau buru-buru berangkat ke sekolah karena tidak sempat sarapan di rumah. Petik dulu daun jati di sekitar rumah, dibuat pincuk, kemudian di taruh nasi goreng itu di atasnya. Untuk sendoknya, karena tidak mau muluk khawatir nanti tangannya kotor, kita buat sendoknya dari daun pisang. Praktis, nasi goreng pincuk itu tadi jadi teman perjalanan ke sekolah. Dan ini enak! Aroma daun jati dan daun pisangnya menambah kenikmatan nasi goreng itu. Ini sih yang saya bayangkan sekarang lho ya. Dulu sih biasa saja.

Nasi goreng kami sedikit naik kelas kalau bulan suro  (muharram). Hampir setiap malam ada kondangan  (kenduri) yang mana ada berkat dengan lauk ayam, sambel goreng kentang, dan srundeng kelapa. Nah berkat ini lah yang jadi bahan nasi goreng keesokan paginya. Kan jarang-jarang kami makan berlauk ayam. Itu pun ayam cuma secuil, tidak sampai satu potong paha bawah atau dada. Bayangkan saja, satu ekor ayam kampung, biasanya jago, dibagi sekitar 30an orang yang hadir di kondangan. Perlu dicatat pula, yang punya hajat harus disisakan agak banyak. Yaah..agak-agak beruntung kalau dalam satu malam bisa kondangan ke beberapa tempat. Kondangan ini berdasarkan weton (hari lahir). Jadi kan bisa dapat lebih banyak berkat kalau ada orang yang weton-nya sama. Paling beruntung lagi kalau kondangan-nya di rumah sendiri. Saat memperingati weton mbah kakung. Ayamnya bisa jadi stok buat besok-besoknya lagi :D

Dan mengingat kenangan ini, memang membuat bahagia. Mungkin kalau pulang nanti saya minta dibuatkan sego goreng lagi sama Simbok. Semoga beliau selalu diberi kesehatan. Untuk mbah kakung yang sudah di jauh di sana, salam cinta sebanyak-banyaknya dari cucumu ya mbah! #kemudianmewek :")

Thursday, January 15, 2015

Tangis Karena Cinta (Memori 6)


Saat saya kecil dulu, Bapak dan Ibu merelakan saya untuk diasuh oleh Simbok dan Mbah Kakung. Sementara itu, beliau berdua merantau ke kota layaknya para tetangga kampung lainnya. Sudah biasanya begitu kok. Toh demi keluarga kami, demi masa depan saya nantinya.

Begitu beliau berdua pulang dari perantauan, saya gembira bukan main. Saya tidak tahu apakah kegembiraan yang saya dapati manakala Bapak atau Ibu pulang dari Jakarta itu juga dirasakan oleh teman-teman saya lainnya atau tidak. Lebih-lebih lagi kalau Ibu yang pulang. Saya ini memang "anaknya Ibu", lebih dekat ke Ibu daripada Bapak.

Emm...yang saya maksudkan itu bukan gembira yang sekedar mendapatkan banyak oleh-oleh yang dibawa serta oleh Ibu saat pulang. Ngomong-ngomong soal oleh-oleh,padahal itu paling cuma biskuit dan buah-buahan. Atau kalau sedang beruntung, saya bisa mendapatkan baju baru. Tapi, ada kegembiraan lain yang begitu kuat. Melihat Ibu berada sekitar, saya merasa senang. Saya merasa aman. Seolah-olah tidak perlu menginginkan hal yang lainnya selagi dekat dengan Ibu. Kalau toh ingin apa-apa ya langsung minta Ibu tanpa bingung lagi harus bagaimana-bagaimana to?hehe..

Nah...sekarang saya tahu kalau hal itu lantaran yang namanya cinta. Bukan cinta antara laki-laki dan perempuan itu. Bukan. Kan bentuk cinta tidak melulu yang seperti itu. Yang satu ini sangat spesial. Ikatan cinta ibu-anak. Saya yang sekecil itu saja sudah merasakannya. Rasa yang walaupun saat tidak tahu namanya. Bagaimana kalau jadi Ibu saya yang mengerti lebih jauh tentang perasaan ya? Apalagi ini perasaan cinta dari seorang Ibu kepada anaknya yang kita tahu, kalau diceritakan dimana-mana itu, begitu besarnya perasaan cinta seorang ibu kepada anaknya. Kiranya, kegembiraan ibu saya dulu itu jauh lebih besar dari apa yang saya rasakan. Kelihatannya sih sama saja sepertinya. Dari cara Ibu mencium saya, dari cara Ibu memeluk saya, dari caranya tersenyum yang selalu membuatnya terlihat cantik. Sama saja. Tapi di dalam hatinya, kebahagiaannya jauh berlipat-lipat saat melihat anaknya, ya saya ini. Kebahagian yang sudah tentu tidak seperti saat saya mendapatkan oleh-oleh biskuit atau baju baru itu.

Ah iya...cinta itu sayangnya tidak selalu menghadirkan wujud kebahagiaan. Perpisahan dengan orang-orang yang dicintai kan berujung pada kesedihan. Ada yang mau menyangkal? Dulu, kadang saya sampai menangis hebat setiap kali Ibu akan pergi. Padahal kami sudah sepakat kalau hari itu Ibu bisa berangkat lagi. Tapi, tangis saya tidak bisa ditahan. Kalau ditahan, betapa sesak dada saya. Silakan sebut saya cengeng. Tapi itu karena cinta tadi.

Kalau sudah begitu, Ibu saya akan berusaha menenangkan, 
" Ibu tak berangkat dulu ya le.. Katanya kemarin sudah boleh berangkat hari ini?" 
Perkataannya diucapakan dengan tenang dan lembut. Padahal, ibu sedang menguatkan diri dalam kesedihannya. Kesedihan yang jauh lebih besar dari yang saya rasakan. Kesedihan yang muncul dari rasa cinta antara ibu dan anak. Tidak ada air mata yang mengalir. Tapi saya kira, rasa sesak di dalam dada Ibu, jauh lebih hebat dari yang saya rasakan.

Kemudian saya benci kalau harus mengingat ini, 5 Agustus 2014 di Bandara Soekarno-Hatta. Ada perpisahan lagi yang harus kami alami. Kali ini bukan saya, tapi Ibulah yang menangis. Ibu menangis dalam pelukan saya saat melepas kepergian saya kuliah ke Belanda. Saya tahu kalau saya harus menguatkan diri sebagaimana yang Ibu lakukan dulu. Dan kalau kita sudah mengerti tentang perasaan ini, rasa sesaknya memang luar biasa. Saya kira sesak di dada Ibu saya jauh lebih hebat. Kan cinta ibu selalu lebih besar daripada anaknya. Tidak mudah meredam sesak itu, sekalipun sudah diluapkan dalam tangis. Tangis dalam perpisahan. Tangis karena cinta.

Monday, January 12, 2015

Tembang Tidur (Memori 5)


Kepala saya sudah rada pening ditambah mata yang mulai berat. Tapi tak juga saya terlelap. Lalu apa yang didapati saat berjuang untuk tidur? Justru pikiran kita entah kemana kan?


 Kali ini kepala saya memilih menyelami masa lalu. Sial..lagu di playlist hp ini tak mempan menjadi pengantar tidur. Sebaliknya justru mengingatkan saya akan tembang2 yang dilantunkan alm. mbah kakung dulu. Jangan ditanya saya umur berapa saat itu. Tidak ada yang saya ingat kecuali alunan tembang merdu dari suara berat mbah kakung saya. Bahkan perkataannya juga tidak bisa saya tangkap. Dan ya..tentu hangatnya tubuh simbah karena saya sedang dalam gendongannya. Di gendong sembari melakukan hal lainnya seperti menyapu,mengasah sabit atau berkutat dengan tungku. Saya tidak yakin benar,tapi itu memang waktu2 yang lazim digunakan untuk bekerja. Ah..kehidupan kampung kan memang bekerja terus menerus dari sebelum matahari terbit sampai matahari hampir tenggelam.


Tapi ya itu..mbah kakung masih meninabobokan saya dengan telaten. Dengan tembang-tembang jawanya. Mungkin logikanya saya rewel lantaran tidak nyaman disambi melakukan hal lain lain.


Tapi saya coba ingat-ingat memang sedikit saya dapati memori momen-momen menjelang tidur itu. Nyaman sekali. Dengan mata terpejam saya nikmati betul tembang simbah, hangat dari panas tubuh simbah, gerakan hati2 simbah saat nyambi hal lain-lainnya. Rasa nyaman itu kembali ke ingatan saya saat ini. Cuma itu. Tapi itu membahagiakan.


Sayang tak satupun akhirnya saya tahu tembang apa yang dinyanyikan simbah dulu. Tidak pernah juga saya tanyakan. Bodohnya. Sekalipun tahu, tak mudah menyanyikan tembang jawa to? Kalau bisa,tentu saya kan nembang untuk anak saya atau cucu saya kelak. Andai saja simbah bisa melakukan juga untuk anak saya nanti. Ahh..beliau sudah bahagia di sana.


Kemudian saya ingat cara simbah tersenyum. Cukup tok! Hari sudah semakin pagi.


Eindhoven 110115. Dini hari.

Tuesday, July 16, 2013

Bermain di Bawah Sinar Bulan - Gobag Sodor (Memori 4)

Ilustrasi gobag sodor (di gambar namanya galasin :D )
gambar diambil dari sini


Lepas waktu isya dan sudah makan malam, menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak kecil seperti kami. Waktu itu sedang musim permainan gobag sodor, permainan yang pemain utamanya adalah anak-anak yang lebih besar sebenarnya, anak kelas lima ke atas lah. Saya dan teman sebaya yang masih kecil ini biasanya hanya jadi pelengkap permainan agar jumlah pemainnya pas. Begitu saja kami sudah senang bukan main walaupun hanya sebagai pelengkap. Kadang, ada yang tidak kebagian untuk main karena pemain besarnya jumlahnya lebih banyak. Lantas hanya jadi penonton dengan beberapa yang lain, yang lebih kecil dari saya tentunya. Itupun sudah sangat memuaskan.

Permainan gobag sodor ini sebenarnya bisa saja dimainkan saat siang hari. Justru sebenarnya lebih mudah kalau siang hari. Garis permainan, orang-orangnya, dan segala macamnya lebih terang. Tapi, sedari dulu, dari cerita-cerita ibu atau mbah saya, sudah lazim dimainkan di malam hari, dibawah pancaran sinar bulan, di tengah jalan, di tengah kampung.

Sinar bulan memang menjadi cahaya utama kami. Kadang saya juga heran kenapa bulan bisa seterang itu menerangi permainan kami di tengah jalan. Sebenarnya ada beberapa bohlam lampu yang ditarik dari rumah tetangga saya. Tapi ini tidak membantu banyak.

Untuk mengawali permainan ini diperlukan arena gobag sodor terlebih dahulu. Diperlukan arena yang cukup luas  agar ideal. Makanya, kami memilih jalan di tengah kampung yang sudah diaspal. Arenanya sendiri berupa persegi panjang yang dibagi menjadi kota-kotak kecil sama luas. Kami biasa membuatnya dengan menggaris jalan aspal tersebut menggunakan batu kapur.

 Pemainnya ada dua tim dengan jumlah pemain masing-masing tim idealnya lima orang. Tapi waktu itu jumlahnya fleksibel saja asalkan imbang pemainnya. Bahkan kalau ingin ramai bisa lebih dari itu. Kan tujuan bermain ingin bersenang-senang, ya kan? Dengan begitu, anak-anak yang kecil seperti saya juga memperoleh kesempatan main. Tapi sepertinya anak-anak yang lebih kecil ini dijadikan umpan saja. Tapi kadang juga yang kecil-kecil ini malah bisa lolos karena lebih lincah.

Permainannya cukup mudah sebenarnya. Dua tim tadi dibagi menjadi tim jaga dan tim penyerang. Misinya adalah tim jaga menghalangi tim penyerang melalui arena bolak balik. Apabila ada seorang tim penyerang berhasil melalui arena dari ujung sampai ujung, kemudian kembali lagi ke ujung awal dia akan menang dan menjadi penyerang lagi. Sebaliknya, untuk menjadi pemenang tim jaga harus berhasil menyentuh seorang tim lawan dengan catatan harus berada di atas garis arena. Tiap-tiap orang yang jaga harus berada di tiap-tiap garis, kecuali seorang sodor yang bisa sangat fleksibel digaris manapun termasuk garis tengah yang membagi arena. Ketika tim jaga berhasil mengalahkan tim penyerang peran pun berganti.

Ada beberapa hal unik yang membuat permainan sangat seru. Saat memasuki arena di garis awal, anggota tim penyerang harus berteriak "ndum!!" . Ini juga sebagai tanda kalau permainan sudah dimulai. Saat mulai ini, tentu tim jaga 'mempersilakan' tim penyerang untuk melewati garis. Untuk melewati garis-garis berikutnya, diperlukan kerja sama tim penyerang untuk mengecoh tim jaga. Ketika tim jaga cukup lengah, rekan yang lain tentu akan mampu melewatinya. Sebaliknya, ketika terlalu sibuk mengecoh, bisa saja sodor yang bergerak leluasa di garis manapun bisa diam-diam menyelinap dan menyentuhnya. Sebagai tanda telah mencapai ujung, tim penyerang harus berseru "siinn!!" sembari melewatkan kaki di garis ujung. Berhubung di garis ujung juga ada yang menjaga, 'sin' dapat diperoleh dengan cara beradu dengan tim jaga. Bisa adu tangan, adu kaki, atau apapun. Walaupun bersentuhan, dalam kasus ini tim penyerang tidak akan kalah karena keduanya melakukannya intentionally dan secara bersamaan. Ketika salah satu berhasil menyentuh lebih dulu maka dia akan mendapatkan 'sin' bagi tim penyerang atau mendapatkan kemenangan bagi tim jaga. Disinilah salah satu hal yang sangat seru karena kita harus benar-benar tangkas, kuat dan memiliki strategi. Apabila tim penyerang mendapatkan 'sin' mereka belum menang. Mereka harus mendapatkan 'ndum' kembali dengan cara kembali ke ujung awal. Tim jaga juga masih memiliki kesempatan untuk menang dengan mencegat tim yang akan 'ndum'. Jika berhasil melewati garis ujung awal sambil meneriakkan "nduumm!!", tim penyerang akan menang dan akan menjadi tim penyerang lagi. Tapi masih ada satu hal yang bisa membuat tim penyerang kalah walaupun sudah memperoleh 'ndum'. Yakni ketika masih ada tim yang berusaha mendapatkan 'sin' kemudian memperolehnya. Hal ini bisa saja terjadi ketika tim yang hendak mengambil 'sin' terlalu berkonsentrasi sehingga tidak aware dengan sekitarnya. Itulah mengapa yang mendapatkan 'ndum' berteriak sebagai tanda untuk teman-temannya bahwa mereka telah memenangkan permainan. Hal ini juga bisa dijadikan strategi tim jaga yang menjaga 'sin' untuk berpura-pura bahwa dia belum kalah bahkan memancing tim penyerang untuk memperoleh 'sin'.

Permainan ini memang simpel tapi tidak semudah itu dimainkan. Perlu ketangkasan, kelincahan dan kecerdikan bahkan kekuatan untuk memainkannya. Usai bermain pun biasanya kami mandi keringat karena memang permainannya menguras tenaga. Sudah begitu, pasti nanti tidurnya pulas.

Senang memiliki pengalaman permainan masa kecil seperti itu. Tidak seperti anak-anak sekarang yang kurang bergerak dan banyak yang tertuju ke alat-alat permainan digital. Ternyata, permainan ini tidak hanya dikenal di tanah jawa tetapi juga di tempat lain di Indonesia dengan nama bermacam-macam seperti galasin atau galah asin atau yang lain sebagainya. Tapi, pasti jarang yang melakukannya di malam hari seperti yang kami lakukan :p


Wednesday, May 22, 2013

Pulang Sekolah 'Nrabas' dan Memunguti Kayu Bakar (Memori 3)



Sekali ini, kembali lagi ingatan masa kecil muncul di kepala. Saya jadi teringat semacam quote yang menyatakan kalau malam mempertajam ingatan kita. Begitu pula malam ini, ingatan masa kecil tersebut muncul dan ingin sekali dituliskan. 

Untuk kali ini memori saya tertarik ke masa saya pulang sekolah saat sekolah dasar dulu. Saat dimana pulang sekolah tak hanya 'sekedar' pulang sekolah. Karena ada aktivitas 'ekstra' sembari perjalanan pulang sekolah tersebut.

Jalanan dari dan ke rumah (embah) saya bisa dibilang cukup sulit. Jarak sekolah saya dengan rumah (embah) cukup jauh sekitar 2 km. Untuk ukuran anak SD mungkin ditempuh dalam setengah jam. Untuk jalanannya sendiri, kala itu sudah beraspal. Akan tetapi, aspalnya itu aspal yang sudah rusak. Jadi, jalanan umum yang saya lewati itu ya banyak berserakan kerikil lepas. Kalau musim hujan? Ya silakan dibayangkan sendiri,hehe.  

Tapi sebenarnya, jalan tersebut hanya jalan utama saja dan ada jalan 'alternatif' untuk menuju sekolah atau pulang ke rumah. Kalau orang jawa jalan ini disebut sebagai jalan 'trabasan'. Mungkin term jalan alternatif juga kurang cocok melainkan jalan tikus yang lebih cocok atau bahasa kerennya shortcut. Tantangannya bukan lagi sekedar jalanan yang ditinggal oleh kerikil-kerikil aspalnya tapi jalanannya berupa jalan setapak yang hanya bisa dilewati kaki manusia, bukan motor atau bahkan mobil. Apalagi, ada sungai yang musti diseberangi dan hutan-hutan yang musti disusuri (cool!! :p). Untuk waktu tempuhnya, tentu jauh lebih singkat.

Ilustrasi perjalanan pulang :D

Saat itu saya dan teman-teman merasa senang-senang saja untuk nrabas tersebut. Bukannya kenapa-kenapa, tapi karena memang mempersingkat waktu pulang. Dan lagi, biasanya saya nrabas kalau waktu pulang sekolah saja. Saat berangkat saya dan teman-teman tidak mau lewat 'jalan tikus' tersebut karena khawatir bajunya kotor, harus melepas sepatu, repot. Jadilah pilihan yang tepat untuk nrabas adalah saat pulang sekolah saja, sudah tidak perlu repot-repot memperhatikan kerapihan, bisa leluasa nyeker untuk menyeberangi sungai, dan yang paling penting adalah cepat sampai rumah karena perut sudah keroncongan,hehe

Nah, kadangkala saya dan teman-teman memunguti kayu bakar sepanjang kami menyusuri hutan. Inilah aktivitas 'ekstra' yang saya singgung di awal. Kalau diingat-ingat, sebenarnya embah saya tidak menyuruh saya untuk mencari kayu bakar tersebut. Tapi toh saya dan teman-teman melakukannya :D. Untuk motivasinya sendiri apa ya? Simply,  mungkin kami ingin meringankan orang tua-orang tua kami dalam mencari kayu bakar, atau sekalian untuk membersihkan jalan setapak yang kami lewati, atau mungkin untuk bersenang-senang saja (maklum anak kecil) atau mungkin karena semua alasan tersebut. Entahlah,, intinya sembari pulang kalau melewati jalan tersebut biasanya tangan yang satu menenteng sepatu, tangan yang lain memegang tumpukan kayu. Seru euy :p

Well, at last this memory has been recorded. Yang pasti saya senang sekali mendapati pengalaman tersebut. Tidak hanya sekarang, sejauh saya mengingat memang hal itu menyenangkan. 


Saturday, November 3, 2012

Menyambut Pagi - Kelas 2 (Memori 2)

"Penuangan kembali" memori masa kecil saya kali ini merupakan salah satu rutinitas yang saya (dan teman-teman saya) lakukan ketika kami duduk di bangku kelas 2 SD. Masa-masa kelas dua memang merupakan momen yang memiliki lumayan banyak memori. Mungkin karena saya sudah blend dengan teman-teman saya. Dan juga, waktu bermain kami terbilang masih banyak karena jam sekolah masih singkat.

Saya kurang tahu jam sekolah di tempat lain, di daerah lain atau di kota-kota besar apalagi kalau dibandingkan dengan sekolah jaman sekarang, tapi yang pasti saat saya kelas 2 SD jam sekolah saya dari pukul setengah 10 sampai setengah 1 siang. Enak kan? pastinya :p Berpikir untuk bangun siang? Saya dulu bukan tipikal seperti itu (sekarang iya :| ). Mungkin kita juga tahu se-aktif apa yang namanya anak kecil. Pagi-pagi saja sudah lari-larian kemana-mana. Dan lagi, bagi kehidupan desa, bangun siang itu seperti menjadi hal yang tabu. Dan jadilah jam 5 pagi pasti saya sudah 'berkeliaran'.

Kalau begitu, berarti saya memiliki waktu sekitar empat jam sebelum berangkat ke sekolah. Lalu apa yang saya kerjakan? Karena saya waktu itu tinggal dengan embah saya, sudah pasti saya membantu beliau.  Pertama, menyapu halaman seluas lapangan futsal. Just for your information, rumah-rumah di desa memang lazim memiliki halaman rumah yang luas. Keasriannya (baca: banyak pohon) juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Maka silakan dibayangkan sendiri kombinasi dari situasi tersebut, halaman luas, banyak daun berguguran dari pohon, dan musti disapu,hmmm.. Oke, saya tidak mau bilang saya melakukannya secara rutin, karena memang tidak serutin itu. Embah saya yang lebih sering melakukkannya. Tapi satu yang saya ingat pesan dari Embah saya adalah "nyapu pagi-pagi itu sekalian olahraga", kebayang kan? Dan benar saja itu sebagai ajang olah raga, setelah itu segar, berkeringat banyak. Tapi tetap saja capek,hehe..

Kemudian, setelah matahari rada 'hangat' saya dan teman-taman mulai menyiapkan peralatan perang-peralatan mencari rumput. Mencari rumput memang salah satu aktivitas kami anak desa untuk membantu para orang tua kami. Dan karena kami punya waktu luang di pagi hari kenapa tidak kita pakai untuk mencari rumput. Jelas, sengatan matahari tak seterik kalau siang hari nanti. Lagipula, kita juga bisa sambil bermain-main di ladang atau sawah sebelum berangkat sekolah. Tanpa buang-buang waktu kami berduyun-duyun mencari rumput karena kami juga dikejar jadwal berangkat sekolah kami. 

Waktu kami hanya sekitar dua jam, jadi kami mencari rumput tidak jauh dari sekitaran desa kami. Terkadang kami memang hanya dapat sedikit rumput. Terlebih lagi saya yang paling tidak mahir untuk mencari rumput. Tapi, yang paling penting adalah kami sudah menyetok pakan untuk ternak kami.  Kalau masih kurang pun kami bisa mencari rumput lagi sepulang sekolah. Selain itu, kami senang kami bisa bermain-main di ladang atau sawah atau hutan. Atau bahkan mungkin kami berburu buah-buahan untuk sarapan kami. Dan hal-hal seperti itulah yang menjadi momen menyenangkan kami. Ketika kami selalu bersama-sama.

Tanpa jam kami tahu kapan kami harus pulang. It's just like instinct, you know. Kami pulang, menaruh pakan, pergi ke sendang untuk mandi, pulang lagi, kemudian akhirnya berangkat ke sekolah menempuh perjalanan dua kilometer-jalan kaki. Bersama-sama lagi. Hampir sepagian kami sudah beramai-ramai bersama, sampai akhirnya di sekolah, bahkan sampai nanti sepulang sekolah sekalipun. 

Pagi saya-kelas dua dulu memang seluang itu,kelihatannya. Tapi tidak seluang itu juga karena aktivitas 'bermain' saya bersama-sama teman-teman saya. Kami senang melakukannya. Kami senang menghabiskan waktu bersama-sama. Kami senang membantu orang tua-orang tua kami. Mungkin beberapa kali mengeluh, saya rasa wajar, dan saya tidak munafik. Bagaimanapun itu, saya senang memiliki masa kecil seperti itu-cara menyambut pagi seperti itu.

Monday, October 22, 2012

Sungai Ranjing (Memori 1)

Tulisan ini salah satu tulisan saya untuk menarik lagi memori masa kecil saya. Saya rasa saya termasuk memiliki masa kecil yang menyenangkan (yang saya rasakan saat ini ya, kalau dulu pas kecilnya ya merasa biasa saja, atau boleh jadi saya malah mengeluh). Daripada cuma bisa bilang "sayang masa itu sudah lewat" mending saya coba munculkan lagi sisa-sisa memori masa kecil saya.

Potongan memori ini mengenai salah satu sungai terkenal di kampung saya. Nama sungainya Sungai Ranjing. Jangan ditanya asal usul namanya karena saya tidak tahu dan tidak akan menceritakan asal-usulnya (bahkan saya baru bertanya-tanya sekarang kenapa namanya Ranjing, biasanya kan ada asal-usul ceritanya). Simpelnya, saya hanya akan menceritakan hal-hal yang membuat saya terkesan ketika saya ingat-ingat lagi saat ini (lagi-lagi saya bilang saat ini karena kalau dulu rasanya biasa saja).

Kalau dideskripsikan sedikit, sungai ranjing ini seperti halnya sungai-sungai lain yang ada di daerah jawa, memiliki karakter sungai yang sempit, berarus deras, dengan jeram yang banyak. Di sisi-sisi sungainya itu tebing-tebing batu yang tinggi. Mungkin kalau mau dibandingkan mirip dengan Green Canyon yang ada di Pangandaran. Walaupun sungainya berjeram banyak, tetap saja di beberapa bagian yang cukup dalam dan berair tenang. Titik-titik sungai yang dalam ini biasa kami sebut sebagai "kedung". Biasanya kedung-kedung ini juga memiliki nama lagi misalnya Kedung Dowo, Kedung Jaran, Kedung Pocong, dsb

Yak, memori paling berkesan terkait dengan sungai ranjing ini tidak lain dan tidak bukan adalah mandi di sungai. Aktivitas mandi di sungai ini tidak hanya dilakukan oleh kita-kita anak kecil yang memang suka main-main, tapi hampir dilakukan oleh orang satu kampung. Saat itu saya tinggal di rumah nenek saya, dan kampung nenek saya memang terkenal kurang air kalau musim kemarau. Dan memang kita hanya menggunakan sungai ini di saat musim kemarau untuk mandi dan mencuci.

Salah satu titik Ranjing yang berkesan bagi saya adalah 'Plumpatan'. Hal ini karena memang titik ini merupakan tempat yang paling sering saya kunjungi. Diberi nama 'plumpatan' karena tebing di sisi sungainya cukup dekat satu sama lain. Biasanya kita melakukan adu keberanian untuk melompat. Walaupun dekat tetap saja menantang nyali, karena kalau jatuh untuk mencapai air sungai di bawahnya sekitar 4-5 meter tingginya (cool). Seingat saya, saya juga belum pernah melompat di 'plumpatan' itu karena memang waktu itu saya masih kecil dan belum berani. Bagi anak-anak yang sudah berani, mereka malah sengaja terjun dari tebing itu kemudian harus berenang cukup jauh untuk mencapai bagian sungai yang dangkal. Terdengar seru, tapi sekali lagi saya belum pernah mencoba (dan saya menyesal)

Spot yang paling terkenal adalah kedung setelah plumpatan. Saya tidak tahu nama kedung ini, tapi memang ini bagian yang paling lengkap untuk memfasilitasi keinginan kami. Untuk ibu-ibu yang ingin mencuci baju, ada beberapa batu datar sebagai alas pakaian. Untuk anak-anak kecil ada bagian yang berair dangkal, cocok untuk belajar berenang. Ada perairan dengan kedalaman sedang yang biasanya kita pakai untuk mencuci tikar. Bahkan bagian bawah perairan ada yang sangat dangkal yang biasanya digunakan untuk memandidan kambing atau sapi. Terakhir, yang merupakan bagian kesukaan saya adalah perairan dalam dengan sisi tebing yang cukup tinggi, sekitar 3m. Untuk kedalamannya sendiri saya tidak tau pasti, yang pasti saya baru sekali menyentuh dasar sungai. Itu pun harus terjun cukup kuat dari tebing-tiga-meter tersebut. 

Selain seru buat terjun, tebing itu seru untuk dipanjat. Jadi, layaknya wall climbing kita harus memanjat tebing itu dulu untuk bisa terjun. Sebenarnya ada jalan yang lebih mudah tapi harus memutar terlebih dulu. Untuk yang masih takut untuk memanjat sampai atas, bisa terjun dari bagian tengah tebing. Ada batu yang agak menonjol yang bisa kita jadikan 'check point'. Sementara yang berani-berani saja, tentunya bisa lanjut sampai atas. Sampai di atas, tak perlu berlama-lama langsung saja kita terjun. Teman-teman saya bahkan beratraksi macam-macam selama 'mengudara'. Byurr...seketika lega, capeknya memanjat terbayarkan dengan adrenalin yang tertarik (Terjunnya benar-benar seru, saya ingin sekali mencoba lagi). Dan pastinya membuat kecanduan :D. Magriblah yang biasanya memaksa kami untuk kembali pulang karena hari sudah gelap.

Kami selalu kesana di sore hari selama musim kemarau atau di saat Minggu pagi ketika libur sekolah. Untuk Minggu pagi ini bahkan kami berangkat sekitar jam 6 pagi, di saat masih dingin-dinginnya hawa pagi (saya rasa dulu jam 6 itu termasuk siang, tapi sekarang sudah termasuk pagi sekali). Kalau sudah begini, biasanya kami membawa korek api dari rumah. Nanti sambil jalan menuju sungai, kami mencari mete. Buat apakah korek dan kacang mete ini? Berhubung udaranya dingin sekali, biasanya kita membakar sampah dan rumput kering. Waktu mandinya sih masih belum begitu berasa dinginnya. Pas mau pulang ini dinginnya minta ampun. Sambil menghangatkan diri, biasanya kita membakar kacang mete. Lumayan untuk mengganjal perut yang memang belum sarapan. Dan memang kacang mete bakar ini salah satu makanan terenak yang pernah saya temui :d
  
Kegiatan mandi di Sungai Ranjing ini sekarang ini sudah jarang dilakukan oleh penduduk kampung nenek saya. Hal ini dikarenakan, sudah ada PAM dari pemerintah setempat. Selain itu juga karena adanya isu monyet-monyet liar yang berkeliaran dan berani mengganggu warga. Saya juga ingat betul ketika terakhir kali saya ke Sungai Ranjing, saya melihat salah satu monyet liar tersebut. Saya dan teman-teman saya langsung lari tak pernah kembali kesana lagi, hingga saat ini.

Sungai Ranjing telah menjadi salah satu kenangan dalam hidup saya. Terlepas dari kondisi yang sekarang mungkin cukup menakutkan, tetapi saya benar-benar ingin kembali kesana. Bahkan kalau bisa saya ingin berenang lagi :D