Monday, October 22, 2012

Sungai Ranjing (Memori 1)

Tulisan ini salah satu tulisan saya untuk menarik lagi memori masa kecil saya. Saya rasa saya termasuk memiliki masa kecil yang menyenangkan (yang saya rasakan saat ini ya, kalau dulu pas kecilnya ya merasa biasa saja, atau boleh jadi saya malah mengeluh). Daripada cuma bisa bilang "sayang masa itu sudah lewat" mending saya coba munculkan lagi sisa-sisa memori masa kecil saya.

Potongan memori ini mengenai salah satu sungai terkenal di kampung saya. Nama sungainya Sungai Ranjing. Jangan ditanya asal usul namanya karena saya tidak tahu dan tidak akan menceritakan asal-usulnya (bahkan saya baru bertanya-tanya sekarang kenapa namanya Ranjing, biasanya kan ada asal-usul ceritanya). Simpelnya, saya hanya akan menceritakan hal-hal yang membuat saya terkesan ketika saya ingat-ingat lagi saat ini (lagi-lagi saya bilang saat ini karena kalau dulu rasanya biasa saja).

Kalau dideskripsikan sedikit, sungai ranjing ini seperti halnya sungai-sungai lain yang ada di daerah jawa, memiliki karakter sungai yang sempit, berarus deras, dengan jeram yang banyak. Di sisi-sisi sungainya itu tebing-tebing batu yang tinggi. Mungkin kalau mau dibandingkan mirip dengan Green Canyon yang ada di Pangandaran. Walaupun sungainya berjeram banyak, tetap saja di beberapa bagian yang cukup dalam dan berair tenang. Titik-titik sungai yang dalam ini biasa kami sebut sebagai "kedung". Biasanya kedung-kedung ini juga memiliki nama lagi misalnya Kedung Dowo, Kedung Jaran, Kedung Pocong, dsb

Yak, memori paling berkesan terkait dengan sungai ranjing ini tidak lain dan tidak bukan adalah mandi di sungai. Aktivitas mandi di sungai ini tidak hanya dilakukan oleh kita-kita anak kecil yang memang suka main-main, tapi hampir dilakukan oleh orang satu kampung. Saat itu saya tinggal di rumah nenek saya, dan kampung nenek saya memang terkenal kurang air kalau musim kemarau. Dan memang kita hanya menggunakan sungai ini di saat musim kemarau untuk mandi dan mencuci.

Salah satu titik Ranjing yang berkesan bagi saya adalah 'Plumpatan'. Hal ini karena memang titik ini merupakan tempat yang paling sering saya kunjungi. Diberi nama 'plumpatan' karena tebing di sisi sungainya cukup dekat satu sama lain. Biasanya kita melakukan adu keberanian untuk melompat. Walaupun dekat tetap saja menantang nyali, karena kalau jatuh untuk mencapai air sungai di bawahnya sekitar 4-5 meter tingginya (cool). Seingat saya, saya juga belum pernah melompat di 'plumpatan' itu karena memang waktu itu saya masih kecil dan belum berani. Bagi anak-anak yang sudah berani, mereka malah sengaja terjun dari tebing itu kemudian harus berenang cukup jauh untuk mencapai bagian sungai yang dangkal. Terdengar seru, tapi sekali lagi saya belum pernah mencoba (dan saya menyesal)

Spot yang paling terkenal adalah kedung setelah plumpatan. Saya tidak tahu nama kedung ini, tapi memang ini bagian yang paling lengkap untuk memfasilitasi keinginan kami. Untuk ibu-ibu yang ingin mencuci baju, ada beberapa batu datar sebagai alas pakaian. Untuk anak-anak kecil ada bagian yang berair dangkal, cocok untuk belajar berenang. Ada perairan dengan kedalaman sedang yang biasanya kita pakai untuk mencuci tikar. Bahkan bagian bawah perairan ada yang sangat dangkal yang biasanya digunakan untuk memandidan kambing atau sapi. Terakhir, yang merupakan bagian kesukaan saya adalah perairan dalam dengan sisi tebing yang cukup tinggi, sekitar 3m. Untuk kedalamannya sendiri saya tidak tau pasti, yang pasti saya baru sekali menyentuh dasar sungai. Itu pun harus terjun cukup kuat dari tebing-tiga-meter tersebut. 

Selain seru buat terjun, tebing itu seru untuk dipanjat. Jadi, layaknya wall climbing kita harus memanjat tebing itu dulu untuk bisa terjun. Sebenarnya ada jalan yang lebih mudah tapi harus memutar terlebih dulu. Untuk yang masih takut untuk memanjat sampai atas, bisa terjun dari bagian tengah tebing. Ada batu yang agak menonjol yang bisa kita jadikan 'check point'. Sementara yang berani-berani saja, tentunya bisa lanjut sampai atas. Sampai di atas, tak perlu berlama-lama langsung saja kita terjun. Teman-teman saya bahkan beratraksi macam-macam selama 'mengudara'. Byurr...seketika lega, capeknya memanjat terbayarkan dengan adrenalin yang tertarik (Terjunnya benar-benar seru, saya ingin sekali mencoba lagi). Dan pastinya membuat kecanduan :D. Magriblah yang biasanya memaksa kami untuk kembali pulang karena hari sudah gelap.

Kami selalu kesana di sore hari selama musim kemarau atau di saat Minggu pagi ketika libur sekolah. Untuk Minggu pagi ini bahkan kami berangkat sekitar jam 6 pagi, di saat masih dingin-dinginnya hawa pagi (saya rasa dulu jam 6 itu termasuk siang, tapi sekarang sudah termasuk pagi sekali). Kalau sudah begini, biasanya kami membawa korek api dari rumah. Nanti sambil jalan menuju sungai, kami mencari mete. Buat apakah korek dan kacang mete ini? Berhubung udaranya dingin sekali, biasanya kita membakar sampah dan rumput kering. Waktu mandinya sih masih belum begitu berasa dinginnya. Pas mau pulang ini dinginnya minta ampun. Sambil menghangatkan diri, biasanya kita membakar kacang mete. Lumayan untuk mengganjal perut yang memang belum sarapan. Dan memang kacang mete bakar ini salah satu makanan terenak yang pernah saya temui :d
  
Kegiatan mandi di Sungai Ranjing ini sekarang ini sudah jarang dilakukan oleh penduduk kampung nenek saya. Hal ini dikarenakan, sudah ada PAM dari pemerintah setempat. Selain itu juga karena adanya isu monyet-monyet liar yang berkeliaran dan berani mengganggu warga. Saya juga ingat betul ketika terakhir kali saya ke Sungai Ranjing, saya melihat salah satu monyet liar tersebut. Saya dan teman-teman saya langsung lari tak pernah kembali kesana lagi, hingga saat ini.

Sungai Ranjing telah menjadi salah satu kenangan dalam hidup saya. Terlepas dari kondisi yang sekarang mungkin cukup menakutkan, tetapi saya benar-benar ingin kembali kesana. Bahkan kalau bisa saya ingin berenang lagi :D