Showing posts with label beasiswa. Show all posts
Showing posts with label beasiswa. Show all posts

Tuesday, April 26, 2016

Salam Rindu Untuk Ibu

Akan ada banyak hal yang membuat kita rindu atas apa yang kita tinggalkan di tanah air sana di kala kita menjalani pendidikan di negeri orang. Barangkali makananya, suasananya, teman, atau keluarga? Ya keluarga. Ijinkan saya berbagi sedikit cerita tentang kerinduan kepada keluarga yang terpaut jarak belasan ribu kilometer di sana. Perbedaan jarak dan waktu menciptakan kerinduan. Sementara rindu memicu pikiran untuk mengenang. 
Sudah sedari kecil saya lumayan sering terpisah dari orang tua. Dari semenjak usia lima tahun kalau tidak salah ingatan saya. Dalam perjalanannya, beberapa kali saya harus terpisah kota, provinsi, hingga terpisah pulau. Tapi, butuh waktu 20 tahun hingga sekarang ini, bahkan harus berada di benua berbeda, dengan konsekuensi perbedaan waktu yang ada, untuk dapat mencerna betul sekuat itu hubungan yang dinamakan cinta akan keluarga, lantaran rindu yang tercipta.
Syukur alhamdulillah kedua orang tua saya masih sehat wal’afiat hingga saat ini. Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan kepada beliau berdua. Kali ini, saya secara khusus akan bercerita tentang Ibu, sosok yang sangat saya cintai dan saya hormati, yang tanpanya tidaklah mungkin saya sampai di titik ini, tanpa mengesampingkan andil dan perjuangan bapak tentunya. 

Restu Ibu (Orang Tua) adalah Restu Allah SWT
Ibu saya itu berlatar pendidikan sekolah dasar, pun demikian dengan bapak. Cerita akan kehidupan sekolahnya dulu menjadi dongeng sebelum tidur tapi juga menjadi cerita pemupuk semangat untuk sekolah yang tinggi. Bahwa sekalipun memiliki keinginan bersekolah, ada banyak hal yang pada akhirnya membuat pendidikan sekolah dasar saja “cukup”. Setidaknya untuk zaman itu. Dan di lingkungan itu. Sekitar dua puluh tahun berikutnya, di saat generasi saya bersekolah, keadaan tak berubah signifikan. Pendidikan sekolah menengah pertama dirasa “cukup”. Lahir di lingkungan yang minim informasi akan pentingnya pendidikan membuat keluarga kami memiliki kecenderungan mengamini pemikiran masyarakat pada umumnya.
Nasib agaknya membawa saya lebih jauh, perjalanan pendidikan saya tidak terhenti sekedar menuntaskan “pendidikan wajib belajar sembilan tahun”. Ketika saya sampaikan ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, orang tua saya merestui keinginan tersebut. Tingkat pendidikan SMA ini saja sudah termasuk awam bagi kedua orang tua saya. Saya ingat betul kalau saat itu saya harus mendaftarkan diri ke sekolah SMA tanpa didampingi orang tua. Yang mengkhawatirkan bukanlah jarak yang jauh dari desa ke kota. Tapi, kalau-kalau ada kebutuhan yang harus ditangani orang tua saat pendaftaran, bisa apa bocah sekecil saya? Tiga tahun sebelumnya, ibu mendampingi bahkan sampai di bangku ruang kelas. Tapi, tidak ada lagi untuk kali berikutnya. Itu titik pertama saya, bahwa saya percaya dengan restu dan doa orang tua, saya masih bisa meraih pendidikan saya. 
Terkadang takdir itu memang lucu, setelah masuk selang berapa minggu setelah diterima di SMA, saya harus pindah SMA. Saya mengambil kesempatan beasiswa pendidikan SMA di Jakarta. Untuk meringankan beban orang tua, demikian pikir pendek saya. Menjelang akhir kelulusan SMA, saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi ke tingkat sarjana. Menjadi permasalahan tersendiri ketika kami sekeluarga semakin awam akan tingkat pendidikan ini. Saya pun sebelumnya tidak pernah terbersit untuk melanjutkan kuliah. Sama sekali.  Pendidikan SMA saya kira sudah lebih dari cukup dengan mindset saya saat itu. Padahal itu sudah tahun 2007.
“Bayaran 27 juta itu pakai uang siapa nanti, lé? Ibu tidak punya uang sebanyak itu.”, demikian respon ibu saya ketika saya beri tahu jumlah uang biaya masuk kuliahnya.
“ Nanti kita datang saja dulu saat daftar ulang ya, Bu. Kalau memang harus bayar semahal itu, saya langsung tidak melanjutkan kuliah. Yang penting sekarang diperbolehkan dan mohon doanya saja.”, timpal saya dalam percakapan melalui telepon saat itu. Saya masih ingat betul saat itu saya langsung menelepon ibu seketika setelah mendapatkan surat untuk daftar ulang beserta besaran biaya awal masuk kuliah.
Terus demikian hingga sekarang, saya hanya berbekal restu orang tua dan sedikit kenekatan diri sampai akhirnya mengenyam pendidikan S2 saat ini. Keluarga saya bukan keluarga terpelajar dan cukup untuk membiayai pendidikan saya hingga saat ini. Sejak dari bangku SMA hingga saat ini, pendidikan saya selalu diberi jalan melalui beasiswa. Menengok kembali ke belakang, satu poin utama yang saya yakini adalah restu orang tua. Seringkali kita dengar cerita tentang pendidikan tinggi yang diraih adalah dengan otak cerdas atau perjuangan keras. Dalam kasus saya, yang saya percayai betul bahwa ini adalah buah dari doa restu dan dukungan orang tua. Karena restu orang tua, Allah memudahkan seluruh perjalanan saya hingga pendidikan saat ini.

Perjuangan Menyokong Kebutuhan Keluarga
Tak pernah sekalipun, sejauh pikiran saya mencoba membayangkan, mampu memahami kerasnya perjuangan Ibu saya. Termasuk di dalamnya perjuangan secara fisik maupun mental. Dulu, karena mengikuti arus lingkungan sekitar, kedua orang tua saya merantau ke kota, Jakarta, dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga kami. Ibu berjualan jamu, sedang bapak saya sebagai penjual mie ayam. Tipikal pekerjaan yang dipilih perantau yang berasal dari kampung halaman saya, Solo. Jadilah, sejak kecil saya sudah tinggal bersama mbah kakung dan mbah putri. Layaknya kebanyakan teman sebaya juga. 
Bicara soal ibu yang berjualan jamu, inilah yang saya pikir sebagai perjuangan berat. Setiap hari, ibu berjualan jamu yang digendongnya, berjalan kaki dari hunian kampung sampai kompleks perumahan. Entah berapa kilometer jauhnya, yang pasti ibu berangkat dari pukul tujuh pagi sampai pukul satu tengah hari. Terkadang saya dapati ibu pulang dengan basah karena keringat saat matahari sedang terik-teriknya. Atau di lain waktu, kain jariknya basah kuyup karena air hujan atau banjir di jalur kelilingannya. Beberapa cerita dibagikan ke saya sesampainya di rumah seperti: “Jamunya ndak habis, terus ibu buang saja karena sudah siang.” Atau “ Ibu tadi ndak berani nyebrang sungai, ibu takut karena airnya terlalu tinggi. Terus nanti kalau ndak bisa pulang ya gimana?” Cerita ibu seperti itulah kadang kala yang saya dengar.
Kondisi berubah ketika simbah sedang sakit ditambah dengan lahirnya adik saya. Saat itu saya masih SMP. Hanya bapak yang merantau ke Jakarta. Saat itu, saya lihat betul betapa luar biasa ibu saya mengurusi kami semua. Mulai dari mengurusi simbah yang sakit, adik saya yang masih bayi, termasuk saya yang sekolah juga. Urusan sawah tak ketinggalan menjadi pengawasan ibu juga. Sebelumnya, urusan sawah itu masih bisa ditangani oleh kedua simbah saya dengan baik. Berhubung simbah sakit, kami semua harus bekerja ekstra untuk kehidupan keluarga.
Saat itu juga adalah saat-saat kondisi finansial keluarga kami memburuk. Ibu harus mencari cara untuk menambah penghasilan. Ibu mengusahakan apapun yang bisa dijual hasil dari kebun. Pernah sekali waktu, saat itu sedang musim biji mete yang menjadi salah satu hasil kebun untuk kami jual. Tiap beberapa hari sekali kami mengambil hasilnya. Tidak jarang kami membawa serta adik saya yang masih bayi untuk ikut ke sawah. Suatu saat pengawasan kami sempat lengah sehingga adik saya  merangkak ke bibir jurang. Beruntung kami melihatnya sebelum adik saya terjun ke jurang itu. Seingat saya, kami bukannya khawatir berlebihan, malah menjadi “kenangan yang menghibur” kalau mengingat cerita itu. Meski kemudian saya paham, bahwa hal itu bukanlah perjuangan sepele. Ibu yang saat itu, telah mempertaruhkan banyak hal di dalam perjuangannya.
Bagaimana kalau sekarang? Ibu tetap melakukan pekerjaan menjual jamu itu, hingga hari ini. Sejak saya mau masuk kuliah, ibu terus berusaha keras menyokong kebutuhan sehari-hari saya meski tanpa harus memikirkan biaya kuliahnya. Ada adik saya juga yang masih harus dipikirkan kelanjutan pendidikannya. Saya pikir ibu tetap akan terus berjuang di jalan itu hingga saya menyelesaikan pendidikan ini dan menyokong kebutuhan keluarga. Saya tidak tahu kapan ibu akan berhenti dari rutinitas pekerjaan ini. Setiap kali saya bertanya, “kok sudah ke Jakarta saja?”. “ Ya daripada di kampung tidak ada kegiatan, le”, demikian jawab ibu saya kalau tidak ada pekerjaan terkait masa panen atau cocok tanam di sawah. Jawaban yang sepertinya diharapkan agar saya tidak terlalu ikut memikirkan keluarga saya.  

Pengorbanan Untuk Berpisah Dari Anak-anaknya
Memisahkan ibu dari anaknya menjadi hal yang berat bagi keduanya. Sang anak akan kurang mendapatkan kasih saya ibu. Selain itu, peran ibu sebagai pendidik juga tidak didapatkan. Saya yang dulu menerima kondisi itu dengan wajar karena saya pikir memang begitulah cara kami hidup. Karena memang yang demikian itu lazim adanya di lingkungan hidup bermasyarakat di kampung halaman.
Hampir setiap kali ibu pamitan untuk berangkat ke perantauan, saya selalu menangis. Dari menangis tertahan dan sesenggukan sampai menangis histeris. Sebagai anak kecil saya hanya berpikir kalau cuma saya yang sedih tapi tidak dengan ibu saya. Tentu kemudian akhirnya saya pahami bahwa hal itu tidak benar. Meninggalkan anaknya untuk kemudian diasuh dan dididik bukan oleh tangannya sendiri, memerlukan tekad pengorbanan yang kuat. Kesedihannya saya yakin jauh lebih besar dibandingkan dengan kesedihan saya. Tangis seorang anak kecil bisa saja diredam dalam hitungan jam. Sedangkan ibu, segala perjuangan sehari-harinya diharapkan menjadi cara untuk melupakan kesedihan itu. Ditambah lagi, bukan hanya dengan saya, ibu juga harus melakukan pengorbanan yang sama kepada adik saya. Pengorbanannya semata-mata karena ingin menyekolahkan anak-anaknya semampu yang ibu bisa. 
Tak pernah sekalipun saya  dapati ibu saya mengeluh bahkan menitikkan air mata untuk melalui segala pengorbanan ini. Saya melihat teguhnya kekuatan yang ditunjukkan dengan pengorbanan itu. Saya yang sekarang ini masih tidak sanggup memahami seberapa besar kekuatan yang dibutuhkan bagi ibu untuk semua itu. Sangat besar kiranya.
Kemudian saya teringat saat dimana kekuatan itu tak mampu menahan kesedihan ibu. Saat dimana saya diantar di bandara sebelum perjalanan studi saya. Sampai sesaat saya hendak boarding, ibu masih terlihat biasa saja. Saat tiba pamitan terakhir, ibu tidak kuasa menahan tangisnya. Sejujurnya saya sedikit kaget melihat ibu menangis, salah satu tangis ibu yang terkuat yang pernah saya lihat. Saya tahan diri saya kuat-kuat untuk tidak melihat wajah ibu saat itu. Tangisnya semakin kuat ibu memeluk saya.  Di dalam pelukannya yang erat, saya rasakan betul bahwa perpisahan itu berat bagi ibu. Dari linangan air matanya, dari nafasnya yang tak beraturan, dari suara tangisnya yang sesekali tertahan.  Saat itu saya sadar kondisi telah bertukar, saya yang dulu selalu menangis jika ditinggal ibu, menjadi harus menahan air mata sekuat-kuatnya untuk meninggalkannya.  

Kebahagiaan untuk Ibu
Setelah apa yang saya lalui sejauh ini, sejujurnya saya tidak tahu betul apa yang membahagiakan ibu saya. Walaupun tentu saya akan berbuat apapun sebagai seorang anak untuk membuat ibunya bahagia. Tidak pernah kami berbincang tentang konsep bahagia seperti apa yang ibu inginkan. Kalau sekiranya memang ingin hidup sewajarnya layaknya lingkungan sekitar, tentu saya tidak akan diarahkan untuk terus sekolah. Demikian juga halnya kalau materi menjadi parameter bahagia,  saya kira ibu tidak akan merestui untuk melanjutkan studi ini. Selalu dan selalu ibu berkata, “ Ibu ndak mengerti apa-apa, kalau menurut kamu itu baik, ibu hanya bisa merestui dan mendo’akan.” Dan apakah ibu saya bahagia semata karena memberikan kebebasan pilihan dalam koridor kebaikan tersebut? Entahlah. Tapi Jika memang demikian adanya, saya tentu bersyukur jika pilihan-pilihan hidup saya itu membuat ibu bahagia.
Pada dasarnya, selain karena memang mimpi pribadi, pilihan saya untuk melanjutkan studi sampai di Belanda ini merupakan cara saya untuk membahagiakan ibu. Bahagia karena bangga mampu mengantarkan anaknya sampai titik ini. Bahwa dirinya dulu harus bekerja keras untuk menuntaskan pendidikan sekolah dasarnya, namun kondisi itu tidak perlu lagi dilalui oleh anaknya. Bahwa pendidikan memang pilihan bekal yang tepat bagi anaknya meski harus menjadi berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Itu yang kiranya ingin saya persembahkan kepada ibu dengan menuntaskan pendidikan saya. Sementara belum banyak bantuan materi yang saya berikan, saya harap ini menjadi salah satu cara membahagiakan ibu.
Pada akhirnya, hal terpenting yang saya maknai betul adalah tentang ikatan kami. Tanpa studi di luar negeri, saya kira ikatan saya dan ibu tidak akan sekuat ini. Belum pernah saya dapati kecintaan pada ibu, dan keluarga, sebelum saya hijrah ke sini. Saya dan ibu, tidaklah seperti kekhawatiran saya dulu, yang akan memiliki ikatan kaku dan kurang terbuka karena tumbuh di lingkungan suku Jawa. Saya sebagai anak bisa leluasa menceritakan apapun. Sedangkan ibu juga tidak segan meminta pertimbangan dari anaknya. Dalam perbincangan kami, ibu selalu terdengar berusaha mengikuti topik yang saya sampaikan. Sekalipun itu hal yang awam baginya. Saya pun belajar mendengarkan cerita ibu, tentang apapun itu serta menyampaikan dengan sabar hal-hal yang terdengar tidak lazim baginya. Melihat perkembangan ini membuat saya bahagia. Yang berkembang dan belajar sejatinya bukan hanya saya. Ini bukan lagi tentang pendidikan saya seorang, tapi pelajaran bagi saya dan ibu, serta Bapak dan adik saya, tentang peningkatan diri, tentang ikatan dan cinta dalam keluarga. Saya sangat bersyukur dan bahagia dapat memaknai hal ini. Saya harap demikian pula dengan ibu. Ibu mampu berbahagia, bukan hanya karena melihat pencapaian anaknya, tetapi juga kemajuan yang ada pada dirinya.

Penutup
Pada akhirnya, ibu juga tidak dapat membaca tulisan ini. Jangankan internet, ibu baru mau menggunakan HP beberapa tahun lalu. Namun, biarkan saya mencatat kisah seorang ibu yang menjadi pendorong utama pendidikan anaknya.
Saya bukan seorang brilian dengan berbagai prestasi. Tapi dengan restu ibu, kaki saya mampu sejauh ini melangkah. Saya bukan seorang yang bekerja dengan gigih. Tapi dengan mengingat perjuangan dan pengorbanan ibu, saya mampu bertahan sedikit lebih lama. Saya bukanlah seorang berpendirian teguh. Tapi dengan dukungan semangat dan do’a ibu, segala urusan dengan baik terlewati. 
Satu hal yang pelajari betul-betul dan perlu saya ingat adalah bahwa ibu selalu ada dalam perjalanan hidup saya. Apapun yang ibu lakukan, memiliki andil dalam setiap perjuangan saya. Selalu. Setiap waktu. Semoga semuanya lancar dan saya dapat berjumpa dengan ibu, dalam kurun waktu yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Aamiin.


Note: Tulisan ini juga dipublish di website PPI Belanda: http://ppibelanda.org/salam-rindu-untuk-ibu/

Monday, September 1, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Alhamdulillah Mendapatkan Beasiswa LPDP

"Semua akan indah pada waktunya"
Salah satu quote yang seringkali diperdengarkan oleh banyak orang. Salah satu quote yang seringkali menjadi penyemangat saya di kala keteguhan hati saya goyah. Yah..salah satu quote yang juga membuat orang menerima sepahit apapun keadan yang sedang dilalui dengan keyakinan bahwa akan ada balasan yang sangat baik dibalik keadaan itu.

Telah saya singgung sebelumnya bahwa pada akhirnya saya menjadi salah satu penerima beasiswa studi master luar negeri dari LPDP. Setelah melalui berbagai macam kondisi, akhirnya penantian saya berbuah manis. Bukan hanya buah manis ini saja yang saya petik tetapi juga segala pelajaran yang sangat berharga seiring berkembangnya diri saya ini. Perkembangan itu kini mengarahkan saya ke satu fase hidup yang jauh dari sangkaan saya dulu. Dan semoga, diri ini masih mampu bertahan dalam perkembangan yang positif. Dan tentu saja, saya sangat berterima kasih kepada LPDP yang telah mengantarkan saya, salah satu anak Indonesia, memperoleh kesempatan yang sangat berharga ini.

Di sini, saya akan berusaha menceritakan perjalanan saya mendapatkan beasiswa ini. Sebaik yang saya mampu, sejauh yang saya ingat.

Apakah LPDP ini?
Saat saya berkeinginan untuk mendaftar beasiswa ini, saya sendiri tidak begitu mengerti tentang seluk-beluk beasiswa ini. Perlukah sampai tahu sedetil itu? Yang saya tahu, saya ingin sekali berangkat S2 di luar negeri dengan beasiswa. Tepat setelah saya membulatkan tekad untuk memperjuangkan mimpi ini, beasiswa LPDP yang baru saja lahir, seperti menjadi sebuah jawaban atas mimpi tersebut. Baru sejak tahun 2013 LPDP mulai mengirimkan awardee-nya. Kalau boleh mengutip istilah teman saya, life sign katanya. Seolah-olah merasa bahwa nantinya beasiswa ini akan menjadi bagian dari kehidupan saya. Setidaknya begitulah harapan saya saat itu.

Allah memang terlalu baik dalam mengatur kehidupan kita. Selalu! Hanya seringkali perlu diingatkan berkali-kali untuk mengingat hal itu. Kita harus melewati berbagai kejadian agar dapat mensyukuri segala nikmat yang kita dapatkan. Pun tidak lupa harus berterima kasih untuk segala pelajaran yang diambil dalam berbagai kejadian, yang baik maupun yang kurang baik.

Setelah menjadi salah satu awardee beasiswa LPDP, kini saya sedikit lebih tahu dari sebelumnya, bahwa beasiswa ini berasal dari rakyat Indonesia. Cita-cita luhur bangsa Indonesia yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa berusaha diemban oleh LPDP. Dana beasiswa LPDP ini berasal dari dana abadi yang mana merupakan dana sisa APBN dari Kementrian Keuangan, Kementrian Agama, dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sangat diusahakan sekali bahwa dana yang digunakan untuk membiayai putra-putri Indonesia yang sedang menempuh pendidikan tinggi tidak diambil secara langsung dari dana abadi tersebut. Tetapi, hasil investasi dari dana abadi tersebut. Sejak tahun 2010, sebagaimana diusulkan oleh Ibu Sri Mulyani untuk menghimpun dana abadi untuk pendidikan, hingga tahun lalu 2013 sudah mencapai 15,6 T. Jumlah ini semakin bertambah setiap tahunnya.

Kini kita sama-sama tahu bahwa sekalipun kesejahteraan bangsa kita masih harus diperbaiki di sana-sini, rakyat masih memberikan sumbangsih dalam mencerdaskan anak bangsa. Sebagian uang yang dikeluarkan oleh seluruh rakyat Indonesia turut mengambil bagian dalam mencetak anak-anak Indonesia agar dapat membangun  Indonesia menjadi jauh lebih makmur dan jauh lebih sejahtera kedepannya. Semoga seluruh rakyat sabar hingga tiba saatnya nanti kebangkitan negara dan bangsa ini. Dan juga, semoga orang-orang ini tidak lupa harus kembali untuk membangun bangsa. Dan semoga misi mulia yang diemban LPDP tetap berjalan dengan baik bahkan berkembang jauh lebih baik lagi kedepannya.

Mendaftar LPDP
Revolusi yang dilakukan LPDP tidak hanya dalam tujuan yang mulia tersebut, bahkan sampai ke level teknisnya. Pendaftaran beasiswa ini dilakukan secara online, satu hal yang masih jarang dilakukan oleh pemberi beasiswa lainnya. Ini bukan hal sepele karena semakin mempermudah bagi para pendaftar beasiswa. Jangkauan internet sudah cukup luas sehingga memberi kesempatan bagi siapapun, di seluruh pelosok negeri, untuk mendaftar beasiswa ini. Apalagi mengingat usia beasiswa ini yang masih sangat muda, jalan paling baik untuk menjangkau berbagai daerah adalah melalui internet. Ah ya..ribuan lembar kertas aplikasi otomatis tidak perlu dicetak. Ramah lingkungan, itu kalau ingin dilihat dari sisi 'lingkungan'. Selain itu, tidak perlu khawatir pula mengenai pengiriman berkas seperti yang biasa terjadi di pendaftaran beasiswa lainnya. Khawatir tidak sampai, khawatir tidak tepat waktu. Sistem pendaftaran yang sangat efektif dan efisien.

LPDP sepertinya sangat bekerja keras membangun sistem beasiswanya. Dalam satu tahun diberikan kesempatan empat kali penerimaan. Lagi-lagi satu hal yang sangat berbeda dibandingkan dengan beasiswa lainnya. Inilah yang membuat para pendaftar merasa fleksibel terkait waktu pendaftarannya. Sekalipun tidak sempat mendaftar di salah satu periode, tidak perlu lagi menunggu waktu yang lama untuk bisa mendaftar di periode berikutnya. Misalnya saja, jika ada satu dan lain hal yang belum dipersiapkan, tidak perlu menunda waktu setahun lamanya yang sangat mungkin ditemui di skema beasiswa lainnya.

Saya sendiri saat itu mengikuti batch terakhir di tahun 2013. Semestinya chance-nya termasuk besar karena target tahun 2013 belum tercapai. Demikian info yang saya dapatkan. Begitulah strateginya, berusaha memanfaatkan 'sisa kuota' tersebut. Saya masih khawatir apakah saya mampu mendapatkan beasiswa tersebut. Hanya itu yang mampu meningkatkan keyakinan dan optimisme saya dalam mendaftar beasiswa tersebut. Bersaing dengan orang-orang hebat dari seantero negeri bukan hal yang mudah.

Panggilan wawancara
Sampai tahun 2013 ditutup, tidak ada info yang saya terima terkait beasiswa LPDP. Namun, saat itu perhatian saya memang tidak sepenuhnya ke beasiswa ini. Saya masih harus mendaftar beberapa universitas untuk memperbesar peluang saya menempuh pendidikan S2 di luar negeri.

Tahun berganti, di tahun yang baru ini ada kabar gembira yang saya terima. Saya lolos tahap administrasi dan tinggal menunggu panggilan wawancara. Seharusnya hanya berselang sekitar satu atau dua minggu dari pengumuman lolos administrasi. Namun, saat itu saya harus pulang ke kampung halaman. Salah satu orang yang paling saya cintai dan hormati, kakek saya, sedang sakit keras. Kembali perhatian saya sedikit dialihkan dari beasiswa ini.

Bukan hanya karena perhatian saya teralihkan kepada kesehatan kakek saya, jaringan internet masih kurang bagus di kampung halaman. Alhasil, semacam membuang waktu kalau saya berusaha memantau email dari rumah saya di kampung halaman. Suatu ketika, saya mendapatkan SMS yang berisi undangan wawancara. Kemudian saya coba untuk pergi ke warnet di kecamatan untuk mengecek email. Dan benar ternyata, ada undangan wawancara yang diadakan di Jakarta seminggu berikutnya.

Tapi, kesehatan kakek saya saat itu belum juga membaik. Saya bimbang apakah harus kembali ke Jakarta atau tidak. Orang tua saya memberikan izin untuk kembali ke Jakarta agar dapat memenuhi undangan wawancara tersebut. Saya masih berat hati kalau harus meninggalkan kakek saat masih dalam kondisi yang belum memabik. Beliau sangat berjasa dalam kehidupan saya, beliau yang membesarkan saya, memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti, tapi saya belum bisa membalas apapun, bahkan untuk sekedar menunggu beliau, apakah saya tidak sanggup? Saya akan menunggu sampai mendekati hari wawancara. Baru nanti saya putuskan.

Beberapa hari kemudian, kondisi kakek saya membaik, seperti ada mukjizat dari Allah. Bahkan segera setelah itu, kakek saya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Tentu saya senang sekali karena hal ini memperbesar kemungkinan saya untuk menghadiri undangan wawancara. Saya lantas meminta izin dan doa restu untuk tes wawancara itu. Alhamdulillah, beliau berkenan dan memberikan doa restunya agar apa yang saya cita-citakan tercapai. Dan itu jauh dari cukup yang saya harapkan. Saya yakin, doa beliau menjadi salah satu bekal kesuksesan saya untuk mendapatkan beasiswa ini.

Tes Wawancara
Jumat pagi, 24 Januari 2014, saya berusaha datang sepagi mungkin. Cuaca di Jakarta masih kurang begitu bersahabat, di beberapa titik bahkan sudah banjir menurut berita yang saya lihat di TV. Itu kali pertama saya pergi ke kawasan perkantoran Kemenkeu yang ternyata salah satu aksesnya tertutup oleh banjir. Termasuk juga jalur busway yang seharunya mengantarkan saya ke lokasi wawancara itu. Ini di luar dugaan saya. Jalanan macet dan hujan mulai turun lagi. Saya putuskan untuk naik ojek untuk mencapai lokasi wawancara. Jalur terdekat tertutup oleh banjir sehingga kami terpaksa memutar jauh. Setelah menembus hujan dan kemacetan, saya tiba di kompleks perkantoran Kemenkeu. Terlambat. Seketika saya pupus harapan.

Tapi saya lanjutkan untuk pergi ke gedung tempat wawancara diadakan. Ruangan sudah tertutup. Dengan tergopoh-gopoh saya bertanya ke salah satu panitia apakah saya masih bisa mengikuti wawancara dengan menjelaskan kondisi yang saya lalui sebelumnya. Melihat saya yang lepek terkena hujan sepertinya dia mengerti dan memperbolehkan masuk. Alhamdulillah. Saat saya memasuki ruangan, sedang ada presentasi mengenai beasiswa LPDP ini. Setelah presentasi tersebut, diadakan daftar ulang. Baru kemudian dilanjutkan wawancara sesuai jadwal masing-masing. Saya mendapatkan jadwal wawancara keesokan harinya. Tidak, tidak boleh menyesal melalui seluruh perjuangan pagi itu. Masih beruntung diperbolehkan untuk mengikuti wawancara. Saya harus yakin perjuangan yang keras semoga menghasilkan hal yang baik.

Wawancara keesokan harinya saya jalani dengan lancar tidak seperti hari sebelumnya. Lancar bukan dalam artian diwawancarai. Saat diwawancarai, saya hanya berusaha memberikan yang saya bisa lakukan. Wawancara ini menjadi salah satu wawancara yang berkesan. Bukan karena nantinya saya menjadi penerima beasiswa LPDP. Namun, wawancara saat itu seperti wawancara terbaik yang pernah saya alami. Terdapat tiga orang yang mana kalau tidak salah dua diantaranya adalah profesor sedangkan yang lainnya adalah psikolog. Tidak seperti wawancara umumnya, mereka sepertinya sudah hafal betul tentang diri saya sebagaimana yang saya gambarkan di CV dan essay saya. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih jauh di luar apa yang telah saya tuliskan. Selain itu, mereka memberikan semacam nasehat-nasehat agar nantinya kembali untuk membangun Indonesia. Mereka juga berharap agar saya tidak berhenti hanya sampai jenjang master. Dan juga mengharapkan agar saya terus bekerja keras mewujudkan cita-cita saya sebagaimana yang telah jalani selama ini. Bukan wawancara biasa kan?

Pengumuman Hasil Wawancara
Pasca wawancara, saya kira saya bisa bernafas lega sejenak. Namun bukan demikian yang terjadi. Keesokan harinya saya mendapatkan berita duka. Kakek saya meninggal dunia. Saya sudah tidak mengerti lagi apa yang sedang terjadi. Belum genap satu bulan saya menjalani tahun itu, tapi berbagai kejadian signifikan menimpa hidup saya. Dari yang sangat baik hingga yang sangat tidak ingin saya alami. Saya berusaha untuk terus berbaik sangka kepada Allah. Bahwa setidaknya ada pelajaran yang harus saya ambil dari semua ini.

Hari itu juga saya langsung memesan tiket pesawat untuk pulang ke Solo meskipun keluarga besar saya menyarankan agar tidak perlu pulang. Saya memaksa untuk pulang. Kapan lagi saya dapat memberikan penghormatan kepada Kakek saya? Toh, tiket sudah saya beli, jadi mau tidak mau saya pasti pulang. Saya membeli tiket pesawat paling pagi keesokan harinya.

Keesokan harinya, nasib tidak berpihak kepada saya, pesawat musti delay karena kondisi cuaca sedang tidak bagus. Tidak tanggung-tanggung saya harus menunggu selama tiga jam untuk penundaan itu. Ya Rabbii... Saya tidak sempat melihat beliau untuk terakhir kalinya. Niat saya untuk memberikan penghormatan terakhir gagal sudah. Dengan berat hati saya 'iyakan' pertanyaan Pakde agar tidak usah menunggu saya.

Satu hal yang pasti, cinta Kakek saya terlalu besar kepada saya. Banyak hal yang beliau lakukan dan korbankan demi saya. Bahkan hingga saat-saat terakhirnya. Di saat terakhir, beliau masih melakukan hal yang sangat luar biasa untuk cucunya yang satu ini. Saya diberikan restu untuk menghadiri undangan wawancara. Saya yakin betul, karena cinta dan restu beliaulah saya akhirnya mendapatkan beasiswa. Pengumuman lolos tahap wawancara saya terima sehari setelah kepulangan itu. Terima kasih Kakek. Satu langkah lagi menuju beasiswa yang jadi impian saya. Hanya ini yang mampu saya berikan.

Program Kepemimpinan
Tinggal satu tahapan lagi yang harus saya lalui untuk agar menjadi penerima beasiswa LPDP yaitu Program Kepemimpinan. Meskipun masih ada keengganan untuk kembali fokus ke beasiswa ini, saya harus melanjutkannya. Setelah beberapa hari di rumah, saya harus kembali ke Jakarta agar dapat menyelesaikan tugas-tugas program ini dengan baik. Alasannya karena saya membutuhkan koneksi internet yang memadai untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Setelah itu, dilanjutkan dengan programnya, semacam karantina, di berbagai lokasi.

Program Kepimpinan ini berlangsung selama 12 hari dengan tujuan untuk memperoleh kualifikasi kepemimpinan yang sesuai dengan visi-misi LPDP. Selain itu, memberikan penguatan pola pikir dan penanaman nilai-nilai bagi calon penerima beasiswa. Program ini menjadi salah satu tahapan seleksi beasiswa LPDP yakni tahapan terakhir. Meskipun ada sedikit nuansa 'ospek', secara keseluruhan saya menilai program ini baik. Saya mendapatkan teman-teman baru yang jauh lebih hebat dari saya yang mana saya juga ikut termotivasi agar mampu mengikuti mereka. Selain itu, berbagai materi dan wawasan dari berbagai tokoh maupun di beberapa lokasi program juga sangat menarik. Yang pasti, program ini telah menjadi bagian dari kehidupan saya, dan akan sangat sulit untuk dilupakan.

Selang beberapa minggu dari Program Kepemimpinan yang berkesan itu,  saya mendapatkan berita bahwa saya menjadi awardee beasiswa LPDP. Alhamdulillah..

Terima Kasih LPDP
Di akhir tulisan ini, saya akan memberikan apresiasi saya kepada LPDP. Bagi saya pribadi, LPDP telah memberikan hal yang begitu berarti dalam kehidupan saya. Satu fase terbaik dalam hidup saya dibukakan jalannya oleh LPDP. Satu fase yang seperti telah saya sebutkan bahwa saya tidak pernah membayangkan sebelumnya. Secara umum, LPDP telah memberikan harapan sangat baik untuk memperbaiki negeri ini dengan menjadi jembatan bagi anak bangsa agar dapat membangun Indonesia kedepannya. Selain itu, harapan pula bagi anak-anak Indonesia yang bercita-cita untuk sekolah tinggi tetapi tidak semudah kelihatannya. Masih ada yang bermimpi untuk sekolah tinggi dari berbagai pelosok negeri ini. Masih banyak pula yang harus disadarkan bahwa pendidikan itu sangat penting bagi kehidupan pribadi sendiri maupun untuk kemajuan bangsa. Semoga LPDP mampu memberikan yang terbaik. Semoga saya mampu memberikan yang terbaik. Demi kemajuan tanah air Indonesia. Aamiin.

Thursday, August 28, 2014

Kebodohan Penghuni Baru di Negeri Orang

Tiga minggu lamanya saya sudah menghabiskan waktu di Belanda. Dan akan berlanjut hingga kurun waktu dua tahun ke depan setidaknya. Pengalaman baru yang benar-benar menarik apalagi ini kali pertama saya pergi ke luar negeri. Akan selalu ada untuk yang pertama kalinya bukan? Bukan hanya soal kali pertama "berpindah" ke negeri orang, tetapi juga diikuti banyak hal baru lainnya. Sebagian sangat menyenangkan atau menyedihkan atau malah memalukan. Terlepas dari apapun itu, menjalani hal baru selalu saja menarik. Entah saat akan, sedang, atau setelah menjalaninya.

Di sini, saya akan berbagi tentang kejadian-kejadian bodoh saat saya mulai beradaptasi dengan negeri Belanda ini. Cukup memalukan. Tapi lucu juga kalau diingat.

1. Bingung Mau Minum
Saya sampai di Eindhoven, kota tempat tinggal saya, sekitar jam makan siang. Saat itu saya masih punya sisa minum jatah dari pesawat. Tapi memang dasarnya saya bukan orang yang mudah haus jadi belum merasa khawatir saat itu (setelah tinggal beberapa di sini, mudah sekali saya haus dan buang air kecil, entah kenapa). Saat melakukan semacam pendaftaran, saya juga mendapatkan satu botol kecil air mineral. Lumayan lah. Saat itu saya tidak begitu memikirkan bagaimana nantinya saya minum. Masih terbayang kalau ada galon berisi air mineral yang bisa saya minum. Atau bisa saja saya beli air mineral di warung (Macem ada?). Nggampangin!

Sampai di kosan, sore (sore waktu Indonesia ya, kalau musim panas, sore di Belanda bisa sampai jam 9 malam),  langsung tepar. Masalah datang saat bangun dari keteparan saya itu. Saya mulai haus. Saya minum saja persediaan air yang saya punya. Kemudian saya sadar tidak tahu harus bagaimana kalau persediaan air saya itu nanti habis. Dan benar saja, air mulai menipis. Saya pernah dengar kalo air keran di Belanda bisa langsung diminum. Tapi tetap saja tidak yakin. Saya coba yakinkan diri saya dengan googling. Tapi tetap tidak yakin. Mau cari warung seperti di Indonesia yang hanya berjarak beberapa rumah satu sama lainnya, jelas tidak ada. Oke! Saya nekad minum air dari wastafel kamar saya. Rasanya segar sekali! Tidak kalah segar dengan air mineral yang dijual di Indonesia. Setelah itu, saya coba-coba membaca berkas yang saya terima dari registrasi. Yang pertama kali saya temui adalah info kalau air keran di Belanda memang bisa diminum! Kenapa pula saya tidak membaca berkas ini dari tadi? Beberapa waktu kemudian saya dapat info kalau air keran di Belanda salah satu yang paling baik. Bahkan air flush toilet tidak kalah bersih dengan air mineral yang dijual di pasaran.

2. Solat salah waktu
Badan masih terkena jetlag, hari kedua pagi-pagi buta saya terbangun, kurang lebih sekitar setengah dua pagi. Malam sebelumnya saya tidak sanggup menantikan solat magrib dan isya (saya masih dapat jatah jama solat karena baru sampai :p ) kemudian saya solat setelah bangun tersebut. Karena waktu solat berbeda-beda di setiap tempat, sudah sewajarnya saya install aplikasi penunjuk waktu solat di HP saya. Beberapa saat setelah saya selesai solat magrib-isya, saya buka aplikasi tersebut. Di aplikasi tersebut menunjukkan bahwa beberapa menit lagi sudah tiba waktu solat subuh. Alhamdulillah..saya sempat bangun sebelum waktunya terlewat. Sekitar pukul dua lewat sekian saya menunaikan ibadah solat subuh sebagaimana ditunjukkan oleh aplikasi itu.

Usai solat subuh, saya tidak tahu harus melakukan apa. Maklum anak baru. Saya coba pantau whatsapp. Saya chatting dengan beberapa teman di Indonesia karena memang di Indonesia sudah pagi. Rekan seperjalanan saya yang juga kuliah di kampus yang sama ternyata juga mengalami jetlag sepertinya. Pagi itu dia sudah bangun juga. Kemudian saya bilang kalau saya heran musti solat subuh sepagi itu. Maklum bukan hal yang biasa kita lakukan. Ternyata, menurut dia belum masuk waktu solat subuh. Kagetlah saya! Saya yakin benar saya tidak salah lihat jadwal di aplikasi tadi. Saya memang tidak menaruh curiga kalau bisa saja aplikasi itu salah saat saya melihatnya beberapa waktu yang lalu. Di tempat yang benar-benar baru seperti ini, wajar saja saya kira. Akhirnya saya coba googling lagi untuk mencari waktu solat yang benar. Hasilnya aplikasi saya benar-benar salah! Sial! Lantas saya tadi bagaimana itu sudah solat subuh begitu? Pada akhirnya, saya menunggu waktu solat subuh hingga pukul setengah empat. Ya mau bagaimana lagi, mau tidak mau musti solat lagi. Wong yang tadi belum waktunya solat, berarti solatnya tidak sah, ya to?

3. Bingung di Supermarket
Satu hal yang menjadi prioritas saat tiba di negara baru adalah mendapatkan saluran komunikasi. Sederhananya adalah mendapatkan simcard baru. Beberapa rekan saya sudah membeli simcard baru untuk HP mereka masing-masing. Saya sendiri berencana untuk membeli di supermarket yang beruntungnya ada di dekat kosan saya.

Saya kira tadinya simcard  yang dipakai oleh teman-teman saya lainnya itu ada dimana-mana, termasuk di supermarket. Setidaknya begitulah yang diperkirakan oleh teman-teman saya juga. Kalau di Indonesia ingin membeli simcard ya tinggal pergi ke counter pulsa isi ulang. Oke, mungkin di Belanda tidak seperti itu, tapi cukup masuk akal kalau saya bisa menemukan di supermarket sementara teman saya bisa menemukannya di semacam toko kecil di dekat rumahnya. Nyatanya, saya tidak bisa menemukan simcard di supermarket. Saya coba tanya ke petugas supermarket sayangnya memang tidak ada. Ya sudahlah..pulang saja. But wait..jalan keluar supermarketnya dimana ya? Kenapa hanya bisa lewat melalui kasir. Saya bingung! Saya kan hanya berniat membeli simcard. Kalau tidak jadi beli apa-apa saya keluar lewat mana? Setelah berputar-putar di dalam supermarket tidak jelas, akhirnya saya membeli telur, apel dan susu agar bisa keluar melalui kasir. Besoknya, saat saya tanya teman saya yang sudah lama di sini, kalau tidak jadi membeli apa-apa di supermarket tidak apa-apa melewati jalur kasir. Diperbolehkan! Owalah...

3. Menyalakan Kompor Induksi
Malam-malam saya kelaparan. Meskipun siangnya sudah dijejali kebab, perut saya sepertinya masih mode Indonesia. Jangankan mengharapkan tukang nasi goreng lewat di depan rumah, warung yang jualan macam warteg atau snack apa gitu, tidak ada! Beruntungnya saya siap siaga dengan persediaan indomie yang saya bawa dari Indonesia. Lagipula, saya sudah membeli telur di supermarket. Malam-malam, laper, makan indomie-telor, sempurna!

Sampai di dapur, saya dapati kompornya terlihat sangat modern. Tidak ada kaki-kaki penyangga panci, rata. Di sisi kanan saya lihat berbagai simbol-simbol petunjuk. Rata juga. Semacam indikator mungin, reka saya. Hmm..mungkin akan menyala kalau kompor bisa saya nyalakan. Masalahnya saya tidak tahu bagaimana menyalakannya. Saya mendapati semacam pengontrol yang bisa diputar. Saya putar-putar tidak terjadi apa-apa (besoknya saya baru tahu kalau itu adalah untuk oven). Ah ya..tadi housemate saya sempat bilang kalau ingin memasak jangan lupa menarik penangkap asap. Bisa saja kompor tidak bisa menyala karena saya belum menarik penangkap asap itu. Safety-nya canggih sekali. Setelah saya tarik, saya putar-putar pengontrol yang ada di sisi depan. Masih tidak terjadi apa-apa. Apa benar kompor ini touchscreen? Saya pencet-pencet tanda 'plus',  yang mana sangat logis untuk menaikkan temperatur kompor, juga tidak terjadi apa-apa. Oke saya menyerah! Malam itu saya terpaksa kelaparan. Saya penasaran betul bagaimana cara menyalakan kompor itu. Googling, Youtube, sudah saya coba di internet. Ternyata namanya induction hob, just for your information. Tapi tetap tidak ada yang sama dengan kompor yang ada di kosan saya. Pun lebih banyak saya temui keuntungan memakai kompor ini dibandingkan bagaimana mengoperasikannya. Duhh...

Keesokan harinya,  saya belajar mengoperasikan kompor itu. Diajari oleh housemate saya. Dasar memang ndeso!  Akhirnya saya sarapan indomie-telor plus dendeng. Benar-benar nikmat,nyam nyam..Siangnya saya mencoba memasak lagi menggunakan kompor itu. Lancar! Masih terkagum-kagum dengan kompor yang keren itu. Eh tapi sepertinya ada yang salah. Penangkap asapnya lupa ditarik!

4. Menggunakan Mesin Cuci
Ada satu lagi mesin yang membuat saya khawatir yaitu mesin cuci. Hadehhh..andai saja saya bisa mencuci menggunakan tangan. Masalahanya kamar mandinya tidak mendukung. Kamar mandi kering gitu lho. Setelah direpotkan oleh kecanggihan kompor, saya khawatir dengan kecanggihan mesin cuci. Ini kok ada ya orang malah khawatir dengan alat-alat canggih? Sebenarnya, belum sampai waktunya juga saya mencuci pakaian. Tetap saja kalau tidak tahu caranya ya gimana? Bisa-bisa malah merusakkan mesinnya. Terus malah disuruh ganti. No no no!

Well, saya punya beberapa waktu untuk mencari tahu bagaimana mesin cuci tersebut bekerja. Saya menemukan manual penggunaan mesin cuci suatu kabinet di dekat mesin cuci. Nice! Tapi, tidak sepenuhnya saya pahami cara mengoperasikan mesin tersebut karena tidak ada satupun penjelasan dalam bahasa Inggris. Mana saya ngerti? Jangan pula mengharap ada bahasa Indonesia di manual tersebut. Mimpi! Akhirnya lagi-lagi saya cari di internet manual mesin cuci tersebut. Nah kali ini saya beruntung. Saya berhasil menemukan manual penggunaan mesin cuci tipe tersebut. Hmm..lumayan mengerti sih, tapi tidak dijelaskan peruntukannya ada yang mencuci dua fase, mencuci kilat, mencuci pakaian bayi, apalah semua itu. Yasudahlah..saya mencuci yang kilat saja. Tapi, itu hanya beberapa waktu. Sekarang ini saya lebih memilih untuk mencuci dengan menu daily program. Heuu..


5. Jadwal Membuang sampah
Saya beritahu satu hal, sampah menjadi salah satu urusan yang cukup rumit bagi pendatang baru di Belanda. Kita harus tahu bagaimana memilah-milah sampah. Kita juga harus tahu jadwal pengambilan sampah. Soal pemilahan sampah, saya sudah tahu sedikit sejak sebelum berangkat ke Belanda. Namun, saat saya di Belanda, housemate saya bilang kalau tidak perlu repot-repot dipilah-pilah karena sampah kita hanya sampah rumah tangga. Okay, kalau mau dipilah mungkin kerdus-kerdus atau sampah kertas lainnya bisa dipisahkan. Toh kita hanya punya satu tempat sampah. Saya bingung!

Housemate saya juga bilang kalau jadwal pengambilan sampah adalah setiap hari kamis. Jadi dia berpesan, kalau ada yang melihat sampah saat Rabu malam, tolong ditaruh di pojokan jalan. Suatu hari, teman saya ini sedang pulang ke rumahnya karena memang rumahnya di Belanda. Rabu malam itu saya merasa bertanggung jawab untuk membuang sampah. Di sepanjang jalan tadi saya lihat tempat sampah sudah berjajar. Aduh..bagaimana ini? Masa sampahnya tidak dibuang? Buang sampah saja tidak mudeng? Belum lagi kalau dibiarkan sampai teman saya pulang, bisa-bisa membusuk sampah-sampah tersebut. Jadi, saya bulatkan tekad untuk membuang sampah malam itu.

Semua sampah sudah saya masukkan dalam trashbag besar dan siap dibawa. Sebentar..saya buang trashbag itu ke bak sampah di luar sana? Saya cek beberapa bak sampah yang ada di pojok jalan, penuh semua. Kebanyakan rumput dan dedaunan pula didalamnya. Aneh. Berarti saya tidak bisa membuang di bak sampah itu? Aha! Ternyata masing-masing rumah mengeluarkan bak sampah masing-masing. Pantas saja bak sampahnya memiliki roda. Ternyata agar mudah dipindahkan. Saya bariskan bak sampah saya dalam barisan bak sampah di pinggir jalan. Bak sampah hitam di antara bak sampah hijau.

Keesokan harinya, saya cek bak sampah saya. Masih utuh! Sedangkan bak sampah tetangga-tetangga saya sudah kosong melompong. Gile! Apa yang salah? Apa karena ada sampah yang salah dipisahkan di dalamnya jadi tidak mau diangkut? Lagi-lagi saya mengandalkan internet untuk mencari info. Hmm..sialnya kebanyakan bahasa Belanda. Saya tanya teman saya yang tinggalnya agak jauh dari rumah saya. Di tempatnya, bak sampah berhasil dikosongkan. Pelan-pelan saya mencerna informasi soal sampah dan segala macam jadwalnya. Akhirnya, housemate saya menjelaskan (melalui whatsapp, chat sejak hari sebelumnya) kalau kita salah jadwal. Dia meminta maaf karena salah menjelaskan. Seharusnya setiap hari kamis setiap dua minggu sekali. Pantas saja 'kalender sampah'-nya menunjukkan perulangan setiap dua minggu sekali. Perulangan yang saya tidak mengerti maksudnya apa. Hari itu bukan jadwal membuang sampah rumah tangga melainkan minggu depannya lagi. Bak sampah hitam ternyata berada di tempat yang salah malam tadi. Benar saja, minggu depannya, bak sampah warna hitam berjajar rapi di pinggir jalan. Saya tersenyum. Lucu sih!


Tuesday, August 26, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Mencari Beasiswa

Well..well..well.. sampai di juga di postingan ini ya? Hmm...sepertinya di luar sana banyak tips yang lebih komprehensif yang mengulas bagaimana cara mendapatkan beasiswa studi di luar negeri. Jadi, biarkan saya mengenang bagaimana saya mendapatkan beasiswa yang akhirnya mengirim saya ke negara yang pernah menjajah tanah air kita,hehe..

Beasiswa Itu Sulit Didapat?
Mungkin benar, mungkin juga tidak..Gimana ya? Seringkali kita mendapati cerita kalau mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri itu sulit sekali. Saya pun demikian, sebelum pasti mendapatkan beasiswa, cerita-cerita yang saya peroleh adalah cerita yang mengisahkan beratnya perjuangan yang harus dilalui untuk mendapatkan beasiswa. Cerita yang dramatis memang bisa memiliki kekuatan tersendiri dibandingkan kalau cerita mencari beasiswa itu hanya mulus-mulus saja. Atau bisa juga, cerita-cerita itulah yang kita cari atau ingin kita dengar sebagai pemberi inspirasi, pemberi kekuatan, yang walau bagaimanpun sulitnya mendapatkan beasiswa, selalu ada kebahagiaan yang dituai pada akhirnya dengan mendapatkan beasiswa itu. Ya..orang-orang seringkali mencari apa yang ingin dia dengarkan bukan?

But anyway.. Itu bukan hal yang salah juga. Ketika mampu memberi inspirasi, mampu memberi kekuatan, mampu memberi keyakanan ke banyak orang di luar sana sehingga orang terus memperjuangkan apa yang diperjuangkannya, satu hal yang harus diberi apresiasi. Saya juga turut memberi apresiasi kepada orang-orang yang mampu dan mau berbagi cerita tersebut. Sekali waktu saya juga pernah dikuatkan oleh tulisan-tulisan yang tetap membuat saya yakin untuk menempuh jalur beasiswa luar negeri ini.

Bolehlah kiranya kita tahu kalau ada juga cerita yang tidak terlalu sulit untuk mendapatkan beasiswa. Bisa jadi tidak banyak orang yang menuliskannya. Karena mungkin, ceritanya hanya biasa saja. Atau karena memang kita skip, sehingga hanya ingin mendengar terhadap apa yang kita dengar tadi. Intinya, melihat sisi yang satu ini juga diperlukan agar kita tidak melulu khawatir terhadap tantangan mendapatkan beasiswa. Jadikan ini sebagai penguat juga bahwa mungkin sekali nasib membuat mudah jalan kita untuk mendapatkan beasiswa. Tidak ada yang salah dengan ini. Kalau dapat jalan yang mudah kenapa musti mencari-cari jalan sulit?

Lalu, dengan saya mengatakan demikian apakah perjalanan saya termasuk mudah? Okay, next!

Perjalanan Beasiswa
Untuk mendapatkan beasiswa, saya harus membulatkan tekad saya untuk berhenti dari pekerjaan. Rentang waktu dari saya berhenti bekerja hingga berhasil menginjakkan kaki di Negeri Oranye adalah tujuh belas bulan. Terdengar gila bukan? Ya memang...kalau saya ingat-ingat jadinya heran sendiri,hehe..Saat melewatinya ya berusaha mati-matian menghibur diri. Pada saat sekarang ini, makin terdengar bodoh lagi dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain. Sepertinya mereka tidak melewati masa-masa yang sampai segitunya, haha... Itulah kenapa saya sampaikan sebelumnya bahwa tidak semua cerita mendapatkan beasiswa itu sulit. Tapi baiklah..nasi sudah menjadi bubur, dengan ditambahkan ayam suwir, kecap, kerupuk, toh bisa jadi bubur ayam yang enak. Dan itu wajib disyukuri! Bukan menghibur diri ini, tapi saya mendapati sesuatu yang benar-benar harus disyukuri karena mampu melewati masa-masa itu dengan segala macam pengalaman yang saya dapatkan di rentang waktu tersebut. Sulit dideskripsikan sih...

Saya masih ingat saat saya mendaftar Beasiswa ADS, itu adalah kali pertama saya mendaftar beasiswa. Beasiswa yang sangat kecil sekali kemungkinannya saya dapatkan karena memang tidak sesuai antara target grup dengan qualifikasi saya. Waktu itu, saya menjadikannya sebagai 'belajar' mendaftar beasiswa. Saat awal-awal memang masih memiliki keraguan yang cukup besar sehingga membutuhkan suatu pemicu. Hasil dari beasiswa ini adalah saya gagal. Dan jelas, kegalauan saya diobati oleh cerita-cerita 'jatuh-bangun' memperoleh beasiswa yang beredar di luar sana itu.

Beasiswa kedua yang saya daftar adalah beasiswa ALSP. Beasiswa ini adalah beasiswa yang diberikan oleh TU Eindhoven. Jadi, pendaftaran beasiswanya sekaligus dengan pendaftaran kampusnya. Dari waktu pendaftaran hingga pengumuman membutuhkan waktu yang sangat lama. Sambil menunggu hasilnya, saya mendaftar beasiswa LPDP. Walaupun pengumuman beasiswa LPDP tidak selama beasiswa ALSP, saya masih ingin mendaftar beasiswa yang lain. Khawatir kalau-kalau saya tidak mendapatkan keduanya. Saat itu saya berniat mendaftar beasiswa Kemkominfo. Bahkan saya sampai mengikuti Tes Potensi Akademik sebagai syarat pendaftaran beasiswa tersebut. Tapi, niat tersebut saya urungkan lantaran saya sudah lolos seleksi administrasi  dan wawancara beasiswa LPDP. Sebenarnya, bisa dibilang sok-sokan juga, padahal bisa saja tidak lolos beasiswa LPDP. Saya yakin saja dan pasrah sebenarnya saat itu. Tidak nyaman. Kalau saya merelakannya, setidaknya memperbesar kesempatan bagi orang lain. Demikian keyakinan saya. Semoga niat baik tersebut dijawab dengan hal baik juga oleh Allah. Dan kabar baik tersebut benar-benar diberikan oleh Allah karena akhirnya saya mendapatkan beasiswa LPDP. Alhamdulillah... (cerita detil LPDP akan dibuat tersendiri, kalau sempat :p )

Ah ada lagi yang tertinggal. Saya juga sempat mendaftar beasiswa Swedish Institute. Seperti halnya beasiswa ALSP, pendaftaran beasiswa ini bersamaan dengan pendaftaran universitasnya. Namun sayangnya, saya juga tidak berhasil mendapatkan beasiswa ini. Selain itu, saya juga mendaftar Total Scholarship yang bekerja sama dengan UI. Namun akhirnya saya tidak lolos walaupun perjuangannya sedikit merepotkan sampai-sampai harus mengalami kecelakaan sepeda motor karena mengejar deadline pengambilan formulir. Saat itu hanya sampai tahap wawancara saja. Mungkin karena latar belakang dan jurusan yang ingin saya ambil kurang begitu sesuai dengan Total sendiri. 

Ringkasnya, saya berniat mendaftar enam beasiswa tetapi hanya satu yang lolos. Apakah saya termasuk yang berjuang segitunya untuk mendapatkan beasiswa? Yaa.. begitulah.. Mimpi memang harus dikejar bukan?

Beasiswa Itu Rezeki
Inilah salah satu pelajaran yang saya dapati belakangan ini, saat saya mencari beasiswa. 'Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu', begitu kata Al Quran. Ayat ini memang erat hubungannya dengan bagaimana menyikapi rezeki (hal) yang kita terima. Mau bagaimana pun juga, semua sudah diatur dengan sangat baik oleh Allah. Well..dulu saya mungkin mendengar hal ini semacam nasihat yang hanya didengar sambil lalu. Bisa jadi, masih banyak juga orang-orang yang seperti itu. Sampai akhirnya merasakan sendiri bagaimana mencapai titik itu sehingga ketika mengatakan kalau 'rezeki sudah diatur' itu benar-benar mengatakannya dari dalam hati. Bukan tidak sekedar ngomong.

Seperti halnya mendapat pekerjaan, nominal gaji, posisi jabatan, saya sendiri akhirnya menganggap beasiswa itu juga rezeki yang tidak melulu mengikuti aturan tertentu. Ada orang yang pendidikannya di bawah kita tapi mendapatkan pekerjaan lebih baik dari kita. Ada yang pekerjaannya terlihat santai-santai tetapi menghasilkan uang banyak. Demikian juga beasiswa. Tidak melulu harus mengikuti aturan harus yang pintar, atau harus aktivis, atau semacamnya. Sekali ada kesempatan kemudian kita mau mengambilnya, ya harus kuat memperjuangkannya. Urusan hasil lihat belakangan. Dan apa yang diusahakan tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Seperti yang saya singgung di awal, bahwa ada juga yang memperoleh beasiswa dengan mudah. Yang harus bertatih-tatih juga tidak kurang sedikit. Bisa kita lihat kan kalau tidak semua hal ada dalam kendali kita, termasuk memperoleh beasiswa.

Dan kalau sudah mendapati hal itu, mari bergeser ke bagaimana menyikapinya, penerimaan atas apapun yang terjadi. Kalau sampai akhirnya mendapatkan beasiswa dengan mudah misalnya, jangan lupa untuk mensyukurinya. Kalau sampai di titik belum mendapatkan beasiswa, yakinlah bahwa bukan saat ini waktu yang terbaik untuk mendapatkan beasiswa. Bisa saja ini menjadi pelajaran untuk menguatkan keyakinan dan memperbaiki diri sampai pantas mendapatkan beasiswa. Atau memang akan diberikan sesuatu yang lebih baik dari beasiswa. Dan kalau sudah di titik mendapatkan beasiswa setelah berjuang dengan sangat hebat, bersyukurlah atas beasiswa tersebut dan atas pelajaran yang sangat berarti bahwa diri kita jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan. Sehingga bisa menjadi bekal untuk kehidupan di depan nanti.

Saturday, August 23, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Saatnya Mendaftar Universitas

Okay, satu fase yang lumayan merepotkan sudah lewat, berjuang di IELTS. Bukan merepotkan tepatnya tapi lebih kepada mengkhawatirkan. Eh tapi akan ada sesi mengkhawatirkan berikutnya juga deng. Yang pasti kalau sudah nilai IELTS sudah di tangan itu semacam check point. Kalau saya bilang, itu sudah setengah tiket di tangan.

Ya.. seperti yang saya bilang, IELTS atau sertifikasi bahasa menjadi persyaratan hampir semua studi sarjana atau pun master luar negeri. Setidaknya, semua kampus yang ingin saya tuju pasti mensyaratkan hal itu. Jadi, kalau sudah di tangan, bolehlah sedikit menghela napas lega sebentar. Kenapa saya bilang setengah tiket? Fase berikutnya tentu adalah mendaftar universitas dimana selain IELTS, persyaratan 'umum' lainnya bisa diusahakan lebih mudah. Okay..kata umum saya beri tanda 'petik' itu maksudnya mengacu kepada hal-hal yang paling sering dijadikan persyaratan untuk mendaftar studi di luar negeri. Bisa jadi ada beberapa universitas yang memiliki aturan mainnya sendiri, tapi saya mungkin hanya menyinggung hal-hal yang umum tadi. Sebenarnya lebih kepada pengalaman saya. Tentunya.

Kemudian bingung...Well, mari kita persempit dulu lingkup universitasnya. Saya ingin menyampaikan dari pengalaman saya sendiri which is saya hanya mencari kampus-kampus di Eropa. Satu hal yang mempermudah untuk pendaftaran universitas di Eropa itu kebanyakan online. Hampir semua hal yang diperlukan untuk pendaftaran tertera jelas di websitenya. Jadi silakan dibaca dengan seksama segala hal yang ada di website dan ikuti prosedur pendaftarannya. Kalaupun ada yang kurang jelas, segera saja ditanyakan ke international office atau kontak terkait. Daripada mencoba untuk memahami maksudnya sendiri, jauh lebih baik untuk mempertanyakannya. Tidak lucu bukan kalau pendaftaran universitasnya gagal hanya karena misinterpretasi? Kalau uniersitas-universitas di belahan dunia lainnya mungkin memiliki persyaratan yang mirip. Tapi saya kurang begitu mengerti, misalnya: saya kurang begitu mengerti sistem pendaftaran untuk universitas yang ada di Australia atau Amerika. Sepertinya sedikit beberbeda.

Selanjutnya mari dilanjutkan persyaratan yang paling umum diminta untuk pendaftaran universitas luar negeri:

1.  Pertama-tama adalah persyaratan yang termasuk mudah, yaitu dokumen-dokumen yang sudah ada. Misalnya: ijazah, transkrip, paspor, dan sertifikat IELTS. Hal-hal tersebut sudah dilewati jadi otomatis sudah memilikinya. Untuk ijazah dan transkrip mungkin bisa dibuat legalisir sekaligus banyak kalau memang berniat mendaftar lebih dari satu kampus. Untuk IELTS, kalau diminta legalisirnya, harus request ke institusi yang mengeluarkan IELTS tersebut agar mereka mengirim ke universitas yang didaftar. Saya sarankan semuanya discan sehingga kita memiliki soft copy dari dokumen tersebut. Bisa jadi, dokumen tersebut harus diupload dalam pendaftaran online. Atau kalau ingin membuat salinan biasa dari dokumen tersebut, kita punya alternatif untuk mencetaknya dari file yang sudah disimpan.

2. Dilanjutkan ke bagian kedua yang sedikit lebih susah yaitu membuat motivation letter. Banyak yang bilang pendaftaran universitas berdasarkan pada motivation letter ini. Masuk akal juga sebenarnya karena dari sini lah bisa dilihat qualifikasi calon mahasiswa itu seperti apa. Kiat-kiat menulis motivation letter, banyak sekali ulasannya di internet. Saya pribadi menyarankan untuk menulis dengan gaya masing-masing yang dirasa paling nyaman dengan dirinya. Bisa saja kita mengikuti gaya atau sistematika penulisan yang telah dibuat orang. Tapi, ada kemungkinan tulisan tersebut tidak cocok dengan kepribadian kita yang justru malah terlihat kaku. Selain itu, motivation letter yang dibuat disarankan jujur dan tidak lebay. Seperti halnya kita bisa tahu kalau seseorang berbohong, tulisan yang berlebihan juga bisa dilihat dari bagaimana penyampaiannya. Oh iya, wajib hukumnya harus disesuaikan dengan format yang diminta! Silakan dibuat tulisan yang singkat, padat dan jelas karena biasanya format motivation letter bukanlah tulisan yang panjang lebar. Coba saja bayangkan, bagian admission akan mengecek banyak sekali motivation letter, sepertinya bukan hal yang menyenangkan kalau menemukan tulisan yang bertele-tele bukan? Terakhir, jangan segan untuk meminta pendapat orang lain tentang bagaimana isi tulisan kita, terutama kepada orang yang dikira lebih baik dalam membuat tulisan. Boleh jadi orang lain melihat hal yang kurang dalam tulisan kita yang tidak dapat kita lihat.

3. Yang selanjutnya adalah surat rekomendasi. Surat rekomendasi ini termasuk lazim diminta dalam pendaftaran universitas luar negeri. Membuatnya termasuk gampang-gampang susah karena harus berurusan dengan orang ketiga yang bisa jadi dosen kampus, atasan kerja, atau kolega tergantung dengan persyaratan pendaftarannya. Pengalaman saya sendiri saat itu meminta kepada dosen, pembimbing saat kuliah S1. Jadi, awalnya saya meminta izin untuk nantinya akan meminta surat rekomendasi. Kemudian, saat saya membutuhkan, saya menghubungi beliau untuk dibuatkan surat rekomendasi. Ternyata, saya diminta untuk membuat draft-nya terlebih dahulu. Berikutnya, saya menemui beliau untuk me-review bersama sampai akhinya saya mendapatkan surat rekomendasi yang final. Akan sangat mungkin kondisinya berbeda antara satu dan lain orang. Misalnya, kalau dengan atasan kerja mungkin harus melewati prosedur tertentu. Contoh lain, bisa saja dosen yang dimintai tolong bersedia membuatkan surat rekomendasi secara langsung. Yang pasti, pilihlah orang yang benar-benar mengenal kita. Selain mempermudah dalam pendekatan dalam meminta surat tersebut, isi surat rekomendasi akan terasa lebih jujur karena orang tersebut benar-benar mengenal kita. Kalau memilih pemberi rekomendasi dengan posisi tertentu yang akan menambah peluang diterima, tentu saja jauh lebih baik. Mungkin di bagian ini akan sedikit repot karena harus berhubungan dengan orang lain yang memiliki kesibukan tersendiri.

4. Curriculum Vitae! Saya rasa semua orang sudah memiliki stoknya masing-masing. Karena biasanya terdapat format tersendiri, jadi harus disesuaikan dengan format tersebut. Ini wajib! Untuk konten CV kurang lebih mirip dengan motivation letter dimana sebaiknya singkat, padat, dan jelas. Tidak harus mencantumkan keseluruhan aktivitas yang pernah dilakukan. Toh, panitianya tidak begitu mengerti segala jenis aktivitas di semua negara. Cantumkan hal-hal yang signifikan dan relevan. Kurang lebih begitulah untinya. Di internet juga ada panduan yang lebih lengkapnya.

Beberapa orang mungkin mempertanyakan soal proposal riset untuk studi S2. Dan bisa terhenti di bagian ini. Saya dulu sempat malas kalau sedang eksplorasi tenteng kuliah S2 kemudian ada kata-kata proposal riset. Beberapa saat yang lalu, teman saya juga stuck di bagian itu sampai akhirnya saya sampaikan bahwa tidak semua universitas seperti itu. Sejauh pengalaman saya mendaftar beberapa universitas, tidak ada yang memberi syarat untuk menulis proposal riset. Ya..tidak semua universitas memberi persyaratan itu. Bahkan semakin saya eksplorasi, jumlah yang memberikan persyaratan itu jumlahnya lebih sedikit. Dan sekalipun diminta, silakan dipersiapkan dengan baik sesuai dengan requirement yang ada. Saya tidak bisa menambahkan lebih jauh lagi.

Akhirnya semua persyaratan sudah dibuat. Tinggal dikirim baik melalui internet atau harus mengirimkannya melalui pos. Tiba lagi saatnya, saat-saat yang mengkhawatirkan. Menunggu hasil dari aplikasi pendaftaran S2 luar negeri.



Sunday, August 17, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Memperjuangkan IELTS

Pelan-pelan saya mengumpulkan kepingan puzzle untuk meraih mimpi saya, beasiswa kuliah S2 luar negeri. Satu hal yang paling berat perjuangannnya adalah mendapatkan nilai IELTS sesuai batas standar. Sepertinya semua pendaftaran kuliah di luar negeri memberikan persyaratan sertifikasi bahasa. Jadi ya...mau tidak mau saya harus menaklukan hal ini.

Menjadi hal yang sulit bagi saya untuk menaklukan bagian ini karena saya memang bodoh. Haha..oke oke.. Einstein pernah bilang, 'Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid'. Jadi tidak ada orang bodoh ya, kecuali ditempatkan dalam konteks tertentu. Urusan bahasa ini memang saya rada tertinggal. Mungkin karena background saya yang memiliki sedikit pengalaman soal bahasa inggris. Dulu makanan saya setiap hari hanya boso jowo. Tidak pernah tuh terpikir pentingnya pendidikan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya. Jadilah, kali ini saya tahu diri harus berjuang maksimal untuk mendapatkan nilai yang memadai. Nah, keputusan untuk berhenti dari pekerjaan itu juga sebenarnya untuk mempersiapkan hal ini, punya waktu untuk les persiapan IELTS.

Kenapa pula saya memilih IELTS? Awalnya karena ikut-ikutan saja. Ikut teman seperjuangan pencari beasiswa. Padahal saya tidak familiar dengan IELTS. Saya kan minim wawasan. Ketika dibilang lebih mudah IELTS daripada TOEFL ya saya ikut saja. Tapi, ke belakangnya, setelah mulai familiar, saya tidak menyesal  memilih IELTS karena lebih cocok dengan IELTS. Yak..cocok-cocokan! Sebenarnya tergantung orangnya lebih cocok dengan tipikal IELTS atau TOEFL.

Kalau saya sendiri lebih cocok dengan IELTS kurang lebih karena:
1. Listening IELTS itu benar-benar menuliskan apa yang kita dengar. Kalau TOEFL IBT katanya mirip dengan ITP jadi harus mengekstrak isi dari yang didengar untuk memperoleh jawabannya.
2. Waktu tesnya lebih cepat jika dibandingkan dengan TOEFL
3. Nilai IELTS itu round-up. Nilai saya juga begitu, dibulatkan ke atas, hehe..
4. Bagian reading sepertinya lebih mudah dibandingkan reading TOEFL. Tapi saya mendapatkan nilai yang lebih kecil dari yang saya harapkan juga deng :|

Lanjut ke persiapan yang saya lakukan ya..Pasca berhenti dari pekerjaan saya, cepat-cepat saya mendaftar les persiapan IELTS di kampus saya dulu, LBI UI. Seperti yang saya bilang, saya cukup tahu diri untuk tidak belajar sendiri dan langsung mengambil tesnya. Kalau langsung hajar, bisa-bisa mengulang berkali-kali. Kan sayang uangnya,hehe...Saya memilih LBI bukan karena apa-apa melainkan karena biayanya yang paling murah. Lagi-lagi mentok di uang ya? Yaiyalah.. Perjalanan masih jauh dan sudah jadi pengangguran jadinya harus hemat,haha..

Setelah selesai mengikuti les tersebut apakah saya lantas mengambil tesnya? Tidak! Karena saat itu tepat suasana lebaran. Jadi rehat dulu sebentar. Baru setelah itu, saya mulai belajar intensif lagi sendiri sekitar sebulan. Memang tidak langsung mengambil tes karena ilmunya sudah tercecer kemana-mana,haha..Setiap hari saya luangkan waktu untuk belajar soal IELTS meskipun cuma sebentar. Namanya juga pengangguran, punya banyak waktu kosong to? Sampai akhirnya saya putuskan untuk mendaftar tes IELTS di IDP Pondok Indah, berani! bulet!

Setelah tes, saya lemas! Benar-benar hopeless! Saya khawatir part listeningnya hancur berantakan. Percuma kan kalau nilai keseluruhan memenuhi standar tapi salah satu part berada di bawah standar. Harus re-take lagi. Hilang uang lagi. Bisa-bisanya saya blank saat listening di awal-awal. Dan di IELTS tidak bisa 'nembak' jawaban karena jawabannya berupa isian. Pokoknya pulang-pulang galau tidak karuan.

Dan apa pula yang bisa mendinginkan kepala saya? Saya teringat kalau sebentar lagi menjelang hari raya kurban. Saya sampaikan ke Ibu saya kalau saya ingin berkurban lagi tahun itu jika saya lolos IELTS. Saya juga bilang kalau sudah yakin tidak lulus dan mungkin harus re-take tesnya. Kalau sampai lolos, berarti memang kuasa Allah, dan alokasi uang re-take IELTS bisa digunakan untuk berkurban. Yang manapun jalan yang diberikan Allah saya percaya saja. Keduanya in syaa Allah untuk kebaikan juga. Dan akhirnya, uang tersebut digunakan untuk berkurban yang artinya nilai IELTS saya melewati standar walaupun pas-pasan. Bersyukur sekali Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menerima dua kebaikan, mendapatkan IELTS untuk mengejar S2 dan berkurban yang in syaa Allah berpahala. Memang tidak akan dikecewakanlah kalau 'bermain' dengan janji Allah. 

Cukup sudah cerita dramatisnya,haha...berikut ini saya akan sampaikan sedikit tips kalau ingin mengambil IELTS, tentunya hanya berdasarkan pengalaman saya ya..

Sebelum Tes:

1. Pastikan benar-benar sertifikasi bahasa inggris apa yang ingin dipilih, baik IELTS atau TOEFL. Seperti yang saya bilang bahwa tesnya tergantu preference masing-masing orang. Untuk perbandingan keduanya silakan tanya mbah google.

2. Saya sangat merekomendasikan les preparation IELTS. Untuk orang seperti saya yang mble'e bahasa inggris, jelas sangat membantu. Bagi yang bahasa inggrisnya sudah bagus, tetap harus tahu tipikal soal IELTS dan strateginya mengerjakannya. Dan di les persiapan IELTS diajarkan hal ini. Kalau sudah percaya diri sekali, bisa sih hanya belajar dari buku-buku. Ada juga teman saya yang bisa dapat 7,5 tanpa les.

3. Setelah selesai program lesnya, silakan latihan soal lagi. Practice makes perfect kan? Selain itu, dengan latihan bisa mengenal berbagai macam soal dari berbagai topik. Bisa jadi topiknya saat tes nanti adalah salah satu topik yang pernah kita pelajari sebelumnya. Mungkin saja lho.

4. Kalau tidak ingin latihan soal seperti anak-anak yang mempersiapkan ujian nasional, bisa cari bahan latihan yang lain. Untuk reading, bisa baca-baca artikel dalam bahasa inggris dengan topik agak berat. Untuk listening, saya dulu senang sekali mendengarkan TedX. Terlepas sebagai bahan belajar, topik TedX itu bagus-bagus. Atau bisa juga menonton film barat tanpa subtitle. Kalau writing, mau tidak mau harus banyak menulis. Tidak selalu dalam bahasa inggris, dalam bahasa indonesia pun tidak apa-apa. Setidaknya hal itu melatih kita untuk menulis secara sistematis dalam durasi waktu tertentu. Misalnya untuk saya, dalam tulisan saya seringkali menambahkan beberapa hal yang tidak harus ada dalam tulisan karena ingin menuliskan semua-semuanya. Jadi harus belajar memilah yang mana yang penting untuk dituliskan. Kalau speaking, saya termasuk pasrah. Mungkin bisa saja merekam speech kita agar tahu kekurangan kita dimana, apakah di pronounciation atau ketepatan waktunya. Tapi saya sendiri hanya sekali atau dua kali melakukannya. 

5. Terakhir, jangan belajar mendekati hari H! Semenjak H-2 tes saya sudah tidak belajar. Lakukan hal-hal yang menyenangkan. Jangan lupa juga tidur yang cukup malam sebelum tes. Selain mengumpulkan energi, tidur cukup bisa menghindari gugup tes yang diadakan sangat pagi keesokan harinya. 

Pada saat Hari H:
1. Sebelum berangkat jangan lupa minta doa orang tua.
2. Persiapkan mental dengan baik. Sugesti diri dengan hal-hal yang positif. Namun jangan terlalu tegang.
3. Kelengkapan peralatan tes jangan lupa, misalnya alat tulis, identitas, atau jam tangan juga boleh. Saat tes tidak diperkenankan membawa HP. Jadi tidak mungkin untuk melihat jam di HP. Tapi saat saya tes disediakan jam dinding juga di ruangannya. Serius, manajemen waktu itu penting. Apalagi saat writing.
4. Berdoa sebelum tes.
5. Fokus! Terutama di bagian awal-awal listening. Sekali kehilangan fokus langsung buyar semua. Jangan lakukan kesalahan seperti yang saya lakukan.
6. Setiap selesai masing-masing part, dicek lagi semua jawabannya. Perhatikan spellingnya, kapitalisasi, plural-jamak, dsb.
7. Setelah pulang sampai hari pengumuman jangan lupa banyak-banyak berdoa. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain ini. Kalau ingin bernazar seperti saya juga boleh.

Demikianlah pengalaman saya memperjuangkan IELTS. Semoga membantu dan good luck bagi yang ingin tes IELTS. Anyway, ini hanya sebagian tiket untuk kuliah di luar negeri. Silakan berbahagia kalau berhasil melampauinya karena kalau sudah melewati tes bahasa ini sisanya tidak begitu sulit. Tapi musti juga diingat kalau perjalanan masih cukup jauh untuk mendapatkan tiket kuliah luar negeri yang utuh.