Saturday, August 23, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Saatnya Mendaftar Universitas

Okay, satu fase yang lumayan merepotkan sudah lewat, berjuang di IELTS. Bukan merepotkan tepatnya tapi lebih kepada mengkhawatirkan. Eh tapi akan ada sesi mengkhawatirkan berikutnya juga deng. Yang pasti kalau sudah nilai IELTS sudah di tangan itu semacam check point. Kalau saya bilang, itu sudah setengah tiket di tangan.

Ya.. seperti yang saya bilang, IELTS atau sertifikasi bahasa menjadi persyaratan hampir semua studi sarjana atau pun master luar negeri. Setidaknya, semua kampus yang ingin saya tuju pasti mensyaratkan hal itu. Jadi, kalau sudah di tangan, bolehlah sedikit menghela napas lega sebentar. Kenapa saya bilang setengah tiket? Fase berikutnya tentu adalah mendaftar universitas dimana selain IELTS, persyaratan 'umum' lainnya bisa diusahakan lebih mudah. Okay..kata umum saya beri tanda 'petik' itu maksudnya mengacu kepada hal-hal yang paling sering dijadikan persyaratan untuk mendaftar studi di luar negeri. Bisa jadi ada beberapa universitas yang memiliki aturan mainnya sendiri, tapi saya mungkin hanya menyinggung hal-hal yang umum tadi. Sebenarnya lebih kepada pengalaman saya. Tentunya.

Kemudian bingung...Well, mari kita persempit dulu lingkup universitasnya. Saya ingin menyampaikan dari pengalaman saya sendiri which is saya hanya mencari kampus-kampus di Eropa. Satu hal yang mempermudah untuk pendaftaran universitas di Eropa itu kebanyakan online. Hampir semua hal yang diperlukan untuk pendaftaran tertera jelas di websitenya. Jadi silakan dibaca dengan seksama segala hal yang ada di website dan ikuti prosedur pendaftarannya. Kalaupun ada yang kurang jelas, segera saja ditanyakan ke international office atau kontak terkait. Daripada mencoba untuk memahami maksudnya sendiri, jauh lebih baik untuk mempertanyakannya. Tidak lucu bukan kalau pendaftaran universitasnya gagal hanya karena misinterpretasi? Kalau uniersitas-universitas di belahan dunia lainnya mungkin memiliki persyaratan yang mirip. Tapi saya kurang begitu mengerti, misalnya: saya kurang begitu mengerti sistem pendaftaran untuk universitas yang ada di Australia atau Amerika. Sepertinya sedikit beberbeda.

Selanjutnya mari dilanjutkan persyaratan yang paling umum diminta untuk pendaftaran universitas luar negeri:

1.  Pertama-tama adalah persyaratan yang termasuk mudah, yaitu dokumen-dokumen yang sudah ada. Misalnya: ijazah, transkrip, paspor, dan sertifikat IELTS. Hal-hal tersebut sudah dilewati jadi otomatis sudah memilikinya. Untuk ijazah dan transkrip mungkin bisa dibuat legalisir sekaligus banyak kalau memang berniat mendaftar lebih dari satu kampus. Untuk IELTS, kalau diminta legalisirnya, harus request ke institusi yang mengeluarkan IELTS tersebut agar mereka mengirim ke universitas yang didaftar. Saya sarankan semuanya discan sehingga kita memiliki soft copy dari dokumen tersebut. Bisa jadi, dokumen tersebut harus diupload dalam pendaftaran online. Atau kalau ingin membuat salinan biasa dari dokumen tersebut, kita punya alternatif untuk mencetaknya dari file yang sudah disimpan.

2. Dilanjutkan ke bagian kedua yang sedikit lebih susah yaitu membuat motivation letter. Banyak yang bilang pendaftaran universitas berdasarkan pada motivation letter ini. Masuk akal juga sebenarnya karena dari sini lah bisa dilihat qualifikasi calon mahasiswa itu seperti apa. Kiat-kiat menulis motivation letter, banyak sekali ulasannya di internet. Saya pribadi menyarankan untuk menulis dengan gaya masing-masing yang dirasa paling nyaman dengan dirinya. Bisa saja kita mengikuti gaya atau sistematika penulisan yang telah dibuat orang. Tapi, ada kemungkinan tulisan tersebut tidak cocok dengan kepribadian kita yang justru malah terlihat kaku. Selain itu, motivation letter yang dibuat disarankan jujur dan tidak lebay. Seperti halnya kita bisa tahu kalau seseorang berbohong, tulisan yang berlebihan juga bisa dilihat dari bagaimana penyampaiannya. Oh iya, wajib hukumnya harus disesuaikan dengan format yang diminta! Silakan dibuat tulisan yang singkat, padat dan jelas karena biasanya format motivation letter bukanlah tulisan yang panjang lebar. Coba saja bayangkan, bagian admission akan mengecek banyak sekali motivation letter, sepertinya bukan hal yang menyenangkan kalau menemukan tulisan yang bertele-tele bukan? Terakhir, jangan segan untuk meminta pendapat orang lain tentang bagaimana isi tulisan kita, terutama kepada orang yang dikira lebih baik dalam membuat tulisan. Boleh jadi orang lain melihat hal yang kurang dalam tulisan kita yang tidak dapat kita lihat.

3. Yang selanjutnya adalah surat rekomendasi. Surat rekomendasi ini termasuk lazim diminta dalam pendaftaran universitas luar negeri. Membuatnya termasuk gampang-gampang susah karena harus berurusan dengan orang ketiga yang bisa jadi dosen kampus, atasan kerja, atau kolega tergantung dengan persyaratan pendaftarannya. Pengalaman saya sendiri saat itu meminta kepada dosen, pembimbing saat kuliah S1. Jadi, awalnya saya meminta izin untuk nantinya akan meminta surat rekomendasi. Kemudian, saat saya membutuhkan, saya menghubungi beliau untuk dibuatkan surat rekomendasi. Ternyata, saya diminta untuk membuat draft-nya terlebih dahulu. Berikutnya, saya menemui beliau untuk me-review bersama sampai akhinya saya mendapatkan surat rekomendasi yang final. Akan sangat mungkin kondisinya berbeda antara satu dan lain orang. Misalnya, kalau dengan atasan kerja mungkin harus melewati prosedur tertentu. Contoh lain, bisa saja dosen yang dimintai tolong bersedia membuatkan surat rekomendasi secara langsung. Yang pasti, pilihlah orang yang benar-benar mengenal kita. Selain mempermudah dalam pendekatan dalam meminta surat tersebut, isi surat rekomendasi akan terasa lebih jujur karena orang tersebut benar-benar mengenal kita. Kalau memilih pemberi rekomendasi dengan posisi tertentu yang akan menambah peluang diterima, tentu saja jauh lebih baik. Mungkin di bagian ini akan sedikit repot karena harus berhubungan dengan orang lain yang memiliki kesibukan tersendiri.

4. Curriculum Vitae! Saya rasa semua orang sudah memiliki stoknya masing-masing. Karena biasanya terdapat format tersendiri, jadi harus disesuaikan dengan format tersebut. Ini wajib! Untuk konten CV kurang lebih mirip dengan motivation letter dimana sebaiknya singkat, padat, dan jelas. Tidak harus mencantumkan keseluruhan aktivitas yang pernah dilakukan. Toh, panitianya tidak begitu mengerti segala jenis aktivitas di semua negara. Cantumkan hal-hal yang signifikan dan relevan. Kurang lebih begitulah untinya. Di internet juga ada panduan yang lebih lengkapnya.

Beberapa orang mungkin mempertanyakan soal proposal riset untuk studi S2. Dan bisa terhenti di bagian ini. Saya dulu sempat malas kalau sedang eksplorasi tenteng kuliah S2 kemudian ada kata-kata proposal riset. Beberapa saat yang lalu, teman saya juga stuck di bagian itu sampai akhirnya saya sampaikan bahwa tidak semua universitas seperti itu. Sejauh pengalaman saya mendaftar beberapa universitas, tidak ada yang memberi syarat untuk menulis proposal riset. Ya..tidak semua universitas memberi persyaratan itu. Bahkan semakin saya eksplorasi, jumlah yang memberikan persyaratan itu jumlahnya lebih sedikit. Dan sekalipun diminta, silakan dipersiapkan dengan baik sesuai dengan requirement yang ada. Saya tidak bisa menambahkan lebih jauh lagi.

Akhirnya semua persyaratan sudah dibuat. Tinggal dikirim baik melalui internet atau harus mengirimkannya melalui pos. Tiba lagi saatnya, saat-saat yang mengkhawatirkan. Menunggu hasil dari aplikasi pendaftaran S2 luar negeri.