Tuesday, August 26, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Mencari Beasiswa

Well..well..well.. sampai di juga di postingan ini ya? Hmm...sepertinya di luar sana banyak tips yang lebih komprehensif yang mengulas bagaimana cara mendapatkan beasiswa studi di luar negeri. Jadi, biarkan saya mengenang bagaimana saya mendapatkan beasiswa yang akhirnya mengirim saya ke negara yang pernah menjajah tanah air kita,hehe..

Beasiswa Itu Sulit Didapat?
Mungkin benar, mungkin juga tidak..Gimana ya? Seringkali kita mendapati cerita kalau mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri itu sulit sekali. Saya pun demikian, sebelum pasti mendapatkan beasiswa, cerita-cerita yang saya peroleh adalah cerita yang mengisahkan beratnya perjuangan yang harus dilalui untuk mendapatkan beasiswa. Cerita yang dramatis memang bisa memiliki kekuatan tersendiri dibandingkan kalau cerita mencari beasiswa itu hanya mulus-mulus saja. Atau bisa juga, cerita-cerita itulah yang kita cari atau ingin kita dengar sebagai pemberi inspirasi, pemberi kekuatan, yang walau bagaimanpun sulitnya mendapatkan beasiswa, selalu ada kebahagiaan yang dituai pada akhirnya dengan mendapatkan beasiswa itu. Ya..orang-orang seringkali mencari apa yang ingin dia dengarkan bukan?

But anyway.. Itu bukan hal yang salah juga. Ketika mampu memberi inspirasi, mampu memberi kekuatan, mampu memberi keyakanan ke banyak orang di luar sana sehingga orang terus memperjuangkan apa yang diperjuangkannya, satu hal yang harus diberi apresiasi. Saya juga turut memberi apresiasi kepada orang-orang yang mampu dan mau berbagi cerita tersebut. Sekali waktu saya juga pernah dikuatkan oleh tulisan-tulisan yang tetap membuat saya yakin untuk menempuh jalur beasiswa luar negeri ini.

Bolehlah kiranya kita tahu kalau ada juga cerita yang tidak terlalu sulit untuk mendapatkan beasiswa. Bisa jadi tidak banyak orang yang menuliskannya. Karena mungkin, ceritanya hanya biasa saja. Atau karena memang kita skip, sehingga hanya ingin mendengar terhadap apa yang kita dengar tadi. Intinya, melihat sisi yang satu ini juga diperlukan agar kita tidak melulu khawatir terhadap tantangan mendapatkan beasiswa. Jadikan ini sebagai penguat juga bahwa mungkin sekali nasib membuat mudah jalan kita untuk mendapatkan beasiswa. Tidak ada yang salah dengan ini. Kalau dapat jalan yang mudah kenapa musti mencari-cari jalan sulit?

Lalu, dengan saya mengatakan demikian apakah perjalanan saya termasuk mudah? Okay, next!

Perjalanan Beasiswa
Untuk mendapatkan beasiswa, saya harus membulatkan tekad saya untuk berhenti dari pekerjaan. Rentang waktu dari saya berhenti bekerja hingga berhasil menginjakkan kaki di Negeri Oranye adalah tujuh belas bulan. Terdengar gila bukan? Ya memang...kalau saya ingat-ingat jadinya heran sendiri,hehe..Saat melewatinya ya berusaha mati-matian menghibur diri. Pada saat sekarang ini, makin terdengar bodoh lagi dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain. Sepertinya mereka tidak melewati masa-masa yang sampai segitunya, haha... Itulah kenapa saya sampaikan sebelumnya bahwa tidak semua cerita mendapatkan beasiswa itu sulit. Tapi baiklah..nasi sudah menjadi bubur, dengan ditambahkan ayam suwir, kecap, kerupuk, toh bisa jadi bubur ayam yang enak. Dan itu wajib disyukuri! Bukan menghibur diri ini, tapi saya mendapati sesuatu yang benar-benar harus disyukuri karena mampu melewati masa-masa itu dengan segala macam pengalaman yang saya dapatkan di rentang waktu tersebut. Sulit dideskripsikan sih...

Saya masih ingat saat saya mendaftar Beasiswa ADS, itu adalah kali pertama saya mendaftar beasiswa. Beasiswa yang sangat kecil sekali kemungkinannya saya dapatkan karena memang tidak sesuai antara target grup dengan qualifikasi saya. Waktu itu, saya menjadikannya sebagai 'belajar' mendaftar beasiswa. Saat awal-awal memang masih memiliki keraguan yang cukup besar sehingga membutuhkan suatu pemicu. Hasil dari beasiswa ini adalah saya gagal. Dan jelas, kegalauan saya diobati oleh cerita-cerita 'jatuh-bangun' memperoleh beasiswa yang beredar di luar sana itu.

Beasiswa kedua yang saya daftar adalah beasiswa ALSP. Beasiswa ini adalah beasiswa yang diberikan oleh TU Eindhoven. Jadi, pendaftaran beasiswanya sekaligus dengan pendaftaran kampusnya. Dari waktu pendaftaran hingga pengumuman membutuhkan waktu yang sangat lama. Sambil menunggu hasilnya, saya mendaftar beasiswa LPDP. Walaupun pengumuman beasiswa LPDP tidak selama beasiswa ALSP, saya masih ingin mendaftar beasiswa yang lain. Khawatir kalau-kalau saya tidak mendapatkan keduanya. Saat itu saya berniat mendaftar beasiswa Kemkominfo. Bahkan saya sampai mengikuti Tes Potensi Akademik sebagai syarat pendaftaran beasiswa tersebut. Tapi, niat tersebut saya urungkan lantaran saya sudah lolos seleksi administrasi  dan wawancara beasiswa LPDP. Sebenarnya, bisa dibilang sok-sokan juga, padahal bisa saja tidak lolos beasiswa LPDP. Saya yakin saja dan pasrah sebenarnya saat itu. Tidak nyaman. Kalau saya merelakannya, setidaknya memperbesar kesempatan bagi orang lain. Demikian keyakinan saya. Semoga niat baik tersebut dijawab dengan hal baik juga oleh Allah. Dan kabar baik tersebut benar-benar diberikan oleh Allah karena akhirnya saya mendapatkan beasiswa LPDP. Alhamdulillah... (cerita detil LPDP akan dibuat tersendiri, kalau sempat :p )

Ah ada lagi yang tertinggal. Saya juga sempat mendaftar beasiswa Swedish Institute. Seperti halnya beasiswa ALSP, pendaftaran beasiswa ini bersamaan dengan pendaftaran universitasnya. Namun sayangnya, saya juga tidak berhasil mendapatkan beasiswa ini. Selain itu, saya juga mendaftar Total Scholarship yang bekerja sama dengan UI. Namun akhirnya saya tidak lolos walaupun perjuangannya sedikit merepotkan sampai-sampai harus mengalami kecelakaan sepeda motor karena mengejar deadline pengambilan formulir. Saat itu hanya sampai tahap wawancara saja. Mungkin karena latar belakang dan jurusan yang ingin saya ambil kurang begitu sesuai dengan Total sendiri. 

Ringkasnya, saya berniat mendaftar enam beasiswa tetapi hanya satu yang lolos. Apakah saya termasuk yang berjuang segitunya untuk mendapatkan beasiswa? Yaa.. begitulah.. Mimpi memang harus dikejar bukan?

Beasiswa Itu Rezeki
Inilah salah satu pelajaran yang saya dapati belakangan ini, saat saya mencari beasiswa. 'Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu', begitu kata Al Quran. Ayat ini memang erat hubungannya dengan bagaimana menyikapi rezeki (hal) yang kita terima. Mau bagaimana pun juga, semua sudah diatur dengan sangat baik oleh Allah. Well..dulu saya mungkin mendengar hal ini semacam nasihat yang hanya didengar sambil lalu. Bisa jadi, masih banyak juga orang-orang yang seperti itu. Sampai akhirnya merasakan sendiri bagaimana mencapai titik itu sehingga ketika mengatakan kalau 'rezeki sudah diatur' itu benar-benar mengatakannya dari dalam hati. Bukan tidak sekedar ngomong.

Seperti halnya mendapat pekerjaan, nominal gaji, posisi jabatan, saya sendiri akhirnya menganggap beasiswa itu juga rezeki yang tidak melulu mengikuti aturan tertentu. Ada orang yang pendidikannya di bawah kita tapi mendapatkan pekerjaan lebih baik dari kita. Ada yang pekerjaannya terlihat santai-santai tetapi menghasilkan uang banyak. Demikian juga beasiswa. Tidak melulu harus mengikuti aturan harus yang pintar, atau harus aktivis, atau semacamnya. Sekali ada kesempatan kemudian kita mau mengambilnya, ya harus kuat memperjuangkannya. Urusan hasil lihat belakangan. Dan apa yang diusahakan tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Seperti yang saya singgung di awal, bahwa ada juga yang memperoleh beasiswa dengan mudah. Yang harus bertatih-tatih juga tidak kurang sedikit. Bisa kita lihat kan kalau tidak semua hal ada dalam kendali kita, termasuk memperoleh beasiswa.

Dan kalau sudah mendapati hal itu, mari bergeser ke bagaimana menyikapinya, penerimaan atas apapun yang terjadi. Kalau sampai akhirnya mendapatkan beasiswa dengan mudah misalnya, jangan lupa untuk mensyukurinya. Kalau sampai di titik belum mendapatkan beasiswa, yakinlah bahwa bukan saat ini waktu yang terbaik untuk mendapatkan beasiswa. Bisa saja ini menjadi pelajaran untuk menguatkan keyakinan dan memperbaiki diri sampai pantas mendapatkan beasiswa. Atau memang akan diberikan sesuatu yang lebih baik dari beasiswa. Dan kalau sudah di titik mendapatkan beasiswa setelah berjuang dengan sangat hebat, bersyukurlah atas beasiswa tersebut dan atas pelajaran yang sangat berarti bahwa diri kita jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan. Sehingga bisa menjadi bekal untuk kehidupan di depan nanti.