Tuesday, April 16, 2013

Three Magic Words

" Tolong, maaf, dan terima kasih adalah kata-kata yang berhak diterima oleh siapapun itu, tanpa terkecuali"

Saya pernah menyampaikan quote tersebut pada salah satu komen saya di notes facebook teman saya. Tiga kata yang terdengar sepele, sering dilupakan, tapi bagi saya pribadi sebisa mungkin tidak saya remehkan dan saya usahaka untuk saya sampaikan. Bagi si penerima kata atau mungkin bahkan saya terkadang masih "sekedar mendengar" atau mungkin basa-basi saja. Padahal kalau ingin dirasakan lebih dalam ada butuh kebijaksanaan dan hati yang besar untuk menyampaikannya, secara tulus pastinya. Dan dari pengamatan saya, belakangan ini, terutama di kalangan anak muda, ketiga kata ini jarang sekali diselipkan dalam kehidupan sehari-hari kita.



Kita menggunakan kata "tolong" pada saat kita membutuhkan bantuan orang lain. Pada kondisi ini ada "energi" orang lain yang kita pakai lho. Sudah sepantasnya yang namanya meminta itu ya ada etikanya. Kalau tidak pakai embel-embel "tolong" itu kasarnya seperti " uda minta, nglunjak lagi". Siapapun pasti tidak menginginkan dilempari statement ini. Toh menyebutkan "tolong" tidak sesulit itu kan? Bagaimana kalau konteks "minta tolong" yang ada bayarannya? Misalnya, " Bang baso seporsi dong.." Karena sudah merasa bayar jadi tidak berkewajiban bilang "tolong" ? Plis deh.. Si abang tukang baso sudah memberikan atensinya ke "pembeli-yang-katanya-bisa-bayar-tapi-ga-bilang-tolong" tadi. Diberi apresiasi toh tidak salahnya. Dan lagi, mengucapkannya gratis juga, lalu masalahnya?


Saya sendiri masih ingat betul salah satu "tamparan" terkait dengan mengucapkan kata "tolong" pada saat membutuhkan bantuan dari orang lain. Waktu itu, saya ingin ke salah satu gedung di kampus yang mewajibkan mahasiswa yang memasukinya harus menggunakan sepatu. Berhubung saya tidak mengenakan sepatu lantas saya meminjam ke teman saya " Pinjem sepatu, dong.." Lalu teman saya bilang " Ngga mau minjemin ah, abisnya ga pake "tolong"... " dengan nada bercanda. Ya,,mungkin dengan nada bercanda. Namun, dari momen itu saya sadar siapapun itu, bahkan teman kita yang mungkin sudah tidak kaku lagi bahkan kalau diledeki sekalipun, kata " tolong" masih amat pantas dia terima.

Ada yang bilang meminta maaf itu jauh lebih mudah dari pada memaafkan. Dan saya rasa semua orang pernah mengalami masa dimana memaafkan itu sulitnya minta ampun. Tapi, pada kenyataannya, meminta maaf itu sendiri ternyata menjadi hal yang remeh temeh terlebih lagi untuk perkara yang kecil. Kalau di dunia pertemanan, mengucapkan maaf untuk hal sepele terkadang dibilang "kaku". Begini lho maksud saya, kita sudah khilaf dan melakukan kesalahan atas orang lain, ketika kita tidak meminta maaf atas kesalahan kita tersebut, akan jadi double kesalahan. Yang lebih parah lagi kalau tidak merasa bersalah sama sekali, akan bertambah lagi kesalahan yang kita buat. Lagipula, orang yang meminta maaf saja belum tentu dimaafkan apalagi orang yang tidak meminta maaf. Poin inilah yang seharusnya kita pegang. Ketika melakukan kesalahan sekecil apapun sebaiknya dibiasakan untuk segera meminta maaf. Tidak perlu gengsi-gengsian. Hal baik kan tidak perlu ditunda-tunda.

Satu hal lagi, saya beberapa kali mendapati temuan mengguankan kata "maaf" sebagai tameng. Misalnya, ada seseorang yang tabiatnya sering ngaret. Lalu setiap kali si orang ini terlambat diikuti kata "maaf" dan seolah-olah selesai begitu saja. Padahal, diri sendirinya lah yang harus diubah. Baiklah ini keluar dari topik. Yang menjadi concern saya adalah jangan serta merta menggunakan kata "maaf" karena ada tanggung jawab yang musti dipikul dibelakangnya. Dan pastinya saya tidak ingin kata "maaf" yang sudah disepelekan ini akan semakin disepelekan lagi karena digunakan dengan kurang bijaksana.

Terakhir adalah kata "terima kasih". Saya lupa tepatnya kapan untuk menanamkan kata ini di kepala saya untuk berusaha saya gunakan kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun. Satu hal yang pasti konsep pemberian "terima kasih" semakin terasa ketika saya di bangku kuliah. Ada momen yang selalu mengingatkan   diri untuk berterima kasih, yakni ketika menaiki bus kampus. Ya, bus yang hanya kami bayar dengan ucapan terima kasih. Momen itu menular ke momen lain pada saat saya diberi bantuan entah oleh kawan, oleh penjual, oleh tukang parkir, oleh siapapun. Karena memang siapapun yang membantu kita berhak dengan kata ini seperti kedua kata sebelumnya. 

Mengucapkan terima kasih bukanlah hal yang sulit tetapi maknanya besar. Kita pasti pernah melihat (maaf) pengemis atau pengamen yang berterima kasih secara berlebihan padahal diberikan uang yang tidak seberapa bagi kita. Tetapi, mungkin uang tersebut sangat berarti bagi mereka. See? Sedikit atau banyak itu relatif. Bisa jadi apa yang menurut kita banyak atas pemberian orang lain ternyata hanya sedikit menurut mereka, ataupun sebaliknya. Yang terpenting adalah membiasakan diri untuk menanamkan sikap ini sehingga kita tetap menjaga "terima kasih" dalam relativitas tersebut. 

Pada akhirnya, saya ulangi lagi bahwa ketiga kata tersebut berhak diterima siapapun. Bisa jadi kita minta tolong kepada abang tukang baso yang baru saja bertemu di pinggir jalan, atau minta maaf kepada ibu kita atas kehilangan uang seribu rupiah yang sepele, atau berterima kasih kepada satpam yang memberikan keamanan dan kenyamanan kita. Tiga kata yang less effort, hanya sekian detik untuk pengucapannya tapi memberikan impact besar pada lingkungan kita kalau semua orang menyandari dan menggunakannya dengan baik. Dan yang paling penting, memberikan contoh kepada adik-adik kita, anak-anak kita, hingga cucu-cucu kita nanti, bahwa Indonesia yang katanya memiliki adat ketimuran ini tidak lekang oleh jaman atas nilai-nilai yang kita punyai ini.