Showing posts with label pulau. Show all posts
Showing posts with label pulau. Show all posts

Monday, April 28, 2014

Snorkeling Time di Kepulauan Karimunjawa

Hal wajib yang musti dilakukan saat mengunjungi Karimunjawa tentu saja adalah snorkeling. Dengan durasi 3 hari 2 malam, saya mendapatkan jatah snorkeling di tiga tempat yaitu di dekat Pulau Menjangan, di dekat Pulau Tengah, dan terakhir di dekat Pulau Kecil. Setidaknya itu yang diagendakan oleh agency rombongan kami. Snorkeling di hari pertama dilakukan di dekat pulau menjangan sedangkan dua sisanya dilakukan di hari berikutnya.

1. Pulau Menjangan

Pulau Menjangan terletak relatif dekat dengan Pulau Karimun Besar. Sebenarnya terdapat Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil. Lokasi snorkeling saya waktu itu di dekat Pulau Menjangan Besar. Setelah selesai snorkeling, kami di ajak ke penangkaran hiu yang ada di Pulau Menjangan Kecil. 

Snorkeling di tempat pertama ini kurang begitu memberikan impression bagi saya pribadi. Mungkin kekhasan perairan Karimunjawa berarus tenang dan jernih kali ya. Malah awalnya saya sedikit kecewa karena di tempat kapal berhenti beberapa karang hancur. Saat itu saya juga ingin sekali ada foto underwater yang mana fotonya dilakukan di dekat-dekat kapal dan harus bergantian. Akhirnya saya kurang begitu menjelajahi spot snorkeling tersebut. Dan memang jika ingin menikmati keindahan bawah lautnya harus menjauh dari kapal biasa berhenti. Ketika saya menjelajahi bagian-bagian lain memang bagus kok. Sayang terkendala di waktu jadi tidak banyak yang mampu saya jelajahi.

Selesai dari aktivitas snorkeling tersebut, kami menuju ke Pulau Menjangan Kecil. Di pulau ini terdapat penangkaran hiu. Sebelum sampai di pulau ini, dari kejauhan terlihat ramai sekali manusia berjejalan di sana. Karena efek hari libur panjang sepertinya. Yang pasti setibanya saya di pulau ini, saya tidak melakukan apa-apa. Biasanya orang akan masuk ke kolam yang berisi hiu dan berfoto, atau memegan hiu untuk difoto, atau hewan lain seperti penyu atau ikan fugu (atau biasa disebut ikan buntal). Saya tidak tertarik sama sekali malah merasa kasihan melihat hewan-hewan itu diperlakukan seperti itu. Bisa dibayangkan mereka diajak berfoto dengan diangkat di udara yang bukan tempat hidupnya. Saya tidak berlama-lama di penangkaran itu, pergi ke pantainya sebentar dan kemudian kembali ke kapal.


2. Pulau Tengah 

Snorkeling di dekat Pulau Tengah ini dilakukan di hari kedua. Untuk mencapai Pulau Tengah perlu menempuh waktu yang cukup lama mengingat lokasinya yang cukup jauh. Sebagai gambaran dermaga Karimunjawa terletak di ujung selatan agak ke barat dari Pulau Karimun Besar sedangkan lokasi Pulau Tengah berada di sebelah timur Pulau Karimun Besar. Jadi kapal harus memutari pulau terlebih dahulu. Tapi, walaupun jaraknya cukup jauh, pemandangan Pulau Karimun Besar yang indah akan mengantarkan kita mencapai Pulau Tengah. Bukit-bukit Pulau Karimun Besar tidak kalah indah dilihat dari sisi lain pulau. Dan lagi saya tidak bosan mengatakan ciri khas air yang tenang dari laut Karimunjawa. Bagi saya laut hari itu seperti kolam renang raksasa.

Perjalanan menuju Pulau Tengah akan disuguhi pemandangan seperti di atas

Sebenarnya spot snorkeling kali ini masih relatif jauh dari Pulau Tengah. Bisa dibilang di tengah laut. Yang pasti yang saya ingat adalah spot ini jauh lebih baik daripada spot sebelumnya. Mungkin kita masih bisa menemukan karang-karang rusak seperti halnya di spot sebelumnya tapi coba saja menjelajah. Saya menemukan terumbu karang berwarna-warni, ikan-ikan yang beraneka warna bukan hanya yang berukuran kecil tapi yang ukurannya besar-besar. Gerombolan ikan-ikan besar juga bisa terlihat yang membuat saya ingin mengejar mereka. Dan di tempat ini, saya juga menemukan anemon. Berharap ada ikan badut alias nemo? Tentu saja! Tapi yang saya temui, well.. bisa dibilang saudaranya. Warnanya orange cenderung cokelat tapi masih dengan garis putih juga. Fisiologis tubuhnya juga berbeda. Bertemu itu saja saya sudah senang bukan main. Tapi, kalau mau menjelajah lebih jauh dan teliti mungkin akan menemukan si ikan nemo tadi karena teman saya berhasil menemukan ikan itu di spot ini.

Pulau Tengah tidak hanya memberikan pemandangan bawah laut yang indah. Jika singgah di pulaunya, kita akan mendapati pemandangan yang indah juga. Kami singgah disana karena agenda kami makan siang. Di dermaga bahkan kami masih tertarik untuk snorkeling lantaran airnya yang sangat jernih. Tapi tidak begitu lama. Menyusuri dermaga ada hiu-hiu yang berenang di kolamnya. Jauh lebih banyak dan terlihat lebih baik, setidaknya bagi saya, karena kolam tersebut dilarang dimasuki oleh pengunjung. Sambil menunggu makan siang dimasak jelas saya menjelajahi pulau tersebut. Dan tidak dipungkiri, pemandangannya indah sekali.


Sekumpulan hiu yang ada di dermaga Pulau Tengah



Tidak hanya bersandar di dermaga, kapal-kapal juga langsung dapat bersandar di pantai berpasir putih

Kita akan mendapati pasir ini jika berkeliling pulau

Air laut yang jernih dengan latar belakang perbukitan

Saat itu air masih sedikit pasang, jadi harus menyeberangi air yang jernih ini agar dapat mengelilingi pulau.

Sisi lain Pulau Tengah, pantai berpasir putih


3. Pulau Kecil

Usai makan siang, kami melanjutkan snorkeling di Pulau Kecil. Menurut saya inilah spot terbaik dibandingkan dua spot sebelumnya. Sejak dari spot kedua saya memang sudah tidak peduli dengan foto underwater sehingga waktu menjelajahi spot ini semakin banyak. Tidak ada habisnya, saya menyusuri sekitaran pulau tersebut menikmati terumbu karang yang indah. Keindahannya semakin bertambah ketika mendapatkan cahaya matahari yang terik. Beraneka macam ikan juga saya temui yang mana lebih beragam lagi. Saudara nemo yang saya sebutkan sebelumnya banyak ditemui disini. Saya juga menemukan yang mirip juga dengan warna yang lebih cerah. Anemon yang biasa dilihat warna orange, saya sempat melihat yang warna ungu. Saya juga sempat mendapati ikan yang sedang berterlur. Ada juga bintang laut berlengan banyak dengan ukuran yang besar, jauh lebih lebar dari telapak tangan manusia apabila dilebarkan, serta berwarna sangat cerah. Disekujur tubuhnya ditumbuhi duri-duri. Itu kali pertama saya melihat langsung bintang laut seperti itu. Dan terakhir, saya berhasil menemukan si ikan badut, terletak dekat sekali dengan dermaga tapi sangat dalam. Perjuangan sekali untuk dapat melihatnya karena harus menahan rasa sakit di telinga saya. Maklum free-diver pemula. Karena keasyikan menikmati pemandangan bawah lautnya, saya tidak sempat singgah ke Pulau Kecil. Padahal sepertinya menyusuri Pulau Kecil tidak kalah menyenangkan. Tapi apa daya karena waktu semakin sore dan perjalanan menuju Pulau Karimun Besar cukup lama.


Pantai di Pulau Kecil (Photo by Rifky)

Pulau Kecil dilihat dari dermaga ( Photo by Rifky )


Foto-foto penampakan bawah laut Karimunjawa berikut ini di ambil oleh teman saya Rifky. 





Akhirnya saya memiliki foto saat snorkeling. (Photo by  travel agent)


Related Posts:

Monday, April 14, 2014

Bertaruh Dengan Cuaca, Wisata Pulau Tunda

Ada satu lagi nih alternatif jalan-jalan murah deket ibu kota. Biasanya kan pulau seribu tuh yang murah tapi puas. Nah yang ini masuk ke Provinsi Banten yakni Pulau Tunda. 

Awalnya.. biasalah namanya pengangguran lagi bingung jalan-jalan kemana. Nah, ada temen-temen BPI yang nawarin ke pulau tunda ini. Asing juga sih sama namanya. Terus googling sebentar kayaknya bagus juga. Wait, masih musim hujan kalo bulan Maret kan? Lumayan mengkhawatirkan juga sebenarnya. 

Tapi akhirnya ya saya iyakan ajakan teman saya. Dari hasil menjelajah dunia maya dengan singkat katanya bisa snorkeling. Terus bisa trekking juga. Bahkan bisa ketemu lumba-lumba. Termasuk juga alasan deket dari Jakarta itu wajib diperhitungkan,hehe

Kalau masalah transport kesana sih waktu itu terima jadi. Namanya juga ikut open trip. Malahan sewa elf segala. Intinya kalau buat yang mau ke Pulau Tunda ini, silakan transport ke Dermaga Karangantu. Kemudian, dilanjutkan kapal ke Pulau Tunda itu menggunakan kapal. Mudahnya sih memang kalau sudah kontak guide dulu, seperti halnya yang kami lakukan. Semua-semuanya hampir sudah disiapkan deh.

Tengah hari kita sudah sampai di Pulau Tunda. Homestay tempat menginap juga tidak jauh dari dermaganya. Sekalinya datang langsung beberes dulu dilanjutkan dengan ishoma. Penting ini sebelum melanjutkan petualangan. 

Pulau Tunda ini ternyata tidak sesuai bayangan saya. Memang sih saya tidak begitu banyak melakukan riset untuk pulau ini sebelum berangkat. Tadinya saya kira pulau ini berupa gugusan kepulauan seperti Kepulauan Seribu. Tapi ternyata pulau ini hanya pulau tunggal. Saya kira juga kalau pulau ini sudah terkenal sehingga banyak wisatawan yang berkunjung. Nyatanya, hanya rombongan kami dan beberapa orang saja. Lalu, pemukiman penduduknya juga layaknya pemukiman masyarakat biasa. Bukan seperti pemukiman daerah wisata gitu..

Lanjut ke petualangan deh ya? Oke.. Yang pertama adalah snorkeling. Airnya sih masih lumayan tenang tapi eh tapi..visibility-nya kurang bagus euy. Katanya sih imbas masih musim hujan itu. Jadinya arus bawah lautnya masih kencang gitu. Karena penasaran tetep ajalah ber-snorkeling ria,haha.. Kemudian lanjut ke spot berikutnya. Hasilnya tetep sama saja. Padahal, walau samar-samar, karang dan ikan-ikannya lumayan bagus lho. Berhubung kondisinya begitu, acara snorkeling memang tidak begitu lama. Baliklah kita ke homestay.

Pulangnya ke homestay ini buat siap-siap menikmati sunset. Tapi sebelum itu, kami menikmati kelapa muda terlebih dahulu. Buah kedondong di depan homestay jadi sasaran kami juga. Nah, setelah itu kami berjalan membelah pulau menuju sisi baratnya. Perjalanannya ternyata cukup jauh juga. Kemudian sampailah kami untuk menikmati matahari terbenam. Salah satu momen yang saya sukai saat jalan-jalan. 


Ada semacam rawa saat menuju spot untuk melihat sunset



Pemandangan matahari terbenam di Pulau Tunda

Pemandangan lain menjelang matahari terbenam


Saat hari semakin gelap, kami kembali ke homestay lagi. Waktunya  mandi, makan malam, dan sesi ngobrol-ngobrol. Oh iya, ada juga acara bakar-bakar ikan dan cumi. Hmm.. Yummyyy… Baru deh setelah itu waktunya istirahat.


Malamnya ada sesi pelepasan lampion juga ternyata
Keesokan paginya agendanya sama snorkeling dan trekking pulau. Pagi harinya di awali terlebih dahulu untukmenik mati matahari terbit. Untuk snorkeling, spot yang diambil adalah sisi lain pulau. Sebenarnya spot ini akan dikunjungi hari sebelumnya . Tapi cuaca kurang mendukung sehingga ombaknya sangat kencang. Sialnya, pagi itu ombak juga kurang bersahabat. Padahal pemandangan bawah lautnya bagus sekali. Setidaknya dapat pengalaman snorkeling di ombak besar. Sesuatu sekali memang capeknya,haha..


Ini pemandangan matahari terbit dari dermaga Pulau Tunda

Snorkeling memang lagi-lagi tidak begitu lama, dilanjutkan dengan trekking pulau. Saat trekking ini saya makin menyadari bahwa pulau ini besar juga ternyata. Bahkan ada yang bercocok tanam, sesuatu yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Selain ada ladang untuk bercocok tanam, kami juga melewati padang ilalang yang luas. Adeemm.. Serius! Bukan seperti sedang liburan di pantai atau semacamnya. Di ujung jalur yang kami telusuri adalah tempat untuk menyemai bibit-bibit bakau. Satu fakta yang saya dapati adalah bahwa butuh waktu yang lama ternyata untuk bakau-bakau itu tumbuh. 


Bakau muda, tapi jangan salah usianya sudah beberapa tahun

Padang alang-alang dalam perjalanan menyusuri Pulau Tunda


Menemukan makhluk kecil yang biasa kita mainkan waktu kecil
 homestay dan bersiap-siap untuk pulang. Well, ada saja hal-hal yang tidak diharapkan saat liburan kan? Yang penting tetep harus hepi-hepi. Meski demikian, ada bonusnya kok ternyata. Saat pulang kami mampir ke pulau empat, pulau tak berpenghuni yang bagus juga buat disinggahi.

Usai dari situ, habislah petualangan saya di Pulau Tunda. Kami kembali ke homestay dan bersiap-siap untuk pulang. Well, ada saja hal-hal yang tidak diharapkan saat liburan kan? Yang penting tetep harus hepi-hepi. Meski demikian, ada bonusnya kok ternyata. Saat pulang kami mampir ke pulau empat, pulau tak berpenghuni yang bagus juga buat disinggahi.





Jenis bintang laut yang baru saya temui sekali ini

Ada yang bertahan hidup, ada yang harus merelakan hidup

Angsa yang entah datang dari mana di Pulau Empat yang tidak berpenghuni

Sekali ini saya melihat kalkun hidup secara langsung
Menjaga di garis depan


Friday, January 3, 2014

Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Excitement Murah Dekat Ibukota

Terumbu karang saat snorkeling di sekitar Pulau Harapan *

Seperti yang saya sempat saya sebutkan di postingan trip saya ke Lombok, saya merasa kurang puas snorkeling di Lombok. Lalu, saya browsing ke web BPI dan beruntung sekali mendapatkan open trip dengan harga yang lumayan murah. Rencana saya adalah trip yang tidak jauh dari Jakarta. Dan dari semua yang ada, saya tertarik dengan dengan trip ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu seharga 300 ribu. Cukup murah dibandingkan dengan open trip yang lain.

Kepulauan Seribu menjadi salah satu destinasi tepat bagi warga Jakarta yang sibuk. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bisa dilakukan saat weekend, sabtu-minggu. Biayanya pun tidak terlalu mahal. Tapi, wisatanya tidak kalah bagus dengan destinasi lain yang jauh dari Jakarta. Pilihan kepulauannya bermacam-macam, banyak sekali. Jadi sangat cocok bagi warga Jakarta yang hanya memiliki waktu libur yang singkat tapi ingin menikmati wisata pantai yang indah.

Untuk mencapai Kepualauan Seribu harus menyeberang dahulu menggunkan kapal umum dari Muara Angke. Ada pula alternatif kapal cepat, tapi saya belum mencobanya. Berangkatnya pun bukan dari Muara Angke. Saya menggunakan busway menuju Muara Angke karena kalau dari rumah saya dekat dengan koridor Pinang Ranti-Pluit. Dengan rute ini, saya tidak perlu transit antar koridor. Kapal dari Muara Angke berangkat sekitar pukul setengah 8 pagi. Jadi berangkat setengah 6 pagi pun estimasinya tidak akan terlambat karena jalanan Jakarta, weekend pula, tidak terlalu macet.

Ini kali pertama saya menuju Muara Angke menggunakan busway. Saya kurang begitu mengerti harus turun dimana untuk melanjutkan dengan angkot B.01 menuju pelabuhan. Saya pun nyasar. Saya turun di halte terakhir-Pluit. Lalu, saya malah menaiki angkot B.01 yang baru dari arah pelabuhan. Menyebut kata 'angke' sebagai petunjuk bukanlah hal yang bijak sehingga saya salah arah. Saya turun di Season City, mencari taksi untuk mengantar ke pelabuhan. Cukup sulit mendapatkan taksi dengan argo. Itu pun tidak bisa mengantar sampai ujung sehingga saya harus menyambung dengan ojek. Walaupun sempat pasrah ditinggal kapal, saya berhasil mencapai kapal sebelum berangkat. Dalam 2-3 jam berikutnya saya berjemur di bagian atas kapal karena terlalu penuh.

Pulau Harapan ini termasuk pulau yang jauh lebih ke utara dibandingkan pulau besar lainnya seperti Pulau Pari, Pulau Tidung, dan Pulau Pramuka. Logikanya airnya lebih bersih karena lebih jauh dari Jakarta. Makanya saya memilih Pulau Harapan dibandingkan dengan yang lain. Saat saya sampai memang sepertinya terlihat lebih baik dibandingkan dengan Pulau Pramuka yang saya kunjungi saat kuliah dulu. Pemilik homestay sudah menjemput kami di dermaga. Dari situ, kami langsung menuju homestaynya.

Homestay tempat kami menginap berupa satu rumah. Tapi menurut saya kurang proper untuk ukuran 18 orang. Walaupun ada TV dan AC yang menjangkau beberapa ruangan, hanya ada kasur tanpa ranjang dua buah, dan satu buah karpet. Ada sofa di teras rumah. Saat tidur tentu nantinya kurang nyaman. Kamar mandi yang disediakan pun hanya ada satu (tapi nantinya akan dipinjamkan kamar mandi tetangga). Setelah beberes sebentar kami langsung menyantap makan siang yang disediakan oleh pemilik homestay.

Acara selanjutnya adalah snorkeling time dan hopping island. Kami berkesempatan untuk snorkeling di tiga titik. Tempat pertama adalah introduction spot which is suatu tempat dengan kedalaman hanya sekitar 1-1,5m, hanya setinggi perut-dada. Dasarnya berupa pasir putih. Saya rasa kalau airnya surut akan menjadi pulau berpasir putih. Pun begitu kami bisa menemui ikan-ikan kecil dan bulu babi. Di tempat yang agak dalam, mulai ada terumbu karang. Tidak lama kami 'pemanasan' di tempat ini. 

Spot snorkeling pertama yang tidak begitu dalam dengan dasar pasir putih

Di spot kedua, semakin bagus lagi. Terumbu karangnya sangat beragam dan ikan juga berwarna-warni dengan berbagai macam. Tapi sayang ada beberapa tempat yang karangnya hancur. Sepertinya karena jangkar kapal. Di spot ini saya mulai menyempurnakan teknik free diving saya karena saya penasaran sejak dari Lombok. Dari awal saya tidak menggunakan pelampung sama sekali. 

Lanjut ke spot ketiga, saya berhasil menyempurnakan teknik free diving saya. Akhirnya saya puas berhasil melakukannya. Memang kuncinya adalah tidak panik. Dari kesemuanya, spot ketiga ini memang yang paling bagus. Terumbu karangnya jauh lebih bagus, jenis ikannya lebih banyak. Yang berkesan dari spot ketiga ini adalah saya menemukan bulu babi belang-belang, ada schooling ikan-entah ikan apa, dan bermain dengan karang yang bergerak karena arus, bergerak seperti anemon tapi berwarna putih dengan bentuk seperti bunga. Kondisinya bisa saya bilang perfect karena selain pemandangan bawah air yang indah, energi saya juga tidak habis. Padahal saya berenang dari ujung ke ujung tanpa pelampung. Yang tidak mengenakkan adalah di beberapa tempat bisa jadi menemukan arus yang tiba-tiba dingin yang membuat tidak nyaman. Overall, saya puas, sangat puas malah sekalipun dibandingkan dengan snorkeling di Gili sebelumnya. Saya juga akhirnya berhasil menyempurnakan teknik free diving saya. Mantap!

Terumbu karang yang bisa dilihat saat snorkeling *

Puas snorkeling, berikutnya adalah island hopping. Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau Perak. Pulau ini tidak berpenghuni tetapi ada orang yang berjualan. Untuk menyusuri pulau ini juga tidak terlalu jauh. Ada juga yang mendirikan tenda di Pulau ini. Kalau ingin snorkeling sepertinya juga bisa. Pulau selanjutnya adalah Pulau Bira Besar. Di pulau ini ada semacam resort tapi sepertinya sudah jarang dikunjungi karena terlihat sangat sepi. Tidak perlu snorkeling di dekat pantai ini karena terumbu karang dan ikan-ikan dapat dilihat dengan jelas dari dermaga. Sekalipun ingin snorkeling harus waspada dengan bulu babi. Jadi dinikmati saja dari dermaga. Pulau terakhir hari itu adalah Pulau Bulat, tempat kami menikmati sunset. Pulaunya kecil hanya butuh beberapa menit untuk mengitari pulau itu. Setelah mengitarinya, saya langsung mencari spot menikmati matahari terbenam. Dan terbukti, matahari terbenamnya benar-benar cantik.

Pasir di Pantai Pulau Perak

Pulau Bira Besar

Pemandangan matahari terbenam dari Pulau Bulat

Acara malam kami adalah bakar ikan dan istirahat tentunya. Dan sesuai dugaan memang sedikit merepotkan. Mandi sebelum bakar ikan perlu mengantre cukup lama. Tidur pun beberapa langsung di lantai tanpa alas beruntung cuaca pantai bukan cuaca yang dingin. Bahkan ada yang tidur di sofa teras. Tapi malam itu best moment-nya memang bakar ikan di pinggir pantai. Ikannya super enak!

Keesokan paginya, cuaca kurang begitu bagus. Pagi harinya ketika saya menunggu matahari terbit, langit mendung tertutup awan. Awalnya saya kira trip kami tidak berlanjut pagi itu karena ombak juga terlalu kencang. Semakin menjelang siang angin semakin kalem jadi perjalanana kami lanjutkan. Pertama kami ke penangkaran penyu. Di sana kami bisa melihat berbagai ukuran penyu sisik. Pengunjung yang datang sangat banyak dan mengangkat penyu sisik itu. Saya sendiri tidak tega melihatnya jadi tidak mengangkatnya. Pulau kedua adalah Pulau Pemanggaran. Saat itu, air pantainya belum surut jadi kami hanya bisa bermain di dermaganya saja. Yang menarik saat mengunjungi pulau ini adalah airnya yang berwarna hijau tosca. Kami juga bisa melihat ikan berwarna-warni yang berenang di tepian dermaga. Ada satu pulau yang ingin kami kunjungi tetapi tidak diperbolehkan oleh penjaganya. Padahal pulau itu terlihat bagus bahkan dari kejauhan. Setelah itu, kami bersiap kembali ke homestay.

Menunggu matahari terbit di Pulau Harapan

Air laut hijau tosca di Pulau Pemanggaran

Setelah berkemas-kemas di homestay, beberapa waktu kemudian kami sudah menuju pelabuhan. Seperti halnya kami berangkat kami memilih untuk di bagian atas kapal. Tapi percayalah ini bukan pilihan yang tepat karena tengah hari paparan matahari sangat panas. Apalagi kalau kurang beruntung tanpa ada angin. Dua jam berikutnya kami sampai di Muara Angke lagi. Dan sebelum berpisah dengan yang lainnya kami sempatkan untuk makan ikan bakar dulu di Muara Angke. Setelah itu, trip dengan teman-teman yang baru saya kenal itu pun resmi selesai.


*) Foto dari rekan BPI

Sunday, December 22, 2013

Trio Gili Populer Pulau Lombok

Matahari terbit dari perbukitan Pulau Lombok
Enam menit,,,enam menit kami telat dari jadwal public snorkeling. Itu pun diingatkan penjaga resepsionis saat sama-sama kami lihat jam dinding menunjukkan pukul 10.36. Jadi memang public snorkeling yang ada di Gili Trawangan itu dimulai pukul 10. Tapi menurut resepsionis kami pukul setengah 11 mungkin masih ada yang belum berangkat. Sebenarnya bisa saja mengejar kemungkinan kalau masih ada, mas penjaga juga bersedia mengantarkan langsung. Tapi saat itu baru saja sampai hotel jadi musti siap-siap ini itu dulu. Tapi ya itu tadi, saya mendingan telat sekalian satu jam apa dua jam sekalian daripada mendapati cuma telat enam menit.

Nah, berhubung kami kehilangan kesempatan mengikuti public snorkeling tentu saja kami mencari alternatif lain. Tidak lucu kan sudah ke gili yang terkenal di lombok ini tetapi tidak snorkeling. Singkat cerita, teman saya yang ada di hotel satu lagi yang menawar harganya dari 200rb/org menjadi 160rb/org. Saya tidak tahu apakah itu termasuk mahal atau murah. Kalau mau dibandingkan dengan public snorkeling, harganya berbeda 60ribu. Whatever,, yang penting kita snorkeling di gili ini.

Lagi-lagi saya harus menyayangkan kedisiplinan waktu yang kami punyai saat disana. Setelah deal dengan kapal untuk snorkeling kami memang memilih untuk makan terlebih dahulu karena pagi harinya kami tidak sarapan. Selain itu juga melakukan persiapan dan sholat sampai-sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Praktis, waktu yang kami miliki untuk snorkeling nanti semakin sedikit karena hari makin sore. Menjadi pelajaran tersendiri sih memang, kalau ingin ke sini lagi berarti harus disiplin sekali dengan waktu. Kecuali kalau memang punya waktu yang banyak sehingga bisa diundur keesokan harinya.

Snorkeling di gili ini merupakan kali kedua saya snorkeling dan jika dibandingkan dengan sebelumnya benar-benar jauh berbeda pengalamannya. Spot pertama yang dikunjungi adalah spot snorkeling di dekat Gili Meno. Di spot ini, kami melihat karang yang berwarna-warni. Itulah kenapa saya bilang berbeda sekali dengan snorkeling saya sebelumnya di Situbondo. Keragaman karangnya disini jauh lebih banyak. Tetapi, sayangnya kami tidak bisa melihat lebih dekat. Tidak ada yang bisa free-diving soalnya. Sebenarnya sebelumnya saya pernah berhasil mencobanya tapi entah kenapa waktu itu saya tidak berani. Oh iya, mungkin perlu di waspadai juga pelampung yang disediakan. Saat itu saya mendapatkan pelampung yang less-safety. Jadi ya begitu deh, antara tidak nyaman dan takut.

Memutari Gili Meno, spot kami selanjutnya lebih dekat dengan Gili Air. Di spot kedua ini, jauh lebih bagus lagi. Selain terumbu karangnya yang makin bagus, ada banyak ikannya pula. Itulah kenapa sebelumnya disiapkan roti. Ternyata untuk menarik ikan-ikan ini. Dan benar saja kalau kita memberikan remahan roti, ikan-ikan langsung bergumul di tempat roti tersebut. Apalagi kalau remahan rotinya di sekitar tubuh kita, kita akan dikerubutin ikan warna-warni yang cantik itu. Di spot kedua ini, saya minta diajari pengemudi kapal untuk free-diving. Beberapa kali dia mencontohkan tapi saya belum juga berani mencobanya. Pelampung yang sudah tidak nyaman sudah saya lepas dari tadi. Menurut saya, jauh lebih leluasa untuk bergerak dan malahan kalau pakai pelampung energi cepat terkuras habis. Ya, beberapa kali saya 'nebeng' pelampung teman saya kalau kelelahan. Di sisi kapal yang lain, ternyata tidak terlalu dalam, hanya 2-3 meter mungkin. Saya membulatkan tekad dan berhasil melakukan free-diving. Yess, berhasil!! Tapi sayangnya beberapa waktu kemudian kami selesai di spot itu. Rasa penasaran saya harus dibayar di spot berikutnya.

Usai dari spot kedua ini, kami diberi kesempatan untuk istirahat di Gili Air. Atau bisa juga menambah energi dengan membeli makanan. Beberapa teman saya juga membeli pop mie. Hal yang paling mengesankan dari Gili Air ini adalah pantainya putih sekali dan sangat lembut, seperti tepung. Itu adalah pasir pantai terlembut yang pernah saya temui. Kontras sekali dengan pasir Pantai Kuta sebelumnya. Selain itu, atmosfir di Gili Air ini sangat menenangkan berbeda dengan di Gili Trawangan. Jadi kalau melihat sekeliling, orang-orang hanya menghabiskan waktu untuk berjemur atau sambil membaca buku menikmati suasana pulau yang damai. Rasa-rasanya tidak ingin meninggalkan kedamaian pulau itu.
Pantai dengan pasir yang sangat halus*
Kapal dengan ukuran lebih besar**

Another bad news came. Saat kami meninggalkan pulau menuju spot terakhir, angin semakin kencang. Jelas, arus lautnya kencang juga. Walaupun saya sangat kecewa, tapi demi keselamatan tentu tidak bisa dilanjutkan. Padahal di spot ketiga ini kami bisa melihat penyu. Tapi ya sudahlah,, kami langsung menuju ke Gili Trawangan kembali dan hari itu hanya berhasil snorkeling di dua spot. Rasa penasaran saya untuk free-diving harus saya tahan untuk snorkeling berikutnya (sampai di Jakarta, saya beruntung langsung mendapatkan open trip ke Pulau Harapan) 

Kekecewaan saya dibayar dengan mengelilingi Gili Trawangan dengan sepeda. Setelah beres-beres sebentar di homestay, kami langsung mencari penyewaan sepeda. Lagi, apapun itu, di pulau ini, coba saja di tawar termasuk halnya menyewa sepeda. Setelah mendapatkan sepeda, kami langsung mengikuti jalanan. Beberapa waktu kemudian, kami sampai di sisi selatan pulau. Di titik ini seharusnya kami bisa menikmati sunset, logikanya. Tapi sayangnya cuaca sedang mendung. Setelah istirahat sejenak di situ tadi, kami melanjutkan menyusuri jalanan. Di sepanjang perjalanan terlihat jajaran hotel-hotel yang lebih premium dengan menghadap pantai secara langsung. Saya kira, keuntungannya menginap disitu adalah kemungkinan melihat sunset karena posisinya di sisi barat pulau. Beberapa kali jalanan paving terputus oleh pasir-pasir dan menyulitkan untuk mengendarai sepeda. Dan yang lebih parah adalah jalur yang benar terputus yang mengharuskan kami menggotong sepeda di saat hari sudah gelap pula. Seru! Dan setelah melewati jalan terputus tersebut, kami menemukan keramaian kembali dan beberapa waktu kemudian kami selesai mengelilingi pulau.


Pantai di sisi selatan pulau**

Tempat untuk berjemur di sisi barat pulau*

Lelah mengelilingi pulau, kami kelaparan. Berhubung hari juga sudah malam, kami langsung mencari makan malam saja. Beberapa teman saya kembali dulu ke hotel. Jadi, kalau malam ada satu tempat yang dijadikan untuk menjual berbagai macam makanan. Sambil menunggu yang lain, kami sempat membeli makanan kecil seperti jajanan pasar, ada gorengan, kue-kue, bahkan saya membeli getuk. Tapi akhirnya kami tidak sabar menunggu yang lain karena sudah kelaparan dan makin lapar membaui aroma makanan,haha... Kami berempat, yang menunggu, membeli ikan barracuda bakar dan sate-sate seafood, cumi, ikan, udang. Menurut penjualnya, harga untuk wisatawan lokal sudah harga spesial (lebih murah dibandingkan dengan harga untuk wisatawan asing). Jadi, sudah tidak bisa ditawar lagi, sayang. Kalau harga ikan, berbeda-beda tergantung besarnya, sedangkan satenya 50rb dapat tiga tusuk apapun jenis satenya. Dan pilihan ikan barracuda merupakan pilihan yang tepat karena dagingnya enak sekali. Teksturnya belum pernah saya temui di jenis ikan lainnya yang pernah saya makan sebelumnya, yummy :9

Keesokan paginya, kami berniat untuk melihat matahari terbit. Walaupun malam sebelumnya sempat observasi ramainya malam di Gili Trawangan, kami berhasil menyaksikan matahari terbit di Gili Trawangan tersebut. Di luar dugaan saya, ternyata sedikit yang ingin menyaksikan matahari terbit ini. Momen ini akhirnya saya jadikan 'me time' dan memisahkan diri dari teman-teman saya. Saya menuju sisi pantai lainnya. Pagi itu pun, matahari terbit dengan sangat cantik. Jadi mataharinya itu terbit dari balik perbukitan yang ada di Pulau Lombok. Dengan pagi setenang itu, saya menikmati betul momen matahari terbit tersebut.


Suasana pagi di pelabuhan

Pantai masih sepi saat pagi

Usai menikmati matahari terbit, kami kembali ke homestay untuk bersiap-siap check out. Beruntung, walaupun harganya relatif murah, kami mendapatkan sarapan. Setelah check out kami langsung menuju pelabuhan untuk menyeberang kembali ke Lombok.

Related Posts:


Malimbu, Pit-StopSebelum Menyeberang Gili Trawangan


*) Photos by Benny
**) Photos by Wandi