Wednesday, January 2, 2013

Happy New Year, Welcome 2013

Hari pertama di Tahun 2013 diisi dengan tidur, makan, ngenet, main line pop, udah, all daaayy looongg... Benar-benar perilaku yang sangat tidak terpuji di pembukaan awal tahun ini. Bukan apa-apa, itu kan juga gara-gara ikut car free night di HI. Lagi pula besok kan kerja, jadi ya sudah istirahat saja di rumah. Ah sudahlah,, takutnya malah saya nanti mencari pembenaran kalau tidak mau dibilang mencari kambing hitam. Toh, yang ingin saya sampaikan disini bukan mengenai ketidak-produktifan saya hari ini melainkan ya seputar perayaan Tahun Baru 2013 ini.

Jadi bagaimanakah perayaan Tahun Baru 2013 yang saya lalui? Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa saya mengunjungi event yang dicetuskan oleh Bapak Jokowi selaku gubernur baru Jakarta, yakni Jakarta Car Free Night. Konsepnya simple seperti halnya Car Free Day tapi yang ini dilakukan malam-malam. Ada  beberapa panggung tematik yang diletakkan di beberapa spot. Intinya, saya salut dengan event yang baru saja dicetuskan oleh bapak gubernur kita yang baru ini. Ya sudah jadi budaya orang Indonesia lah untuk merayakan sesuatu dengan antusias, berkumpul di suatu keramaian, menikmati perayaan-perayaan tertentu, salah satu ciri yang saya suka- demen ngumpul (terlepas dari segala aspek negatif yang sangat ditimbulkan). Karena inilah yang menunjukkan kalau orang Indonesia itu termasuk orang yang sosialis-maksud saya tidak individualis. Dan bagusnya, Pak Jokowi mampu memotong salah satu perilaku negatif pada saat tahun baruan- no kendaraan bermotor, no asep-asep, no pemakaian BBM berlebihan (angkat topi).

Pada awalnya, saya memang setengah tidak berniat untuk menghadiri event ini. Dari dulu memang biasanya malah menikmati perayaan tahun baru dari layar kaca saja. Atau paling berkumpul dengan teman-teman. Ya gimana ya? kalau lewat TV kembang apinya lebih bagus, lebih jelas malah, tidak ada yang namanya desek-desekan, dan tidak capek di perjalanannya. Alasan saya mau ikut juga karena ada beberapa teman yang datang. Jadi, lebih cenderung karena bersama teman-teman saya itu. 

Meeting point saya dan teman-teman adalah di salah satu kost teman saya di daerah Bendungan Hilir. Setelah semua berkumpul, lanjutlah kita ke menuju Bundaran HI menyusuri jalanan Sudirman. Saya kurang tahu pasti seberapa jauh perjalanan kami nantinya (hanya ingin mengingatkan kalau kami berjalan kaki) tapi memang kami hepi-hepi saja menuju HI. Padahal semalam juga gerimis rintik-rintik  menyertai perjalanan kami ke Bundaran HI. 

Well, mengalami momen ini sebenarnya saya merasa: ya beginilah hidup penuh kejutan-kejutan seperti hujan, becek kubangan air, jalanan yang ternyata tidak mudah untuk dilalui. Oke, silakan sebut saya terlalu serius untuk menanggapi 'momen-menyusuri-sepanjang-jalan-nan-biasa' ini  instead of menikmati secara seru-seruan. Bagi saya yang tahun ini akan berusia 22 memang sudah saatnya mengambil pelajaran-pelajaran dari apa yang saya lalui. Saya tentu harus bersyukur atas kesempatan saya menikmati Perayaan Malam Tahun Baru di tengah kota, di keramaian, di salah satu event hasil ide bagus Pak Gubernur, bersama teman-teman saya. Tidak banyak orang yang bisa memiliki kesempatan seperti saya, errr...sebenarnya banyak juga mengingat jumlah manusia yang tumpah ruah disana, oke revisi, masih ada orang-orang yang tidak seberuntung saya untuk menikmati tahun baruan seperti saya.  Dan petikan-petikan hikmah yang terbersit di kepala saya, jelas sekali saya harus jauh lebih bersyukur atas 'bonus'-yang-Tuhan-berikan satu ini. Dan memang tujuan saya menceritakan ini, untuk mencatatkan apa yang saya dapat.

Mari kita lanjutkan,, sembari berjalan menuju HI kami beberapa kali mengambil foto kami. Dan inilah yang menunjukkan bahwa ada porsi seru-seruan dalam perjalanan saya ke pusat perayaan-Bundaran HI. Bukan melulu diam-serius-merenung atas apa yang sudah dilakukan di selama  tahun 2012 dan berpikir keras atas apa yang akan dilakukan di tahun 2013. Bukan,,bukan seperti itu. Kalau ada gedung dengan ornamen lampu bagus kita berhenti lalu foto, kalau ada lampu-lampu bertuliskan semacam happy-new-year kami foto. Begitu..

Sampai suatu ketika, saat saya tengah asyik ngobrol dengan salah satu teman saya, rombongan yang tadinya berenam terpecah. Kami berdua tertinggal oleh empat orang yang lain. Mencoba mencari? hopeless-lah ditengah ribuan seperti itu. Mencoba menelpon? saya beritahu saja ada istilah blocking di dunia pertelekomunikasian ketika terlalu banyak manusia yang harus dilayani pada satu area. Yasudahlah kami jalan berdua menuju air mancur bundaran HI. Keep up on our feet walaupun teman-teman kami berkurang. Dan ini pula yang menjadi salah satu 'kejutan' yang menunjukkan bahwa mungkin sekali perjalanan kita diisi atau ditinggal oleh orang-orang terdekat kita yang mendukung kita. Apapun 'kejutan' yang akan kita peroleh, walaupun menghambat pergerakan kita, yang memang kita harus berjalan sampai batas akhir. Percaya saja pada orang-orang yang kita cintai pasti sepenuhnya mendukung kita walaupun mereka tidak berada di sisi kita. Demikian pula sebaliknyak jangan lupa untuk selalu mendukung dan mendoakan orang-orang yang kita sayangi. Tuhan yang akan menyampaikan 'koneksi' itu. 

Dan memang pada akhirnya saya mencapai Bundaran HI, bersama-sama dengan ribuan orang dengan tingkat densitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di perjalanan saya menuju tempat ini. Tujuannya memang di tempat ini, tapi saya dan ribuan orang di sekitar saya menunggu untuk acara puncak pukul 00.00 alias pergantian tahun, simpelnya waktu. Nah disini,  mau sekeras apa perjuangan kita kalau tidak menemukan waktu yang tepat, ya ujung-ujungnya zonk. Contohnya ya ini, tujuan saya menikmati pergantian tahun, tenggelam dalam sorak sorai semangat orang-orang yang menghadapi setahun yang baru kedepannya, menikmati berbagai macam warna-warni kembang api yang diluncurkan ke angkasa. Namun, pada akhirnya saya harus merelakan sedikit waktu saya untuk menunggu. Menunggu untuk sampai kepada waktu itu.

Semenjak 30 menit sebelum pergantian tahun, intensitas kembang apinya semakin naik. Oke, sangat normal bagi yang anti hura-hura dan melihat jauh-lebih-positif acara seperti ini mungkin dibilang mubadzir. Dan jujur pada awalnya saya termasuk yang berpikir seperti ini, yang dibilang buang-buang dalam waktu sekejap, belum lagi sampahnya di buang sembarangan, mendingan uangnya dibeliin baso yang bisa dimakan buat orang satu kampung (oke yang ini lebay). Tidak salah,pemikiran ini saya ulangi lagi tidak salah. Tapi yang ingin saya catat disini adalah hikmah lain yang saya peroleh dari sang kembang api di sisi lainnya.

Kembang api selalu mempesona bagi yang melihatnya, setuju? Dan entah kenapa waktu itu saya berpikir (walaupun saya kurang tahu apakah yang dirasakan orang yang menyalakan kembang apinya sama seperti yang saya rasakan) bahwa bisa jadi  kembang api ini memang bisa jadi simbol pergantian tahun. Semakin banyak saya mengamati kembang api yang dilepas dari selongsongnya semakin saya berpikir bahwa itulah simbol atas kekecewaan kita, resolusi atau target-target yang tidak berhasil diraih sebelumnya. Agar kita mampu melepaskannya secara ikhlas dan tidak ada penyesalan. Dan semua yang memberatkan kita meninggalkan setahun yang lalu diganti dengan harapan-harapan baru, resolusi-resolusi baru, dengan lebih banyak dan menyenangkan sebagaimana pecahan kembang api yang berwarna-warni tersebut. Menggantungkan semuanya di angkasa, bukan untuk sulit diraih karena sudah pasti mimpi kita tidak mudah untuk diraih, tapi untuk selalu dapat dilihat dengan jelas secara keseluruhan bahwa ada mimpi yang harus digapai. Kita harus bersyukur punya mimpi yang harus digapai.

Tepat pada pergantian tahun semalam, dengan semua hikmah yang Tuhan berikan, akan terlalu sombong kalau saya tidak mensyukuri semua yang Dia berikan. Selainitu, saya berdoa agar semua harapan dari tiap-tiap orang yang hadir disitu dikabulkan. Tiap-tiap harapan sebanyak orang yang datang, atau mungkin sebanyak kembang api yang dinyalakan, atau mungkin bahkan sebanyak rintik gerimis yang menerpa kami. Dan bagi saya, saya memang tidak memaksakan memiliki resolusi secara detil apalagi banyak, saya hanya berdoa untuk selalu menjadi yang terbaik dan mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri. Itu yang benar-benar saya panjatkan dalam menit pertama di pergantian tahun. Mudah-mudahan tercapai,aamiin,,,,