Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Sunday, December 22, 2013

Pura Lingsar dan Museum Nusa Tenggara Barat, Menjelajah Kota Mataram

Patung yang ada di Pura Lingsar

Sampai kembali di Pelabuhan Bangsal, sopir kami sudah menjemput. Kami dapat teman baru ibu-anak dari Cina yang ingin menumpang sampai senggigi. Hari itu jadwalnya langsung menuju bandara tapi makan ayam taliwang dulu. Tapi, tidak semuanya yang langsung menuju ke bandara. Jadwal pesawat saya sore hari, jadi saya punya sedikit waktu lagi untuk jalan-jalan.

Sesudah makan ayam taliwang, saya minta turun di daerah mataram. Sopir kami menurunkan saya di daerah tukang ojek karena menurut dia untuk berkeliling lebih baik menyewa ojek. Tujuan saya sebenarnya adalah Pura Lingsar, Taman Narmada dan Museum NTB. Kalau ngojek, jangan lupa tawar menawar, yang lebih penting lagi jangan lupa jaga diri karena kita sedang tidak berada di 'tanah kita'.

Berdasarkan Pak Ojek (nama orang Lombok yang kesekian kalinya saya tidak ingat), kami pertama-tama menuju Pura Lingsar. Di luar dugaan, ternyata jaraknya jauh juga. Saya kira jaraknya ada mungkin sekitar 15km dari pangkalan ojek. Untuk jalanan yang sepi, speed motor di atas rata-rata dan waktunya sekitar setengah jam saya rasa sampai sejauh itu.

But anyways, akhirnya saya sampai di Pura Lingsar, tempat ibadah umat Hindu. Sampai disana, saya langsung menuju semacam 'loket'. Disana saya harus mengenakan sabuk warna kuning, mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sekedarnya. Karena saya hanya sendiri, sebenarnya bingung juga harus ke arah mana mengingat itu adalah tempat ibadah dan ada baberapa orang yang sedang melaksanakan ibadah. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya ke seseorang. Tapi ada juga tempat yang tidak berani saya masuki karena terkesan lebih sakral. Tapi satu yang tidak saya temui, lagi-lagi karena saya sendiri, masjid (atau mungkin mushola) yang seringkali saya dengar yang akhirnya menyimbolkan kerukunan antar umat beragama ini.

Gerbang masuk ke bagian yang tidak berani saya masuki

Sesajen yang dipersembahakan untuk ibadah umat Hindu

Air mancur di bagian lain pura


Ohiya, rencana saya mau ke Taman Narmada akhirnya tidak jadi karena ada miskomunikasi dengan Pak Ojek dan terlanjur kesal. Jadi setelah dari Pura Lingsar langsung menuju Museum Nusa Tenggara Barat. Untuk mencapai museum ini pun kami sempat nyasar. Selain jaraknya jauh, karena kesasar itu tadi kami rada lama mencapai museum ini.

Di museum ini ada berbagai macam hal yang bisa dilihat. Saat itu hanya saya seorang pengunjung, terkesan rada seram juga di ruangan yang gelap seperti itu. Bagian paling depan menunjukkan geografi dan keanekaragaman hayati NTB. Satu hal yang saya temukan adalah Pulau Satonda yang akhirnya membuat saya ingin kesana. Setelah itu, ruangan berikutnya menunjukkan kehidupan manusianya, mulai dari alat rumah tangga, kerajinan, mata uang, dan keseniannya. Bukan hanya seputaran NTB ternyata juga dikenalkan kebudayaan diluar NTB misalnya ada wayang kulit dan aksara jawa. Berhubung museumnya tidak terlalu besar, saya juga tidak lama-lama di sana.

'Alat kantor' yang pernah di pakai dulu

Alat membajak tradisional

Salah satu kerang terbesar yang pernah ditemukan

Pengenalan wayang kulit di Museum NTB
Dari museum NTB saya lanjut ke bandara. Sebelumnya saya renegosiasi dengan Pak Ojek untuk mengantar ke bandara. Di luar dugaan jarak ke bandara jauh sekali, rada tidak enak juga dengan Pak Ojeknya. Bahkan saya harus bersusah payah menahan kantuk. Saya sempat melewati pantai yang bagus, tapi saya urungkan untuk mampir. Lain kali saya akan ke Lombok lagi dan harus jauh lebih menikmati. Sampai lagi di bandara berarti usai sudah acara saya jalan-jalan di Lombok ini. See you next time Pulau Lombok.


Sunday, December 8, 2013

Desa Wisata Sade, Dimana Budaya Masih Terjaga


Proses tenun kain Desa Sade

Info delay yang semula hanya satu jam ternyata mundur jauh. Dari yang semula hanya satu jam menjadi tiga jam. Mobil rental sewaan kami sudah menunggu sejak tadi. Daripada sayang tidak dipakai saya dan Bayu (salah satu teman saya yang tiba dari pagi) memutuskan untuk memakai mobil terlebih dahulu untuk menggunakan mobil tersebut terlebih dahulu. Yakni untuk mencari makan siang dan ke Desa Sade. 

Papan selamat datangdi Desa Sade

  Desa Sade merupakan salah satu desa wisata di Lombok. Desa ini memang sudah masuk list destinasi kami karena jaraknya cukup dekat dengan bandara. Tapi ya sayangnya hanya kami berdua saja yang akhirnya ke desa ini karena yang lain masih terjebak delay. 

Kami memiliki waktu dua jam untuk menyelesaikan makan siang dan mengunjungi Desa Sade. Menurut Pak Jamanik (sopir rental mobil kami) waktu tersebut cukup untuk sampai kembali ke bandara, menjemput teman-teman kami. Setelah makan Nasi Balap Puyung yang berlokasi di depan bandara, kami langsung menuju Desa Sade.

Setengah jam berikutnya, kami sudah berada di Desa Sade. Jaraknya ternyata memang tidak terlalu jauh ke arah selatan kalau dari bandara. Searah juga dengan pantai-pantai di pesisir selatan Pulau Lombok. Di parkiran sudah banyak guide yang siap memandu wisatawan untuk berkeliling melihat kehidupan Desa Sade.

Salah seorang guide (sayang saya lupa nama guidenya, setelah itu saya sadar bahwa nama-nama orang lombok memang sulit menempel di otak) membimbing kami memasuki desa. Setelah pintu masuk, kami diceritakan mengenai kehidupan Suku Sasak di desa tersebut. Banyak hal yang memang termasuk baru bagi saya. Di mulai dari terjaganya budaya dan tradisi Desa Sade itu dikarenakan memang mereka masih ingin menjaga tradisi tersebut. Pemerintah juga mendukung dan membawanya ke arah yang lebih positif lagi dengan menjadikannya tempat wisata. Satu hal yang menggambarkan jelas penjagaan tradisi dari Suku Sasak ini adalah tempat tinggal mereka. Bentuk rumahnya memang menjadi ikon Pulau Lombok sampai-sampai kalau diperhatikan, arsitektur bandara pun mengambil bentuk ini. Dan tidak hanya lima, sepuluh, atau dua puluh, seluruh rumah yang ada di desa itu masih beratap alang-alang dan berdinding bambu. Masih banyak lagi hal-hal unik terkait bangunan-bangunan yang ada di desa ini dari berbagai jenis bangunannya (lumbung, balai pertemuan, dsbg), arsitektur rumah yang berundak, pengaturan ruangan, sampai pelapisan lantai yang menggunakan kotoran kerbau. 

Lumbung tradisional Suku Sasak (foto by Bayu)

Untuk hirarki desa, terdapat seorang kepala suku yang memimpin desa tersebut. Saya kira tadinya kepala suku tersebut dipilih secara demokrasi tapi ternyata jabatan kepala suku tersebut diperoleh secara turun temurun. Pemelukan agama islam dilakukan secara menyeluruh oleh warga desa setelah sebelumnya bahkan ada yang menganut animisme. Nah untuk bahasa, ternyata masih banyak yang hanya mengenal bahasa Suku Sasak itu saja. Yang mampu berbahasa Indonesia justru anak-anak yang mengenyam bangku sekolah. Guide kami juga awalnya tidak bisa berbahasa Indonesia. Secara otodidak dia belajar sedikit demi sedikit dari rekan guide lain sehingga akhirnya mampu berbahasa Indonesia. Menurutnya, orang-orang berusia lebih dari empat puluh tahun sulit sekali ditemui yang mampu berbahasa Indonesia. Mungkin memang beginilah kondisi penduduk Lombok bagian selatan yang masih belum familiar dengan bahasa Indonesia. Saat saya di bandara juga menemukan penjual yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Kontras dengan penduduk di daerah Kota Mataram yang sudah menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari.

Mata pencaharian Suku Sasak yang utama adalah sebagai petani. Untuk daerah Lombok bagian selatan ini sepertinya memang mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Di sepanjang jalan menuju desa ini terlihat lahan pertanian. Dan seperti dugaan saya, sawah-sawah yang digunakan adalah sawah tadah hujan. Sawah di sepanjang perjalanan masih kering tak ditanami karena baru memasuki musim hujan. Mata pencaharian lain yaitu kerajinan tenun yang digeluti kaum perempuan. Dan memang tenun Desa Sade itu sangat terkenal. Popularitasnya juga semakin terangkat seiring dengan dijadikannya Desa Sade sebagai desa wisata. Selain kedua hal itu, sebagai desa wisata, penduduk juga memanfaatkannya sebagai mata pencaharian. Penduduk bisa menjadi guide, membuat kerajinan tangan seperti kalung, gelang, patung, dan tenun yang disebutkan tadi. Yang pasti semoga kesejahteraan penduduknya semakin baik tanpa harus meninggalkan kekayaan tradisi tersebut.

Kain tenun bermotif lumbung

Pewarnaan benang untuk tenun (photo by Bayu)

Hasil kerajinan tenun Desa Sade


Tidak hanya rumah tinggal yang penuh dengan kompleksitasnya, kerajinan tenun Suku Sasak juga menarik untuk disampaikan. Memang hanya kaum perempuan yang boleh menangani kerajinan ini. Namun demikian, sedari kecil sekali mereka harus sudah bisa menenun. Dan di tengah modernitas, proses penenunan masih menggunakan cara-cara tradisional. Dimulai dari pemintalan benang yang dilakukan sampai pewarnaan benang. Alat tenunnya, jelas menggunakan alat tenun tradisional. Satu hal yang masih mengherankan saya adalah perolehan warna biru dari daun, saya bertanya-tanya daun apakah yang mampu memberikan warna biru. Bahkan ada warna yang diekstrak dari satu bahan yang menghasilkan beberapa warna hanya dengan perbedaan waktu ekstraksinya. Motif tenunnya juga memiliki kekhasan tersendiri. Satu hal yang unik adalah ada satu motif yang langka yaitu tenun bermotif lumbung Suku Sasak. Sebelum membuat tenun ini harus dilakukan sesajen dengan memotong ayam terlebih dahulu. Sebenarnya, kain tenun ini terasa lebih kasar karena menggunakan benang yang berbeda dengan kain yang lain. Tapi tetap saja eksklusifitasnya masih terasa karena teknik yang digunakan memang lebih sulit dan menggunakan alat tenun yang berbeda dari biasanya. Dan kalau saya tidak salah ingat hanya tinggal tiga orang yang mampu melakukan teknik tenun ini. 

Selesai sudah kami berkeliling desa ditemani oleh guide. Sang guide mempersilakan jika ingin membeli kenang-kenangan dari desa tersebut. Kalau saya tidak menekan budget, saya pasti membeli kain tenun yang bagus dan khas tersebut. Dengan membeli kerajinan di tempat wisata itu kan turut membantu juga kemajuan penduduk setempat. Tapi yang pasti kami tidak lupa memberikan tip ke guide kami. Memang tidak dipatok harga, kami hanya memberikan tip sesuai dengan saran yang diberikan oleh sopir kami.

Kerajinan lain khas Suku Sasak