Monday, December 24, 2012

Snorkeling di Pantai Pasir Putih, Situbondo

Sunset Pantai Pasir Putih


Well, dengan ini saya menggenapkan hutang untuk menceritakan trip yang sudah saya janjikan di postingan sebelumnya. Mendaki bromo sudah saya  ceritakan, paragliding di Malang sudah saya ceritakan, terakhir adalah cerita saya snorkeling ria di Pantai Pasir Putih, Situbondo. Tapi,, bukan berarti saya tidak akan menceritakan kegiatan travelling saya lainnya. Masih ada list yang belum saya ceritakan dan mudah-mudahan masih ada trip yang bisa saya lakukan ke depannya. Aamiin..


Tempat dulu atau cara dulu? Oke, bagaimana saya bisa sampai disini adalah karena waktu itu saya ada kerjaan di Banyuwangi. Dalam perjalanan pulang menuju Surabaya, tentu saja melewati daerah Situbondo ini (apabila melalui jalur utara, bukan melalui Jember). Sebenarnya bisa dibilang ini adalah 'trip-bolos' yang memang sudah saya rencanakan dengan teman saya. Waktu itu kami tidak diijinkan untuk mampir ke Bali (Banyuwangi ke Bali tinggal nyebrang doang,meenn..) akhirnya sebagai pelampiasan ya mampir saja di Pantai Pasir Putih, sekalian pulang kan?

Teman saya itu berangkat dari Besuki, cukup dekat dengan pantainya sendiri. Sedangkan saya harus menempuh perjalanan sekitar empat sampai lima jam dari Banyuwangi. Saya kira tadinya hanya membutuhkan waktu yang tidak lama. Hal ini juga karena kondisi sang Bapak Sopir- yang sudah menjadi pahlawan saya untuk berkeliling Banyuwangi- mulai menurun. Yowis, santai juga sampai,,

Singkat cerita, akhirnya saya sampai di Pantai Pasir Putih walaupun sempat membuat teman saya kesal karena lama sekali sampai di Pantai Pasir Putih-nya. Beruntungnya, spare waktu yang dimiliki teman saya tidak disia-siakan. Dia bertanya ke penduduk setempat apa saja yang bisa dilakukan di pantai ini. Dan berikut ini adalah activity yang bisa dilakukan: sight seeing dengan perahu tradisional nelayan, snorkeling, sama (aduh istilahnya apa ya) semacam board surfing tapi tidak menggunakan papan seluncur seperti yang kita lihat pada umumnya, cuma board dari plastik (kebayang kan? kurang lebih begitulah, mudah-mudahan kebayang).

Pemandangan Pantai Pasir Putih saya berikan rate biasa saja. Pantainya termasuk masih sepi. Pesisir pantai yang berpasir termasuk kurang luas dengan pasir yang ternyata tidak putih juga seperti namanya. Yang bagus menurut saya adalah pantai tersebut terletak di depan hutan wisata (yang saya lupa namanya). Jadi kalau mau sekalian jalan bisa mampir ke hutan wisata tersebut. Beberapa monyet juga terlihat di jalanan. Selain itu, tepat sekali saya datangnya pas sore hari. Jadi lumayan lah nantinya bisa menikmati sunsetnya.



Setelah solat ashar dan makan siang-yang terlambat- kami memutuskan untuk snorkeling. Cukup mengagetkan bagi saya. Kenapa? Pertama, seumur hidup saya belum pernah snorkeling. Kedua, merasakan perahu nelayan tradisional yang berbeda dengan perahu nelayan yang biasa kita lihat. Langsung saja kami berdua melakukan tawar-menawar harga untuk melakukan snorkeling. Rp 150rb  saja untuk sewa perahu, sewa fin, sewa pelampung, dan alat snorkel, tentu saja sama abangnya untuk mengemudikan perahu dan itu harga untuk dua orang, murah kan? Untuk spot snorkelingnya sendiri dinamakan 'Taman Laut'. And for your information, sepertinya Taman Laut ini belum lama ditemukan, dikonfirmasi oleh teman saya sendiri yang asli Situbondo kalau memang belum lama mendengarnya. Bahkan dia belum pernah mencoba snorkeling disana. 

Langsung saja tanpa buang waktu kami berlayar, yak.. ber-la-yar, karena memang perahunya dikemudikan dengan mengandalkan kekuatan angin. Itulah kenapa saya bilang kalau perahunya berbeda dari yang biasanya kita lihat. Dan bagi saya, itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Bahkan oleh pengemudinya kita diperbolehkan untuk mencoba mengemudikannya. Satu tips dari saya adalah, hati-hati dengan kepala kita karena ketika berbelok palang layarnya bisa berubah arah dan bisa-bisa kepala kita terantuk, atau lebih parahnya tercebur ke laut.

Perahu Tradisional Nelayan

Byurr,, snorkeliingg,,, awalnya rada susah beradaptasi dengan alat snorkeling itu. Di perahu sempat dibrief tapi tetap saja tidak otomatis bisa. Tapi tidak diragukan lagi anugerah Allah yang membuat manusia mudah beradaptasi, dalam hitungan menit saya sudah berenang kesana kemari. Teman saya yang sudah punya pengalaman sebelumnya sepertinya tidak menemukan kesulitan. Si abang-guide-nya apalagi, tak perlulah menggunakan alat yang bernama pelampung itu,woww..

Bagi saya yang belum pernah snorkel, lumayan bagus kok pemandangan bawah lautnya. Tapi teman saya selalu mengatakan kalau kalah jauh dengan di Karimun Jawa. Jadinya ya, saya seperti sedikit terkena sugesti ada sedikit opini 'biasa saja' di otak saya. Sebernya sih, apa ya..apalagi kalau bukan keinginan mencicipi pemandangan bawah laut di tempat lain? Makanya ada porsi justifikasi biasa saja agar termotivasi snorkeling atau bahkan diving di tempat lain. Aamiin lagi..Daaann.. sayang sekali, saya ndak punya foto bawah airnya :(

Menjelang matahari terbenam, kami kembali ke daratan. Ternyata capek juga snorkeling padahal saya pake pelampung, apalagi abangnya. Tapi lagi-lagi terobati scene matahari terbenamnya. Sepertinya saya selalu takjub dengan pemandangan matahari terbenam, di pantai manapun itu. 

Sampai pantai, langsung mandi, langsung solat, langsung kembali menuju Surabaya. Senang rasanya akhirnya merasakan yang namanya snorkeling. Walaupun akhirnya ditanyain pak bos, kenapa lama sampai Surabayanya :|