Showing posts with label bogor. Show all posts
Showing posts with label bogor. Show all posts

Thursday, January 2, 2014

Hujan-hujanan di Hutan, Gunung Gede 2958 mdpl


Mengenang Soe Hok Gie dan Idhan Lubis - Tanda memorial yang dipasang di basecamp Green Ranger

Well, belakangan, beberapa bulan terakhir kan memang saya sedang antusias naik gunung. Setelah kurang lebih sebulan tidak naik gunung, ajakan naik gunung oleh teman pun saya iyakan. Padahal saat ini musim hujan. Belum lagi beberepa hari sebelumnya saya marathon traveling dari Lombok dan Pulau Harapan. Sempat sih khawatir, tapi hajar sajalah.

Pendakian kali ini adalah mendaki Gunung Gede. Rencana awalnya hanya tiga orang dari kami, teman-teman kantor saya dulu. Salah satunya malah datang dari Surabaya. Menjelang hari H salah satu teman saya ada yang ingin menghabiskan jatah cuti. So there were only four of us. Saya suka nih kalau naik gunung dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Berbeda dengan teman-teman saya yang lain, ini kali pertama saya mendaki Gunung Gede. Jalur yang kami pilih adalah Jalur Cibodas. Sering saya dengar kalau jalur ini lumayan mudah karena tracknya sudah bagus dengan susunan batuan sepanjang jalan. Nah, mungkin yang agak merepotkan terkait simaksi. Untuk TNGGP harus melakukan pendaftaran online. Slot akhir minggu sudah habis semua. Kami memilih weekday dan akhirnya tanpa pendaftaran secara normal. Salah satu teman saya dapat info kalau kita dapat mengurus simaksi on the spot. Saya manut saja karena baru pertama kali. Judulnya ini sih gambling.

Pukul sembilan kami sudah berkumpul di Terminal Kampung Rambutan. Tiga orang termasuk saya berangkat dari rumah saya sedangkan teman saya satu lagi berangkata sendiri. Tidak perlu menunggu waktu lama kami langsung mencari bus arah Cianjur via Puncak. Sekitar tengah malam kami sampai di pertigaan yang mengarah ke pintu masuk. Sebenarnya, tidak mungkin ada angkot lagi untuk jam segitu. Beruntung ada angkot yang ingin pulang dan kami ditawari untuk menyewa angkot tersebut. Plus, kami minta tolong untuk diantar ke tempat yang bisa membantu kami untuk mengurus simaksi. Akhirnya, kami diantar ke ranger setempat.

Tiba di basecamp ranger, kami berbincang-bincang sebentar. Setelah itu, kami disarankan untuk istirahat terlebih dahulu di lantai dua. Di lantai dua ini adalah ruangan yang sangat luas yang bisa dijadikan untuk tidur. Untuk menghemat energi, tentu saja kami memilih untuk tidur. Sedangkan simaksi kami akan diurus keesokan paginya.

Keesokan paginya, untuk mengurus simaksi harus menunggu kantornya buka which is sekitar pukul sembilan pagi. In the meantime, kami sarapan terlebih dahulu dan berjalan-jalan di sekitar. Setelah mendapatkan simaksi, sepertinya kami kurang beruntung karena tiba-tiba saja hujan. Mau tidak mau kami harus menunggu hujan reda terlebih dahulu. Jadi, keberangkatan kami lumayan terlambat dari rencana.

Setelah hujan reda, kami langsung berangkat. Saya penasaran dengan track dari arah Cibodas yang katanya jalurnya sudah bebatuan rapi. Dan saat saya melewatinya, memang begitu adanya. Jalurnya sudah rapi dengan batu-batuan yang disusun sepanjang track. Saya kira tadinya mungkin hanya sampi jalur air terjun, disana memang ada wisata air terjun, tapi track berbatu itu ternyata jauh juga. Jalurnya memang rapi bahkan sampai Kandang Badak. Selain itu juga, saya akhirnya mengalami sendiri Jalur Cibodas yang landai dan jauh. Saya sendiri tidak suka jalur seperti ini. Lebih memilih jalur yang langsung curam saja tapi lebih cepat. Tapi memang sepertinya jalur ini sudah ditangani dengan baik. Selain jalur bebatuan rapi yang saya sebutkan tadi, pengelolaan yang baiknya ditunjukkan dengan adanya pos-pos yang dibangung, toilet, tempat singgah seperti tempat duduk agar dapat digunakan untuk istirahat bahkan tali-tali pengaman ditempat-tempat berbahaya. Ada juga beberapa tempat yang bisa jadi 'pemberhentian' di Jalur Cibodas ini, misalnya: air terjun, air panas atau jembatan di atas rawa yang  bisa dibilang sebagai tempat wisata juga. Setelah berjalan sekian lama, sore hari sekitar pukul empat kami sampai di Kandang Badak. Dan disitulah kami mendirikan tenda untuk nge-camp. Satu hal yang menyulitkan perjalanan saya ke Kandang Badak ini adalah kaki saya cedera entah karena apa.
Track bebatuan menuju Kandang Badak
Air Terjun yang dapat ditemui saat menuju Kandang Badak
Setelah istirahat selama satu malam di tenda, pagi hari kami melakukan summit. Ternyata Kandang Badak bisa dijadikan tempat camping baik untuk yang mau summit ke Gunung Gede maupun Gunung Pangrango. Persimpangan ke dua puncak gunung ini dapat ditemui tidak jauh dari Kandang Badak. Kami sendiri berangkat setelah solat subuh terlebih dahulu. Berbeda dengan jalur ke Kandang Badak yang sudah rapi, jalur summit ini lebih terjal dan berbatu. Beruntungnya cocok dengan kaki saya yang cedera karena jalur yang lebih curam ini tidak membuat kaki saya begitu sakit walaupun dipakai berjalan. Waktu dan jarak tempuh untuk summit lumayan jauh juga. Alhasil, kami tidak sempat mendapatkan sunrise. Oh iya, akhirnya saya merasakan tanjakan setan yang terkenal dari Gunung Gede ini. Quite challenging memang!

Lautan awan dilihat dari Puncak Gede
Gunung Pangrango di depan Gunung Gede


Sesampainya di bibir kawah, ternyata perjalanan belum berhenti di situ. Kami harus memutar, menyusuri bibir kawah untuk sampai puncak tertingginya. Sembari menuju puncak ini, di belakang kami ada Gunung Pangrango. Jadi, sesekali kalau lelah bisa berhenti dan melihat kecantikan Pangrango. Pas sampai di atas, sejenak kami menikmati pemandangan megah dari Puncak Gede yang indah. Surya Kencana yang terkenal juga terlihat dari puncak itu. Sayangnya memang saya tidak menikmati langsung dengan berada di tengah-tengahnya. Setelah puas menikmati sambil berfoto-foto kami sarapan dan langsung turun kembali ke Kandang Badak.


Berhubung summit sudah selesai, sesampainya di Kandang Badak kami mulai bersiap-siap untuk turun. Tapi sebelum itu kami menunggu sampai siang dan menyempatkan diri makan siang terlebih dahulu. Selepas makan siang kami turun. Tidak seberuntung waktu naik, saat turun kami kehujanan. Ketidakberuntungan bertambah karena cederanya kaki saya semakin sakit kalau dipakai untuk berjalan di jalan landai. Akhirnya hujan saya terobos saja. Dan untuk pertama kalinya saya kehujanan di gunung. Dua teman saya sudah jalan terlebih dahulu untuk menghindari hujan. Sedangkan saya ditemani oleh salah seorang teman. Akhirnya, perjalanan kita lancar sampai bawah. Dan setelah bersih-bersih diri, kami langsung menuju Jakarta lagi.

*) All photos by Zikri

Friday, August 16, 2013

Berbagi Ceria Dengan Penderita Thalassemia - Baksos Kopdar Sehati #4

"Kau temanku ku temanmu kita kan slalu bersama
  Seperti celana dengan baju
  Kau temanku ku temanmu kita kan slalu bersama
  Seperti mentega dengan roti
  Ku kan slalu di belakangmu mendorongmu untuk maju
  Dan bila kau terjatuh..Ku kan slalu mendukungmu.."




Petikan lagu di atas mengisi salah satu keceriaan bakti sosial kami dengan adik-adik thaller - sebutan bagi penderita thalassemia. Alhamdulillah, seperti yang dijadwalkan pada tanggal 27 Juli 2013 lalu, saya dan teman-teman berhasil melaksanakan Bakti Sosial Kopdar Sehati Season #4. Seperti yang telah saya sebutkan di postingan sebelumnya, tema baksos tahun ini bersinggungan dengan kesehatan. Dan, adik-adik thaller ini akan menjadi teman berbagi kami tahun ini. Teman-teman yang menginspirasi kami pula tentunya.

Thalassemia, why?
Berawal dari tema bakti sosial yang ingin menyinggung tentang kesehatan, pada akhirnya thalassemia menjadi tujuan baksos kami (selain panti wreda). Kurang familiar dengan thalassemia? Kami pun awalnya termasuk awam dengan penyakit ini. Hanya sekedar tahu kalau ini penyakit genetis yang tubuhnya tidak mampu menghasilkan hemoglobin- zat pengikat oksigen dalam darah- yang cukup. Imbasnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, harus dilakukan transfusi secara terus menerus. Hanya sekedar itu.

Lalu akhirnya, sharing di antara kami membuat kami yang awam lebih mengenal tentang thalassemia ini lebih jauh. Baik tentang penyakitnya, tentang indikasi dan tentang orang-orang yang survive dengan penyakit ini.

What we did?
Tidak banyak yang kita lakukan untuk mereka. Well, kalau boleh dibilang memang dari awal justru akan banyak hal yang mereka berikan kepada kami, kepada saya khususnya (at least that's what I thought). Kami hanya berencana untuk berbagi cerita tentang cita-cita, menggambar dan buka puasa bersama.




Beruntungnya, teman saya  Faisal Jamil, Pengajar Muda- Indonesia Mengajar, meng-handle acara dengan baik. Keceriaan benar-benar tercipta di tengah-tengah kami. Di awali dengan " Tepuk Semangat" saat sesi sharing cita-cita, dilanjutkan dengan bernyanyi (dengan lirik yang saya sebutkan di bagian awal), dan terakhir menggambar menjelang berbuka puasa.

Sharing tentang cita-cita menjadi nilai yang ingin kami sampaikan ke mereka. Siapa pun dia, apapun kondisinya harus memiliki cita-cita yang tinggi. It was us as the examples. Kami menceritakan masing-masing background kami agar mereka terinspirasi. Bukan cerita yang muluk tapi semoga maknanya sampai ke mereka. emoga mereka menggenggam erat cita-cita mereka. Aamiin.

Usai sedikit sharing dilanjutkan dengan acara menggambar ria. Alat gambarnya sudah kami persiapkan sebelumnya. Memang ya, menggambar gunung adalah skill wajib anak-anak. Tidak hanya waktu saya kecil dulu, ternyata tetap bertahan hingga sekarang. Tapi, ada satu anak yang menggambar mobil balap beserta pembalapnya. Akhirnya ada yang nyambung  juga dengan topik cita-cita sebelumnya,hehe.. Dan, gambar tersebut memang cita-cita dirinya.





Dan terakhir adalah buka bersama. Kami semua berbaur, adik-adik, para orang tua, dan teman-teman saya menikmati santapan berbuka puasa bersama-sama. Senang sekali berada di tengah-tengah kebersamaan mereka.


What we got?
Bagian ini sepertinya akan menjadi bagian yang paling panjang. Memang banyak hal yang kami peroleh usai acara tersebut. Tidak hanya tentang seputar info thalassemia tapi juga value lainnya.

  • Tentang thalassemia
Sedikit bekal pengetahuan tentang thalassemia sebelum acara kami selenggarakan, tapi banyak hal yang kami tahu sepulang dari acara tersebut. Satu hal yang sangat ditekankan oleh Bunda (dari POPTI-Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia) adalah melakukan pengecekan carrier (gen pembawa) thalassemia ini. Kita tahu bahwa penyakit ini adalah penyakit genetis. Dan kembali ke pelajaran hereditas, orang-orang sebagai "pembawa" tidak akan menderita penyakit ini. Namun, apabila keduanya bertemu akan ada kemungkinan keturunan berikutnya menderita thalassemia. Sewajarnya, tentu tidak menginginkan anaknya kelak menderita penyakit ini, bukan? Maka, pengecekan gen pembawa ini menjadi info yang sangat mereka tekankan kepada khalayak umum.

Masih ada beberapa hal lain yang diberitahukan kepada kami. Major, minor dan intermediate merupakan tingkatan seberapa parah penyakit ini diderita oleh penderitanya. Penderita yang paling parah adalah penderita thalassemia major yang bahkan harus transfusi dua minggu sekali. Dan mereka harus transfusi terus menerus untuk memenuhi kebutuhan hemoglobin dalam tubuh mereka. Sebenarnya aktivitas transfusi ini bukannya tidak membawa dampak yang buruk. Transfusi darah yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus akan menumpuk zat besi dalam tubuh. Ini akan berimbas ke pembengkakan limfa. Bila demikian, limfa harus diangkat. Kurang lebih demikian infonya walaupun saya tidak begitu mengerti alurnya. Yang pasti sangat menyedihkan melihat adik-adik tersebut harus terbebani sedemikian berat.

Hal terakhir yang cukup mencengangkan adalah tingkat harapan hidup yang rendah. Kalau tidak salah, normalnya mereka hanya mampu bertahan hingga usia belasan tahun. Bahkan ketika Bunda bercerita, beliau akan sangat gembira untuk 'memamerkan' kepada dokter apabila ada yang bertahan di atas dua puluh tahun atau tiga puluh tahun (beliau menceritakan ini dengan menangis tentunya). Saya rasa karena hal inilah yang menyebabkan Bunda sangat tegas menyampaikan (karena beliau mengulang-ulang pesan ini) kepada kita agar melakukan cek darah sebelum menikah dengan calon pasangan kita.

  • POPTI dan PPTI
Beruntungnya ada organisasi yang menangani adik-adik penderita thalassemia ini. Ada POPTI (Perhimpunan Orang-tua Penderita Thalassemia Indonesia)- seperti yang sempat saya singgung sebelumnya dan ada juga PPTI (Perhimpunan Penderita Thalassemia Indonesia). Dari namanya sepertinya sudah cukup jelas. Untuk kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh POPTI adalah mengajak anak-anak mereka untuk mengikuti acara-acara yang bersifat konstruktif bagi anak-anak mereka. Mereka tidak mau penyakit yang diderita anak-anak mereka menjadi halangan bagi mereka untuk melakukan hal-hal layaknya orang lain. Mereka memotivasi anak-anaknya agar menjadi pribadi yang tangguh dan dapat meraih cita-citanya. Selain itu, POPTI juga semakin kesini semakin merangkul orang-orang tua penderita lainnya agar berjuang untuk anak-anak mereka, menghimbau agar rutin melakukan transfusi, tidak putus asa dengan kondisi. Para orang tua ini juga menyebarkan info seluas-luasnya mengenai thalassemia. Dan kami pun berterima kasih kepada POPTI karena melalui mereka kami dapat berkoordinasi untuk bermanfaat satu sama lain.

Sedangkan untuk  PPTI sendiri, merupakan perhimpunan yang anggotanya terdiri dari penderita-penderita yang sudah beranjak dewasa. Beberapa kegiatan positif seperti gathering, camp, dan sharing sering dilakukan untuk memotivasi satu sama lain dan mempererat relationship antar mereka. PPTI ini juga menjadi corong kepada dunia luar mengenai seluk-beluk thalassemia.




Informasi di atas jelas penting, dan tentu perlu disebarluaskan agar orang-orang lebih mengenal tentang thalassemia. Pun demikian, Bunda berpesan agar memperlakukan penderita thalassemia secara wajar saja. Dan jelas terkait kemungkinan carrier yang disinggung sebelumnya, itulah yang termasuk penting. Sering kita dengar mencegah lebih baik daripada mengobati kan? Sayangnya penyakit ini belum ada obatnya.

But, above all, ada nilai-nilai yang tak kalah penting yang kita peroleh. Dan semestinya justru inilah yang kita cari. Seperti halnya puasa yang mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, disini pun ada nilai yang perlu kita rasakan. Tetap ceria walaupun dalam kondisi yang tidak sama dengan orang normal lainnya adalah nilai yang dapat kita ambil dari adik-adik penderita Thalassemia ini. Kekuatan yang luar biasa jelas dimiliki oleh para orang tua mereka. Cinta, kegigihan, dan tidak mudah putus asa untuk putra-putri mereka selalu mereka curahkan. Kita juga dapat belajar eratnya kekeluargaan antar anggota POPTI-PPTI ini.





Kami datang hanya ingin berbagi keceriaan, berbagi cita-cita, berbagi buka bersama, hehe… Tapi kami pulang dengan pengalaman dan pelajaran yang begitu berharga. Terima kasih Bunda, Mas Robby, adik-adik, pengurus POPTI dan PPTI. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Untuk acara kegiatan di Panti Wreda dapat dilihat di sini.