Sunday, December 30, 2012

Ikan Bakar Yummy di Pantai Blimbingsari, Banyuwangi

Baiklah,,biarkan saya memulai cerita ini dengan menyebutkan bahwa, "Ikan bakar di Pantai Blimbingsari merupakan ikan bakar terlezat yang pernah saya santap sampai detik (saya menulis cerita) ini!!" Lebay? silakan berkomentar demikian, tapi saya jujur alias tidak bohong, sama sekali..

Pertemuan saya dengan santapan lezat ini terjadi saat saya ditugaskan di daerah Banyuwangi (tepatnya sebelum cerita saya menikmati snorkeling yang sudah saya post sebelumnya). Ketika saya berada di Banyuwangi ini, saya tidak mau buang-buang kesempatan untuk sekalian jalan-jalan. Well, just for your information, Banyuwangi ini memiliki destinasi wisata yang lumayan banyak lho. Lalu, tahu Pantai Blimbingsarinya sendiri? Saya sudah sempat browsing sebelumnya, disamping liat di peta wisata yang ada di hotel, disamping penjelasan dari petugas hotelnya juga.

Yak, saya memang langsung membombardir petugas hotel tentang destinasi wisata disekitaran situ ketika saya menginap di salah satu hotel sederhana di kawasan Genteng, Banyuwangi. Salah satu yang disebut dan termasuk dekat adalah Pantai Blimbingsari ini. Terlebih lagi petugasnya bilang kalau yang terkenal adalah ikan bakarnya. Saat itu saya kurang tertarik dengan iming-iming ikan bakar lezat karena memang menurut saya ikan bakar ya begitu saja. Selain itu juga dari review yang saya baca pantainya memang biasa saja. 

Di kemudian harinya, saat jam makan siang, akhirnya saya ajak sang bapak sopir untuk menuju Pantai Blimbingsari saja daripada tidak ada yang dilakukan setengah hari kedepan karena saya kerja malam. Toh, perut juga berteriak untuk minta diisi. Meluncurlah kita ke Pantai Blimbingsari. Dengan sedikit sasar-menyasar, akhirnya kita sampai di Pantai Blimbingsari. 

Tidak perlu ba-bi-bu, saya langsung menuju salah satu rumah makan lesehan- yang berhadapan langsung dengan pantai - untuk mengisi perut saya. Pertama-tama, saya dipersilakan untuk memilih ikannya terlebih dahulu. Dari penampakannya ikannya masih segar-segar walaupun sudah masuk box dan berisi es. Setelah interogasi singkat, saya menjatuhkan salah satu ikan yang direkomendasikan oleh si penjual. Langsung bakar... saya menunggu dengan anteng tentunya kecuali perut saya dibawah sana yang makin meronta ketika mencium aroma ikan bakarnya.

Setelah beberapa waktu menunggu, ikan bakarnya disajikan di depan saya. Emmhh..aromanya, warnanya, saya tidak sabar untuk menyantap ikannya. Langsung saja saya lahap kombinasi nasi putih, ikan bakar, dan lalapan di hadapan saya. Nyam nyam nyammm,,enyaakk..

Oke itu secara ekspresi saya deskripsikan, sekarang saya deskripsikan di bagian mananya yang membuat ikan bakar ini enak. Pertama, tentu saja dari faktor ikannya sendiri, penglihatan saya (walaupun awam) kalau ikannya masih segar tidaklah salah. Kesegaran ikan ini yang membuat daging ikannya lembut dan ada taste manisnya. Citarasa inilah yang membuat saya kagum, dari yang tadinya saya justifikasi 'sekedar ikan bakar' ternyata saya menemukan 'ikan bakar enak'. Tentunya ini tidak mengesampingkan teknik pengolahan ikannya ya. Kedua, sambal yang dibuat memang enak dan khas. Well, sambal memang menjadi pendamping makanan, cuma sekedar jadi bahan cocolan. Tapi percayalah, makanan yang menggunakan sambal, apapun itu, sambalnya sendiri menjadi salah satu kunci enak atau tidaknya makanan itu. Makanan enak ditambah sambal enak akan makin lezat, makanan enak dengan dengan sambal ga enak, rusak deh itu makanan. Dan kala itu, sambal dan ikan bakarnya saling menguatkan. Ketiga, ini terlepas dari makanannya, yakni nuansanya. Makan siang, lesehan, di depan pantai, ada yang tidak setuju kalau suasana ini menambah nafsu makan? Keempat, kelaparan saya, yang ini tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. 

Oh iya satu lagi, soal harga, saya makan berdua dikenakan biaya sekitar 100ribuan lah kalau tidak salah. Perhitungannya  ikannya sebenarnya per ons, ditambah nasi, minum, dan saya waktu itu ngemil yang lain juga.

Setelah kenyang dengan santapan yang lezat, kurang afdol kalau saya tidak berkeliling. Review-review yang saya baca memang ada benarnya. Pantainya termasuk biasa saja, berpasir cenderung hitam, dan agak kotor. Sepertinya memang pantai untuk melaut bagi para nelayan karena banyak perahu nelayan di sepanjang pantai. Wisatawan yang berkunjung juga sepertinya lebih karena pamor ikan bakarnya daripada pemandangan pantainya sendiri. 

Oke demikianlah cerita wisata kuliner saya. Oh iya, berikutnya,  mungkin saya akan menjabarkan wisata kuliner saya dengan satu cerita-satu makanan tidak seperti sebelum-sebelumnya. Masih ada banyak lagi kuliner yang akan saya ceritakan.