Tuesday, August 20, 2013

Merapi 2968mdpl, Discovering Beauty Itu Bukan Tanpa Perjuangan!

Merbabu berselimut awan - view dari Merapi
Di postingan sebelumnya saya menyebutkan kalau " Mudik kali ini sepertinya akan menjadi cerita tersendiri". Dan benar saja ada satu cerita tambahan yang seru dan menantang dalam mudik lebaran kali ini. Tepat dua hari setelah lebaran, saya mendaki Gunung Merapi. Bersama dengan dua teman saya, kami bertiga berusaha menaklukan Merapi. Keindahannya jangan ditanya. Super!! Tapi, tidak semudah itu untuk menikmati keindahan Merapi.

The members, the three of us

Jumapolo-Terminal Boyolali (Sabtu, 10 Agustus 10.00-16.00)
Saya memang sering mengaku kalau saya orang  Solo. Tapi, jangan tanya saya mengenai jalanan di Solo, angkutan, tempat rute dan semacamnya. Saya akan menyerah. Rumah saya lebih dari 30 km dari Solo jadi saya jarang menjamah Solo terlebih angkutannya tidak mudah untuk ke arah Solo ini. Pun ketika ingin mencapai rumah saya di daerah Klaten yang termasuk di jalur yang mudah pun, saya harus pusing tanya sana tanya sini.

Memang rada ribet sih perjalanan ke Selo, Boyolali (starting point pendakian) kali ini. Hal ini karena saya harus menyesuaikan jadwal teman saya yang ada acara hingga siang. Salah perhitungan pun terjadi karena saya kira, saya bisa mencapai rumah teman saya itu dalam waktu kurang lebih dua jam. Pukul 10 pagi saya berangkat tapi lewat dari pukul 2 siang saya sampai di rumah teman saya. Dari situ, kami berencana menuju Terminal Boyolali dan mencari angkutan menuju Selo.

Usai sholat ashar, kami menuju Terminal Boyolali. Dengan menggunakan sepeda motor, kami mengarah ke jalan raya ke arah terminal. Jauh juga ternyata, ada sekitar 5 km mungkin. Bukan masalah jarak sebenarnya, lebih kepada waktunya. Semakin sore akan semakin sulit angkutannya, seperti halnya ke arah rumah saya. Karena hanya menggunakan satu motor, semakin memakan waktu. Harus bolak-balik. Praktis lewat dari pukul empat sore kita baru sampai di terminal. Sebenarnya, asal tahu saja, akan lebih mudah kalo meeting point-nya di Terminal Boyolali saja.

Terminal Boyolali-Cepogo (Sabtu, 10 Agustus 16.00-18.00)
Cepogo itu dimana ya? Saya juga baru dengar tempat ini. Tempat ini semacam tempat transit untuk mencapai Selo. Sebelum menuju Terminal Boyolali tadi, saya diberitahu oleh penduduk setempat kalau ingin mencapai Selo harus mencari angkutan ke arah Cepogo terlebih dahulu, baru kemudian disambung ke arah Selo. Dan satu hal pesan dari orang tersebut kalau semakin sore angkutannya semakinjarang atau bahkan sudah habis. Shocked! We lacked of this info. Cuma bisa berdoa kalau masih terkejar.

Turun dari bus di Terminal Boyolali, kami bergegas mencari angkutan ke arah Cepogo.  Kerena belum tahu, kami harus bertanya terlebih dahulu ke petugas terminal. Bapak petugas menunjukkan kalau angkutannya semacam minibus yang tidak masuk ke dalam terminal, melainkan di luar. Sampai di luar terminal yang ditujukan oleh petugas, kami tidak mendapati angkutan yang dimaksud. Beberapa tukang ojek segera menghampiri kami karena sepertinya tahu kemana arah kami. Kami lebih memilih untuk menghampiri penjual makanan untuk menanyakan angkutan ke arah Cepogo. Dan benar saja, jam tersebut bukan lagi jam operasi angkutan ke arah Cepogo. (langsung lemes T__T )

Beberapa saat kemudian, saya lupa tepatnya dapat info dari siapa, sepertinya bapak-bapak, yang menyarankan kalau sebaiknya kami mengarah lampu merah yang terletak 2 km ke arah selatan. Disana, mungkin kami bisa mendapatkan angkutan menuju Cepogo karena ada kemungkinan angkutan tersebut ngetem. Kami segera mengarah ke tempat yang ditunjukkan tersebut dengan jalan kaki. Yes, on foot!! Karena itu jalan satu arah. Lumayan untuk pemanasan, kan? (menghibur diri)

Dalam waktu kurang lebih setengah jam, kami sampai di perempatan yang dimaksud. Tak perlu mata kami mencari-cari angkutan yang mengarah ke Cepogo, we looked for people instead, untuk menanyakan angkutan ke arah Cepogo (karena tidak mau putus asa dulu kali ya?). Seorang pemuda pemilik counter pulsa di dekat perempatan tersebut kami jadikan target untuk bertanya-tanya. Kesimpulan wawancara singkat kami adalah kalau sudah tidak ada angkutan ke arah Cepogo lagi jam segitu. Dalam 3 km kami bisa mencapai Cepogo atau 5 km lagi sampai Selo, setidaknya begitulah keterangannya. Tidak jauh seharusnya, saya pernah berjalan sejauh itu menyusuri jalanan Surabaya. Tapi, dan ini satu tips dari saya. Jangan mudah percaya dengan perkiraan jarak yang diberi tahu khususnya oleh orang jawa. Trust me, entah karena menganggap yang jauh itu menjadi dekat atau ingin menyenangkan si penanya, jarak yang jauh biasanya akan dibilang dekat. Kalau ingin tahu pasti, sebaiknya ditanyakan berapa menit yang dibutuhkan kalau berkendara, itu akan lebih deskriptif, just like this info. Saya tidak serta merta percaya. Padahal kedua teman saya sepertinya percaya-percaya saja.

Satu hal lagi, info yang berhasil kami dapatkan dari mas-mas penjual pulsa ini adalah bahwa mungkin kami bisa menumpang mobil ke arah Cepogo. Menurut dia, hal ini lazim dilakukan para pendaki. So, is it hitchhiking? Oh yes, defintely! Traveling cap jempol sepertinya seru. Antara sedih dan senang. Namun, kami tak lantas menunggui mobil dan 'memberikan jempol'. Kami lebih memilih untuk melakukannya sambil jalan. Toh kami sudah terlanjur ada rasa percaya kalau itu hanya sekitar 5 km. Okay, let's rock!!

Senja di langit barat mulai menguning, matahari sudah di balik gunung. Tanda patok di pinggir jalan menunjukkan kalau kami baru saja berjalan 2 km jauhnya. Sudah lupa berapa kali jempol kami 'lempar' ke jalan. Sebelumnya, kami disarankan untuk menyetop mobil-mobil semacam pick up atau truk. Karena sudah mulai putus asa dan mulai capek, setiap mobil kami coba mintai tumpangan. Paling-paling kami sedikit tahu diri untuk tidak menyetop mobil-mobil 'bagus'. Sementara itu, carrier saya yang paling berat semakin menguras stamina. Saya meminta sharing air minum karena di carrier saya empat kali lipat lebih banyak dibandingkan teman-teman saya. Tepat ketika kami ingin sharing, saat saya menurunkan carrier, ada mobil carry yang berhenti dan memberikan tumpangan kepada kami. Kami lebih beruntung karena bukan mobil sayur melainkan semacam mobil carry. Rupanya di dalamnya terdapat keluarga yang melakukan silaturahim ke saudaranya.  Beruntungnya lagi, kami diberi tumpangan tepat sampai Cepogo. Alhamdulillah.

Tepat saat azan magrib kami tiba di Cepogo. Tempat ini semacam pasar induk sayuran sepertinya. Dan mau tahu jarak aslinya dari tempat asal kami jalan tadi? 10 KM!! See? Terbukti kan pernyataan saya sebelumnya? Untung saja kami tidak jalan sejauh itu padahal kami baru setengah jalan.

Cepogo- Selo/ Joglo (10 Agustus 19.00-20.30)
Tiba di Cepogo, kami melaksanakan sholat magrib terlebih dahulu. Usai sholat, kami menambah perbekalan kami, seperti cemilan, mie instan, minuman instan, bahkan kami sempat membeli sarung tangan atau kupluk. Beruntungnya disini ada Indomaret tepat di depan pasar. Jadi cukup memudahkan kalau ingin menambah perbekalan.

Setelah itu, tantangannya tetap sama, mencari angkutan sampai ke Selo. Well, saya tidak akan heran kalau waktu itu kami tidak mendapatkan angkutan umum. And, so it was! Di sekitar pasar tersebut memang banyak orang. Dan melalui orang-orang tersebutlah kami diyakinkan kalau kami sudah kehabisan angkutan. Masuk akal sih mengingat hari sudah gelap. Alternatifnya adalah ojek atau menumpang sepertisebelumnya. Dan berbeda dengan tempat lain yang mudah mencari ojek apalagi di pasar, jam magrib waktu itu juga sudah bukan jam operasi ojek. Alasannya karena masih momen lebaran jadi ojeknya sudah tidak ada. Kalau naik ojek, katanya ongkosnya sekitar 10-15 ribu. Kalau jalan? Ada yang bilang 3 km, 5 km, atau bahkan 7 km. Sebenarnya saya sedikit percaya karena kalo dikaitkan dengan harga ojek sepertinya masuk akal.

Persis seperti sebelumnya, kami lebih memilih untuk berjalan saja sambil mencari tumpangan. Senter sudah mulai dikeluarkan karena jalanan semakin gelap. Demikianlah jalanan di pelosok-pelosok desa, lampu jalanannya jarang sekali bahkan tidak ada atau malahan mati. Dari info yang kami himpun sepertinya kesempatannya untuk menumpang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya karena memang waktu itu adalah waktu aktivitas pengantaran sayur menuju pasar Cepogo tadi. Jadi mobil-mobil pick up terbuka ini mengantarkan sayur dari gunung. Setelah selesai mengantarkan sayur, akan kembali k atas lagi dengan kondisi kosong. Inilah kesempatan untuk menumpang bagi kami.

Setelah jalan sekitar 1 km kami terhenti di salah satu warung karena disapa oleh penduduk setempat yang berkumpul di warung tersebut. Lalu, orang-orang tersebut meminta kami (setengah memaksa) untuk berhenti saja dan mencegat mobil sayur dari situ. Sepertinya mereka kasihan kepada kami yang hanya bertiga ini berjalan dalam gelap dan jarak yang jauh. Jarak yang harus kami tempuh memang jauh, another 10 kilos. Kali ini kami cukup percaya karena salah satu orang yang ada disitu pernah bekerja di Perhutani Gunung Merapi. At last, bukan kami yang berhasil menyetop mobil melainkan bapak yang ada di warung tersebut. Walaupun tidak sampai di Selo, it was quite a help!

Tepat sebelum jembatan yang gelap gulita, kami diturunkan. Bapak yang mengantarkan kami meminta maaf karena tidak bisa mengantar sampai Selo. Tanpa pikir kami lanjutkan untuk berjalan, like we did before. Tanjakan setelah jembatan tadi lumayan tinggi. Kemudian, setelah melewati tanjakan tersebut kami berhasil mendapatkan tumpangan. Lagi.

Tidak begitu lama, mobil tersebut berhenti di suatu pasar, saya membaca tulisan Selo. Kami segera turun tanpa instruksi. Saya mengucapakan terima kasih ke bapak tersebut. Akan tetapi, dia bilang kalau kita belum sampai. Dia menunggu anaknya yang membawa mobil juga dibelakangnya. Anehnya kita sudah samspai di tempat yang bertuliskan 'Selo'. Okelah, kami manut saja karena kami tidak tahu. Kami segera naik ke bak pick up itu lagi.

Cukup lama kami di atas mobil tersebut, padahal mobilnya juga ngebut. Kami jadi curiga kalau kami kelewatan. Saat kami bertanya ke bapak tersebut, sebenarnya dia tidak tahu dimana menurunkan kami yang ingin menanjak Merapi ini. Alamak!! Kenapa baru bilang si bapak ini? Usut punya usut si bapak menuju Magelang. Bagus!! Lalu kita dimana? Kita 7 km jauhnya dari Selo dan Selo itu adalah tempat kami turun sebentar tadi. Begitulah yang disebutkan oleh mas-mas yang kami hampiri tak jauh dari situ. Bantuan Tuhan ternyata tidak semudah itu,ya? Mau bagaimana lagi? Kami harus mendapatkan tumpangan ke arah sebaliknya.

Tak perlu waktu lama ada sebuah pick up melintas. Kami menyetop pick tersebut pastinya. Kami tanyai apakah bisa mengantar ke Selo dan si sopir mengiyakan, dengan ragu. Ada penumpang lain di mobil tersebut. Kakek- nenek dengan dua orang cucu yang menuju Bakalan (saya tidak tahu dimana itu). Tepat di pertigaan dengan plang 'New Selo-Joglo-Magelang-Boyolali' kami turun. Sang Sopir mengatakan disitulah kami turun, dengan ragu, lagi. Dan, dia meminta ongkos, 10 ribu. Alasannya dia seharusnya tidak mengantar sejauh itu. Baiklah, it’s okay! Eventually it took 10k from Cepogo just like ojek, didn’t it? :D

Joglo- New Selo (10-11 Agustus, 21.00-01.30)
Starting from this point, no more kendaraan bermotor! Kita harus jalan kaki. Lima menit dari pertigaan tadi kita akan melewati gerbang Dusun Plalangan. Lima belas menit berikutnya akan sampai di base camp untuk registrasi atau jika ingin membeli souvenir. Kurang dari satu jam sudah sampai di New Selo, ditandai dengan tulisan 'NEW SELO' layaknya tulisan 'HOLLYWOOD' di US sana. 

Kami masih bingung ingin menanjak kapan. Umumnya orang-orang menanjak tengah malam. Sedangkan saat itu hanya ada 6 pendaki yang registrasi termasuk kami. Tiga orang sebelum kami, juga kami temui di New Selo ini. Mereka ingin mendaki saat hari terang. Sedangkan kami akhirnya memutuskan untuk mendaki pukul tiga pagi. Tapi yang paling penting kami harus mengisi perut terlebih dahulu. Air panas disiapkan untuk menyeduh Pop Mie yang menggoda.

Pukul 11 kami selesai mempersiapkan camp kami. Tenda kami pasang di semacam balai yang ada disitu. Kami harus segera tidur untuk menghilangkan lelah sekaligus menghimpun energi untuk mendaki besok. Saya sendiri tak butuh waktu lama untuk terlelap, karena capek mungkin. Alarm has been set at 3 am.

Pukul 1 pagi, lapangan parkir New Selo terdengar ramai. Ternyata ada rombongan yang ingin mendaki, belasan. Ternyata malam itu tidak hanya kami berenam saja yang ingin mendaki. Para bule ini, ya rombongan yang datang tersebut adalah bule, sepertinya stayed the night di bawah sana dan diantar dengan pick up ke atas (memang terdapat homestay di Selo). Saya membangunkan kedua teman saya untuk mengajak mendaki bareng dengan bule-bule tersebut. Setidaknya terasa lebih secure karena semakin banyak orang. So, we agreed!

New Selo - Pasar Bubrah (11 Agustus, 1.30 - 8.00)

Dalam waktu setengah jam kami siap menanjak dan semua perlengkapan sudah re-pack. Rombongan bule sudah jalan  sejak tadi. Treknya, bagi saya yang termasuk nubie ini, sebenarnya tidak terlalu sulit. Tapi entah kenapa kami termasuk lambat jalannya. Sering beristirahat.

Pukul setengah tiga kami sampai di semacam bangunan rumah-rumahan. Sepertinya memang titik untuk beristirahat. Di sini kami disalip oleh orang-orang Filipina. Ternyata semakin banyak juga yang mendaki. Dari guide orang Indonesia yang bersama mereka, kami tahu bahwa perjalanan masih jauh sekali.

Pukul 04.00 kami baru sampai Watu Gajah. Some say that this is the first post. Orang-orang Filipina tadi ternyata banyak sekali. Saat kami tanya ada 16 orang. Dan sebagian masih di belakang. Kalau bule-bulenya sepertinya jauh di depan sana.  Melewati titik ini, track bebatuan menghadang di depan kami.

Kumandang azan subuh ternyata bisa terdengar sampai ketinggian itu. Kami mencari-cari tempat yang agak datar terlebih dahulu untuk melakukan solat. Saat kami melakukan solat , orang filipina melewati kami,lagi. Kami seperti berkejar-kejaran saja :D

Setengah jam kemudian, langit mulai menampakkan semburat jingga. Beruntungnya kami berada di titik yang bagus untuk menikmati sunrise. Walaupun meleset, tidak menikmati di puncak, I thougt that it's okay. And, no words can describe it (just take a look at the picture! :D ). We stayed for it, about half an hour. I mean, who's going to miss it?

Pemandangan Gunung Lawu menjelang matahari terbit

Detik-detik matahari terbit

Gunung Merbabu di depan Merapi
Sindoro-Sumbing di kejauhan
Lereng Gunung Merapi
Jalur menuju Puncak Merapi

Perjalanan masih cukup jauh. Track mungkin tidak separah sebelumnya, tapi stamina kami semakin berkurang. Sepanjang perjalanan, pemandangannya luar biasa indah. You know, I felt like I was going to Mordor like Frodo did :D. Banyak bebatuan, minim pepohonan. Kalau sudah sampai di padang bebatuan luas, that's what called Pasar Bubrah.

Pasar Bubrah - Summit Attack (11 Agustus, 8.00-10.00)

Oke oke, sebelumnya sudah terlalu banyak cerita untuk mencapai Merapi ini. Ya gimana ya? Seru dan menantang soalnya. Setelah ini biarkan gambar yang bercerita. A picture tells thousand words, ha? :D
 
Monumen Kenangan di Pasar Bubrah
Pasar Bubrah

Singkatnya,  kami memberikan asupan energi ke tubuh kami dengan mie, lagi. Sulit juga memasak di tengah angin sebesar itu. Usai mengisi perut lanjut menanjak ke puncak. Kami paksa saja, walau orang-orang sudah turun, bule-bule, orang filipin, dan yang lainnya yang ternyata sudah tiba lebih dulu. Dari bawah, terlihat menantang sekali bebatuan itu.

Kita harus menaklukan bebatuan ini kalau mau sampai puncak, be safe!

Pemandangan Kawah Merapi di puncaknya

Tak sesulit naiknya, turunnya hanya tinggal perosotan ria di atas pasir. Seriously, itu mudah sekali dan singkat. Saat kami turun awan menyelimuti gunung. I bet those who got down first would regret for missing it. Keren!! Ada untungnya juga turun belakangan.

Negeri di atas awan


Perjalanan Pulang (11 Agustus, 10.00-21.00)

Perjalanan pulang tak ubahnya perjalanan datang. Kami ketinggalan angkutan umum. Harus ngojek dengan ojek super murah, 25k for 20 kilos, sampai Terminal Boyolali lho (perkiraan saya di awal tadi terjawab sudah, kalau salah!). Kok mau ya? Kitanya itu juga nawar (tega! :D ). Ngojek sampe nangis-nangis (saking kencengnya, udah lama nggak naik motor sekenceng itu). Sampai di Solo, ga heran kalau saya kehabisan bus arah Jumapolo. Jadilah ngojek 45k for 20kilos ( lihat tuh beda harganya, pas ketemu orang di bus malahan harusnya Selo-Boyolali 20rb lho, ga masuk akal). Seru! Sempurna! Susah itu tidak selalu menyedihkan :D

H+1 Pendakian

Keesokan harinya, muka saya menunjukkan efek terbakar matahari. Kulitnya memerah cenderung gosong dan mengelupas seperti ular yang berganti kulit. Sial.. baru kali ini saya mengalaminya. Sementara itu, di televisi atau di internet saya mendengar kabar tentang pendaki Merapi. Dua orang Jerman dan satu orang Rusia hilang saat mendaki tepat setelah saya turun. Selain itu, ada juga lima orang pendaki yang mengambil jalur yang sama dengan kami, di evakuasi karena ada badai di puncak. Oke, lupakan masalah kulit muka. Harus bersyukur karena masih diberi keselamatan sampai rumah. Alhamdulillah.