Friday, August 16, 2013

Biasa Mudik, Ini Bukan Mudik Biasa

Tepat satu menit sebelum tengah hari HP saya berdering. Ternyata telepon dari petugas bus yang menunggu kedatangan saya. Satu menit berikutnya saya seharusnya sudah berada di terminal. Tapi kenyataannya setengah perjalanan pun belum saya tempuh. Dengan nada sopan ibu di seberang bilang bahwa saya tetap akan ditunggu. Toh busnya sendiri juga belum datang. Setidaknya demikianlah keterangan petugas tersebut yang sedikit menenangkan saya.

Mudik kali ini sepertinya akan menjadi cerita tersendiri. Kalau bicara firasat, semenjak meninggalkan rumah pun rasa-rasanya kok memang ada yang mengganjal hati. Diawali dengan packing yang gelagapan dari hari sebelumnya. Lalu pagi hari sebelum berangkat tadi, karena tidur yang kebablasan menjadikan keberangkatan tadi sangat terburu-buru. Macet menuju terminal ini pun di luar dugaan. Seharusnya saya sudah sampai terminal sejak lima belas menit yang lalu.

Setengah jam berikutnya, akhirnya saya sampai di terminal. Buru-buru saya menuju loket dan mencari petugas bus yang menunggu saya. Dan beruntungnya saya benar-benar masih ditunggu. Walaupun saya merasa bersalah karena terlambat, saya memang tidak menelepon kembali petugas tersebut untuk memastikan atau mungkin memohon agar tidak ditinggal. Entahlah, saya hanya tidak ingin. Tapi toh akhirnya memang saya tidak ditinggal kan?

Hanya sebentar saja saya berbicara dengan petugas tersebut. Disana saya hanya menukar kuitansi dengan tiket. Dan wait? Fasilitas makan malam di-cancel karena hanya tiga orang yang menginginkan fasilitas tersebut. Aduh,, buka puasa saya nanti bagaimana ceritanya. Sepuluh ribu dari 350 ribu rupiah dikembalikan sebagai pengganti uang makan malam. Kecapekan saya karena macet tadi membuat saya malas beradu argumen. Pun sepertinya akan sia-sia saja. Dengan langkah gontai saya menuju bus. Terpampang di sisi bus tulisan 'Angkutan Lebaran 2002'. Benar-benar bercanda ini. Pantas saja bentuknya sudah ya-begitu-lah. Busnya terlihat seperti kakek renta karena besi-besi yang keropos dan cat yang mengelupas. Saya mencari kursi nomer 13 milik saya. Setelah mengatur tas-tas, saya langsung duduk. Dudukannya terlalu tegak. Tuas pengatur dudukan tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Okay, inilah kursi nomor 13 sodara-sodara. Saya semakin siap kalau-kalau ada kejutan lagi di depan sana. Pukul 13.00 bus yang saya tumpangi meninggalkan terminal. Be nice with me, ya Pak Tua.

Sekitar pukul empat saya terbangun dari tidur. Semenjak masuk tol tadi memang saya hanya mengabiskan waktu untuk tidur atau membaca. Rekan duduk sebelah saya- anak kecil seusia awal belasan tahun- sedang ngemil makanan dengan adiknya yang duduk di depan. Rupanya dia tidak puasa. Udara terasa panas sekali seakan AC-nya tidak berfungsi. Sepertinya inilah yang membangunkan saya. Tidak juga. Di luar berbagai jenis kendaraan berjajar hampir tidak bergerak. Inilah yang membuat udara bus makin panas. Ketika saya cek google-maps, ternyata saya sedang di sekitar Cikampek. Di depan sana ada perempatan, mungkin disanalah titik kemacetannya. Hanya beberapa ratus meter. Dan itu saya jadikan penghiburan diri.

Setelah melalui dua jam yang terasa panjang, bus berhasil membebaskan diri. Benar saja, perempatan tersebut yang menjadi biang -kemacetan. Orang-orang yang masih menunaikan puasa mulai riuh berbuka. Saya sendiri hanya mengambil beberapa teguk air dan sebungkus beng-beng. Seharusnya bus akan berhenti sebentar lagi untuk memberikan kesempatan berbuka. Orang-orang yang membawa bekal, lantas menyantap bekal mereka masing-masing. Lambatnya jalan bus ini membuat kantuk saya datang kembali. Tidur mungkin pilihan yang tepat sambil menunggu tempat pemberhentian.

Orang-orang di bagian depan ramai sekali, terutama didominasi oleh teriakan ibu-ibu. Sontak saya kaget lalu terbangun. Mobil tiba-tiba menepi. Karena masih mengumpulkan nyawa, saya masih belum begitu bisa mencerna situasi. Lamat-lamat saya dengar suara ibu-ibu yang menyebutkan api atau semacamnya. Ternyata muncul api dari dashboard sopir. Saya pun bingung bagaimana bisa terjadi. Tapi memang demikian infonya. Penumpang yang duduk di belakang saya menasehati sopir untuk segera berhenti beristirahat karena sudah waktunya istirahat sejam beberapa jam yang lalu. Terlebih lagi bagi yang berpuasa juga belum berbuka puasa. Saya langsung ingat kalau perut saya hanya diganjal sebungkus beng-beng. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9.

Akhirnya bus berhenti. Saya kurang tahu ini di daerah mana karena saya juga tidak begitu hafal. Buru-buru saya mencari makan malam-buka puasa. Soto dan teh manis yang hangat sepertinya akan bersahabat dengan perut saya yang telat makan ini. Setelah memesan, saya langsung menuju kasir. Harga totalnya 28 ribu rupiah saja. Baiklah ceritanya ini nombok 18 ribu dari uang yang dikembalikan petugas tadi. Perut yang kenyang memang mangantarkan pada kantuk. Sekembalinya saya ke bus, saya langsung tidur sajalah.

Benar saja, tak perlu menunggu waktu lama bus pun langsung berangkat. Tak jauh dari tempat keluar rumah makan bus mengisi bensin di pom yang letaknya tak begitu jauh. Ternyata saya tidak langsung tertidur. Penjual makanan dan minuman berlalu lalang di dalam bus menawarkan makanannya. Saya ditawari miz*ne seharga tujuh ribu rupiah. Woww wait,,walaupun saya jarang sekali meminum minuman ini saya kira harganya tidak semahal itu. Tapi memang akhirnya tidak saya beli juga minuman itu. Sesaat sebelum bus melanjutkan perjalanan bapak bangku sebelah memasangkan earphone beats yang setahu saya mahal itu ke handphone nokia monochrome. Iya monochrome. Kombinasi yang tak lazim bukan? Oalah, dunia ternyata sedang ingin menghibur saya. Senyum tersungging. Tertawa, di dalam hati saja. Tak lama saya terlelap.

Saya terbangun karena kegerahan. Tangan saya mencari-cari HP untuk mengecek waktu. Ternyata tepat tengah malam. Mata saya berkeliling mempelajari keadaan. AC mati karena mesin mati. Mesin mati karena bus berhenti. Masuk akal! Panasnya minta ampun!

Sepertinya keadaan tidak sesederhana itu. Mobilnya ternyata berhenti di tengah jalan, mogok! Sebagian penumpang sudah turun dari bus. Kepanasan seperti halnya saya. Saya lantas ikut-ikutan turun. Dan akhirnya saya mendapati kenyataan bahwa oli busnya habis. What??!! Apalagi ini? Di belakang bus kendaraan mengular dan macet. Banyak polisi sudah di sekitaran bus mengatur jalanan yang macet, menginterogasi sopir-kondektur, atau melakukan kontak dengan polisi lain. Sementara itu, oli pun sedang diisi. Entah mendapatkan oli dari mana awak bus tersebut.

Kondisi bus memang mengkhawatirkan terkait dengan usianya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa bus tersebut seharusnya digunakan sebagai angkutan lebaran lebih dari satu dekade lalu. Menyadari kondisi ini, tidak hanya penumpang yang khawatir, tapi juga para polisi. Sempat saya dengar kalau polisi ingin memaksa untuk memindahkan penumpang ke bus lain dengan catatan semua biaya ditanggung pihak bus. Setidaknya demikianlah yang saya dengar. Dari awak bus saya mendengar kalau dia akan memberhentikan bus dan dari arah Solo menuju Jakarta untuk menjadi bus pengganti.

Bus berhasil berjalan normal kembali. Dalam waktu setengah jam kami sudah tiba di Terminal Cirebon. Awak bus memenuhi janjinya untuk memberikan bus pengganti. Tapi kami harus menunggu satu jam ke depan. Okay, safety first. Di Cirebon pukul satu malam padahal normalnya sekitar magrib. Sudahlah, safety first okay.

Pukul tiga pagi, saat waktu sahur, bus akhirnya datang. Kondisinya jauh lebih baik dari bus sebelumnya tentunya. Setidaknya hal ini melegakan bagi kami para penumpang dan tidak membuat khawatir. Para penumpang bergegas naik dan menempati tempat duduk sesuai dengan nomor tempat duduknya. Dan tak perlu waktu lama kami langsung berangkat. Sebelum melanjutkan perjalanan terlalu jauh, bus sempat mampir ke rumah makan untuk memberikan kesempatan bagi yang ingin melakukan sahur.

Dengan kondisi bus yang baik ini , perjalanan pun berlanjut aman dan nyaman. Dalam dua belas jam bus tiba di Terminal  Tirtonadi, Solo. Lumayan lama. But, it's okay yang penting selamat. Saya sempat khawatir tidak memperoleh bus ke arah rumah saya. No more bad luck now! Masih ada bus mengarah rumah saya. Dalam satu atau dua jam ke depan I'll be at my home. Well, perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, 28 jam. Beginilah mudik, kalau tidak begini, bukan mudik namanya. Some say so...