Thursday, August 28, 2014

Kebodohan Penghuni Baru di Negeri Orang

Tiga minggu lamanya saya sudah menghabiskan waktu di Belanda. Dan akan berlanjut hingga kurun waktu dua tahun ke depan setidaknya. Pengalaman baru yang benar-benar menarik apalagi ini kali pertama saya pergi ke luar negeri. Akan selalu ada untuk yang pertama kalinya bukan? Bukan hanya soal kali pertama "berpindah" ke negeri orang, tetapi juga diikuti banyak hal baru lainnya. Sebagian sangat menyenangkan atau menyedihkan atau malah memalukan. Terlepas dari apapun itu, menjalani hal baru selalu saja menarik. Entah saat akan, sedang, atau setelah menjalaninya.

Di sini, saya akan berbagi tentang kejadian-kejadian bodoh saat saya mulai beradaptasi dengan negeri Belanda ini. Cukup memalukan. Tapi lucu juga kalau diingat.

1. Bingung Mau Minum
Saya sampai di Eindhoven, kota tempat tinggal saya, sekitar jam makan siang. Saat itu saya masih punya sisa minum jatah dari pesawat. Tapi memang dasarnya saya bukan orang yang mudah haus jadi belum merasa khawatir saat itu (setelah tinggal beberapa di sini, mudah sekali saya haus dan buang air kecil, entah kenapa). Saat melakukan semacam pendaftaran, saya juga mendapatkan satu botol kecil air mineral. Lumayan lah. Saat itu saya tidak begitu memikirkan bagaimana nantinya saya minum. Masih terbayang kalau ada galon berisi air mineral yang bisa saya minum. Atau bisa saja saya beli air mineral di warung (Macem ada?). Nggampangin!

Sampai di kosan, sore (sore waktu Indonesia ya, kalau musim panas, sore di Belanda bisa sampai jam 9 malam),  langsung tepar. Masalah datang saat bangun dari keteparan saya itu. Saya mulai haus. Saya minum saja persediaan air yang saya punya. Kemudian saya sadar tidak tahu harus bagaimana kalau persediaan air saya itu nanti habis. Dan benar saja, air mulai menipis. Saya pernah dengar kalo air keran di Belanda bisa langsung diminum. Tapi tetap saja tidak yakin. Saya coba yakinkan diri saya dengan googling. Tapi tetap tidak yakin. Mau cari warung seperti di Indonesia yang hanya berjarak beberapa rumah satu sama lainnya, jelas tidak ada. Oke! Saya nekad minum air dari wastafel kamar saya. Rasanya segar sekali! Tidak kalah segar dengan air mineral yang dijual di Indonesia. Setelah itu, saya coba-coba membaca berkas yang saya terima dari registrasi. Yang pertama kali saya temui adalah info kalau air keran di Belanda memang bisa diminum! Kenapa pula saya tidak membaca berkas ini dari tadi? Beberapa waktu kemudian saya dapat info kalau air keran di Belanda salah satu yang paling baik. Bahkan air flush toilet tidak kalah bersih dengan air mineral yang dijual di pasaran.

2. Solat salah waktu
Badan masih terkena jetlag, hari kedua pagi-pagi buta saya terbangun, kurang lebih sekitar setengah dua pagi. Malam sebelumnya saya tidak sanggup menantikan solat magrib dan isya (saya masih dapat jatah jama solat karena baru sampai :p ) kemudian saya solat setelah bangun tersebut. Karena waktu solat berbeda-beda di setiap tempat, sudah sewajarnya saya install aplikasi penunjuk waktu solat di HP saya. Beberapa saat setelah saya selesai solat magrib-isya, saya buka aplikasi tersebut. Di aplikasi tersebut menunjukkan bahwa beberapa menit lagi sudah tiba waktu solat subuh. Alhamdulillah..saya sempat bangun sebelum waktunya terlewat. Sekitar pukul dua lewat sekian saya menunaikan ibadah solat subuh sebagaimana ditunjukkan oleh aplikasi itu.

Usai solat subuh, saya tidak tahu harus melakukan apa. Maklum anak baru. Saya coba pantau whatsapp. Saya chatting dengan beberapa teman di Indonesia karena memang di Indonesia sudah pagi. Rekan seperjalanan saya yang juga kuliah di kampus yang sama ternyata juga mengalami jetlag sepertinya. Pagi itu dia sudah bangun juga. Kemudian saya bilang kalau saya heran musti solat subuh sepagi itu. Maklum bukan hal yang biasa kita lakukan. Ternyata, menurut dia belum masuk waktu solat subuh. Kagetlah saya! Saya yakin benar saya tidak salah lihat jadwal di aplikasi tadi. Saya memang tidak menaruh curiga kalau bisa saja aplikasi itu salah saat saya melihatnya beberapa waktu yang lalu. Di tempat yang benar-benar baru seperti ini, wajar saja saya kira. Akhirnya saya coba googling lagi untuk mencari waktu solat yang benar. Hasilnya aplikasi saya benar-benar salah! Sial! Lantas saya tadi bagaimana itu sudah solat subuh begitu? Pada akhirnya, saya menunggu waktu solat subuh hingga pukul setengah empat. Ya mau bagaimana lagi, mau tidak mau musti solat lagi. Wong yang tadi belum waktunya solat, berarti solatnya tidak sah, ya to?

3. Bingung di Supermarket
Satu hal yang menjadi prioritas saat tiba di negara baru adalah mendapatkan saluran komunikasi. Sederhananya adalah mendapatkan simcard baru. Beberapa rekan saya sudah membeli simcard baru untuk HP mereka masing-masing. Saya sendiri berencana untuk membeli di supermarket yang beruntungnya ada di dekat kosan saya.

Saya kira tadinya simcard  yang dipakai oleh teman-teman saya lainnya itu ada dimana-mana, termasuk di supermarket. Setidaknya begitulah yang diperkirakan oleh teman-teman saya juga. Kalau di Indonesia ingin membeli simcard ya tinggal pergi ke counter pulsa isi ulang. Oke, mungkin di Belanda tidak seperti itu, tapi cukup masuk akal kalau saya bisa menemukan di supermarket sementara teman saya bisa menemukannya di semacam toko kecil di dekat rumahnya. Nyatanya, saya tidak bisa menemukan simcard di supermarket. Saya coba tanya ke petugas supermarket sayangnya memang tidak ada. Ya sudahlah..pulang saja. But wait..jalan keluar supermarketnya dimana ya? Kenapa hanya bisa lewat melalui kasir. Saya bingung! Saya kan hanya berniat membeli simcard. Kalau tidak jadi beli apa-apa saya keluar lewat mana? Setelah berputar-putar di dalam supermarket tidak jelas, akhirnya saya membeli telur, apel dan susu agar bisa keluar melalui kasir. Besoknya, saat saya tanya teman saya yang sudah lama di sini, kalau tidak jadi membeli apa-apa di supermarket tidak apa-apa melewati jalur kasir. Diperbolehkan! Owalah...

3. Menyalakan Kompor Induksi
Malam-malam saya kelaparan. Meskipun siangnya sudah dijejali kebab, perut saya sepertinya masih mode Indonesia. Jangankan mengharapkan tukang nasi goreng lewat di depan rumah, warung yang jualan macam warteg atau snack apa gitu, tidak ada! Beruntungnya saya siap siaga dengan persediaan indomie yang saya bawa dari Indonesia. Lagipula, saya sudah membeli telur di supermarket. Malam-malam, laper, makan indomie-telor, sempurna!

Sampai di dapur, saya dapati kompornya terlihat sangat modern. Tidak ada kaki-kaki penyangga panci, rata. Di sisi kanan saya lihat berbagai simbol-simbol petunjuk. Rata juga. Semacam indikator mungin, reka saya. Hmm..mungkin akan menyala kalau kompor bisa saya nyalakan. Masalahnya saya tidak tahu bagaimana menyalakannya. Saya mendapati semacam pengontrol yang bisa diputar. Saya putar-putar tidak terjadi apa-apa (besoknya saya baru tahu kalau itu adalah untuk oven). Ah ya..tadi housemate saya sempat bilang kalau ingin memasak jangan lupa menarik penangkap asap. Bisa saja kompor tidak bisa menyala karena saya belum menarik penangkap asap itu. Safety-nya canggih sekali. Setelah saya tarik, saya putar-putar pengontrol yang ada di sisi depan. Masih tidak terjadi apa-apa. Apa benar kompor ini touchscreen? Saya pencet-pencet tanda 'plus',  yang mana sangat logis untuk menaikkan temperatur kompor, juga tidak terjadi apa-apa. Oke saya menyerah! Malam itu saya terpaksa kelaparan. Saya penasaran betul bagaimana cara menyalakan kompor itu. Googling, Youtube, sudah saya coba di internet. Ternyata namanya induction hob, just for your information. Tapi tetap tidak ada yang sama dengan kompor yang ada di kosan saya. Pun lebih banyak saya temui keuntungan memakai kompor ini dibandingkan bagaimana mengoperasikannya. Duhh...

Keesokan harinya,  saya belajar mengoperasikan kompor itu. Diajari oleh housemate saya. Dasar memang ndeso!  Akhirnya saya sarapan indomie-telor plus dendeng. Benar-benar nikmat,nyam nyam..Siangnya saya mencoba memasak lagi menggunakan kompor itu. Lancar! Masih terkagum-kagum dengan kompor yang keren itu. Eh tapi sepertinya ada yang salah. Penangkap asapnya lupa ditarik!

4. Menggunakan Mesin Cuci
Ada satu lagi mesin yang membuat saya khawatir yaitu mesin cuci. Hadehhh..andai saja saya bisa mencuci menggunakan tangan. Masalahanya kamar mandinya tidak mendukung. Kamar mandi kering gitu lho. Setelah direpotkan oleh kecanggihan kompor, saya khawatir dengan kecanggihan mesin cuci. Ini kok ada ya orang malah khawatir dengan alat-alat canggih? Sebenarnya, belum sampai waktunya juga saya mencuci pakaian. Tetap saja kalau tidak tahu caranya ya gimana? Bisa-bisa malah merusakkan mesinnya. Terus malah disuruh ganti. No no no!

Well, saya punya beberapa waktu untuk mencari tahu bagaimana mesin cuci tersebut bekerja. Saya menemukan manual penggunaan mesin cuci suatu kabinet di dekat mesin cuci. Nice! Tapi, tidak sepenuhnya saya pahami cara mengoperasikan mesin tersebut karena tidak ada satupun penjelasan dalam bahasa Inggris. Mana saya ngerti? Jangan pula mengharap ada bahasa Indonesia di manual tersebut. Mimpi! Akhirnya lagi-lagi saya cari di internet manual mesin cuci tersebut. Nah kali ini saya beruntung. Saya berhasil menemukan manual penggunaan mesin cuci tipe tersebut. Hmm..lumayan mengerti sih, tapi tidak dijelaskan peruntukannya ada yang mencuci dua fase, mencuci kilat, mencuci pakaian bayi, apalah semua itu. Yasudahlah..saya mencuci yang kilat saja. Tapi, itu hanya beberapa waktu. Sekarang ini saya lebih memilih untuk mencuci dengan menu daily program. Heuu..


5. Jadwal Membuang sampah
Saya beritahu satu hal, sampah menjadi salah satu urusan yang cukup rumit bagi pendatang baru di Belanda. Kita harus tahu bagaimana memilah-milah sampah. Kita juga harus tahu jadwal pengambilan sampah. Soal pemilahan sampah, saya sudah tahu sedikit sejak sebelum berangkat ke Belanda. Namun, saat saya di Belanda, housemate saya bilang kalau tidak perlu repot-repot dipilah-pilah karena sampah kita hanya sampah rumah tangga. Okay, kalau mau dipilah mungkin kerdus-kerdus atau sampah kertas lainnya bisa dipisahkan. Toh kita hanya punya satu tempat sampah. Saya bingung!

Housemate saya juga bilang kalau jadwal pengambilan sampah adalah setiap hari kamis. Jadi dia berpesan, kalau ada yang melihat sampah saat Rabu malam, tolong ditaruh di pojokan jalan. Suatu hari, teman saya ini sedang pulang ke rumahnya karena memang rumahnya di Belanda. Rabu malam itu saya merasa bertanggung jawab untuk membuang sampah. Di sepanjang jalan tadi saya lihat tempat sampah sudah berjajar. Aduh..bagaimana ini? Masa sampahnya tidak dibuang? Buang sampah saja tidak mudeng? Belum lagi kalau dibiarkan sampai teman saya pulang, bisa-bisa membusuk sampah-sampah tersebut. Jadi, saya bulatkan tekad untuk membuang sampah malam itu.

Semua sampah sudah saya masukkan dalam trashbag besar dan siap dibawa. Sebentar..saya buang trashbag itu ke bak sampah di luar sana? Saya cek beberapa bak sampah yang ada di pojok jalan, penuh semua. Kebanyakan rumput dan dedaunan pula didalamnya. Aneh. Berarti saya tidak bisa membuang di bak sampah itu? Aha! Ternyata masing-masing rumah mengeluarkan bak sampah masing-masing. Pantas saja bak sampahnya memiliki roda. Ternyata agar mudah dipindahkan. Saya bariskan bak sampah saya dalam barisan bak sampah di pinggir jalan. Bak sampah hitam di antara bak sampah hijau.

Keesokan harinya, saya cek bak sampah saya. Masih utuh! Sedangkan bak sampah tetangga-tetangga saya sudah kosong melompong. Gile! Apa yang salah? Apa karena ada sampah yang salah dipisahkan di dalamnya jadi tidak mau diangkut? Lagi-lagi saya mengandalkan internet untuk mencari info. Hmm..sialnya kebanyakan bahasa Belanda. Saya tanya teman saya yang tinggalnya agak jauh dari rumah saya. Di tempatnya, bak sampah berhasil dikosongkan. Pelan-pelan saya mencerna informasi soal sampah dan segala macam jadwalnya. Akhirnya, housemate saya menjelaskan (melalui whatsapp, chat sejak hari sebelumnya) kalau kita salah jadwal. Dia meminta maaf karena salah menjelaskan. Seharusnya setiap hari kamis setiap dua minggu sekali. Pantas saja 'kalender sampah'-nya menunjukkan perulangan setiap dua minggu sekali. Perulangan yang saya tidak mengerti maksudnya apa. Hari itu bukan jadwal membuang sampah rumah tangga melainkan minggu depannya lagi. Bak sampah hitam ternyata berada di tempat yang salah malam tadi. Benar saja, minggu depannya, bak sampah warna hitam berjajar rapi di pinggir jalan. Saya tersenyum. Lucu sih!