Sunday, August 17, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Memperjuangkan IELTS

Pelan-pelan saya mengumpulkan kepingan puzzle untuk meraih mimpi saya, beasiswa kuliah S2 luar negeri. Satu hal yang paling berat perjuangannnya adalah mendapatkan nilai IELTS sesuai batas standar. Sepertinya semua pendaftaran kuliah di luar negeri memberikan persyaratan sertifikasi bahasa. Jadi ya...mau tidak mau saya harus menaklukan hal ini.

Menjadi hal yang sulit bagi saya untuk menaklukan bagian ini karena saya memang bodoh. Haha..oke oke.. Einstein pernah bilang, 'Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid'. Jadi tidak ada orang bodoh ya, kecuali ditempatkan dalam konteks tertentu. Urusan bahasa ini memang saya rada tertinggal. Mungkin karena background saya yang memiliki sedikit pengalaman soal bahasa inggris. Dulu makanan saya setiap hari hanya boso jowo. Tidak pernah tuh terpikir pentingnya pendidikan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya. Jadilah, kali ini saya tahu diri harus berjuang maksimal untuk mendapatkan nilai yang memadai. Nah, keputusan untuk berhenti dari pekerjaan itu juga sebenarnya untuk mempersiapkan hal ini, punya waktu untuk les persiapan IELTS.

Kenapa pula saya memilih IELTS? Awalnya karena ikut-ikutan saja. Ikut teman seperjuangan pencari beasiswa. Padahal saya tidak familiar dengan IELTS. Saya kan minim wawasan. Ketika dibilang lebih mudah IELTS daripada TOEFL ya saya ikut saja. Tapi, ke belakangnya, setelah mulai familiar, saya tidak menyesal  memilih IELTS karena lebih cocok dengan IELTS. Yak..cocok-cocokan! Sebenarnya tergantung orangnya lebih cocok dengan tipikal IELTS atau TOEFL.

Kalau saya sendiri lebih cocok dengan IELTS kurang lebih karena:
1. Listening IELTS itu benar-benar menuliskan apa yang kita dengar. Kalau TOEFL IBT katanya mirip dengan ITP jadi harus mengekstrak isi dari yang didengar untuk memperoleh jawabannya.
2. Waktu tesnya lebih cepat jika dibandingkan dengan TOEFL
3. Nilai IELTS itu round-up. Nilai saya juga begitu, dibulatkan ke atas, hehe..
4. Bagian reading sepertinya lebih mudah dibandingkan reading TOEFL. Tapi saya mendapatkan nilai yang lebih kecil dari yang saya harapkan juga deng :|

Lanjut ke persiapan yang saya lakukan ya..Pasca berhenti dari pekerjaan saya, cepat-cepat saya mendaftar les persiapan IELTS di kampus saya dulu, LBI UI. Seperti yang saya bilang, saya cukup tahu diri untuk tidak belajar sendiri dan langsung mengambil tesnya. Kalau langsung hajar, bisa-bisa mengulang berkali-kali. Kan sayang uangnya,hehe...Saya memilih LBI bukan karena apa-apa melainkan karena biayanya yang paling murah. Lagi-lagi mentok di uang ya? Yaiyalah.. Perjalanan masih jauh dan sudah jadi pengangguran jadinya harus hemat,haha..

Setelah selesai mengikuti les tersebut apakah saya lantas mengambil tesnya? Tidak! Karena saat itu tepat suasana lebaran. Jadi rehat dulu sebentar. Baru setelah itu, saya mulai belajar intensif lagi sendiri sekitar sebulan. Memang tidak langsung mengambil tes karena ilmunya sudah tercecer kemana-mana,haha..Setiap hari saya luangkan waktu untuk belajar soal IELTS meskipun cuma sebentar. Namanya juga pengangguran, punya banyak waktu kosong to? Sampai akhirnya saya putuskan untuk mendaftar tes IELTS di IDP Pondok Indah, berani! bulet!

Setelah tes, saya lemas! Benar-benar hopeless! Saya khawatir part listeningnya hancur berantakan. Percuma kan kalau nilai keseluruhan memenuhi standar tapi salah satu part berada di bawah standar. Harus re-take lagi. Hilang uang lagi. Bisa-bisanya saya blank saat listening di awal-awal. Dan di IELTS tidak bisa 'nembak' jawaban karena jawabannya berupa isian. Pokoknya pulang-pulang galau tidak karuan.

Dan apa pula yang bisa mendinginkan kepala saya? Saya teringat kalau sebentar lagi menjelang hari raya kurban. Saya sampaikan ke Ibu saya kalau saya ingin berkurban lagi tahun itu jika saya lolos IELTS. Saya juga bilang kalau sudah yakin tidak lulus dan mungkin harus re-take tesnya. Kalau sampai lolos, berarti memang kuasa Allah, dan alokasi uang re-take IELTS bisa digunakan untuk berkurban. Yang manapun jalan yang diberikan Allah saya percaya saja. Keduanya in syaa Allah untuk kebaikan juga. Dan akhirnya, uang tersebut digunakan untuk berkurban yang artinya nilai IELTS saya melewati standar walaupun pas-pasan. Bersyukur sekali Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menerima dua kebaikan, mendapatkan IELTS untuk mengejar S2 dan berkurban yang in syaa Allah berpahala. Memang tidak akan dikecewakanlah kalau 'bermain' dengan janji Allah. 

Cukup sudah cerita dramatisnya,haha...berikut ini saya akan sampaikan sedikit tips kalau ingin mengambil IELTS, tentunya hanya berdasarkan pengalaman saya ya..

Sebelum Tes:

1. Pastikan benar-benar sertifikasi bahasa inggris apa yang ingin dipilih, baik IELTS atau TOEFL. Seperti yang saya bilang bahwa tesnya tergantu preference masing-masing orang. Untuk perbandingan keduanya silakan tanya mbah google.

2. Saya sangat merekomendasikan les preparation IELTS. Untuk orang seperti saya yang mble'e bahasa inggris, jelas sangat membantu. Bagi yang bahasa inggrisnya sudah bagus, tetap harus tahu tipikal soal IELTS dan strateginya mengerjakannya. Dan di les persiapan IELTS diajarkan hal ini. Kalau sudah percaya diri sekali, bisa sih hanya belajar dari buku-buku. Ada juga teman saya yang bisa dapat 7,5 tanpa les.

3. Setelah selesai program lesnya, silakan latihan soal lagi. Practice makes perfect kan? Selain itu, dengan latihan bisa mengenal berbagai macam soal dari berbagai topik. Bisa jadi topiknya saat tes nanti adalah salah satu topik yang pernah kita pelajari sebelumnya. Mungkin saja lho.

4. Kalau tidak ingin latihan soal seperti anak-anak yang mempersiapkan ujian nasional, bisa cari bahan latihan yang lain. Untuk reading, bisa baca-baca artikel dalam bahasa inggris dengan topik agak berat. Untuk listening, saya dulu senang sekali mendengarkan TedX. Terlepas sebagai bahan belajar, topik TedX itu bagus-bagus. Atau bisa juga menonton film barat tanpa subtitle. Kalau writing, mau tidak mau harus banyak menulis. Tidak selalu dalam bahasa inggris, dalam bahasa indonesia pun tidak apa-apa. Setidaknya hal itu melatih kita untuk menulis secara sistematis dalam durasi waktu tertentu. Misalnya untuk saya, dalam tulisan saya seringkali menambahkan beberapa hal yang tidak harus ada dalam tulisan karena ingin menuliskan semua-semuanya. Jadi harus belajar memilah yang mana yang penting untuk dituliskan. Kalau speaking, saya termasuk pasrah. Mungkin bisa saja merekam speech kita agar tahu kekurangan kita dimana, apakah di pronounciation atau ketepatan waktunya. Tapi saya sendiri hanya sekali atau dua kali melakukannya. 

5. Terakhir, jangan belajar mendekati hari H! Semenjak H-2 tes saya sudah tidak belajar. Lakukan hal-hal yang menyenangkan. Jangan lupa juga tidur yang cukup malam sebelum tes. Selain mengumpulkan energi, tidur cukup bisa menghindari gugup tes yang diadakan sangat pagi keesokan harinya. 

Pada saat Hari H:
1. Sebelum berangkat jangan lupa minta doa orang tua.
2. Persiapkan mental dengan baik. Sugesti diri dengan hal-hal yang positif. Namun jangan terlalu tegang.
3. Kelengkapan peralatan tes jangan lupa, misalnya alat tulis, identitas, atau jam tangan juga boleh. Saat tes tidak diperkenankan membawa HP. Jadi tidak mungkin untuk melihat jam di HP. Tapi saat saya tes disediakan jam dinding juga di ruangannya. Serius, manajemen waktu itu penting. Apalagi saat writing.
4. Berdoa sebelum tes.
5. Fokus! Terutama di bagian awal-awal listening. Sekali kehilangan fokus langsung buyar semua. Jangan lakukan kesalahan seperti yang saya lakukan.
6. Setiap selesai masing-masing part, dicek lagi semua jawabannya. Perhatikan spellingnya, kapitalisasi, plural-jamak, dsb.
7. Setelah pulang sampai hari pengumuman jangan lupa banyak-banyak berdoa. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain ini. Kalau ingin bernazar seperti saya juga boleh.

Demikianlah pengalaman saya memperjuangkan IELTS. Semoga membantu dan good luck bagi yang ingin tes IELTS. Anyway, ini hanya sebagian tiket untuk kuliah di luar negeri. Silakan berbahagia kalau berhasil melampauinya karena kalau sudah melewati tes bahasa ini sisanya tidak begitu sulit. Tapi musti juga diingat kalau perjalanan masih cukup jauh untuk mendapatkan tiket kuliah luar negeri yang utuh.