Sunday, August 17, 2014

Tiket Beasiswa S2 Luar Negeri: Paspor di Tangan

Prof Rhenald Kasali pernah membuat tulisan tentang membuat paspor dan menjelajah ke luar negeri. Sedikit banyak memberi pengaruh ke saya. Seumur-umur saya belum pernah menjamah "tanah asing" sampai di hari keberangkatan ke Belanda. Bukannya ingin gaya-gayaan atau bagaimana, dulu itu benar-benar ingin sekali memiliki pengalaman nyasar di negeri orang seperti yang disarankan oleh Prof Kasali dalam tulisannya. Mungkin bagi sebagian orang sudah biasa melanglang keluar masuk Indonesia. Kalau saya saat itu masih sekedar mimpi. Tapi sekarang sudah jadi kenyataan sih,hehe..Oiya, kalau ingin membaca artikel tersebut silakan googling. Sudah banyak yang menyalin ulang di berbagai media. Serius artikelnya bagus.

Balik lagi, ceritanya kan sudah membulatkan tekad untuk melanjutkan studi S2, jadi ya mau tidak mau harus membuat paspor karena jadi salah satu persyaratannya. Kalau boleh jujur, waktu itu sebenarnya sempat memanipulasi niatan diri sendiri itu. Bisa saja akhirnya saya pakai jalan-jalan dulu paspor itu tidak seperti tujuan utama saya yang yakni untuk S2. Dan akhirnya, niatan nakal tersebut tidak dikabulkan oleh Allah. Paspor saya hanya sebagai jalan untuk sampai di Belanda,haha..yaiyalah..

Oke.. lanjut cerita sedikit ya tentang membuat paspor. Zaman sekarang ini, yang melek internet, pasti apa-apa maunya online. Beruntungnya, pembuatan paspor juga bisa dilakukan secara online. Tapi tidak sesederhana seperti yang saya harapkan juga sih. Hanya memotong prosedur dari umumnya. Cukup membantu lah ya. Nah, satu lagi, tidak perlu lagilah yang namanya menggunakan calo. Diurus sendiri juga cepat, malah lebih hemat.

Prosedurnya sendiri gampang sekali. Silakan masuk ke web imigrasi.go.id dan ikuti langkah-langkahnya. Kalau sudah diisi formnya dengan benar tinggal datangi kantor imigrasinya dan ikuti prosedur yang ada. Beberapa hari kemudian paspor sudah bisa diambil.

Mohon maaf sekali saya tidak memberikan detilnya. Saya hanya ingin menambahkan beberapa hal yang mungkin tidak disebutkan dalam prosedurnya. Boleh jadi nanti bisa membantu, siapa yang tahu kan?

1. Pemilihan kantor imigrasi itu penting. Dulu saya memilih Kanim Jakarta Selatan daerah Mampang karena lokasi kanim tersebut yang paling familiar dengan saya. Bagi yang mempertanyakan apakah kanim harus sesuai KTP, jawabannya adalah tidak. KTP saya berdomisili di Jawa Tengah dan saya bebas memilih kanim manapun. Tapi, sepertinya saya salah memilih cabang kanim. Masih pagi-pagi sekali tapi kanim tersebut sudah sangat ramai. Mungkin karena lokasinya di pusat kota jadi banyak yang memilih kantor tersebut. Jadi, menurut saya baiknya pilih kanim yang mungkin tidak terlalu ramai. Waktu itu saya sempat mempertimbangkan kanim di daerah Depok. Daerah pinggiran probabilitas ramainya kecil, logikanya begitu.

2. Perhatikan waktu. Saya sangat menyarankan untuk datang pagi-pagi sekali agar dapat menghemat waktu. Dengan datang pagi-pagi, kita bisa mendapatkan antrean paling depan. Selain itu, proses pembuatan paspor termasuk lama, bisa seharian. Sebenarnya ini sudah efek akumulasi, kalau datangnya siang otomatis antrenya belakangan dan semakin menghabiskan waktu.

3. Cek kelengkapan dokumen. Jangan sampai melakukan kesalahan yang saya lakukan! Waktu itu saya hanya membawa copy keseluruhan dokumen. Padahal yang dibutuhkan adalah yang asli. Alhasil, saya harus pulang untuk mengambil kembali dokumen-dokumen saya. Tiga jam saya buang percuma di jalan.

4. Persiapkan uang. Siapkan uang pas agar mempermudah pembayaran paspor. Waktu itu biaya yang saya keluarkan sebesar 255 ribu rupiah. Oiya, jangan lupa juga siapkan uang kecil untuk fotocopy dan membeli materai.

5. Membawa bekal makan/minum bisa dipertimbangkan. Seperti yang saya bilang bahwa saya menghabiskan waktu seharian untuk mengurus paspor. Saat jam makan siang saya sudah malas mencari makan/minum mengingat daerah tersebut daerah perkantoran yang mana saya tidak tahu pasti tempat untuk menjual makanan atau minuman. Sebenarnya, saya juga khawatir kalau sampai melewatkan antrean saya. Andai saja saat itu saya membawa bekal akan lain ceritanya.

6. Siapkan pembunuh waktu. Ya..pembuatan paspor memang harus bersabar menunggu antrean. Siapkan buku untuk dibaca sembari menunggu. Atau powerbank bagi yang ingin menghabiskan waktu dengan mengunakan handphone.

Kurang lebih itulah yang harus diperhatikan kalau ingin membuat paspor. Selamat nyasar!