Tuesday, July 16, 2013

Bermain di Bawah Sinar Bulan - Gobag Sodor (Memori 4)

Ilustrasi gobag sodor (di gambar namanya galasin :D )
gambar diambil dari sini


Lepas waktu isya dan sudah makan malam, menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak kecil seperti kami. Waktu itu sedang musim permainan gobag sodor, permainan yang pemain utamanya adalah anak-anak yang lebih besar sebenarnya, anak kelas lima ke atas lah. Saya dan teman sebaya yang masih kecil ini biasanya hanya jadi pelengkap permainan agar jumlah pemainnya pas. Begitu saja kami sudah senang bukan main walaupun hanya sebagai pelengkap. Kadang, ada yang tidak kebagian untuk main karena pemain besarnya jumlahnya lebih banyak. Lantas hanya jadi penonton dengan beberapa yang lain, yang lebih kecil dari saya tentunya. Itupun sudah sangat memuaskan.

Permainan gobag sodor ini sebenarnya bisa saja dimainkan saat siang hari. Justru sebenarnya lebih mudah kalau siang hari. Garis permainan, orang-orangnya, dan segala macamnya lebih terang. Tapi, sedari dulu, dari cerita-cerita ibu atau mbah saya, sudah lazim dimainkan di malam hari, dibawah pancaran sinar bulan, di tengah jalan, di tengah kampung.

Sinar bulan memang menjadi cahaya utama kami. Kadang saya juga heran kenapa bulan bisa seterang itu menerangi permainan kami di tengah jalan. Sebenarnya ada beberapa bohlam lampu yang ditarik dari rumah tetangga saya. Tapi ini tidak membantu banyak.

Untuk mengawali permainan ini diperlukan arena gobag sodor terlebih dahulu. Diperlukan arena yang cukup luas  agar ideal. Makanya, kami memilih jalan di tengah kampung yang sudah diaspal. Arenanya sendiri berupa persegi panjang yang dibagi menjadi kota-kotak kecil sama luas. Kami biasa membuatnya dengan menggaris jalan aspal tersebut menggunakan batu kapur.

 Pemainnya ada dua tim dengan jumlah pemain masing-masing tim idealnya lima orang. Tapi waktu itu jumlahnya fleksibel saja asalkan imbang pemainnya. Bahkan kalau ingin ramai bisa lebih dari itu. Kan tujuan bermain ingin bersenang-senang, ya kan? Dengan begitu, anak-anak yang kecil seperti saya juga memperoleh kesempatan main. Tapi sepertinya anak-anak yang lebih kecil ini dijadikan umpan saja. Tapi kadang juga yang kecil-kecil ini malah bisa lolos karena lebih lincah.

Permainannya cukup mudah sebenarnya. Dua tim tadi dibagi menjadi tim jaga dan tim penyerang. Misinya adalah tim jaga menghalangi tim penyerang melalui arena bolak balik. Apabila ada seorang tim penyerang berhasil melalui arena dari ujung sampai ujung, kemudian kembali lagi ke ujung awal dia akan menang dan menjadi penyerang lagi. Sebaliknya, untuk menjadi pemenang tim jaga harus berhasil menyentuh seorang tim lawan dengan catatan harus berada di atas garis arena. Tiap-tiap orang yang jaga harus berada di tiap-tiap garis, kecuali seorang sodor yang bisa sangat fleksibel digaris manapun termasuk garis tengah yang membagi arena. Ketika tim jaga berhasil mengalahkan tim penyerang peran pun berganti.

Ada beberapa hal unik yang membuat permainan sangat seru. Saat memasuki arena di garis awal, anggota tim penyerang harus berteriak "ndum!!" . Ini juga sebagai tanda kalau permainan sudah dimulai. Saat mulai ini, tentu tim jaga 'mempersilakan' tim penyerang untuk melewati garis. Untuk melewati garis-garis berikutnya, diperlukan kerja sama tim penyerang untuk mengecoh tim jaga. Ketika tim jaga cukup lengah, rekan yang lain tentu akan mampu melewatinya. Sebaliknya, ketika terlalu sibuk mengecoh, bisa saja sodor yang bergerak leluasa di garis manapun bisa diam-diam menyelinap dan menyentuhnya. Sebagai tanda telah mencapai ujung, tim penyerang harus berseru "siinn!!" sembari melewatkan kaki di garis ujung. Berhubung di garis ujung juga ada yang menjaga, 'sin' dapat diperoleh dengan cara beradu dengan tim jaga. Bisa adu tangan, adu kaki, atau apapun. Walaupun bersentuhan, dalam kasus ini tim penyerang tidak akan kalah karena keduanya melakukannya intentionally dan secara bersamaan. Ketika salah satu berhasil menyentuh lebih dulu maka dia akan mendapatkan 'sin' bagi tim penyerang atau mendapatkan kemenangan bagi tim jaga. Disinilah salah satu hal yang sangat seru karena kita harus benar-benar tangkas, kuat dan memiliki strategi. Apabila tim penyerang mendapatkan 'sin' mereka belum menang. Mereka harus mendapatkan 'ndum' kembali dengan cara kembali ke ujung awal. Tim jaga juga masih memiliki kesempatan untuk menang dengan mencegat tim yang akan 'ndum'. Jika berhasil melewati garis ujung awal sambil meneriakkan "nduumm!!", tim penyerang akan menang dan akan menjadi tim penyerang lagi. Tapi masih ada satu hal yang bisa membuat tim penyerang kalah walaupun sudah memperoleh 'ndum'. Yakni ketika masih ada tim yang berusaha mendapatkan 'sin' kemudian memperolehnya. Hal ini bisa saja terjadi ketika tim yang hendak mengambil 'sin' terlalu berkonsentrasi sehingga tidak aware dengan sekitarnya. Itulah mengapa yang mendapatkan 'ndum' berteriak sebagai tanda untuk teman-temannya bahwa mereka telah memenangkan permainan. Hal ini juga bisa dijadikan strategi tim jaga yang menjaga 'sin' untuk berpura-pura bahwa dia belum kalah bahkan memancing tim penyerang untuk memperoleh 'sin'.

Permainan ini memang simpel tapi tidak semudah itu dimainkan. Perlu ketangkasan, kelincahan dan kecerdikan bahkan kekuatan untuk memainkannya. Usai bermain pun biasanya kami mandi keringat karena memang permainannya menguras tenaga. Sudah begitu, pasti nanti tidurnya pulas.

Senang memiliki pengalaman permainan masa kecil seperti itu. Tidak seperti anak-anak sekarang yang kurang bergerak dan banyak yang tertuju ke alat-alat permainan digital. Ternyata, permainan ini tidak hanya dikenal di tanah jawa tetapi juga di tempat lain di Indonesia dengan nama bermacam-macam seperti galasin atau galah asin atau yang lain sebagainya. Tapi, pasti jarang yang melakukannya di malam hari seperti yang kami lakukan :p