Monday, January 4, 2016

Sarapan Wajib: Sego Goreng (Memori 7)

Masih dalam euforia pergantian tahun, banyak sekali hal yang ingin dituliskan. Kalau orang-orang ingin menuliskan resolusi-resolusinya untuk setahun ke depan, hmm..hal demikian itu pula yang bergentayangan di kepala saya. Tidak cuma itu, ada hal-hal yang mau saya syukuri betul sepeninggal tahun lalu. Ada hal-hal yang sedikit agak serius yang ingin saya abadikan. Ada banyak acara jalan-jalan  yang mustinya saya catat sebagai pengingat. Ahh..tapi agaknya keinginan tangan dan kehendak benak cenderung memilih topik ringan. Mengajak kembali ke masa lalu yang jelas tidak ada kaitannya dengan momen tahun baru ini.

Beberapa saat yang lalu, pikiran saya dibanjiri memori ritual pagi sebelum berangkat sekolah, sarapan. Kalau orang jaman sekarang, yang tahu gaya hidup sehat, ya tidak mau melewati aktivitas satu ini. Banyak sekali pakar-pakar kesehatan  yang menganjurkan betul untuk sarapan. Kedua embah saya pun mewanti-wanti  betul kalau sebelum berangkat sekolah harus sarapan. Saya toh manut saja, bukan karena sadar buat hidup sehat, tapi karena takut diomelin saja. Ya masa pagi-pagi memulai aktivitas dengan tensi tinggi. Tapi pas tahu khasiat sarapan pagi, saya jadi berpikir "behh..mantep juga didikan mbah saya dulu".

Nah tapi...agak-agak rancu juga apakah sarapan yang saya konsumsi selama 9 tahun lamanya ini menyehatkan atau tidak. Ya kurang lebih selama itulah, dari SD sampai SMP. Dari senin sampai minggu. Iya..tujuh hari seminggu. Paling cuma bolong sekali-sekali. Mungkin paling sering bolongnya ya pas SMP. Dan dari tadi belum disebut sarapan saya. Sarapan yang saya maksud, yang wajib hampir ada setiap pagi, adalah sego goreng  alias nasi goreng. 

Ya gimana ya..sarapan ini memang termasuk yang paling gampang disajikan di pagi hari. Tinggal pakai nasi sisa kemarin, berbumbu garam, bawang, dan cabai pun jadi. Nah, tidak lupa minyak dan moto (alias vetsin) yang banyak yang bikin enak. Minyaknya minyak jelantah pula. Tahu kan kenapa diragukan akan kesehatannya? :D Tanpa kecap tanpa telur. Kecap dan telur tuh barang mahal. Wong saya baru sering makan nasi goreng dengan kecap dan telur itu ya pas sudah keluar dari kampung, saat saya SMA berarti. Ya sudahlah, perut anak kampung itu yang penting kenyangnya, kesehatan nomor dua. Yang penting tidak lemes saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Satu hal yang menarik lagi. Ini soal vetsin. Berita bahwa vetsin membuat bodoh juga sampai di telinga kami yang meskipun tinggal di dusun. Saat saya komplain ke Simbok  (Mbah Putri) saya, beliau nyeletuk , "Halah... itu lho mbak Dwi (tetangga dan saudara jauh) juga dikasih makan moto tapi masih saja tetep pinter!" (Dalam bahasa jawa). Saya ya diam saja, karena memang begitu kenyataannya, si mbak Dwi itu pinter. Sekarang pun saya pecinta Indomie, ya sudah lah ya. Hidup micin!!

Agaknya menu wajib ini bukan hanya tradisi keluarga, tapi tradisi satu kampung. Sarapan teman-teman sebaya saya pun juga itu, sego goreng. Paling-paling kalau mau dimodifikasi cuma ditambahi topping (ceilee topping). Tambahannya kalau tidak karak (kerupuk beras yang dibuat dari boraks) ya cengkaruk (nasi aking yang digoreng). Lagi-lagi ini dimana sehatnya ya? Tenang saja, belum juga ada kecap dan telur yang sedikit menambah gizi kok. Jadi ya kalau ke sesama teman, tidak ada iri-irian atau topik perbincangan "sarapanmu apa hari ini?" atau " wahh..sarapanmu enak ya?". Nope! Wong ya podho kabeh .:D

Tapi kita bahagia-bahagia saja. Sepertinya yaa..Saya sih bahagia mengingatnya. Apalagi kalau buru-buru berangkat ke sekolah karena tidak sempat sarapan di rumah. Petik dulu daun jati di sekitar rumah, dibuat pincuk, kemudian di taruh nasi goreng itu di atasnya. Untuk sendoknya, karena tidak mau muluk khawatir nanti tangannya kotor, kita buat sendoknya dari daun pisang. Praktis, nasi goreng pincuk itu tadi jadi teman perjalanan ke sekolah. Dan ini enak! Aroma daun jati dan daun pisangnya menambah kenikmatan nasi goreng itu. Ini sih yang saya bayangkan sekarang lho ya. Dulu sih biasa saja.

Nasi goreng kami sedikit naik kelas kalau bulan suro  (muharram). Hampir setiap malam ada kondangan  (kenduri) yang mana ada berkat dengan lauk ayam, sambel goreng kentang, dan srundeng kelapa. Nah berkat ini lah yang jadi bahan nasi goreng keesokan paginya. Kan jarang-jarang kami makan berlauk ayam. Itu pun ayam cuma secuil, tidak sampai satu potong paha bawah atau dada. Bayangkan saja, satu ekor ayam kampung, biasanya jago, dibagi sekitar 30an orang yang hadir di kondangan. Perlu dicatat pula, yang punya hajat harus disisakan agak banyak. Yaah..agak-agak beruntung kalau dalam satu malam bisa kondangan ke beberapa tempat. Kondangan ini berdasarkan weton (hari lahir). Jadi kan bisa dapat lebih banyak berkat kalau ada orang yang weton-nya sama. Paling beruntung lagi kalau kondangan-nya di rumah sendiri. Saat memperingati weton mbah kakung. Ayamnya bisa jadi stok buat besok-besoknya lagi :D

Dan mengingat kenangan ini, memang membuat bahagia. Mungkin kalau pulang nanti saya minta dibuatkan sego goreng lagi sama Simbok. Semoga beliau selalu diberi kesehatan. Untuk mbah kakung yang sudah di jauh di sana, salam cinta sebanyak-banyaknya dari cucumu ya mbah! #kemudianmewek :")