Sunday, February 7, 2016

25-15

Bahkan sekalipun saya tidak menunggunya, hari ini akan datang juga.
Begitulah pikir saya, menjelang pergantian usia saya yang ke-25. Semacam ritual, walau tidak mesti dan harus, pikiran saya biasanya akan terlempar jauh ke belakang. Merenungi hal-hal apa saja yang telah saya lakukan. Untuk kemudian menghayati hikmah apa yang seharusnya bisa saya ambil. Tapi betul, ini bukan hal yang harus dilakukan. Apalagi untuk orang lain, bagi diri saya sendiri saja sepertinya memang diri dan kepala ini saja yang entah kenapa bekerja dengan sendirinya. Mengais-ngais wawasan dan pemahaman. Sepertinya memang, rasanya sedikit memaksa diri. Tapi, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, harus benar-benar belajar dari kehidupan bukan?


Merenung jauh ke belakang, tentu saya bersyukur atas apa yang Allah berikan hingga hari ini. Kehidupan ini, memang kita tidak pernah tahu akan berjalan seperti apa. Tapi, dalam perjalanan hidup saya selama 25 tahun ini, semakin hari semakin diyakinkan bahwa memang segala hal paling baik itu memang Allah berikan kepada saya. Meski harus melalui cobaan, kesedihan, kemarahan, bahkan keputusasaan. Pada suatu titik tapi memang begitulah kehidupan. Layaknya orang tua kita, tidak melulu kita diberikan makan enak dan sehat setiap hari, tempat tinggal nyaman dan aman, serta pendidikan yang baik, tetapi ada juga batasan, larangan, marah, dan sebagainya. Untuk apa? Tentu untuk kebaikan kita sendiri. Dan Allah, melakukan hal yang sama dengan tingkat yang jauh lebih tinggi.



Menarik mundur kehidupan menjadi hitungan usia, 25, melontarkan saya ke masa depan. Mungkin sering kita dengar, bahwa usia 40 tahunan adalah usia emas kita. Titik kejayaan dalam kehidupan kita. Saya teringat semacam kutipan tahun lalu, entah dimana, "Ketika kita berpikir 2030 itu masih jauh, coba lihat ke belakang. Seperti baru kemarin kita merayakan milenium baru. 15 tahun yang lalu." Lihat kan? Inilah yang mementalkan pikiran saya ke masa depan. Selama 25 tahun ini, saya rasa saya menjalaninya terhitung cepat, terlampau cepat tidak terasa, bagaimana kalau hanya 15 tahun? Lagi-lagi disadarkan bahwa hidup ini hanya sebentar sekali. Akan menjadi apa kita nanti, itu tergantung diri kita sendiri. Renungan kemudian menjadi seputar apa yang sudah dan akan persiapkan untuk itu. Untuk menjadi pribadi baik yang bermanfaat tapi tetap bahagia atas setiap waktu yang dijalani. Terdengar sangat manis. Tapi tentu tidak mudah. Setidaknya pikir saya. Sampai akhirnya saya dapati kutipan menarik

I'm admittedly a little anxious about what the future holds. But I am unafraid! ~Jake Welch, 2016
Tidak serta merta kekhawatiran ini hilang. Dan tidak harus pula rasa khawatir ini hilang. Selamat datang usia baru. Salam untuk kehidupan yang akan datang. Mari berdamai dan bekerja sama. Untuk kehidupan kita dan siapapun yang kita cintai. Itulah kemenangan kita bersama. Nantinya. Pada akhirnya.