Saturday, February 27, 2016

Apakah Kita Mencari Kebahagiaan?

Pernah sekali waktu, dalam perbincangan dengan kawan-kawan dekat saya, seorang teman berujar bahwa cita-cita dalam kehidupannya kelak adalah kehidupan yang bahagia. Sesederhana itu. Waktu itu, entah apa yang membawa kami kepada perbincangan semacam itu. Menjadi salah satu bahasan yang agak berat di saat kita sedang senang-senangnya menikmati masa muda.

Mengenai hal itu, saya sendiri tidak yakin apakah kawan saya ini telah mendapati kedalaman pemikiran bahwa tidak ada pencapaian yang lebih tinggi melainkan kebahagiaan dalam hidup. Atau memang karena masih di usia muda kami, yang belum tahu menentukan arah kehidupan, memang cenderung memilih jawaban sederhana. Saat itu sebagian yang lain dari kami menginginkan "ini" dan "itu" untuk dicapai di kehidupan mendatang. Goal akhirnya tetap pada kebahagiaan memang. Yang mana, bisa disimpulkan bahwa kebahagiaan ini adalah kebahagiaan yang tercipta lantaran pencapaian-pencapaian yang telah diinginkan itu tadi.

Topik mengenai kebahagiaan memang menjadi salah satu hal yang tak pernah habis untuk dibahas, digali dan dicoba untuk dicerna oleh siapapun. Untuk usia semuda itu tadi contohnya, kita mengkategorikan hal-hal yang terjadi pada diri kita sebagai kebahagiaan (hal yang membahagiakan) atau sebaliknya, bukan kebahagiaan. Demikian seterusnya, definisi kebahagiaan menjadi sangat relatif seiring berjalannya waktu dan perkembangan pola pikir. Serta, bersifat personal, tidak ada sangkut pautnya antara definisi kebahagiaan orang satu dengan yang lainnya. Seharusnya.

Kebahagiaan Sebagai Cita-Cita
Seiring berjalannya waktu, saya cenderung menyetujui penyataan teman yang saya sebutkan sebelumnya tadi. Lagi saya ulangi, bahwa saat sampai kepada hal-hal yang ingin kita raih, saat itulah kita dapati kebahagiaan. Berarti, apapun dan seberapa banyak yang kita punya, pada prinsipnya kita ingin bahagia karena hal yang diinginkan.
Relativitas kebahagiaan menjadi valid dalam konsep kebahagiaan sebagai cita-cita. Maksud saya, yang relatif itu adalah cita-citanya. Tiap-tiap orang menentukan menentukan cita-citanya masing-masing. Bisa jadi cita-cita merupakan sesuatu yang unik atau bisa juga memiliki kesamaan antara satu orang dengan orang lainnya. Misalnya, ada yang cita-citanya menjadi orang kaya, ada yang ingin sekolah setinggi-tingginya dan berbagai macam lainnya. Yang pasti, cita-cita, atau bahasa lebih sederhananya adalah keinginan, pasti dimiliki oleh setiap orang. Dan saat hal ini terwujud, disitulah kebahagiaan itu ditemui.

Namun kemudian, kebahagiaan itu bukan tentang pertemuan antara keinginan dengan apa yang pada akhirnya terjadi. Seringkali kita dengar bahwa orang mengejar cita-cita yang diinginkannya. Orang bekerja keras untuk mewujudkan apa yang diinginkannya itu. Dari sini kita bisa melihat bahwa pada akhirnya kitalah yang berusaha menciptakan kebahagiaan itu. Bukan lagi mencari. Usaha kita meraih hal yang kita inginkan itu pada dasarnya merupakan usaha kita untuk mewujudkan kebahagiaan kita. Kemudian pada akhirnya, sudut pandang kita bergeser, dari yang tadinya mencari menjadi mencipta. Dari yang tadinya sumber kebahagiaan itu secara total dari eksternal, menjadi tentang apa yang diusahakan, dari dalam diri, atas keinginan-keinginan  kita. Sampai sini, pandangan akan kebahagiaan telah berubah. Untuk kemudian, konsep kebahagiaan ini tetap bergerak seiring berjalannya waktu dalam pikiran mengikuti perkembangan waktu kehidupan saya.

Kebahagiaan Tidak Melulu Tentang Diri Sendiri
Menyadari bahwa sisi internal memiliki pengaruh dalam penciptaan kebahagiaan, pikiran saya mencoba mendalami tentang apa yang akhirnya bisa kita lakukan lebih jauh dari diri kita untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Awalnya, fokus saya adalah mewujudkan keinginan-keinginan, yang sifatnya pribadi, dalam rangka meraih kebahagiaan untuk diri saya. Lantas saya berpikir, apa memang si "kebahagiaan" ini hanya tentang kehidupan saya sendiri.

Mencoba menelaah lagi, bahwa kadang kita memasukkan orang-orang yang kita sayangi menikmati kebahagiaan bersama kita. Menjadi bagian dari cita-cita kita. Akhirnya, kebahagiaan itu tidak hanya tentang diri kita. Tetapi juga bisa ada keterlibatan orang lain, orang-orang yang kita pilih atas dasar apapun.

Sementara pada awalnya penciptaan kebahagiaan dapat dilakukan mengusahakan penuh atas apa yang diinginkan, lantas kenapa tidak mendefinisikan hal-hal yang kita inginkan dengan lebih bijaksana. Kita punya kendali penuh atas pemikiran kita, keinginan-keinginan kita. Bisa saja yang kita mengubah level kebahagiaan kita dari yang memiliki rumah mewah dan mobil bagus, menjadi rumah sederhana saja dan diantar angkutan umum saja kemana-mana. Dengan menurunkan level keinginannya itu, tentu kebahagiaan akan lebih mudah dicapai, bukan?

Lalu, kombinasi antara keterlibatan orang lain serta kendali atas pemikiran kita, bermuara pada membuat orang lain bahagia agar kemudian kita turut berbahagia. Mungkin pernah kita dengar kutipan 
"Bahagia itu ketika kita mampu membuat orang lain berbahagia"
Kedua perpaduan tadi berbuah pada menurunkan level bahagia pribadi dan memperpanjang jangkauan keterlibatan orang lain dalam definisi kebahagiaan kita. Kalau pada awalnya semua-semuanya tentang diri kita, misalnya mau menjadi kaya atau ingin bergaya hidup mewah, level itu bisa diturunkan menjadi hidup yang berkecukupan saja. Tidak perlu lagi harus mengikuti gaya hidup yang kalau dituruti tidak akan ada habisnya. Di sisi lain, orang-orang yang masuk dalam "lingkaran" kebahagiaan kita, orang-orang yang kita cintai, kemudian diperluas lagi. Kalau tadinya hanya bahagia apabila keinginan diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai terwujud, kemudian coba untuk mewujudkan keinginan orang-orang di luar sana. Kalau keberatan, ingat kembali bahwa kendali definisi kebahagiaan berada penuh di kepala kita. Jadi ini soal sudut pandang. Bagi yang sudah meresapi hal ini lebih dalam, inilah yang orang-orang bilang tentang kemanusiaan. Ketika mengkompromikan banyak ego diri tapi berdiri teguh demi kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan atas apa yang bisa kita kerjakan untuk mereka, saya rasa itulah kemanusiaan sesungguhnya. Dan percayalah, saat mampu membantu orang lain yang membutuhkan, kebahagiaan itu memang betul akan muncul. Sampai di sini, kebahagiaan ini bukan lagi tentang diri kita saja.  Tetapi kenyataannya kita masih bisa mendapatkan kebahagiaan atas hal yang kita lakukan demi kebahagiaan orang lain. Atau memang, definisi kebahagian kita sudah berubah? Kalaupun iya, biarkanlah tetap seperti itu saja. Kalau hidup kita sudah bahagia, begitu pula kebahagiaan orang lain terwujud, bukankah itu lebih dari sebuah kemenangan?

Menjadi Bahagia Atas Apapun Yang Terjadi Pada Diri
Mengusahakan sekuat apapun demi meraih kebahagiaan masih memiliki celah bagi diri kita untuk merasa tidak bahagia. Diri kita masih rentan akan kesedihan, kekecewaan, atau keputusasaan di saat usaha kita tak kunjung mencapai kepada hal yang kita inginkan. Saya bukannya tidak memperbolehkan perasaan yang sebutkan tadi terjadi pada diri kita. Kalau menurut saya boleh-boleh saja karena itu hal yang manusiawi. Yang dikhawatirkan adalah ketika hal-hal tersebut tadi terlalu lama terjadi pada diri kita yang berujung pada kurangnya produktivitas atau berujung kepada stres atau depresi. Tentu saja hal itu harus diantisipasi.
Lantas saya pun menyadari, bahwasanya:
"Ini adalah tentang merasa bahagia dalam kondisi apapun yang kita hadapi"
Kehidupan memang begini adanya, tidak selalu yang baik-baik saja kita terima. Hal baik dan hal buruk sudah jadi satu paket keniscayaan. Menciptakan konsep kebahagiaan yang satu ini memang yang paling sulit. Saya pun menyadari ini sebagai konsep kebahagiaan yang paling sulit untuk direalisasikan. Semacam konsep kebahagiaan yang paling tinggi. Boleh jadi kita bisa bahagia lantaran menemukan hal-hal baik, yang kita inginkan tentunya, secara tidak terduga. Atau, barangkali kebahagiaan dapat kita raih seketika kita mewujudkan keinginan kita dengan usaha yang sungguh-sungguh. Namun seringkali, kita tidak siap apabila hal-hal yang kita takutkan justru menjadi kenyataan. Kondisi psikologi kita menanggapi tekanan tersebut dengan kurang baik. Kalau sampai masuk ke pusaran ini, lantas segala hal yang baik, dilupakan sudah. Padahal sudah seharusnya kita menarik keluar dari pikiran-pikiran tersebut.

Sekali lagi, konsep ketiga ini adalah titik paling sulit dalam memahami kebahagiaan. Saya sadari betul bahwa ini akan menjadi hal yang harus saya pelajari dari hari ke hari. Untuk itu, ada beberapa catatan sebagai pengingat untuk mencapai konsep ketiga ini. Pertama adalah tentang penerimaan. Menerima segala macam kondisi yang terjadi dalam hidup, bahwa ini semua terjadi karena kehendak-Nya, merupakan langkah pertama yang harus diambil ketika menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika paham bahwa semua ini memang ditakdirkan untuk terjadi, pikiran kita akan sedikit lebih lunak atas permasalahan itu. Yang kedua adalah mensyukuri segala hal yang terjadi. Tidak hanya menerima, tetapi sadar betul bahwa tidak hanya hal baik yang musti disyukuri melainkan hal buruk juga. Banyak sekali yang menyampaikan bahwa syukur adalah kunci kebahagiaan. Tapi tidak mudah memang untuk senantiasa bersyukur sekalipun memahami kaitan antara syukur dan kebahagiaan. Melihat kembali hal-hal yang sudah diraih, hal-hal baik yang didapatkan, juga membantu mengingatkan bahwa adakalanya hidup tidak melulu tentang masalah. Hidup juga tentang hal-hal baik yang terjadi. Kita pun bisa ingat bahwa diri kita kuat menghadapi masalah yang ada sampai akhirnya tiba di kebaikan yang terjadi sesudahnya. Yang terakhir, bahwa apapun itu bisa menjadi pelajaran bagi hidup kita. Segala hal yang terjadi harus dijadikan pelajaran penting. Hal-hal baik musti diingat, begitu pula hal-hal yang kurang baik. Sehingga ke  depannya, kita dapat menggunakan pelajaran tersebut sebagai formula untuk meraih kebahagiaan-kebahagiaan kita. "Apapun yang terjadi pasti ada hikmahnya", demikian kata kebanyakan orang. Dan betul, jika pikiran kita paham untuk bisa menarik pelajaran atas apa yang terjadi, rasa takut akan hal-hal yang tidak diinginkan akan berkurang.

Ketiga konsep ini tidak harus berjalan masing-masing. Ketiganya harus dimaknai dalam setiap kejadian yang ada dalam hidup. Kita harus tetap bahagia dengan apa yang sudah didapatkan. Kita juga harus merasa bahagia dengan berbagi atas apa yang kita punya. Kita pun juga harus menikmati rasa bahagia dalam kondisi apapun, termasuk pada kondisi yang menurut kita tidak baik sekalipun.

Berbicara tentang kebahagiaan, semua orang pada akhirnya merumuskan dengan caranya masing-masing. Terutama sekali untuk poin yang ketiga, tanpa harus mengesampingkan kedua poin sebelumnya. Semoga kita selalu bahagia apapun keadaan diri kita. Bukan hanya dalam kata tetapi diresapi dalam pikiran dan jiwa.