Monday, January 12, 2015

Tembang Tidur (Memori 5)


Kepala saya sudah rada pening ditambah mata yang mulai berat. Tapi tak juga saya terlelap. Lalu apa yang didapati saat berjuang untuk tidur? Justru pikiran kita entah kemana kan?


 Kali ini kepala saya memilih menyelami masa lalu. Sial..lagu di playlist hp ini tak mempan menjadi pengantar tidur. Sebaliknya justru mengingatkan saya akan tembang2 yang dilantunkan alm. mbah kakung dulu. Jangan ditanya saya umur berapa saat itu. Tidak ada yang saya ingat kecuali alunan tembang merdu dari suara berat mbah kakung saya. Bahkan perkataannya juga tidak bisa saya tangkap. Dan ya..tentu hangatnya tubuh simbah karena saya sedang dalam gendongannya. Di gendong sembari melakukan hal lainnya seperti menyapu,mengasah sabit atau berkutat dengan tungku. Saya tidak yakin benar,tapi itu memang waktu2 yang lazim digunakan untuk bekerja. Ah..kehidupan kampung kan memang bekerja terus menerus dari sebelum matahari terbit sampai matahari hampir tenggelam.


Tapi ya itu..mbah kakung masih meninabobokan saya dengan telaten. Dengan tembang-tembang jawanya. Mungkin logikanya saya rewel lantaran tidak nyaman disambi melakukan hal lain lain.


Tapi saya coba ingat-ingat memang sedikit saya dapati memori momen-momen menjelang tidur itu. Nyaman sekali. Dengan mata terpejam saya nikmati betul tembang simbah, hangat dari panas tubuh simbah, gerakan hati2 simbah saat nyambi hal lain-lainnya. Rasa nyaman itu kembali ke ingatan saya saat ini. Cuma itu. Tapi itu membahagiakan.


Sayang tak satupun akhirnya saya tahu tembang apa yang dinyanyikan simbah dulu. Tidak pernah juga saya tanyakan. Bodohnya. Sekalipun tahu, tak mudah menyanyikan tembang jawa to? Kalau bisa,tentu saya kan nembang untuk anak saya atau cucu saya kelak. Andai saja simbah bisa melakukan juga untuk anak saya nanti. Ahh..beliau sudah bahagia di sana.


Kemudian saya ingat cara simbah tersenyum. Cukup tok! Hari sudah semakin pagi.


Eindhoven 110115. Dini hari.