Sunday, January 11, 2015

Weekend Short Getaway: Kota Kecil Brugge yang Cantik


Ini adalah salah satu spot ikonik Brugge. Memang cantik sekali apalagi di malam hari.

Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di luar tanah Belanda-rumah sementara saya-. Walaupun menahan-nahan diri, agar belajar keras selama kuliah, namun jiwa petualang saya berontak. Awal desember waktu itu memang lumayan suram lantaran shocked pasca ujian. Yaa...mau bagaimana lagilah ini. Yang lalu biarkan berlalu dulu. Antara memang dasarnya tidak bisa diam, stress setelah ujian, butuh suasana baru, tapi juga dengan sedikit rasa berdosa, saya mengiyakan ajakan "lari dari kenyataan" untuk sementara waktu. Brugge! Kota yang jadi tujuan pelarian.

Saat menuju Brugge, hilang sudah rasa berdosa yang tadi itu. Awalnya masih yaa...konflik batinlah. Apakah ini pilihan yang bijak. Tapi itu langsung tergantikan saat saya sudah berganti posisi di wilayah negara berbeda. Pikiran saya sepenuhnya fokus pada perjalanan saat itu. Yak, saya memang berangkat sendiri sampai kemudian nantinya bertemu dengan dua rekan saya di salah satu stasiun. Begitu rencananya.

Saya memang selalu antusias untuk suatu hal yang pertama bagi saya, dalam hal ini keluar negeri sendiri dengan berbagai hal berbeda sekalipun hal itu menegangkan, mengkhawatirkan, tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Ya semacam itulah pokoknya. Tempat berbeda, orang-orang berbeda, bahasa berbeda. Tidak mudah bagi saya, yang dulu kalau di Indonesia sana dengan mudahnya saya lakukan saat traveling, bertanya kepada siapapun. Namun tidak untuk saat itu. Sulit sekali mempermudah diri saya seperti itu. Saya hampir tertinggal kereta lantaran jadwal yang tidak sesuai. Karena hal yang sama teman saya jadinya tertinggal kereta. Saya tidak membekali diri saya dengan pengetahuan destinasi perjalanan saat itu. Okay..saya harus bertanya!

Dang! Orang yang saya tanyakan tidak dapat berbahasa inggris dengan baik. Dia tidak yakin juga kereta itu menuju Brugge atau tidak. Sedikit keyakinan muncul saat dia, dengan baiknya, mau mengecek jadwalnya via internet. Tapi tetep..masih keringat dingin. Kalau bisa sampai tempat tujuan dengan selamat juga sudah bersyukur. Nah tapi...segala-gala info dan penginapan ada di teman saya yang nasibnya tidak tahu seperti apa.

Kita menyerah pada tarif telfon roaming sehingga dapat menghubungi satu sama lain. Berita baik saya dapatkan ketika teman saya ini bisa naik kereta berikutnya. Okay..tinggal memasang mata di tiap-tiap stasiun pemberhentian saja selanjutnya. Perasaan lega seketika saya dapati ketika memang benar kereta tersebut berhenti di stasiun Brugge. Tugas berikutnya, menunggu teman saya.

Sekalinya berkumpul dengan teman-teman seperjalanan saya, kita langsung menuju hostel. Jangan harap ber-google maps ria, masih tidak rela roaming internet. Patokan kita cuma peta yang ada di pinggir jalan. Sebelum saya lanjutkan, setelah beberapa kali traveling di beberapa kota di Eropa, peta seringkali mudah dijumpai. Jadi kalau-kalau kurang persiapan, segera cari saja peta di pinggi jalan. Tentunya harus punya intuisi navigasi yang bagus. Lanjut. Selamat sampai di hostel kita cuma menaruh tas dan tidak lupa meminta peta. Langsung hajar malam itu juga untuk menjelajahi Kota Brugge.

Di bawah hujan rintik-rintik dan cuaca memasuki musim dingin, kami menyusuri jalan-jalan sepi di Brugge. Sempat juga makan waffle yang menjadi ciri khas negara Belgia. Satu-satu interesting point yang ada di peta kita datangi. Kalau malam yang menarik memang bangunan-bangunan klasik dengan pencahayaan sedemikian rupa sehingga terlihat makin menarik. Dan jalan-jalan malam ini wajib dilakukan kalau ke Brugge karena kalau siang sudah ramai saja, yang buat saya pribadi tidak begitu menyukainya.

Hari semakin malam dan kita kelaparan. Walaupun berniat pulang saja ke hostel tanpa keyakinan menemukan makanan, beruntung sekali masih ada makanan halal yang buka malam itu. Tepat di depan hostel! Alhamdulillah... Untuk hostel sendiri, kita menginap di De Snuffel. Tempat makannya di depan situ kalau ada yang ingin mencari referensi. Soal hostelnya sendiri, ya lumayanlah untuk ukuran dorm hostel.

Esok harinya, seharian penuh kami jelajahi Brugge. Daya tarik bangunan-bangunannya makin cantik saat siang hari. Dan beruntungnya kotanya tidak terlalu besar. Kami hanya mengandalkan kaki saja. Eh akhirnya naik bus juga saat dari titik terakhir menuju stasiun. Keberuntungan datang lagi kepada kami karena hari itu busnya gratis. Sedikit menyesal sih, kenapa tidak menggunakan bus dari tadi, haha. Ah ya, peta dari hostel itu membantu sekali. Di peta itu sudah ditandai titik-titik yang musti dikunjungi. Hal lucu yang kami sadari adalah tempat bertanda lambang hati lebih menarik daripada tempat bertanda kemera. Yak, lambang hati itu kalau di legenda peta diartikan "kissing spot". Haha..

Nah yang berikutnya ini beberapa foto-foto yang sempat kita abadikan.
Bangunan ini ada di tengah-tengah Kota Brugge.


Menara ini menjadi simbol dan bisa jadi acuan juga karena kemana pun kita berjalan menara ini mudah sekali terlihat

Saya sempat mengambil foto panorama suatu taman yang indah.

Tempat ini dinamakan Lake of Love

Ada lagi danau yang memiliki pemnadangan yang sangat cantik. Kita harus di atas sebuah jembatan yang melintasi danau tersebut untuk mendapatkan pemandangan ini.

Di Brugge terdapat gerbang-gerbang di setiap sisinya. Gerbang yang satu ini konon terdapat tengkorak yang digantung. Tapi saat kita ke sana, tidak juga kami dapati tengkorak itu. Bahkan warga setempat pun tidak begitu tahu. Atau lebih tepatnya saat itu tidak bisa menjelaskan dengan baik dengan bahasa inggris
Di Brugge ada molen alias wind mill juga. Cukup jauh untuk mencapai tempat ini yang berada di sisi timur laut. Lokasinya tepat di sisi sungai.

Gambaran perumahan di Brugge.

Tipikal perumahan di Brugge lagi.
Satu hal menarik yang kita lakukan di hostel adalah menempelkan mata uang rupiah di dinding hostel tersebut. Disana sudah puluhan mata uang dari berbagai penjuru dunia juga ditempelkan.
Tim Penjelajah Kota Brugge. Photo by Tania