Thursday, May 18, 2017

Kebimbangan Karir

Saya ingat dulu itu, saya memutuskan untuk menjalani hidup saya, dalam hal ini karir, untuk terjun di dunia telekomunikasi. Yang saya punyai semua tentang hal itu. Latar belakang pendidikan, pekerjaan yang telah saya lakukan, semuanya tentang itu. Saya pun masih menginginkan ingin bekerja di bidang telekomunikasi ini karena pemikiran bahwa bidang ini yang telah dan masih akan berkembang dengan cepat. Ingin betul menjadi bagian dari hal itu.

Tapi memang terkadang mau itu belum tentu mampu. Sempat sesekali mempertanyakan apakah benar bidang yang saya pilih ini benar-benar pilihan yang tepat bagi saya. Kan kalau dipikir-pikir lagi, dulu toh saya juga nggak semudeng itu tentang persamaan Maxwell yang jadi dasar elektromagnetik untuk kemudian jadi dasar komunikasi nirkabel. Sepertinya memang didorong oleh takjubnya diri akan bidang telekomunikasi yang semakin hari semakin maju ini. Sudah itu saja. 

Sempitnya pemikiran itu mungkin karena saya masih muda. Tapi kesempitan pemikiran bukannya tidak memberikan konsekuensi. Karena hal itu jugalah saya berkeinginan menempuh pendidikan S2 di bidang telekomunikasi. Dengan mimpi bahwa ingin terus mengikuti perkembangan telekomunikasi, serta mengimplementasikannya di tanah air sedemikian sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan bangsa kita. Begitu kira-kira inginnya saya. Dan boleh jadi karena itu saya mendapatkan beasiswa. Tak tahulah. Mimpi itu terlalu muluk-muluk rasanya.

Lantas apa yang saya dapati dari pendidikan S2 terkait dengan hal ini? Keyakinan saya diuji kembali. Dari apa? Ya dari perkuliahan yang saya ikuti yang semuanya berkaitan dengan dunia telekomunikasi. Susah payah saya mengikuti perkuliahan hanya untuk mendapatkan hasil yang cukup baik. Keinginan untuk menjadi 
"cemerlang" tidak seperti saat S1 harus dikubur dalam-dalam. Usaha keras saya tidak akan membawa saya kesana. Percayalah, saya bukan menyerah. Tahu dimana batas diri kita itu penting. Sehingga kita tidak akan tertarik ke pusaran keyakinan semu yang akan menghabiskan waktu, pikiran dan emosi.

Saya bukannya tidak lagi menyukai bidang telekomunikasi. Saya masih suka betul. Masih mengikuti perkembangan-perkembangan terbarunya. Apalagi dengan kuliah di negara maju seperti Belanda. Exposure akan hal itu jauh lebih banyak dan lebih menarik. Tetapi, kalau sudah masuk ke ranah detil, saya kurang bisa mengikuti dengan baik. Sepertinya saya termasuk ke kategori yang lebih mengerti hal-hal besar terkait teknologi telekomunikasi. Bagaimana kemajuan teknologi-teknologinya. Bagaimana telekomunikasi berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain. Bagaimana telekomunikasi membentuk peradaban manusia. Kira-kira demikian itu.

Sementara itu, perhatian saya juga bergeser sedikit, lebih ke arah teknologi itu secara umum. Teknologi-teknologi baru yang semakin memudahkan kehidupan manusia. Saya senang sekali mengikuti perkembangan-perkembangan perusahaan-perusahaan teknologi. Sedikit saja perhatian saya tentang bagaimana teknologi itu bekerja melainkan lebih kepada seberapa jauh teknologi itu memberi kontribusi bagi kehidupan manusia. Sering saya lebih tertarik bagaimana perusahaan tersebut menjalankan strateginya. Jadi yang dipikirkan bukan hanya kontribusinya untuk peradaban kita tetapi juga bagaimana perusahaan itu tetap terus hidup dalam konteks bisnis. Supaya apa? Supaya dapat terus memberikan kontribusinya untuk dunia. 

Sebenarnya bukan hanya tentang perusahaan-perusahaan teknologi yang menjadi perhatian saya. Pada akhirnya teknologi memang telah membuka sisi-sisi peradaban manusia. Salah satunya yang sedang didorong oleh kemajuan teknologi adalah munculnya perusahaan-perusahaan startup. Betapa startup-startup yang bermunculan ini memberikan manfaat yg besar bagi kehidupan kita. Mereka menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi sehari-sehari dengan cepat. Tapi di sisi lain, bukan berarti startup ini tidak memiliki nilai bisnis yang baik. Justru malah menjadi salah satu lini bisnis yang banyak ditekuni sekarang ini. 

Kemudian, disitulah saya sampai, di persimpangan pilihan berdasarkan apa yang telah saya bangun selama ini yaitu di bidang telekomunikasi, atau banting setir ke hal yang lebih saya sukai, ya tentang dunia startup dan perkembangan teknologi ini. Teknologi secara general, maka dari itu dikatakan banting setir. Sebenarnya, dengan kesadaran kualifikasi teknis yang saya yakini kurang baik, hal ini mendorong saya untuk mengambil karir di generalis kalau nantinya terjun di bidang telekomunikasi. Sementara untuk yang pilihan di perusahaan teknologi atau startup mau tidak mau akan memilih memilih karir di generalis pula. Saya akhirnya condong ke pilihan banting setir itu. 

Telekomunikasi masih menakjubkan bagi saya. Kemajuan teknologinya masih mengesankan. Di situ pun bisa membuka kesempatan kontribusi untuk negeri. Tapi rasa-rasanya butuh waktu yang sangat lama. Bergabung di perusahaan startup sepertinya akan memberikan kepuasan terendiri. Secara karir memberi ruang aktualisasi diri lebih menjanjikan. Serta juga, kepuasan untuk berkontribusi relatif lebih cepat. Bahkan kalau memungkinkan membangun startup sendiri. Akan sangat memuaskan tentunya. Meski banyak keraguan akan hal itu, dilihat dari berbagai segi. Yang mana pilihan ini, terlalu hebat untuk menjadi kenyataan, sehingga saya serahkan total pada Allah karena tidak akan masuk hitungan logika.

Belum lagi memutuskan pilihan rumit ini, ada perihal lain yang harus dipikirkan tentang pekerjaan ini. Dimana nantinya saya akan menjalani pekerjaan yang saya inginkan pada akhirnya. 

Mendapatkan beasiswa dari negara menambahkan beban moral untuk berkontribusi untuk tanah air. Bukan, bukan berarti saya tidak ingin berpartisipasi dalam pembangunan bangsa kalau tidak mendapatkan beasiswa dari negara. Saya kira siapapun itu, putera bangsa, setidaknya-tidaknya terbersit untuk memberikan kontribusinya untuk bangsanya. 

Jujur, saya termasuk yang memiliki keraguan apakah akan segera kembali ke tanah air seusai pendidikan saya. Saya termasuk golongan yang mengamini bahwa kontribusi pada bangsa sebaiknya dilakukan kalau sudah mengambil ilmu dan pengalaman yang cukup banyak dari luar negeri. Yaitu, dengan tidak hanya belajar tetapi juga bekerja di luar sana. Akan tetapi, beasiswa saya dari kementerian keuangan mengharapkan para penerimanya untuk segera kembali ke tanah air seusai studi. 

Keyakinan saya tersebut sempat semakin menguat lantaran Belanda telah membuat saya berpikir bahwa terlalu sayang untuk tidak menggali pengalaman lebih jauh setelah kuliah. Saya yakini akan ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dibawa pulang. Sembari waktu berjalan, pengharapan saya adalah adanya perubahan aturan. Aturan dimana akhirnya diperbolehkan untuk bekerja terlebih dahulu di luar negeri. Sampai kemudian, aturan tersebut keluar, ada kesempatan untuk satu tahun bekerja setelah studi. Saya pikir saya akan menggunakan kesempatan itu. Meski setahun saja. Dan berharap ada aturan baru. Masih saja. 

Sampai suatu ketika, saya lupa kapan tepatnya, beberapa bulan sebelum habis waktu pendidan saya, keinginan saya berubah drastis. Saya membulatkan tekad untuk pulang ke tanah air. Mau bagaimana pun, jika memiliki pekerjaan di Indonesia, saya setidak-tidaknya memberikan kontribusi saya. Apapun pekerjaannya, seberapa kecil pun itu. Terdengar omong kosong, ha? Mungkin sebagian betul adanya. Perubahan pilihan saya dikarenakan oleh beban moral yang saya pikul. Saya tidak ingin merasa berdosa. Dengan uang sebanyak itu yang diberikan, saya kira tidak ada orang di dunia ini yang akan berkenan memberikan uang sebanyak itu kepada saya. Lebih-lebih lagi orang tua saya, punya uang sebanyak itu pun tidak. Itu uang rakyat, yang bahkan tidak mengenal saya, yang bisa jadi tidak tahu kalau uangnya dipakai untuk membiayai pendidikan orang-orang macam saya. Mungkin bagi beberapa orang, itu bukan uang yang banyak. Tapi bagi saya, itu banyak sekali, terlalu banyak malah.

Saya tidak sanggup menanggung hutang ini dengan tinggal di tanah asing. Saya ingin segera memberikan kembali apa yang telah saya miliki: waktu, tenaga, maupun pikiran. Karena itulah saya pulang. Mau jadi apa nantinya, saya pikir kalau dorongannya adalah hal baik, Allah akan memberikan jalan. 

Setidak-tidaknya satu pilihan telah ditentukan. Tentang dimana. Tentang apa yang akan dilakukan, masih berkutat lama dalam pikiran. Dan bukannya semakin jernih, justru semakin membingungkan hingga ujung waktu pendidikan. Seingat saya itu adalah momen paling membingungkan dalam kehidupan saya selama ini. 

Kebingungan ini bahkan saya bawa ke tanah suci, sebelum pulang ke tanah air. Saya mohonkan kepada Allah untuk diberi pencerahan jalan mana yang harus diambil. Saya serahkan sepenuhnya kepada Allah apapun jalannya akan saya terima. Saya mencoba netral dan tidak condong pada pilihan yang manapun.

Jawaban akan hal ini saya dapati dalam 6 bulan pertama dari kepulangan saya. Allah memberikan skenario yang sedikit tidak disangka-sangka tapi tentunya yang paling baik. Toh, selalu seperti itu. Dan meski hanya enam bulan lamanya, itu merupakan tempaan berarti bagi diri saya. Dan lagi-lagi, tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri ini. 

~bersambung...