Tuesday, June 4, 2013

Trip To Jogja - Malam Waisak 2013, Borobudur

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui ~Al-Baqarah: 216 (tepat saya baca di twitter saat akan menulis post ini)

Kami memburu dengan waktu. Bertolak dari Jogja pukul lima sore membuat was-was apakah akan terkejar event tujuan kami, Festival Seribu Lampion. Kami tahu kalau puncak acara tersebut cukup larut. Tapi dengan kesimpangsiuran informasi tentang macetnya jalanan, cara untuk masuk, dan lain sebagainya sangat realistis kalau kami harus bersiap di Borobudur secepat yang kami bisa. Bahkan ada teman saya sudah berada di kawasan candi sedari pukul empat sore. Berkejar-kejaran dengan waktu ini pun karena 'pemberi akses masuk' yang sedang bersama teman kami di lokasi tak bisa menunggu hingga larut.

Sekitar setengah delapan kami tiba di kawasan candi. Walaupun kami sedang ditunggu, kami sepakat untuk menuju penginapan terlebih dulu. Terlalu banyak barang yang musti dibawa kalau tidak kami drop dahulu di penginapan. Mobil yang kami sewa juga harus segera kembali karena kesepakatannya hanya mengantar sampai candi Borobudur, tanpa menunggu. 

Sesegera mungkin kami menuju penginapan yang terletak tepat di pinggir jalan, "Thank God.. ternyata tidak jauh", pikirku. Namun sayangnya itu adalah penginapan yang salah. Dua penginapan dengan nama yang sama, apa-apaan ini? Setelah dikonfirmasi kepada si pemilik penginapan ternyata penginapan yang kami cari berada di dalam perkampungan. Kami bergegas dalam rintik hujan. Sementara itu, setelah seharian berkeliling, tumpukan asam laktat di kaki saya mulai bereaksi. "Sial, baru mau dimulai ini..", umpat saya dalam hati. Dalam gelapnya gang kampung sesekali saya lihat halaman-halaman khas kampung nan luas tersebut sudah jadi lahan parkir dadakan. Lima-menit-jalan-cepat akhirnya sampai di penginapan yang sebenarnya.

Tak banyak yang kami lakukan di penginapan dan memang begitu seharusnya. Antre untuk bebersih diri, sholat dan mengisi ulang baterai gadget yang ada. Sementara yang satu sedang apa yang lain beristirahat sebisanya, bergantian satu sama lain. Sembari menunggu satu sama lain ini, saya coba menghubungi teman saya yang sedang bersama 'pemberi akses' yang ternyata anak kepala desa. Namun, sialnya mereka telah berangkat duluan. Jadi, kami harus bertemu di dalam kawasan candi dan mencari sendiri cara untuk masuk.

All set up, kami menuju ke Candi Borobudur. Hujan masih tak kunjung reda, hanya sesekali saja reda tapi kembali rintik lagi. Tiba di depan gerbang, we didn't have any idea to get in. Menghubungi teman kami yang sudah masuk lebih awal juga percuma karena percakapan kami via HP sangat buruk. Kami memang harus menemukan cara sendiri ternyata. Di gerbang sisi barat ini sudah banyak juga orang yang ingin masuk. Di tengah-tengah hujan yang makin tak bersahabat seketika ada petugas yang membuka pintuk gerbang. Sontak kami ikut merangsek masuk melalui gerbang tersebut. Beruntung sekali! Beberapa rombongan sesudah kami kalau tidak salah tidak diijinkan untuk masuk. 

Berhasil memasuki kawasan candi, kami semakin tergesa-gesa. Tapi, kami tidak tahu harus mengarah kemana. Mencoba menghubungi teman saya, dengan cerdasnya teman saya menyebutkan kalau tempat berkumpul di sisi timur. Kami memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Sepertinya teman saya yang diseberang tidak bisa mendengar apa yang saya bicarakan. Tapi sebaliknya saya bisa mendengar jelas apa yang diucapkan dari seberang. Selain clue tersebut, tentu kami mengikuti kemana arah orang berjalan. 

Menyeberangi dari sisi satu ke sisi lainnya ternyata bukanlah jarak yang dekat. Terlebih lagi, kaki saya semakin pegal. Terlebih lagi hujan tak kunjung berhenti. Terlebih lagi jalanan yang kami lewati adalah jalanan setapak yang masih tanah yang gelap tanpa lampu. Di bagian atas terlihat Puncak Borobudur yang menakjubkan lantaran cahaya lampu sorot. Saya dan salah satu teman saya berjalan setengah berlari dan menyalip beberapa orang di depan kami. Sisanya, hilang dalam kegelapan sudah dan tidak tampak. Akhirnya, setelah melewati tanjakan kami berdua tiba di kumpulan orang yang banyak sekali jumlahnya. Di kejauhan depan kami, terlihat patung keemasan di altar dengan badan candi-tak hanya puncak- berdiri megah di belakangnya. 

Teman saya masuk menyusup dalam keramaian sedangkan saya mengekor dibelakangnya. Hujan semakin deras dan air hujan berhasil merembes menembus jaket dan baju berlapis dua saya. Kami semakin maju ke depan, ya saya jujur berusaha menuju barisan paling depan (yang pada akhirnya sangat saya sesali). Sesekali saya berhenti, karena memang tidak ada ruang di depan saya-stuck, karena ada yang menyerah dan ingin keluar dari kerumunan, karena menggigil kedinginan dan sekedar menumpang payung orang, karena saya terhenti oleh pikiran. 

Di tengah riuhnya orang-orang, sepertinya pikiran saya mampu meredam suara di sekitar saya. Saya berhenti dan mempertanyakan untuk apa orang-orang sebanyak ini berkumpul disini. Apakah memang harus seberjuang ini untuk mendapati apa yang diinginkan, pemenuhan batin. Menyelinap melalui beberapa orang lagi, saya mempertanyakan apakah semua ini pantas untuk saya perjuangkan, jauh-jauh hari saya persiapakan, beberapa jam berdiri basah kuyup-yang sangat mungkin membuat saya sakit keesokan harinya- sebelum ribuan lampion yang direncanakan menerangi langit Borobudur nanti. 

Mata saya mendongak, mencari-cari teman saya. Dia sudah bergerak ke depan lagi, berarti saya juga harus maju karena saya tidak ingin kehilangan partner di tengah-tengah manusia sebanyak ini. Saya menyesak masuk. Teman saya di depan, lompat satu orang di depan saya, setidaknya dalam jangkauan pandangan saya. Di sisi kiri saya ada dua perempuan di bawah payung besar yang juga sedikit memayungi saya (thanks to those girls). Di sisi kanan saya ada pasangan turis asing yang menggunakan jaketnya untuk menutupi kepala keduanya dan sang pria mendekap erat si wanita. Dan..ya..kami berjuang dan berkorban. Di titik ini saya mendapat sugesti diri kalau inilah yang namanya berjuang. Bahkan untuk hal sekecil ini, perjuangan itu perlu dan tak semudah yang dibayangkan. Segala hal yang kita inginkan sangat pantas, sangat harus diperjuangkan apapun itu.

Tiba di acara pradaksina- umat budha mengelilingi Candi Borobudur-, massa dari bagian belakang mendorong ke depan. Mungkin banyak yang ingin mendokumentasikan para bhante yang melakukan ritual pradaksina. Tapi pasti percuma saja. Para bhante tidak mungkin kelihatan kecuali bagi orang-orang  di barisan depan. Mau menikkan kamera pun, payung-payung juga menutupi pemandangan. Belum lagi hujan masih saja ditumpahkan dari langit. Silakan saja mengambil foto kalau tidak sayang dengan kamera ataupun HP yang dipunyai oleh masing-masing pengunjung. Saya sendiri pun mengandangkan kamera saya di tas dan mengamankan HP di kantong saja, nothing to do but just stand.. 

Ya..saya hanya berdiri, dalam keriuhan, dalam lantunan doa yang diperdengarkan melalui speaker. Teman saya masih dalam jangkauan saya, di depan. Di sisi kanan saya masih pasangan turis yang sama. Saya semakin kuyup-sesekali jaket saya peras, dan entah kenapa lantunan doa yang dikumandangkan menjadi sayup menjadi permainan pikiran saya sendiri. 'Okay..saya berjuang, saya sudah dapat hikmah perjuangan, lalu apa?'. 'Apakah tepat waktu dan tepat tempat atas apa yang saya perjuangkan ini?'. Pikiran saya mengajak ke ranah lebih spesifik, ke acara ini sendiri. Mempertanyakan apakah saya tepat berdiri di situ. Saya merasa ada yang salah. Saya meragukan kenapa harus berdiri sedari tadi di tengah kerumunan orang, basah, capek tapi acara lampionnya masih nanti. Ini jelas-jelas salah. Ini bukan tempat saya. Ada orang yang lebih berhak dari saya untuk berdiri di situ. Dan saya mengambilnya yang mana dalam keyakinan saya pun diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain. Oh God.. What did I do? I am so guilty..

Saya memandang berkeliling. Orang-orang sebanyak ini, tak seharusnya berada disini. Sebagian besar pasti hanya menginginkan part lampionnya saja. Saya menyalahkan diri saya dan orang-orang lain yang tidak beribadah untuk datang nanti saja ketika lampion akan diterbangkan. Bahkan saya sempat berpikir kenapa pelepasan lampion harus di hari yang sama dengan hari waisak (okay,,saya yang harus tau diri dan tak mempermasalahkan urutan prosesi yang sudah diatur oleh panitia, tapi tetap saja menurut saya itu paling masuk akal). Saya sempat berpikir untuk jadi anak manja saja yang sedari awal menyerah. Bila demikian kondisinya tentu saya tak akan mengambil 'jatah' orang yang lebih berhak. 

Sekali waktu saya bertemu mata dengan turis di sisi kanan saya, terlihat kecewa tapi sempat tersenyum yang sepertinya dipaksakan. Mereka terlihat sama kecewanya dengan saya, atau setidaknya saya pikir begitu. Sama dalam artian kecewa dengan alasan yang sama, bahwa kami yang tidak berhak tidak seharusnya di sana.  Saya tidak bisa membayangkan kalau kondisinya dibalik. Padahal dengan baiknya ummat budha memperbolehkan ummat lain untuk mengikuti ibadah mereka. Tapi yang mereka peroleh tidaklah sepadan. Jauh dari sepadan malah. Saat itu saya berpikir kalau saya akan berusaha untuk tidak akan melakukan hal semacam ini lagi. Ini tentang kepercayaan yang berhubungan dengan Tuhannya masing-masing. Di titik ini saya mendapatkan hikmah toleransi. Bahwa ketika berhubungan dengan kepercayaan saya akan berusaha untuk tidak bersinggungan dengannya. Bismillah.. Insya Allah..

Satu ketika saya didesak lagi dari belakang. Apakah orang-orang ini tidak mengerti? Saya ingin benar-benar pergi dari tempat saya kala itu. Sepertinya pengunjung memang kelewatan karena lantunan doa yang terdengar mulai disisipi larangan agar pengunjung tidak mengacau. Wisatawan semakin mendorong ke depan karena altar sedang ditinggalkan oleh jemaah yang berkeliling. Sementara itu, melalui speaker, pengunjung diharapkan untuk tidak maju dan sebaliknya dimohon untuk mundur. Saya dan teman saya sepakat untuk mundur. Tapi kebanyakan pengunjung tetap maju, sementara yang lain bergeming. Sulit sekali melawan arus seperti itu. Mengikuti arahan, kami berdua menuruni anak tangga. Tiba di bawah pohon, kami berdiam di sana sekaligus meneduh. 

Hujan semakin deras. Beberapa lampu sorot mati sementara prosesi pradaksina masih berlangsung. Jaket saya sudah beberapa kali saya peras. Kami masih bertahan di kawasan candi. Berharap acara lampionnya tetap dijalankan seperti yang dijadwalkan. Teman saya bertanya kepada panitia berbaju putih tentang kemungkinan ini. Sayangnya, pelepasan lampion tidak akan dilakukan kalau kondisinya masih hujan. Semakin kecil harapan kami untuk acara pelepasan lampion. Tapi toh kami tetap bersikukuh menunggu, berharap, ya..berharap.

Usai prosesi pradaksina, diumumkan mengenai pelepasan lampion. Saya tidak heran kalau nantinya dibatalkan. Justru terbersit rasa senang. Agar cukup sampai tahun ini saja kekacauan seperti ini terjadi Tidak ada hal semacam ini lagi di tahun-tahun berikutnya. Agar semua yang mendapat pelajaran tentang toleransi. Dan benar saja acara lampion dibatalkan, lebih tepatnya ditunggu terlebih dahulu selama 30 menit. Kalau masih hujan, pelepasan lampion benar-benar dibatalkan. Yang miris adalah ketika seruan "huuu" terdengar ramai menanggapi pengumuman tersebut. Saya masih menunggu dan berdoa semoga hujan tetap diturunkan hingga 30 menit ke depan.

30 menit berselang dan hujan tetap turun. Akhirnya pelepasan lampion resmi dibatalkan. Saya waktu itu masih menunggu di bawah pohon yang sama. Ada sedikit harapan tapi saya lebih menunggu bukti. Bukti bahwa Allah akan memberi pelajaran kepada kita semua. Dengan caraNya, dia menunjukkan kekuasaanNya. Semoga kita semua mendapatkan pelajaran berharga dari perayaan waisak tahun ini.

Walapun sudah dinyatakan batal kami berdua tetap menunggu. Entah menunggu apa. Menyaksikan beberapa umat budha yang lewat usai ibadah mereka. Saya lega walaupun saya tidak tahu apa yang mereka rasakan. Mereka sangat berhak untuk kesal terhadap wisatawan yang tak bertanggung jawab. Terhadap siapapun dan apapun yang mengganggu ibadah mereka. Sementara itu, dari kejauhan saya juga melihat bunga-bunga, buah-buahan, dan lainnya yang di altar diambil seenaknya (saya kurang tau ini diperbolehkan atau tidak, yang pasti terlihat kacau dan jadi 'nyampah'). Yang lainnya, ada beberapa orang yang mengambil foto dengan background patung budha atau Borobudurnya sendiri. 

Perjalanan kami tutup dengan setengah mengitari Borobudur sebelum akhirnya diberhentikan oleh satpam karena sudah sepi. Sinyal HP sudah membaik ditandai dengan info dari teman saya yang menunggu di warung makan. Kami berdua lantas beranjak meninggalkan candi saat tanpa saya sadari hujan sudah reda. Lihat kan? Allah bekerja dengan caraNya untuk memaparkan bukti-bukti kepada kita agar kita belajar dari apa yang telah kita lalui. Allah pun telah membuat kami terlambat datang dan tidak mengikuti prosesi waisak dari awal agar kami tidak mengganggu sejauh itu. Saya merasa sangat beruntung, saya tetap diberikan hikmah walaupun saya sedang di acara ibadah ummat lain. Alhamduillah..

Terakhir, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada rekan-rekan ummat budha yang yang merasa terganggu oleh saya dan yang lainnya yang mengambil hak kalian semua. Semoga hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Dan saya tidak ingin mendatangi festival lampion ini lagi kalau masih bersinggungan di hari yang sama saat waisak. Semoga Indonesia tetap rukun antar umat beragamanya, aamiin

(Epilog) Setelah makan malam, kami kembali ke penginapan. Dari penginapan ada satu lampion terlihat di langit. Beberapa saat kemudian diikuti lampion-lampion lain. Saya mengajak teman-teman saya untuk melihat di Borobudur. Akan tetapi, ternyata hanya beberapa lampion saja yang diterbangkan. Saya dan dua orang teman tidak tahu cara untuk melewati gerbang sedangkan yang lain yang berhasil melalui gerbang dari sisi lain diusir oleh satpam,hehe.. Memang bukan rejeki. Tapi, kami sempat menyaksikan satu lampion yang di terbangkan di Bukit Punthuk Setumbu keesokan paginya. Oh iya, sesampai di Jakarta, saya membaca beberapa info kalau lampion diterbangkan Minggu malam saat saya sudah dalam perjalanan pulang. Memang begini seharusnya. Kalau jadwalnya seperti ini, mungkin tahun depan saya iktu, mungkin ya. 

Note:
- Sangat tidak direkomendasikan menghadiri pelepasan lampion (pasti kebanyakan ngincer lampionnya kan?) kalau masih bersinggungan dengan ibadah ummat budha. Jadi datang pas lampionnya saja menjelang malam. Biarkanlah saudara-saudara kita melaksanakan ibadahnya dengan khidmat. Semoga untuk tahun-tahun berikutnya ditutup untuk umum, aamiin.
- Kalau masih berkeinginan untuk datang, please jaga sikap, ya tingkah, ya omongan, ya pakaian. Bagi yang sudah dewasa saya tidak perlu menjabarkan batasan-batasannya. Kalau ingin tahu lebih, silakan googling lagi. Siapkan juga segala hal untuk segala kemungkinan, fisik, payung, jas hujan, obat-obatan, dll.
- Tidak ada foto sama sekali di tulisan ini karena saya memang tidak mengambil foto.
- Sekali lagi saya doakan semoga semua mendapatkan pelajaran atas peristiwa ini.


Related Posts: