Saturday, June 8, 2013

Trip To Jogja - Menanti Mentari di Punthuk Setumbu dan Jelajah Borobudur Pagi Hari

Candi Borobudur tampak depan
Sebelumnya, saya kira hanya sunrise di Bromo yang menjadi primadona tujuan wisata. Tetapi, saat googling untuk trip ke jogja ini saya menemukan banyak ulasan untuk menikmati matahari terbit di Borobudur. Then, without second thought, I won't gonna miss this one. I mean like, saya akan berada di Magelang karena bermalam di sana dan sepertinya mengejar sunrise yang satu ini juga tidak kalah menarik dibandingkan ketika saya di Bromo sekali waktu dulu.

Sebagai info, terdapat dua spot yang terkenal untuk menikmati matahari terbit yaitu di Candi Borobudur sendiri dan di Bukit Punthuk Setumbu. Untuk menikmati matahari terbit di atas candi itu biayanya sungguh mengagetkan. Saya melihat review-nya di televisi beberapa hari sebelum keberangkatan saya yang menyebutkan bahwa tiket masuk candi untuk menikmati candi ini seharga Rp 250 ribu. Bahkan, saya menemukan beberapa blog yang menyebutkan kalau harganya di atas Rp 300 ribu,hmm... Untuk alternatif kedua- sunrise  di Bukit Punthuk Setumbu di beberapa literatur tidak menyebutkan biayanya. Beberapa bahkan menyebutkan free of charge. Well, we'll see later on. Jadilah, kami memilih untuk menikmati matahari terbit di alternatif kedua ini.

Diawali dengan bangun pagi-pagi sekali setelah tidur hanya sekitar satu jam, saya sontak beranjak dari tempat tidur. Anehnya saya tidak begitu mengantuk walaupun hanya tidur sebentar. Dengan persiapan secepat kilat, sekitar pukul 4 pagi saya dan teman saya sudah menyusuri jalan kampung menuju mobil yang sudah siap menanti kami di jalan besar sana. Tak lupa saya mengontak teman saya di penginapan lain. Dan, baiklah... mereka baru bangun. We surely need more plenty of time.


Setelah menunggu beberapa saat di penginapan mereka, langsung saja kami menuju Bukit Punthuk Setumbu. Bukan perjalanan yang lama jika mengendarai mobil. Saya juga tidak heran kalau perjalanannya singkat karena saya sempat mengecek di google maps jaraknya hanya 6 km. Hal yang perlu diwaspadai adalah track menuju ke Desa Karangrejo yang hanya memiliki jalanan yang sempit dan minim cahaya karena tidak ada lampu di sepanjang perjalanan. Kami sempat mampir di mushola desa tersebut untuk melaksanakan ibadah sholat subuh terlebih dahulu. Mushola ini merupakan pilihan yang paling tepat untuk sholat subuh daripada menunggu sholat subuh di penginapan terlebih dahulu. Karena bisa jadi akan terlambat untuk menikmati matahari terbitnya. Usai sholat subuh, mobil melanjutkan sedikit lagi perjalanannya sampai ke batas akhir jalur mobil.


Perjalanan mencapai bukit memang tidak bisa menggunakan mobil sepenuhnya. Kami harus melewati jalan setapak. Berbeda dari info yang saya ketahui sebelumnya, sebelum melewati rute jalan setapak ini dikenakan tiket sebesar Rp 15 ribu per orang. Entah kami yang terlambat atau terlalu cepat, dalam perjalanan kami mencapai bukit tidak banyak orang yang kami temui. Senter adalah perlengkapan wajib untuk melalui jalan setapak ini karena memang tidak ada lampu penerangan sepanjang perjalanan. Kami hanya mengandalkan senter yang ada di HP kami. Kendala lainnya adalah jalanan yang sangat licin akibat hujan yang turun di malam harinya. Tentu hal ini sangat merepotkan kalau alas kaki yang digunakan tidak pas.

Mendekati bukit, pepohonan yang mengiringi perjalanan kami mulai berkurang. Bulan purnama terlihat bulat sempurna di sisi barat karena tidak ada awan mendung. Beberapa menit berikutnya kami tiba di bukit itu. Bukitnya seperti tebing memanjang mengingatkan saya akan bukit tempat saya mencoba paralayang tempo hari. Tapi sedikit kurang lapang. Ada semacam gazebo tingkat yang terbuat dari bambu dan di sebelahya didirikan beberapa tenda. Ternyata memang ada yang jauh lebih niat sampai-sampai berkemah di sana.

Tepat saat kami tiba ada lampion yang siap diterbangkan. Selain ada yang menerbangkan beberapa lampion pasca acara malam tadi , ternyata ada yang membawa ke bukit ini untuk dilepas. Walaupun hanya satu lampion, tetap mengagumkan. Mungkin setidaknya sedikit mengobati kekecewaan wisatawan yang gagal melihatnya. Lampionnya terbang menjauhi bukit ke arah dua gunung besar di depan kami Merapi dan Merbabu. Inilah view  kami nantinya dua gunung, hutan-hutan, dan Candi Borobudur di bagian kanan pemandangan.

Setelah menikmati lampion, kami berpencar. Entah teman-teman saya mengambil posisi di bukit bagian mana untuk menikmati matahari terbit. Saya sendiri mengambil bagian di sebelah kanan karena memang agar lebih dekat dengan Candi Borobudur. Saya berjongkok tepat di bibir bukit menunggu matahari menunjukkan tanda-tanda penampakkannya.

Beberapa saat setelah saya memposisikan diri, orang-orang sudah mulai mempergunakan kameranya masing-masing. Semburat jingga kemerahan memang sudah mulai terlihat di horizon. Siluet dua gunung yang megah juga semakin terlihat. Namun, untuk candinya masih membutuhkan waktu beberapa saat lagi. Sayang, langit di sisi timur sedang berawan. Dan, saya lihat di sekeliling orangnya jauh lebih banyak dibanding saat saya datang. Dua kali lipatnya mungkin.

Matahari terbit dari balik gunung

Beberapa menit selanjutnya, orang-orang semakin riuh. Bukan hanya volume manusia yang bertambah tapi memang pemandangannya sangat bagus. Matahari muncul dari balik dua gunung itu tepat seperti apa yang kita bayangkan di kelas menggambar saat kecil dulu. Warna jingga-merah semakin terlihat di langit. Saya seperti melihat lukisan. Saya bahkan lebih banyak mengamatinya daripada mengambil gambarnya karena memang lebih bagus dinikmati menggunakan mata sendiri. Saya tidak mau mata saya kehilangan banyak momen karena harus berkonsentrasi dengan kamera. Sementara itu, penampakan Candi Borobudur tidak begitu menarik perhatian saya karena candinya kelihatan kecil. Merapi-Merbabu di depan saya ini jauh melebihi ekspektasi saya.

Candi Borobudur dari Punthuk Setumbu, saat kabut turun

Pemandanganya memang kurang sempurna karena matahari tertutupi awan. Saya menunggu dan berharap melihat matahari. Namun sayangnya, saya gagal bahkan sampai saat saya meninggalkan bukit. Saat hari beranjak semakin terang, saya mencari teman-teman saya satu sama lain untuk segera kembali. Sesaat sebelum saya kembali saya menikmati pemandangan dari bukit untuk terakhir kalinya. Dan seperti sebuah sihir hutan-hutan yang terhampar di antara bukit dan gunung terselimuti kabut. Warna hijau gelap pepohonan diselubungi warna putih kabut.

Puas di Bukit Punthuk Setumbu, kami kembali ke tempat parkir mobil. Perjalanannya sama dengan rute sebelumnya, jalan setapak yang licin. Tapi, sedikit lebih mudah karena hari sudah terang. Kami sempat berhenti sejenak karena ada spot untuk melihat Candi Borobudur. Lokasinya dilalui rute ini. Walaupun kaki dan celana sedikit kotor karena jalanan becek, kami tetap masuk ke dalam mobil. Kami sempat ingin sekedar menumpang mencuci kaki di kamar mandi warga. Tapi, kami semua serentak mengurungkan niat karena dikenakan tarif :D

Sekembalinya dari menikmati matahari terbit, kami memiliki rencana masing-masing. Saya dan salah satu teman saya melanjutkan untuk memasuki Candi Borobudur lagi, ada yang langsung kembali ke penginapan, sedangkan yang lainnya pergi sarapan. Pada saat perjalanan kembali, ternyata pemandangan menuju Bukit Punthuk  Setumbu tidak kalah bagus. Beberapa kali kami melewati persawahan yang asri.

Pukul enam pagi, masih terlalu pagi (saya kira) untuk memasuki suatu kawasan wisata. Namun sebaliknya, sudah banyak sekali pengunjung yang datang ke candi ini. Padahal saya mengharapkan candi ini masih sepi agar lebih puas menjelajah atau berfoto. Kebanyakan pengunjung yang datang sepertinya siswa tingkat SD atau SMP yang mengadakan studi wisata. Beberapa turis asing juga tampak berdatangan di waktu sepagi itu.

Tiket masuk Candi Borobudur adalah Rp 30 ribu. Jalur yang saya lalui sama persis dengan yang saya lalui malam sebelumnya. Tapi, pemandangannya jauh lebih menyegarkan. Selain udara yang sejuk, taman-taman dan bunga juga menyegarkan mata.
Taman di kawasan Candi Borobudur

Sebelum memasuki kawasan candi, setiap pengunjung dipinjamkan kain batik putih bercorak hitam. Sejak beberapa waktu lalu memang diberlakukan peraturan untuk wajib mengenakan kain batik ini bagi siapapun yang mengunjungi candi. Saya sendiri menyukai hal ini karena semakin terasa authenticity-nya. 
Stupa


Sebelum memasuki candi Borobudur ini sendiri, harus melewati tanjakan tangga terlebih dahulu. Setelah itu sampai di pelataran berumput. Barulah menaiki tangga yang ada di badan candi yang megah ini. Diharapkan untuk berhati-hati saat melalui tangga yang ada di candi karena tanjakannya terlalu tajam. Selain itu, tangga untuk turun dan naik dibedakan jalurnya agar pengunjung tidak bentrok. Terdapat beberapa petugas pengamanan yang berjaga-jaga serta memberikan arahan untuk jalur penjelajahan. 

Kami berdua memutuskan untuk menjelajah candi dari pelataran paling atas terlebih dahulu. Satu putaran penuh kami berkeliling kemudian turun ke pelataran di bawahnya selanjutnya. Demikian seterusnya sampai beberapa kali tapi tidak seluruh pelataran kami lalui. Tentu saja beberapa kali kami mengambil foto dengan latar stupa atau bagian candi lainnya. Karena ramainya pengunjung, tidak mudah untuk mendapatkan spot yang 'bersih'. 

Walaupun tidak bisa menikmati Candi Borobudur dengan ribuan malam sebelumnya, setidaknya saya mendapat kesempatan untuk menikmati candi di pagi harinya. Kami harus bergegas kembali ke Jogja sehingga pukul 8 kami sudah meninggalkan candi.




Related Posts: