Wednesday, June 12, 2013

Paralayang di Langit Batu, Malang

Paralayang? Salah satu hal yang tak pernah saya bayangkan untuk saya coba. Bukan karena saya memiliki acrophobia- phobia terhadap ketinggian, tapi saya tidak menyangka akan menjadi seorang pertualang sampai-sampai memberanikan diri untuk mencoba olahraga ekstrim satu ini. Dan jadilah, saat itu saya yang ingin memacu adrenalin, mencoba olahraga paralayang. Kala itu, di Batu Malang saya memperoleh pengalaman mengudara dengan paralayang ini.

Lalu bagaimana saya mencapai Batu, Malang saat itu? Sebenarnya bisa dibilang merupakan suatu kebetulan untuk berlibur di Malang. Hal ini karena pada saat itu kantor saya mengirim saya ke daerah Malang. Melewati salah satu weekend di Malang yang lengang, saya dan beberapa teman berkeinginan untuk sekaligus berliburan. And finally, kami memutuskan untuk pergi ke Batu karena memang sudah terkenal dengan tempat wisatanya.

Pada awalnya kami belum juga mengetahui ke daerah wisata mana yang akan kami kunjungi. Mencari tempat wisatanya sendiri tidak lebih mudah daripada saat menentukan Kota Batu sebagai tujuan kami. Jadi, sebenarnya waktu itu setengah tidak peduli dan setengah awam juga. Satu hal yang pasti, kami ingin ke Batu, ingin bermalam di sana, ingin liburan di Batu esok harinya, that’s it! Akhirnya, setelah makan malam di Penyetan Bu Kris, Malang,  kami serombongan langsung menuju Batu, ke penginapan di daerah Songgoriti lebih tepatnya.

Sesampainya di penginapan, tugas utama kami adalah mencari tujuan wisata esok hari. Waktu itu sebenarnya kami masih lumayan lelah karena pekerjaan. Tapi, apa boleh buat daripada keesokan harinya tidak jelas. Beruntungnya kami membawa leptop yang mempermudah googling sana-sini. Browsing,sambil ngemil, sambil ngobrol, sambil nonton TV,dan..done! Esok harinya kami berencana untuk paralayang, air terjun coban rondo, BNS lalu pulang.

Keesokan paginya kami sudah bersiap-siap untuk paralayang ria. Sembari mencari sarapan pagi kami hubungi mas yosi-CP paralayang. Kami mendapatkan kontaknya dari googling malam sebelumnya. Sebenarnya base penyedia paralayang ini tidak jauh dari tempat kami menginap. Namun sialnya, rombongan sudah lebih dahulu menuju bukit tempat paralayang. Kami beruntung membawa driver pada saat itu sehingga memudahkan kami menyusul ke bukitnya. Untuk mencapai bukit ini, kami mengikuti jalan ke arah Kediri. Selain mengikuti panduan Masy Yoshi, di beberapa tempat di pinggir jalan terdapat papan penunjuk arah bukit, sangat membantu. Dan yang tak kalah penting adalah pemandangan menuju bukitnya itu, indah sekali!!
Ternyata wisatawan yang ingin mencoba paralayang ini lumayan banyak juga. Sesampainya di bukit, sudah banyak yang mengantre. Saya sendiri harus menunggu beberapa waktu sampai tiba giliran saya. Sebenarnya malah bagus kalau ada waktu menunggu. Jadi bisa memiliki waktu untuk membulatkan tekad atau membatalkannya. Waktu itu memang sensasinya,yaa…begitulah..tidak bisa digambarkan, silakan dicoba sendiri :p

Berhubung ini salah satu olahraga yang cukup ekstrim, security itu penting. Yang menjadi concern pertama adalah berat badan. Berat badan ini menjadi pertimbangan pasangan tandemnya nanti (Saya kurang tahu untuk kualifikasi paralayang solo). Karena saya termasuk yang underweight jadilah saya dipasangkan dengan tandem yang agak gemuk. Kedua adalah alas kaki. Sangat disarankan untuk menggunakan sepatu, sepatu outdoor lebih bagus lagi. Saat itu saya hanya menggunakan sendal tapi Mas Yoshi dengan baik hati mencarikan sepatu untuk saya. Selanjutnya adalah perlengkapan lain seperti helm, strap pengaman, parasut ekstra dan lainnya yang juga disediakan dari sana. Yang terakhir dan yang tidak kalah penting adalah pengarahan untuk mengudara nanti. Harap diperhatikan sebaik-baiknya.

Setelah salah satu teman saya terjun, tiba giliran saya untuk terjun. Hamparan Kota Malang ada di depan saya dan membuat kaki saya di bawah sana sedikit gemetar. Informasi dari guide-nya paralayang ini 90% tidak akan pernah jatuh. Terlepas dari benar atau tidaknya, cukup menghibur saya kala itu. Parasut sudah dipasang, tandem sudah di belakang saya, siap meluncur! Dan akhirnya run..run..run..and jump!!

I’m flyiiingg!!” Teriak saya dalam pikiran. Speechless pada awalnya. Kemudian, setelah beberapa saat beradaptasi dengan sensasinya, saya mulai berbincang dengan tandem saya. Sang tandem memberikan kursus kilat untuk mengendarai paralayang tersebut. Waktu yang cukup lama di udara sampai-sampai saya tahu kalau untuk dapat menjadi atlet paralayang harus kursus dan mengambil lisensi, tahu kalau atlet paralayang bisa pergi jalan-jalan yang bahkan ke luar negeri, dan lain sebagainya tentang paralayang. 

Puncak dari pengudaraan saya adalah ketika saya ditawari untuk manuver ‘mengayun’. Saya tidak tahu manuver macam apa itu sampai saya mengalaminya.  Ternyata itu adalah manuver berputar dengan parasut sebagai pusat putarannya (sebagai gambaran seperti wahana ontang-anting di dufan) dengan kecepatan luar biasa. Sepertinya itu pengalaman kecepatan tertinggi saya, bahkan sampai saya tidak bisa berkata-kata hanya mampu berteriak karena angin menerpa wajah saya. Fiuh,, benar-benar menegangkan. Terlebih lagi, teman saya tidak merasakan manuver itu dengan tandem mereka masing-masing (bangga,hehe)

Setelah sekitar 20 menit terbang di udara akhirnya kami bersiap mendarat. Proses mendarat tidaklah semudah yang dibayangkan karena harus mengendalikan paralayang sedemikian sehingga tepat di titik tertentu. Kalau tidak berhasil, ya paling nyungsep di ladang penduduk. Tugas saya sangat mudah yakni meluruskan kaki saja ke depan dan mempercayakan pendaratan ke tandem. Bagi saya ini termasuk sulit karena rasa-rasanya ingin mendarat dengan kaki sendiri. Bayangkan saja kalau kendali mendarat tidak sepenuhnya atas kontrol diri kita, pasti masih khawatir. Tapi akhirnya saya sanggup menguasai diri dan mempercayakan kepada tandem. Jadilah, pendaratan yang mulus.

It was totally amazing experience. Mencoba paralayang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya tentu sangat menegangkan. Akan tetapi, pengalaman tersebut sangat memuaskan dan sangat menyenangkan.



PS: 
  • Postingan ini sebenarnya postingan editan dari versi Bahasa Inggrisnya. Kemudian saya ikutsertakan dalam lomba Jelajah Bumi Papua. Sampai ada pengumuman baru saya post disini. Sayangnya saya tidak memenangkan lomba tersebut.
  • Saya tidak mencantumkan foto-foto disini. Silakan dilihat original versionnya disini.


Note: 
  • Contact Person Mas Yoshi bisa googling dengan keyword “ paralayang batu malang"
  • Biaya paralayang Rp 350.000 dan jika ingin menyewa kamera Go Pro ada tambahan biaya Rp 100.000
  • Sebaiknya berangkat dari pagi agar tidak ketinggalan seperti pengalaman saya kecuali membawa mobil pribadi
  • Bagi yang ingin menginap, kawasan Songgoriti banyak menyediakan penginapan
  • Sebaiknya datang pada saat hari cerah dan jangan lupa perlengkapan seperti sepatu, celana panjang, baju lengan panjang, atau kacamata jika diperlukan.