Tuesday, June 25, 2013

Berkunjung ke Museum Bank Mandiri

Mesin hitung dan mesin tulis yang ditempelkan di dinding.
Kota tua itu salah satu wisata andalan Ibu Kota Jakarta. Sayangnya bagi saya pribadi yang hidup bertahun-tahun di sekitaran Jakarta, belum pernah benar-benar 'menjamah' kawasan kota tua. Paling banter hanya sekedar lewat. Sudah lama sebenarnya saya memiliki niatan untuk kesana. Terlebih lagi banyak museum yang terletak di kawasan kota tua. Saya kira sangat menyenangkan kalau bisa menjelajah di setiap museum tersebut.

Kamis , tiga minggu lalu, saat hari libur Isra Mi'raj, saya dan tiga orang teman berkunjung ke kawasan kota tua. Awalnya saya berencana untuk mengunjungi beberapa museum. Namun, hanya museum bank mandiri yang dibuka di hari itu. Selain itu, kami tiba disana lumayan siang. Jadilah waktu itu hanya berkunjung museum bank mandiri tersebut dan berkeliling bangunan-bangunan kawasan itu.

Agar dapat memasuki museum ini pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk seharga 2000 rupiah. Tapi, jika pengunjung merupakan nasabah Bank Mandiri, pengunjung tersebut tidak dikenakan biaya alias gratis dengan menunjukkan kartu ATM Mandiri.

Secara umum museum ini menampilkan sejarah dari hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan perbankan. Misalnya, di lantai satu (yang masih satu lantai dengan loket penjualan tiket) terdapat buku besar yang dipakai untuk pembukuan  zaman dahulu. Ada juga timbangan berbagai macam ukuran dan bentuk timbangan. Selain itu, ada mesin ketik, alat hitung analog maupun elektronik, mesin ATM, motherboard komputer, PC, bahkan CD disc. Semuanya ditampilkan dari awal sampai yang terakhir saat ini. Masih di lantai ini, terdapat ruangan yang memutar video kondisi sekitaran jakarta pada zaman Belanda dulu. Teller pelayanan bank juga ada di lantai ini. Apalagi ya? Sepeda ontel juga, patung Dewa Hermes, alat musik klasik piano-cello-violin, ada juga tempat yang menjual menu makanan.

Mesin ATM


Mesin Ketik


Patung Dewa Hermes

Mesin Hitung Koin

Museum ini juga memiliki ruang bawah tanah. Untuk isinya sendiri, terdapat berbagai jenis dan ukuran brankas yang ukurannya bisa mencapai sebesar lemari. Selain itu, ada ruang penyimpanan uang dan emas. Beberapa jenis mata uang dan surat berharga. Uniknya surat berharga ini ada yang dalam bahasa Indonesia, Belanda, bahkan bahasa Cina. Yang ingin menunaikan ibadah solat di sela-sela kunjungan, mushola juga terdapat di basement ini, cukup luas dan nyaman.

Surat Berharga


Mesin ketik yang ada di basement
Sebenarnya masih ada tiga lantai lagi di atas. Akan tetapi, yang dijadikan sebagai tempat display museum hanya sampai lantai dua. Di lantai dua ini terdapat beberapa jenis PC dan alat elektronik lainnya dari zaman dahulu. Ada juga display alat-alat perbankan lain seperti kalkulator, timbangan dan lainnya yang di pajang di sepanjang lorong lantai dua dan tiga. Bentuknya unik-unik yang diletakkan di dalam kaca.


Kalkulator Elektronik
Saya kira hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk mengunjungi satu museum. Nyatanya tidak, sekitar tiga jam saya berkeliling Museum Bank Mandiri. Jadi, keinginan untuk mengunjungi beberapa museum sepertinya gagal. Ditambah lagi, hari itu hanya Museum Bank Mandiri saja yang dibuka di kawasan Kota Tua tersebut.

Dengan demikian, perjalanan kami tutup dengan makan siang soto padang di gang dekat Lapangan Benteng.  Kemudian, berkeliling di seputar kawasan tersebut yang banyak memiliki bangunan kuno.