Thursday, July 4, 2013

Event Sharing dan Diskusi: Makna Sebuah Perjalanan

Berhubung saya saat ini sedang menjadi pengangguran, jadinya banyak waktu luang. Terlebih waktu luang untuk melakukan hal iseng. Dan satu ketika, saya iseng-iseng mengikuti sharing dan diskusi tentang traveling yang diadakan oleh salah satu komunitas traveling yaitu TravellersID (@TravellersID). Sendiri saja, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti  sharing tersebut. Sharing tersebut bertemakan "Makna Sebuah Perjalanan". Satu lagi, diskusinya ini for free alias gratisan, so kenapa tidak?

Untuk pembicaranya sendiri, diundang lima orang traveler Syukron, Lukman, Agustinus, Dina, Ryan. Syukron merupakan perwakilan dari Kaskus Traveler. Lukman merupakan traveler dari Hifatlobrain. Agustinus Wibowo merupakan traveler dan penulis buku. Sedangkan Dina-Ryan merupakan pasangan traveler yang tidak memiliki rumah dan traveling keliling dunia selama bertahun-tahun. Dari kesemuanya, yang saya tahu sedari awal hanya pasangan Dina-Ryan ini. Sesampainya disana, banyak sekali traveler yang baru saya tahu. Termasuk Agustinus Wibowo yang sudah menelurkan tiga buku keren.

Di postingan ini akan saya coba menuliskan kembali dari apa-apa yang disampaikan oleh tiap-tiap traveler tersebut. Tapi, mohon maaf sekali mungkin tidak semuanya dapat saya tuliskan kembali disini. Maklum, keterbatasan memori otak saya dan tidak saya catat (kesalahan besar pastinya),hehe. Yang penting bermanfaat dan menambah keinginan buat traveling more kan? Okay, mari kita mulai.

  1. Syukron, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, merupakan perwakilan dari TravellerKaskus (@TravellerKaskus ). Agan satu ini berbagi kisah tentang dirinya yang berasal dari tanah Papua tapi pada awalnya tidak menyadari seperti sekarang ini, bahwa Papua sudah menjadi seperti surga. Perantauannya ke ibukota selain menambah ilmu ternyata menambah pertemanan. Dan ketika di Jakarta inilah yang membuatnya heran kenapa orang-orang melakukan traveling. Bahkan kampung halamannya menjadi salah satu destinasi favorit. Tentu, hal ini membuatnya semakin bangga dengan tanah kelahirannya tersebut. Untuk alasan dia kenapa begitu mencintai traveling, simply karena ingin mencari teman-teman baru, bertemu orang-orang baru, dan itu sangat manyenangkan. Dan memang, menemukan karakter-karakter baru dalam setiap perjalanan kita memberikan pelajaran tersendiri bagi diri kita bukan?

  1. Lukman, traveler satu ini perwakilan dari Hifatlobrain (@Hifatlobrain). Saya tidak familiar dengan komunitas tersebut. Tapi yang pasti traveler ini niat sekali  karena katanya jauh-jauh dari Surabaya cuma untuk berbagi cerita di sharing waktu itu. Satu poin menarik yang dia ungkapkan adalah melalui traveling mengajarkan dirinya menjadi lebih kritis dan analitis untuk menjadi lebih 'manusiawi'. Lukman memberikan contoh ketika dirinya ke Bali sekitar tahun 2006, dia mendapati warga lokal mengantre air bersih padahal di sampingnya ada bangunan hotel menjulang tinggi. Kontras sekali bukan? Traveling memang mempertajam nurani diri. Akan tetapi, dalam dirinya kadang ada tekanan batin dengan hal yang digelutinya ini. Seringkali dipertanyakan oleh keluarga mengenai profesi yang settle. Atau terkadang muncul tekanan-tekanan ketika dia membandingkan kondisinya dengan kondisi teman sebayanya. Tapi pada akhirnya dia mendapati pencerahan bahwa mungkin ketika dirinya di posisi seperti teman-temannya yang lain, dia tidak akan sebahagia seperti saat ini. Dengan kondisinya sekarang dia sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya. Dan ketika ada hal yang diinginkannya, ya harus berusaha keras terlebih dahulu untuk mendapatkannya. Benar-benar pemikiran yang keren ya? Buah dari sering-sering traveling sepertinya.

  1. Pasangan suami istri Dina-Ryan atau biasa dikenal Dua Ransel (@DuaRansel ), salah satu traveler favorit saya. Saya sih takjub melihat keduanya tidak tanggung-tanggung melepaskan tempat tinggal settle dengan segala printilannya dan hidup di manapun di tanah di bumi ini dengan berbekal ransel mereka masing-masing. Ya, hanya ransel saja, bahkan dina menyebutkan bahwa ranselnya itu lah rumahnya. Dina berbagi kisah ketika pertama kali keduanya bertemu di Jepang dan memberikan kenangan yang sangat membahagiakan bagi keduanya. Perjalanannya ini pun dijadikannya sebagai contoh bahwa traveling itu bukan sekedar destinasi. Setiap pejalan akan memperoleh experience unik walaupun pada destinasi yang dituju sama. Melalui perjalanannya dalam empat tahun terakhir mengajarkannya bahwa traveling itu yang hidup itu sendiri. Hidup itu tidak selalu untuk menjadi hidup normal tapi untuk menciptakan hidup yang baik , tidak ada stereotype buruk dan open minded, it's just simple life. Sementara itu, walaupun Ryan tak banyak bercerita, melalui traveling, dia hidup dengan sederhana, hidup dengan bebas, hidup di setiap momen yang ada tanpa ada perencanaan dan selalu siap untuk segala kondisi, apapun itu.

  1. Last but not least, Agustinus Wibowo (@avgustin88 ) sesorang yang menulis buku yang hasil dari traveling di berbagai negara. Sorry to say, saya sendiri belum membaca bukunya tapi sudah banyak yang merekomendasikan. Walaupun sudah malang melintang di berbagai negara, ternyata dulunya dia bukan orang yang menyenangi traveling alias anak rumahan. Dia menceritakan traveling pertamanya yang termotivasi oleh temannya- orang Jepang yang berani berkeliling Asia Tenggara padahal tidak bisa berbahasa Inggris. Perjalanan pertamanya adalah pergi ke Mongolia . Sebuah perjalanan yang tidak berjalan mulus karena dirampok. Namun, menurutnya, hal-hal seperti inilah yang menyenangkan dari traveling- ketika ada 'kerikil' perjalanan dan tidak semua berjalan dengan semestinya. Dan dari kerikil tersebut selalu ada hal yang diajarkan. Misalnya, ketika dia jatuh sakit karena hepatitis saat di Pakistan kemudian ditolong oleh seseorang yang justru merawat dengan sangat baik dengan diberikan ranjang dan kamar terbaik. Dan dari situ pula dia mendapat pelajaran dari orang yang menolongnya tersebut bahwa " Dalam hidup tidak penting seberapa banyak yang dikumpulkan tapi seberapa banyak yang bisa diberikan dan seberapa besar membuat hidup ini berarti untuk orang lain". What a thought! Satu hal lagi dia menyampaikan bahwa "Pada akhirnya pulang adalah jalan yang harus diambil oleh setiap pejalan". Superb!! I am wondering his books tells about.

Kira-kira demikianlah hasil saya mengikuti sharing dan diskusi "Makna Sebuah Perjalanan". Mas Toni dari TravellersID pun berharap melalui diskusi dan sharing ini para traveler dapat menggali lebih tentang traveling bahwa ini bukan hanya mengenai destinasi-destinasi perjalanan yang ada, keindahan-keindahan tempatnya, atau cara ke tempat-tempat tersebut, tetapi lebih kepada memperoleh pengalaman dari setiap perjalanan yang dilakukan oleh tiap pejalan, tentang makna sebuah perjalanan.

Terakhir saya tutup dengan quote yang saya peroleh dari undangan acara ini: " If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home" ~ James A. Michener.


PS: Pesertanya masih dapet souvenir lho dari TravellerKaskus padahal acaranya gratisan,hehe. Tidak tanggung-tanggung souvenirnya dapat banyak, ada poster, kalender, CD wisata Indonesia, guidebook wisata Indonesia. Mantap!!