Thursday, September 5, 2013

Ciremai 3078mdpl - Menaklukan Gunung Tertinggi di Jawa Barat




Horizon view dari Puncak Ciremai

Dua minggu setelah mendaki Gunung Merapi, ternyata saya masih berkeinginan untuk mendaki. Entahlah, kegiatan ini menjadi nagih sekali. Saya sudah berusaha menekan diri untuk tidak melakukannya dalam waktu sedekat ini. Tapi akhirnya luluh juga. Sampai akhirnya Gunung Ciremai menjadi tujuan pendakian kali ini.

Untuk kali kedua, saya bergabung dengan anak-anak AADT yang sebelumnya saya bergabung saat pendakian Gunung Cikuray. Saya sebutkan sebelumnya saya menahan diri. Sekalipun saya ingin mendaki lagi, saya sempat tertarik dengan ajakan ke Gunung Guntur yang ditawarkan oleh kawan saya yang lain, lebih dulu. Eventually, I joined for Ciremai. And, Jumat 23 Agustus 2013 malam rombongan 7 orang menuju gunung tertinggi di Jawa Barat itu.

Kampung Rambutan - Desa Apuy

Untuk para pendaki dari daerah Jakarta, meeting point di Terminal Kampung Rambutan sudah menjadi hal yang lazim. Janjian kami untuk berkumpul selepas magrib harus rela mundur karena memang beberapa personeil yang harus bekerja tentu tidak mampu memenuhi waktu tersebut. Pukul 10.30 malam semua anggota rombongan kami berkumpul dan langsung menaiki bus arah Cileunyi. Loh kok ke Bandung?

Waktu itu saya memang kurang mengetahui rute perjalanan kami. Saya kira kami akan mengarah ke daerah Kuningan, Cirebon. Memang untuk mendaki Gunung Ciremai terdapat beberapa jalur, Apuy, Palutungan, dan Linggarjati. Nah, baru saat di bus arah Cileunyi tersebut saya diberitahu oleh Tetua Rombongan-Ijonk, kalau kita melalui jalur Apuy. Untuk melalu jalur ini, sebaiknya turun di Cileunyi dilanjutkan ke Terminal Maja.

Tepat tiga jam kami sampai di perempatan Cileunyi- tepat keluar tol Cileunyi. Dari situ, perjalanan biasanya dapat dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan Elf arah Cikijing. Namun, waktu itu ada sopir angkot yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami menuju Desa Apuy. Sang Tetua Ijonk-lah yang melakukan negosiasi dengan Si Sopir. Deal! Kami berangkat dengan beberapa orang yang searah dengan kami pula.

I thought that I would not take a long time. Saya salah. Perjalanannya cukup lama walaupun Abang Sopir memacu angkotnya dengan kencang. Sialnya saya tidak bisa lekas tidur seperti halnya teman-teman saya yang lain. Sekalinya saya tertidur, saya terbangun karena angkot menepi di daerah Majalengka karena bannya pecah. Saya tidak tahu karena apa. Saat itu sudah memasuki waktu subuh.

Dari situ perjalanan seharusnya tidak begitu jauh (dibandingkan apa yang kami alami). Kami, baik rombongan pendaki maupun awak angkot, tidak ada yang mengetahui posisi pasti desa Apuy. Alhasil, kami buta arah. Di perempatan bertugu, kami seharusnya mengambil arah kanan. Akan tetapi kami malah lurus dan semakin menjauhi pintu masuk pendakian jalur Apuy. Mending kalau kebablasannya dekat, ini jauh sekali. Congratulation!

Oke, kalau ingin mengambil jalur Apuy dengan menyewa angkot seperti kami, pastikan tahu betul rute ke Desa Apuy. Kalau tidak tahu rutenya, pastikan sopir angkot mengetahui rutenya. Kalau masih mau gambling juga, ikuti saja ke arah Majalengka, sampai di daerah Majalengka pasang mata baik-baik sampai menemukan tugu (kalau tidak salah bersimbol Bank BJB) tadi dan belok kanan. Otherwise, you'll just do the same we did. Okay, one more clue, pakai google maps cari Desa Argamukti instead of Apuy and you're gonna be on the right track.

Dan tibalah kami di Apuy pukul….delapan setelah nyasar sana-sini. There was a little re-negotiation terkait ban pecah dan acara nyasar tadi. Kami di-charge lebih mahal. Dan,,sudahlah.. Nanjak dulu aja deh..

Lantas, kami menuju basecamp untuk persiapan ulang. Beberapa berganti kostum (ganti kostum?haha). Once we were ready, mobil pick up siap mengantar kami ke Pos I. Oh iya, kami memilih untuk menyewa pick up untuk menuju Pos I. Selain untuk menyingkat tenaga, juga untuk menyingkat waktu pendakian. Ongkosnya sepuluh ribu rupiah per kepala.

Pos I - Pos V



View dari Pos I

Pos I ini merupakan pintu masuk pendakian. Untuk mencapai tempat ini, dapat menggunakan pick up seperti yang kami lakukan atau juga dapat berjalan kaki. Jalur menuju pos ini melalui perkebunan-perkebunan sayur milik pendududuk. Di pos ini juga terdapat beberapa fasilitas seperti mushola, kamar mandi, dan semacam balai terbuka. Gerbang pintu masuk pendakian juga terdapat di pos satu ini. Jangan lupa untuk mengisi air di pos ini karena tidak akan ditemukan air bersih sepanjang pendakian selain di Gua Walet yang terletak di dekat puncak.

Mushola yang ada di Pos I
Setengah jam dari Pos I terdapat semacam pos yang memiliki balai  terbuka lagi. Balai ini yang membatasi jalur pendakian dengan vegetasi pepohonan dan vegetasi rumput ilalang. Jadi, antara Pos I dan balai ini jalur pendakian relatif landai dengan vegetasi ilalang. Selanjutnya, pendakian mulai lebih curam dengan vegetasi pepohonan. Jika ingin beristirahat terlebih dahulu, bisa dilakukan di balai ini.

Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Pos II sekitar dua jam dari Pos I. Itu juga karena kami melakukan re-packing di balai sebelumnya. Waktu bisa dipersingkat apabila sudah merasa well-prepared dari Pos I atau balai yang saya sebutkan tadi.

Lewat tengah hari kami sudah mencapai Pos III. Di pos ini kami beristirahat terlebih dahulu untuk sholat dan makan siang terlebih dahulu.  Kemudian, pukul dua kurang kami meninggalkan Pos III.

Durasi yang ditempuh untuk mencapai Pos IV dan Pos V masing-masing sekitar satu jam. Jadi, sebelum pukul empat kami sudah sampai di Pos V. Di Pos V ini kami berencana untuk mendirikan tenda. Tempat ini lazim untuk mendirikan tenda. Namun, anginnya cukup kencang. Alternatif lain untuk mendirikan tenda adalah di Gua Walet yang harus ditempuh dalam waktu dua jam.

Summit Attack

Pukul lima pagi kami semua bangun dan bergegas melakukan ibadah sholat subuh. Usai sholat subuh, dua backpack kecil kami jejali bekal makanan untuk sarapan kami di atas sana. Tak lupa air minum turut masuk dalam tas. Setelah semua siap, kami langsung menuju puncak karena hari semakin terang.

Berangkat pukul setengah enam pagi konsekuensinya tidak mendapatkan sunrise di puncak. Jarak dari Pos V ke puncak yang jauh ternyata masih memakan waktu yang cukup lama, hampir dua jam. Momen matahari terbit kami nikmati di sekitar pertigaan, pertemuan jalur Apuy dan Palutungan. Ohiya, sebenarnya, kami memerlukan waktu yang cukup lama karena bisa jadi karena menikmati matahari terbit dan kumpulan awan di belakang kami. Terdengar seperti pembenaran? Okay, alasan lainnya yaitu track bebatuannya lumayan juga sodara-sodara. Intinya, waktunya tidak sebentar untuk mencapai puncak.

Sesampainya di puncak, yang lain langsung mencari spot untuk menikmati keindahan pemandangan dari Puncak Ciremai. Saya? Jadi korban untuk menyiapkan sarapan. Eventually, angin yang sangat kencang dan udara yang sangat dingin membuat kegiatan masak-memasak tidak optimal. Akhirnya bergantianlah kami menyiapkan sarapan masing-masing. Ide untuk masak ria di puncak sepertinya kurang bagus.

Tibalah di bagian saya menceritakan keindahan dari Puncak Ciremai. Beruntung sekali, langit pagi itu biru sekali. Jadi, dari puncak tertinggi di Jawa Barat itu, langit dan bumi biru hanya dipisahkan garis tipis horizon. Pemandangan ini saya nikmati saat saya berada di monumen sisi kiri. Dari sisi ini juga bunga-bunga edelweis menghiasi bibir tebing, tumbuh dengan cantik. Sedangkan kawah gunung, menganga lebar dikelilingi tebing yang curam, megah, masih tetap di sisi yang sama.

Pemandangan awan dari Puncak Ciremai


Tebing kawah dan gunung di kejauhan


Tebing kawah di sisi lain


Jalur setapak menuju salah satu sisi kawah


Edelweis yang tumbuh di sisi puncak

Lanjut ke sisi seberangnya, unlike previous place, tempatnya jauh lebih lapang. Di sini, merah-putih bertiang bambu berkibar oleh angin kencang. Background-nya hamparan awan putih. Jika memperhatikan jalur yang digunakan untuk mencapai tempat ini, adalah jalur berbatu dimana batuannya terlihat berlapis-lapis. Pokoknya seperti lapisan batuan yang di Grand Canyon itulah. Ya tapi jangan mengharap terhampar luas seperti yang disana. Not that wide, but it's quite impressive!

Monumen yang ada di puncak + Bendera Merah Putih


Bendera Merah Putih yang ada di puncak


Batuan yang ada di puncak


Batuan yang ada di puncak


Batuan lapis yang ada di puncak


Jalur setapak menuju sisi lain tepi kawah


Pulang

Turun gunung itu wajar kalau lebih cepat dari naiknya, ya iyalah ya. Tapi untuk pengalaman saya pribadi untuk gunung ini memang terasa cepat. Walaupun memang terpisah (tapi setidaknya tetap berpasangan), ritmenya termasuk cepat, dan jarak antar kami tidak terlalu jauh. Pick up hari sebelumnya yang mengantar kami, kami minta untuk menjemput pula. Nah satu hal yang memorable lagi adalah, sopir elf yang mengantar kami dari Terminal Maja- Cileunyi, bak jagoan Fast and Furious. Lebih ahli mungkin. Yang penting kami selamat sampai Cileunyi. Dan selamat pula sampai rumah sekitar pukul 3 pagi senin dini hari.

Bonus: Red Flower. Saat pulang. Di Pos I.