Sunday, September 15, 2013

Resign itu...

Resign itu...

Resign itu bikin galau. Tandas teman saya. Singkat, padat, jelas!

Pada awalnya, saya pikir mengundurkan diri dari suatu perusahaan itu hal yang mudah.  Hal ini karena sebelumnya saya lihat beberapa rekan saya yang baru dalam hitungan bulan sudah berganti pekerjaan. Kalau motivasinya soal gaji mungkin memang akan terlihat mudah untuk pindah tempat kerja dalam waktu yang relatif singkat. Lalu, bagaimana kalau sudah terperangkap dalam comfort zone di perusahaan tersebut?

Ketika menjadi karyawan dalam sebuah perusahaan, akan ada ikatan emosional antara diri kita dan perusahaan itu. Dan, ada beberapa faktor yang mendasari ikatan ini, kondisi lingkungan kerja yang membuat kita nyaman, nama perusahaan yang akan berkaitan dengan pride kita, atau mungkin uang which is salary. Ikatan ini akan semakin kuat seiring berjalannya waktu. Jadi, sekuat apapun hati kita berontak dan ada keinginan untuk resign, akan ada momen-momen untuk melihat kembali hal-hal ini. Sebagian dari kita mungkin akan berpikir, apakah kita kurang cukup bersyukur atas yang kita punya saat ini. Kalau sudah begitu, kita akan takut untuk melangkah. Jika demikian, selamat datang di comfort zone!

Well, it's just the introduction. Saya di sini hanya mau berbagi bahwa sekali waktu saya pernah memilih untuk berhenti dari suatu perusahaan. And, believe me! It was not easy to decide apalagi untuk pertama kalinya. Dengan segala pertimbangan atas apa yang telah saya lewati di belakang saya dan apa yang akan saya hadapi kedepannya nantinya.

Satu kata yang memiliki korelasi langsung dengan kata resign itu sendiri adalah pilihan. Yes, it is about to choose. In fact, we usually hear  that life is full of choices. Hal ini mungkin memang bukan pertama kalinya bagi kita untuk memilih. Tapi, bisa jadi, bagi sebagian orang, memutuskan untuk mengambil suatu pilihan tidaklah mudah. Lagi, pada kenyataannya, banyak hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan yang boleh jadi mempersulit kita untuk memilih. Apakah pilihan ini tidak bisa dipermudah? Tentu saja bisa!

Mempermudah untuk memilih itu bukan berarti meremehkan pilihan tadi. Kita harus berpikir bahwa hal itu masih menjadi salah satu pilihan yang penting dalam hidup. Hal pertama yang bisa meringankan adalah kembali ke persoalan bahwa hidup itu tentang pilihan. Ini bukan pertama kalinya kita memilih dan masih akan banyak lagi hal-hal yang mungkin lebih penting atau lebih sulit untuk diputuskan dalam kehidupan kita nanti ke depannya. So, don't you waste your time too much to think about it! Kalau sudah mendapatkan kecenderungannya, langsung eksekusi. Masih belum rela dengan apa yang akan ditinggalkan atau takut menghadapi apa yang dikhawatirkan? Come on! Waktu yang dipakai berlama-lama untuk memikirkan hal itu tadi bisa digunakan untuk hal lain yang lebih penting.

Lanjut, berikutnya adalah jangan sampai membandingkan diri kita dengan orang lain secara berlebihan. Saya kira sah-sah saja apabila melihat kondisi orang lain sebagai bahan pertimbangan untuk memilih antara resign atau tidak. Tapi jangan melakukannya secara berlebihan. Satu hal lagi, jangan sampai uang dijadikan patokan utama. Saat kita dilema, mungkin sudah jadi hal yang wajar kalo kita look up to other people. Latar belakang kehidupan masing-masing orang itu berbeda. Lagipula, hidup punya visi juga kan? Dan lagi-lagi ini pun berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. 

Nah disini, yang perlu diingat adalah visi dan kesesuaian diri. Pekerjaan apapun yang kita pilih seharusnya bersesuaian dengan visi hidup atau mimpi-mimpi kita. Jangan sampai malah menghambat. Kecuali, kalau memang mau mengubur mimpinya (mendingan ga usah mimpi dari awal deh :p). Kalau soal kesesuaian diri itu, terkait dengan rasa nyaman kita bekerja di suatu tempat. Jika misalnya, ada hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip kita, walaupun suatu perusahaan mendukung visi hidup kita, saya kira kita tidak akan produktif saat bekerja di dalamanya. Yang benar-benar mengetahui kadar kedua hal ini dalam diri kita adalah kita sendiri. Tiap orang kadarnya berbeda-beda. Jadi, kita tidak bisa serta-merta mencontek pilihan orang lain dalam pilihan yang sama. (Bisa aja mirip sih, asal ga dimirip-miripin :p )

Hal terakhir untuk mempermudah mengambil keputusan adalah percaya pada Allah. Kita sudah mempertimbangkan segala sesuatunya, menelaah diri berdasarkan pada pembelajaran orang lain, mengusahakan segala yang kita mampu, lalu apalagi yang terakhir kalau bukan kembali ke Yang Maha Memberi Kehidupan. Well, bisa saja orang bilang percaya dan menyerahkan kepada Allah tapi hatinya was-was, galau, dilema atau semacamnya yang berujung stress. Atau,  bisa jadi pola pikir rasional kita terkadang sedikit menghalangi untuk mempercayakan sepenuhnya. Walau rejeki  sudah diatur, tapi kan uang tidak lantas turun dari langit, pekerjaan tidak langsung datang menghampiri dengan sendirinya atau contoh-contoh yang lainnya. Pemikiran-pemikiran seperti itulah contohnya. Buat diri kita percaya sehingga melegakan hati dan pikiran sehingga menjauhkan dari depresi. Kesinilah arahnya. Sebenarnya saya tidak memaksakan untuk percaya penuh kalau memang dirasa sulit. Akan lebih terasa kalau memperoleh momennya tersendiri ketika mengembalikan diri ke Allah. Mau sepositif apapun pesannya, sesering apapun frekuensi diberitahunya, kalau dari dalam dirinya tidak ada keyakinan sedikitpun, ya sulit.

Oh iya, one more thing, once you believe, jangan peduli apa kata orang. Saya tidak bilang ini hal yang mudah. Tapi tentu bisa diusahakan. Asal hal yang kita lakukan itu benar dan kita sudah percaya sepenuhnya kepada Allah, butuh apa lagi? Aturannya simpel, lakukan hal yang baik, jangan ganggu urusan orang lain, tapi usahakan yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain. Mau bagus, mau jelek, orang-orang tetap membicarakan orang lainnya. You can never please society!

Well, itu sih sedikit pengalaman saya menghadapi salah satu percabangan dalam hidup. Kalau ada yang mendapatkan inspirasi ya Alhamdulillah. Tapi bagi saya, ini jelas jadi pengingat diri juga nanti kedepannya. Lastly, have you guys noticed that a good words is truly possible to come out from a bad guy:

We are who we choose to be, now choose! ~ Green Goblin