Thursday, October 3, 2013

Yuk Nyoba Papandayan 2665mdpl

Judul yang sama dengan grup whatsapp yang saya buat beberapa minggu lalu. Ya.. Mendaki kali ini ceritanya mendaki racun. Saya mengompori beberapa teman yang belum naik pernah naik gunung untuk mencobanya. Dan...berhasil! Beberapa teman kampus saya berhasil dihasut. Tidak seperti pendakian sebelum-sebelumnya yang selalu bertemu orang baru, kali ini murni dengan kolega kampus dulu. Pasti seru! (Eh pas di gunung ketemu orang baru juga ding, temennya temen :P )

Personil Pendakian

Terus pilihannya kenapa Gunung Papandayan? Ada yang bilang itu hiking becanda? Atau mendaki lucu-lucuan? Cuma mengakomodir permintaan anak-anak saja yang maunya gunung yang tidak terlalu susah. Dan katanya memang Papandayan adalah gunung untuk pendaki pemula, lalu diputuskan saja untuk mendaki Papandayan. Walaupun pendakian saya sebelumnya lebih menantang   tapi toh saya tidak peduli. Kali ini saya mendaki bersama teman-teman kampus dulu. Lagi, saya juga belum mendaki Papandayan. Tetap excited pokoknya. Pasti punya cerita tersendiri. 

Kampung Rambutan - Masjid Tarogong

Waktu janjian kami adalah pukul 9 malam di Terminal Kampung Rambutan. Batas atasnya adalah pukul 10 malam.  Dan luar biasanya, personil rombongan sudah lengkap sebelum pukul 10. Akhirnya, saya tidak merasakan jam karet ntuk kali ini. Salut! Padahal teman-teman saya ini pulang dari kantor. So, pukul setengah sebelas kami sudah berada di atas bus menuju Garut.

Sama lancarnya dengan berkumpulnya kami di Kampung Rambutan, perjalanan menuju Garut juga lancar. Sebelum pukul 3 kami sudah sampai di Masjid Tarogong. Di masjid ini kami sudah janjian dengan Kang Dede, sopir pick up yang akan mengantar kami. Tak perlu menunggu lama kami juga langsung menaiki pick up menuju starting point pendakian, Parkiran.

Dengan berangkat sepagi itu, sampai di parkiran jelas masih gelap. Padahal di pintu masuk Cisurupan sebelumnya sempat berhenti lumayan lama.  Sampai di parkiran kami mendapati kalau ternyata banyak juga yang mendaki hari itu. Banyak sekali malah!! Sambil menunggu hari terang, ada yang sarapan atau sekedar minum kopi di warung. Tidak lupa solat subuh dengan air super dingin. 

Parkiran, titik mulai pendakian.
Saat hari mulai terang, kami mulai dengan olahraga terlebih dahulu. Usai olahraga, ransel langsung terpasang di punggung, berdoa, dan mulai mendaki.

Parkiran - Pondok Salada

Tujuan kami adalah Pondok Salada, tempat dimana kami nge-camp nantinya. Berdasarkan info, seharusnya hanya sekitar dua jam untuk mencapai Pondok Salada. Pondok Salada ini seperti lapangan yang luas jadi cocok untuk mendirikan tenda. Selain itu, di dekat Pondok Salada ini ada sumber air. Jadi kalau stok air menipis bisa mengambil dari sumber air ini.

Jalur pendakian dimulai dengan trek bebatuan. Jalanannya lumayan lebar, seperti jalur buatan manusia. Untuk melalui trek ini tidaklah terlalu jauh. Setelah itu, jalurnya masih bebatuan tetapi berada di sisi (semacam) kawah yang mengeluarkan asap dan bau belerang. Dengan tambahan debu, sangat disarankan untuk menggunakan masker melalui jalur ini.

Sampai di akhir jalur, akan ada jalanan turunan. Jangan lupa untuk mengambil belokan kanan memasuki hutan kecil setelah turunan tersebut. Di sini, riskan sekali mengambil jalan lurus padahal seharusnya belok kanan. Keluar dari hutan kecil ini akan ada sungai kecil kemudian baru jalur menanjak. Di pertengahan jalur menanjak ini ada percabangan lagi. Jalur yang lurus untuk tanjakan curam dan berbatu sedangkan jalur ke kiri jalur landai tapi memutar jauh. Tapi, pada akhirnya kedua jalur ini tetap bertemu di sisi tebing. Jalur masih tetap bebatuan.

Akhir jalur bebatuan ini adalah jalanan yang diapit dua tebing. Melewati dua tebing ini ada pertigaan dan jalur kiri adalah jalur menuju pondok Salada. Untuk jalur ke kanan katanya jalur ke pemukiman penduduk arah pengalengan. Menembus hutan setelah pertigaan tadi, kami sampai di pondok salada.


Pondok salada

Perjalanannya ternyata memang cukup singkat, kurang lebih hanya memakan waktu dua jam dari parkiran bawah. Sampai di Pondok Salada jelas kami mencari tempat untuk memasang tenda. Walaupun memasang dua tenda, kami tidak kesulitan memasang tenda. Pondok Salada ini benar-benar seperti lapangan yang luas. Semakin siang, semakin banyak orang berdatangan. Benar saja, hari itu memang banyak sekali pendaki. Pondok salada pun dipenuhi tenda-tenda pendaki.

Pondok Salada

Vegetasi di sekitar Pondok Salada
Setelah itu, tentu saja kami mulai memasak untuk mengisi perut. Saat makanan siap kami makan bersama. Kemudian solat dan istirahat. Kami berencana menuju tegal alun sekitar pukul tiga. Jadi masih ada beberapa waktu untuk beristirahat. Oh iya, di Pondok Salada ini kami mendapat tambahan satu orang anggota. Teman kantornya teman saya (seperti yang saya bilang sebelumnya)

Ini jelas-jelas pengalaman yang berbeda bagi saya dibandingkan dengan pendakian sebelumnya. Di beberapa gunung sebelumnya, saya biasanya mulai mendirikan tenda saat sore menjelang malam. Sedangkan kali ini, tenda sudah berhasil berdiri sejak pagi. Bahkan punya waktu untuk istirahat.

Tegal alun dan Hutan Mati

Saya tadinya kaget kalau ke Papandayan tidak ada summit ke puncak. Berbeda sekali dengan pendakian sebelumnya, lagi-lagi. Dari Pondok Salada biasanya hanya dilanjutkan ke Tegal Alun, Padang Bunga Edelweis yang sangat luas. Ini pun masih dilakukan di hari pertama. 

Trek batuan menuju Tegal Alun. Dari sini juga terlihat Pondok Salada

Padang Bunga Edelweis di jalur menuju Tegal Alun

Pemandangan menuju Tegal Alun

Hutan di samping trek menuju Tegal Alun


Menurut info dari teman saya yang sudah pernah ke papandayan, jalur umum untuk menuju Tegal Alun adalah melalui hutan mati. Tapi, waktu itu, kami memilih jalur kanan yang melalui bebatuan besar dan hutan. Melalui jalur ini, kami sudah bisa menemukan padang bunga edelweis sebelum sampai Tegal Alun. Tepat sebelum Tegal Alun, ada hutan yang musti dilewati. Yang perlu diwaspadai adalah jalur yang kurang jelas. Mungkin karena jalur ini jalur yang jalan dilewati. Di hutan sebelum tegal alun, treknya juga kurang jelas. Jadi, mata kita musti awas dengan jalan setapak atau tanda yang dipasang di pohon oleh orang-orang sebelum kami. Sampai di padang bunga edelweis yang luas, di situlah Tegal Alun.

Di Tegal Alun, kami beristirahat sebentar. Tempat kami tiba semacam lapangan rumput yang luas dengan latar hutan. Di situlah kami beristirahat sejenak. Ritual foto tentu tidak ketinggalan. Di depan lapangan rumput tadi, terhampar luas tumbuhan edelweis dengan bunganya. Ini kali kedua saya menemukan pohon edelweis. Berbeda dengan saat di Ciremai, pohon edelweisnya termasuk pendek.

Rerumputan di Tegal Alun

Tegal Alun dengan latar padang Bunga Edelweis dan hutan

Vegetasi rumput di Tegal Alun

Istirahat di Tegal Alun 
Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri padang bunga edelweis tersebut. Kami memang berencana turun melalui jalur Hutan Mati, jalur yang berbeda dengan kita menanjak sebelumnya. Sampai di ujung Tegal Alun, kami menembus hutan. Setelah hutan ini, kami sampai di hutan mati. Tidak membutuhkan waktu lama ternyata. Dan jelas, lagi-lagi ini tempat yang tepat untuk mengambil foto. Selain berfoto, kami juga mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun malam hari nanti. Keluar dari hutan mati ini, kami sudah kembali mencapai Pondok Salada lagi.

Pemandangan Hutan Mati

Salah satu pohon di Hutan Mati

Trek melalui Hutan Mati


Sunrise

Di itinerary kami, tidak ada agenda untuk mengejar sunrise. Saya sempat kecewa karena momen menantikan matahari terbit itu keren sekali. Beruntungnya, saat berangkat saya sudah memperkirakan beberapa tempat yang sepertinya bagus untuk menikmati matahari terbit. 

Saya sudah bangun sedari pukul dua pagi. Bukan karena terlalu niat untuk mengejar sunrise tapi memang sudah tidak bisa tidur lagi. Kami tidur terlalu cepat dan mungkin tidak terlalu capek. Hawa paginya juga dingin sekali. Beberapa teman juga turut terbangun. Akhirnya kami menghangatkan badan dengan membuat minuman hangat.

Langitnya cerah sekali, bintang-bintang menampakkan diri dengan jelas. Sedari bangun tadi itu, selain menghangatkan badan dengan minuman panas, saya menikmati bintang, seperti biasanya. Mendekati waktu solat subuh kami mengambil wudhu ke sumber mata air dan mengambil beberapa botol untuk yang ada di tenda. Nah usai solat subuh, saya langsung kabur menuju spot sunrise. 

Awalnya ada tiga orang lagi yang ingin ikut mengejar sunrise. Di hutan sebelum pondok salada, saya kira spotnya bagus untuk menikmati sunrise. Ternyata terlalu sempit karena banyak pepohonan. Akhirnya saya lanjutkan ke jalur antara tebing. Hanya sendirian, karena yang lainnya tidak mau melanjutkan karena dikira jauh. Dan, tempat tersebut cocok sekali untuk menikmati sunrise.

Menunggu Matahari Terbit

Menunggu Matahari Terbit

Pemandangan sisi lain saat matahari terbit

Detik-detik matahari terbit

Tebing yang mengapit jalur saat terkena cahaya matahari terbit.


Sialnya, angin kencang sekali. Udara semakin dingin walaupun hari menjelang terang. Tiba-tiba belasan orang datang untuk melihat sunrise juga. Saya kira akan hanya saya seorang diri. Karena tertutup awan, matahari tak kunjung muncul, dan orang-orang tersebut pergi. Pada akhirnya tetap saya sendirian menikmati matahari terbit dari sisi Gunung Cikuray. Cantik!

Semakin tinggi matahari, saya langsung kembali ke camp. Biar bagaimanapun, saya hanya sendirian sedangkan yang lain masih di tenda.  Di tengah jalan saya bertemu teman-teman saya yang berada di spot yang ingin saya tempati sebelumnya.

Pulang

Setelah menghangatkan diri dengan matahari terbit, kami bergegas untuk berkemas pulang. Semua sepakat untuk turun tanpa sarapan. Jalur turun yang dipilih ternyata berbeda dengan jalur naik haru sebelumnya.

Jalur turun kami melalu Hutan Mati. Jadi kami harus menanjak terlebih dahulu kemudian turun dengan jalur curam. Yang perlu diwaspadai adalah menemukan jalur pulang ini saat di hutan mati. Jalurnya tidak jelas. Selain itu, musti hati-hati di turunan curam tersebut. Jalurnya terlalu curam dengan kerikil-kerikil yang licin. Tapi saya pribadi lebih suka jalur seperti ini. Toh lebih cepat. Tapi memang bukan jalur turun yang lazim dipilih.

Trek curam saat pulang

Setelah turunan ini, akan mencapai jalur batuan disamping kawah. Kalau sudah sampai kawah berarti sudah dekat dengan parkiran. Sesampainya di parkiran, kami sarapan dan mandi. Well, sepertinya airnya tidak layak digunakan untuk mandi karena panas sekali. 

Selanjutnya, kami menyewa pick-up sampai Cisurupan. Setelah break solat, kami menyewa angkot menuju Terminal Garut. Sampai di Terminal Garut, langsung mencari bus menuju Jakarta. Akhirnya kami sampai Jakarta sekitar pukul tujuh malam.

At last, saya mau berterima kasih kepada teman-teman saya yang mau meluangkan waktu bersama untuk sedikit berbahagia bersama (halah). Papandayan kemarin itu bukan lucu-lucuan atau becandaan kok. Tantangannya masih tetap ada apalagi seru-seruan barengannya. Thanks all dan Alhamdulillah selamat sampai rumah :)