Sunday, January 25, 2015

Saya Bersyukur, Atas Kelapangan Pikiran

Kemarin, entah dapat bisikan apa saya menonton ulang episode terakhir Avatar Aang meskipun minggu ini adalah minggu ujian. Sekalipun sudah menontonnya berkali-kali saya tetap tidak bosan. Apalagi waktu saya menonton kemarin itu. Semacam ada yang sesuai dengan apa yang saya rasakan belakangan ini. Di serial animasi itu, sang tokoh utama, Aang, harus menerima beban untuk menghadapi Raja Api Ozai yang akan menguasai dunia0. Anak sekecil itu. Ya memang sih itu tokoh fiktif. Tapi, untuk menerima beban seberat itu? Yak..saat saya menonton kemarin itu, saya merasakan poin betapa beratnya menanggung beban yang banyak menyita hati dan pikiran.

Kalau ditarik ke kehidupan dunia nyata, sudah menjadi keniscayaan manusia hidup dengan masalahnya masing-masing. Mungkin tidak seekstrim harus menyelesaikan keseimbangan dunia layaknya Avatar itu tadi. Masalah-masalahnya bisa dari yang level sederhana sampai level yang bikin stress, pusing tujuh keliling. Dan kalau itu berkutat di kepala terus-menerus? Well..sekalipun menurut anda melihatnya secara sederhana,plis jangan mempermudah itu terutama di depan orang yang mengalaminya. Seriously, you don't know what it feels. Setidaknya saat ini saya tahu saya tidak boleh bersikap seperti itu. Catatan tersendiri buat saya.

Kembali ke permasalahan saya, emm..sejujurnya sepertinya bukan permasalahan yang berat atau bagaimana. Bahkan bisa dibilang bukan permasalahan, tapi lebih ke khawatiran yang entah kenapa menyita pikiran saya terus-menerus. Saya kesal bukan main. Kenapa di saat-saat seperti ini saya harus mengkhawatirkan hal-hal itu. Saat ini sedang di masa ujian yang mana saya harus konsentrasi kesana. Logika-logika positif sudah saya sugestikan di kepala saya untuk meredam itu. Logika positif yang sangat masuk akal. Tapi itu tidak bisa mengobatinya. Lantas saya harus bagaimana?

Saya sudah mencoba membandingkan ke permasalahan-permasalahan manusia lain yang lebih besar. Di luar sana, ada orang-orang yang memiliki permasalahan finansial yang harus diselesaikan agar dirinya dan keluarganya tetap bertahan. Ada juga misalnya harus mendekam di penjara untuk beberapa tahun lamanya yang entah nanti hidupnya di masa depan akan menjadi seperti apa setelah kembali ke masyarakat. Atau terlibat dalam perang, drugs, trafficking, bahkan saya sampai berpikir kalau pemimpin suatu negara, termasuk di Indonesia sana saat ini, sedang pusing memikirkan apa yang terjadi di negaranya. Dibandingkan dengan saya ini, yang hanya seorang diantara tujuh milyar orang, yang memiliki masalah pribadi tanpa ada sangkut pautnya dengan kehidupan orang lain, kenapa pula harus terpuruk dalam pemikiran yang tidak jelas ini.

Dan kita sama-sama tahu, kemana kita lari kalau sedang menghadapi masalah, tentu kepada Allah SWT. Layaknya seorang yang sedang dalam kesulitan finansial meminta untuk segera diberikan rezeki, layaknya seorang narapidana yang berdoa semoga segera keluar dan nantinya dapat hidup normal dalam masyarakat, saya pun memohon kepada Allah agar kekhawatiran-kekhawatiran saya itu tidak terjadi di masa yang akan datang. Dalam doa saya, saya selalu memohon agar diri saya kuat untuk menghadapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan saya saat ini dan yang akan datang. Saya pun sadar betul, apapun yang terjadi itula yang terbaik bagi kehidupan saya. 

Lantas apa yang saya dapati? Pikiran saya masih dijejali kekhawatiran-kekhawatiran itu. Entahlah.. apa memang saya kurang meresapi segala logika positif saya sehingga tidak mempan semuanya itu untuk diri saya. Tapi, satu hal yang saya tidak boleh ragukan adalah bahwa Allah mendengar doa saya dan akan dibalas dengan balasan yang paling baik. Sehingga saya terus menerus berdoa seperti biasanya, dalam solat saya.

Sampai suatu ketika, dalam solat saya, saya sadar kenapa pula saya meminta untuk dapat melalui segala permasalahan dan kekhawatiran itu dengan baik. Ada hal paling dasar yang harus saya mohonkan. Saya harus berdoa agar pikiran saya dilapangkan untuk memikirkan semua hal yang berputar-putar di dalam pikiran. Hati dan pikiran saya harus tetap lapang menerima, sekalipun permasalahan itu besar atau kecil, sedikit atau banyak, tetap akan bernaung di kepala. Mau saat ini, hingga saya mati nanti. Sampai kapanpun itu dan terjadi pada siapapun. Sejak saat itu, selain memohon agar dipermudah dalam segala urusan, saya juga memohon dengan sangat agar diberikan kelapangan pikiran. Memang tidak lantas teratasi, saya pun tidak mengharapkan hasilnya seinstan itu. Kemudian, lambat laun Allah memberikan kelapangan pikiran itu. Dan saya tidak akan berani-beraninya menganggap ini sepele. Nikmat kelapangan pikiran itu, sangat luar biasa. Saya benar-benar harus mensyukurinya. 

Ketika kepala kita tidak dilelahkan oleh pikiran-pikiran yang ada, kita akan siap menghadapi segala permasalahan yang akan menghadang kita. Ketika kita menyikapi dengan penerimaan, berarti kita siap melangkah untuk menjalani kekhawatiran itu. Allah dengan sangat baik memberikan kelapangan pikiran itu, saya semakin yakin Allah akan mempermudah segala urusan yang akan saya hadapi nanti. 

Avatar Aang awalnya khawatir kalau-kalau harus menghadapi Raja Api dengan cara yang tidak dia inginkan. Namun, setelah menerima kenyataan itu, akhirnya dia mendapatkan cara yang paling baik untuk mengakhirinya. Dan kalau saya sudah mampu menerima segala kekhawatiran ini, saya kira saya cukup pantas untuk menerima hal yang paling baik dari Allah SWT.


Eindhoven, Di saat minggu ujian kuartil II.