Thursday, January 29, 2015

Gunung Pangrango: Salah Satu Perjalanan yang Paling Melelahkan

Lembah Mandalawangi


Beberapa hari lalu saya teringat satu perjalanan berkesan tahun lalu yakni saat mendaki Gunung Pangrango. Pendakian yang saya lakukan sekitar seminggu sebelum menjelajahi Pulau Lombok.



Satu perjalanan yang menguras waktu, tenaga, dan emosi. Pertama dan sekali-kalinya, hingga saat ini, saya merasakan pengalaman tersesat di gunung. Tapi, syukur alhamdulillah rombongan saya segera menemukan jalan yang benar sehingga kami bisa selamat sampai bawah.



Saat itu, saya pribadi memilih untuk mendaki pangrango karena penasaran dengan Lembah Mandalawangi yang terkenal itu. Perencanaannya termasuk lumayan cepat. Dan tahu imbasnya apa? Proses simaksi yang cukup merepotkan. Kuota untuk tanggal yang kami inginkan penuh sudah. Celah simaksi dapat kami akali karena kenalan,seorang ranger TNGP, yang mampu memberikan ijin masuk. Mungkin karena "kenakalan" inilah pada akhirnya perjalanan kami tersebut kurang beruntung. Mungkin.



Pendakian Berdurasi Lebih Dari 20 Jam



Sejauh ini,pendakian itu pendakian terlama kedua saya setelah Rinjani. Kalau dipikir-pikir lagi saya juga heran kok bisa selama itu. Yang bagian nyasarnya bukan pada saat mendaki ini padahal. Padahal lagi,waktu itu start pendakiannya pukul lima pagi. Baru sekitar pukul dua dini hari kami sampai di Mandalawangi. Untung saja berangkat sepagi itu. Kalau agak siang lagi, bisa-bisa sampai jam berapa. Energi semakin habis saja.



Kendala utamanya adalah beberapa teman kami ada yang cedera. Saya ingat betul,meskipun berangkat sepagi itu,sampai di Kandang Badak sudah sore saja. Sudah masuk waktu ashar seingat saya. Bahkan teman saya yang menyusul berangkat siang bisa sampai hampir bersamaan di Kandang Badak.



Kendala berikutnya ya selepas Kandang Badak ini ketika menyusuri jalur ke arah Gunung Pangrangonya. Saya sudah mendaki Gunung Gede,gunung yang berdampingan dengan Gunung Pangrango. Tapi, yang saya temui jalur Pangrango sepertinya lebih sulit dan terlihat seperti lebih jarang dilalui dibandingkan dengan jalur Gunung Gede.



Ketika hari semakin gelap, energi kami mulai terkuras juga. Belum lagi jalur yang semakin sulit karena minimnya penerangan. Kemudian mulai ada yang tidak kuat untuk membawa tas ranselnya sehingga harus dititipkan ke yang lain. Jelas saja tempo perjalanan kami melambat. Sekali waktu bahkan kami harus menggunakan webbing di jalur yang terjal dan licin.



Entah jalurnya memang panjang sekali atau energi yang semakin sedikit sehingga pergerakannya lambat,perjalanan malam itu terasa jauh sekali. Saat sekiranya sudah mau mencapai puncak pun,masih membutuhkan waktu antara satu atau dua jam (padahal besoknya saat turun hanya 15 menit, dan sepertinya beda jalur juga, saya kurang yakin). Beberapa kali kami menemui pendaki lain yang mendirikan tenda bilang kalau tidak jauh lagi untuk sampai puncak. Ya memang sih,ada porsi "menghibur" biasanya. Tapi saya benar-benar heran saat itu kok tidak sampai-sampai. Sepertinya sekitar tengah malam kami baru sampai puncak. Saya dan seorang teman saya tepatnya. Di sana, sambil istirahat kami menunggu yang lainnya. Kaki saya juga sudah mulai kelelahan nampaknya.



Rombongan kami memang akhirnya terpecah dalam beberapa kelompok. Setelah menunggu beberapa waktu, beberapa yang lain muncul. Daripada menunggu hingga orang terakhir, kami berinisiatif mencari jalan menuju Lembah Mandalawangi. Sebenarnya, tak satupun dari kami yang pernah kesana. Jadi masih kurang begitu yakin. Setelah ketemu, sementara yang lain masih beristirahat mengumpulkan tenaga di puncak, sebagian lainnya mendirikan tenda agar nanti bisa segera beristirahat. Sekitar jam dua atau jam tiga pagi barulah kami bisa berkumpul lengkap dan beristirahat. 


Kami sempat mampir ke Air Terjun Cibereum yang letaknya berada di jalur pendakian

Terdapat dua air terjun di Air Terjun Cibereum ini.



Lembah Mandalawangi



Pagi-pagi kami bangun, dibangunkan oleh dinginnya hawa dingin Pangrango. Meskipun tenaga terkuras banyak, tidak bisa kami tidur berlama-lama. Justru, harus bangun pagi biar bisa membuat sarapan dan mengisi energi lagi, ya kan? 



Lembah Mandalawangi kala itu tidak langsung bisa kami nikmati karena kabut tebal yang sedang turun. Saat saya memperhatikan sekitar, ternyata tidak banyak juga yang camp di sana. Lantaran kabut ini juga, saya tidak bisa mendapatkan momen matahari terbit. Matahari baru muncul saat kabut mulai turun. Padahal sudah capek-capek kembali ke puncak hanya untuk melihat matahari terbit ini. Akhrinya saya sadar, Pangrango bukanlah tempat untuk menikmati  matahari terbit. Dan kali itu memang hanya kami yang iseng dengan bodohnya mengejar momen itu, momen matahari terbit.



Kalau tidak mendapatkan momen matahari terbit itu, lalu apa? Jawaban saya dapati sekembalinya saya ke Mandalawangi. Usai kabut turun, lembah itu menjadi begitu mempesona. Dataran hijau terbuka dengan edelweis di beberapa sudut serta pepohonan hijau yang mengelilingi lembah itu membuatnya begitu indah. Lembah itu tidak begitu luas sebenarnya. Sementara di sisi barat ada bagian terbuka yang membuat kita bisa melihat cakrawala. Dikombinasikan dengan langit biru, saya mendapati perasaan menenangkan menikmati suasana itu. Menurut saya, Mandalawangi itu pemandangannya tidak wah atau menakjubkan. Tapi perasaan yang tenang dan damai itu yang membekas dalam ingatan saya. Kalau saya kembali ke sana nanti, pasti karena ketenangan ini. Bukan karena pemandanganya.


Pemandangan Mandalawangi saat baru memasuki lembah ini.


Di lembah ini , banyak ditumbuhi edelweis kecil-kecil yang tumbuhnya jarang-jarang.

Beberapa kali, kabut menyapu melewati lembah ini. Tapi itu hanya sebentar-sebentar saja. 

Di sekeliling Lembah Mandalawangi dikelilingi pepohonan hijau yang rindang.

Salah satu yang paling saya suka adalah birunya langit saat itu. 

Rerumputan Lembah Mandalawangi. Coba berbaring di atasnya dan menatap birunya langi. Sangat mendamaikan.


Tersesat Saat Perjalanan Turun



Jujur saya ingin berlama-lama di Mandalawangi karena suasananya. Tapi perjalanan harus disudahi dan saat sebelum tengah hari kami meninggalkan Mandalawangi. Setelah sempat berfoto-foto di Puncak Pangrango, perjalanan turun kami mulai.



Selain karena ini perjalanan turun, hari yang terang juga mempermudah pergerakan kami sehingga tempo perjalanan lebih cepat dibandingkan malam sebelumnya. Jalur yang kami lewati butuh berjam-jam sebelumnya, kami lalui dengan jauh lebih cepat. Sampai suatu ketika kami sadar ada yang salah dengan jalur yang kami lewati. Di malam pendakian sepertinya kami tidak melewati jalur itu. Jalur itu terlalu terjal serta licin karena guyuran hujan. Praktis kami harus mencari jalan terlebih dulu di tengah guyuran hujan itu. Padahal menurut perkiraan kami, sebentar lagi kami samapai di Kandang Badak. Kemudian, dengan bantuan salah seorang pendaki yang tidak sengaja kami temui, kami paksakan menembus jalur itu sehingga sampai di Kandang Badak. Kami tiba di Kandang Badak dari sisi lainnya. Jelas sekali memang saat itu kami nyasar.



Setelah solat dan istirahat sebentar, perjalanan turun kami lanjutkan. Target kami adalah melewati air panas sebelum gelap. Sayangnya, hanya beberapa yang bisa lewat sebelum gelap dan sisanya harus berhati-hati melewati air panas dengan jarak pandang yang minim. 



Setelah melewati ini, kami tinggal melewati jalur berbatu sampai bawah saja. Tapi kami sempatkan dulu untuk makan malam untuk mengisi energi. Dalam perjalanan turun, ada teman yang kakinya cedera lagi. Kami sepakat untuk berjalan santai dan bersama-sama saja asal sampai di bawah dengan selamat. Sekitar tengah malam, akhirnya kami sampai di bawah dengan selamat. Tidak kalah lama dengan waktu pendakian,haha..Alhamdulillah yang  penting selamat.