Thursday, January 2, 2014

Surabaya dan Solo, Karena Lombok Tidak Cukup

Menara Keraton Solo

Jadi.. waktu trip ke Lombok kemarin itu mau niat sekali backpackerannya. Sudah dapet tiket pesawat murah, kepalang tanggung kalau tidak sekalian. Tapi ya itu, saya tidak mendapatkan tiket pesawat yang murah dari Surabaya ke Jakarta. Rencananya saya mau naik kereta ekonomi saja. Karena anggap enteng, tiket kereta pun habis sudah dari beberapa sebelum hari berangkatnya. Lalu tiba-tiba saja saya berpikiran untuk naik kereta dari Solo atau Jogja karena traffic keretanya cukup ramai. Singkatnya saya turun pesawat di Surabaya, lanjut bus ke Solo, dari Solo baru berangkat ke Jakarta dengan kereta ekonomi. Terdengar repot? Saya pun heran apa ini karena ego untuk backpacker atau saya merasa tertantang atau benar-benar murni dorongan untuk irit. Yang pasti, saya sudah mengatur sedemikian sehingga persinggahan saya tidak hanya sekedar persinggahan.

Jadwal saya sampai di Bandara Juanda sekitar pukul tujuh malam. Dengan kondisi ini, pilihan bermalam saya ada dua, menginap di kost teman saya atau bermalam di bus menuju Solo. Akhirnya saya putuskan malam saya dihabiskan di bus saja. Karena, saya lebih memilih menghabiskan sedikit waktu yang ada di Solo nanti.

Setelah saya sampai di Surabaya, saya mampir ke kost teman saya terlebih dahulu. Sudah lama sekali saya tidak ke Surabaya. Jadi malam itu untuk membuat bukan sekedar persinggahan, saya berkunjung ke kos teman saya itu. Tapi, berhubung sudah malam pula, saya tidak sempat bermain-main di sana. Jadi hanya mengobrol saja dengan teman saya dan menumpang mandi di kos-nya. Satu hal yang paling penting adalah saya tidak melewatkan sate langganan saya dulu. Walaupun hampir tidak dapat, saya sempat membelinya saat akan ke terminal. Cukup buru-buru juga karena ke terminalnya akan diantar mobil kantor teman saya. Satenya sendiri akhirnya saya makan di terminal. Oh iya, kalau mau mencoba sate ini, silakan ke daerah kedondong sekitar jam sembilan malam. Tukang sate asal Madura ini sudah puluhan tahun jualan sate tersebut. And, I may say that sate itu jadi "bayaran" persinggahan saya di Surabaya.

Pagi di hari berikutnya, saya sudah sampai di Terminal Tirtonadi. Terlalu pagi malah. Jadi saya gunakan untuk tidur dulu sejenak di ruang tunggu. Setelah capek tidur dengan posisi duduk, saya lanjutkan dengan sarapan pagi. Saya tertarik soto yang ada di luar terminal yang saya tambahkan juga kepala ayam goreng, serius enak, TOP!

Lain halnya dengan di Surabaya, di Solo ini saya punya waktu lebih banyak. Karena jadwal kereta saya ke Jakarta sore, jadi saya bisa jalan-jalan di Kota Solo ini. Tujuan saya adalah Keraton Solo. Walaupun saya seringkali mengaku orang Solo, tapi jarang sekali saya pergi ke kota. Maklum rumah saya di pelosok, di kaki Gunung Lawu. Tapi akhirnya, saya berhasil mengunjungi Keraton Solo. Dari terminal tadi, saya menggunakan becak untuk mencapai keraton.

Sampai di keraton, saya tidak langsung masuk. Pintu masuknya masih ditutup dan tidak dijaga selain itu tidak terlihat adanya pengunjung lain yang masuk. Yang terlihat ramai justru alun-alun depan keraton. Namun, saya salah, seorang ibu penjual souvenir bilang kalau sudah buka. Jadi, tinggal beli tiket di loket dan langsung menerobos pintu masuk saja. Langsung saja saya membeli tiket dan bergegas masuk.

Pintu masuk kompleks keraton ini adalah suatu pendopo yang sangat luas. Di sini saya hanya melihat denah kompleks sebagai patokan saya nanti. Sayangnya saya tidak menemui penjaga keraton. Denah tadi menjadi satu-satunya referensi yang saya simpan di kepala saya.

Pintu Gerbang Masuk Kawasan Keraton

Bangunan Di Tengah Pendopo
Selanjutnya, saya harus melewat pintu gerbang. Melewati pintu gerbang ini lagi-lagi saya menemui semacam pendopo. Beruntung di tempat ini ada penjaganya untuk mengecek tiket saya. Selain itu saya diberi tahu kalau itu tiket tersebut adalah tiket terusan untuk bisa memasuki dua museum, Museum Keraton dan museum satu  lagi (yang tidak saya datangi).

Pintu Masuk Museum Keraton
Lanjut lagi, saya harus berpindah kompleks untuk sampai ke Museum Keraton. Peraturan yang diterapkan di museum ini adalah dilarang mengenakan sandal. Kalau ada yang mengenakan sandal harus dilepas. Tapi kalau pakai sepatu tidak perlu dilepas. Katanya, hal ini untuk menghormati pihak keraton. Sebelum mengunjungi tiap-tiap display yang ada di museum, saya masuk ke bagian dalam terlebih dalam dahulu untuk melihat keratonnya. Sebenarnya, pengunjung hanya bisa sampai ke halaman keraton dan tidak diperbolehkan untuk masuk, bahkan tidak sampai teras sekalipun. Hal-hal yang mungkin menarik perhatian adalah menara keraton, halaman yang ditanami pohon sawo kecik atau kalau beruntung ada prajurit keraton yang baris-berbaris, entah sebagai ikon wisata atau memang sedang latihan. Ada lagi yang menarik yaitu, patung-patung seperti ornamen ala eropa yang dipasang berjajar di depan teras keraton.



Teras Keraton

Salah Satu Patung di Teras Keraton


Setelah dari situ saya mulai memasuki ruangan-ruangan museum. Sebelum memasuki ruangan ada silsilah kerajaan yang dipajang di tembok. Saat memasuki ruangan, hal yang dapat kita lihat pertama kali adalah mengenai kepercayaan. Tapi lebih kepada kepercayaan Hindu-Budha yang mana dijelaskan lebih jauh lagi dari keduanya. Bahkan saya baru tahu ada beberapa jenis dari kepercayaan itu. Ke ruangan selanjutnya, display yang ditunjukkan adalah mengenai pernikahan. Next, adalah hal-hal yang berkaitan dengan seni. Di sini diperkenalkan jenis-jenis wayang dan tari tradisional. Hal-hal berikutnya adalah mengenai alat perang seperti keris, tombak selain itu juga ada peralatan rumah tangga. Ada juga alat transportasi. Tapi sepertinya alat transportasi keraton seperti kereta kencana atau bahkan yang ditandu oleh manusia. Ada juga kereta yang masih dianggap keramat yang sampai-sampai ada 'penjaganya'. Saya sempat dimintakan izin untuk berfoto dengan kereta itu. Padahal saya sendiri tidak tertarik untuk berfoto dengan kereta itu. Overall, seru juga berkeliling di museum ini. Sebenarnya ada museum satu lagi yang saya lupa namanya. Selain sudah capek, saya juga tidak tahu tempatnya.

Kereta Keraton

Saat menuju ke alun-alun yang ada kebo bulenya, ada es campur yang sepertinya enak untuk dicoba. Namanya Es Plengeh dan saya singgah di situ terlebih dahulu. Entah memang es-nya yang enak atau karena saya yang kecapekan. Setelah dari situ saya langsung menuju ke kandang kebo bule yang terkenal itu.

Kompleks keraton ini benar-benar luas sekali. Ketika saya lihat di google map ternyata sudah jauh sekali dari pintu masuk. Saya langsung bergegas untuk kembali. Oh iya, saya mengambil rute yang melewati Pasar Klewer, pasar yang dari dulu membuat saya penasaran seperti apa sih keadannya. Pun akhirnya saya hanya lewat saja. Setidaknya sudah sempat terobati rasa penasaran saya yang memang pasarnya ramai sekali. Melewati pasar itu, saya lanjutkan ke Masjid Agung untuk istirahat dan sholat. Bukan sekedar istirahat tapi tidur terlelap. Karena kecapekan.

Saya juga sedang menunggu teman saya di Masjid Agung itu. Jadi nanti teman saya itu yang mengantar ke stasiun. Setelah tidur beberapa lama, teman saya datang juga. Lumayan meleset dari perkiraan karena teman saya lupa jalan ke masjid itu. Walaupun dikejar waktu saya makan lebih dulu karena khawatir nanti tidak ada makanan di kereta nanti. Tiba-tiba saja mulai hujan dan saya mulai panik juga. Walaupun menunya enak sekali, saya tidak bisa menikmatinya karena terburu-buru. Selesai makan, kami menembus hujan untuk sampai di stasiun. Tiga menit sebelum jadwal kereta, saya baru sampai. Hampir saja saya ditolak check in. Akhirnya jalan-jalan saya resmi ditutup dengan hampir ketinggalan kereta.