Friday, December 20, 2013

Pantai Kuta - Pasir Merica, Monyet Penghuni Pantai, dan Anak-Anak Penjual Souvenir

Pantai Kuta*












Akhirnya, sekitar ashar waktu setempat teman-teman saya datang juga. Lengkap sudah rombongan jalan-jalan di Lombok ini. Perlu beberapa waktu dulu untuk melaksanakan solat ashar dan makan siang (yang telat) bagi teman-teman saya ini sebelum melanjutkan perjalanan. Memang ajaib lah maskapai singa terbang itu, sudah telat tiga jam cuma dikasih donat, katanya sih. Pilihan makan siangnya sama seperti makan siang saya sebelumnya. Enak dan dekat.

Selesai makan, kami langsung menuju Pantai Kuta. Dalam perjalanan sempat diskusi dengan bapak sopir kira-kira sempat ke pantai mana saja. Sayangnya, menurut si bapak, kami hanya bisa ke Pantai Kuta saja. Hal ini karena hari sudah sore, untuk ke pantai lain di pesisir selatan termasuk riskan. Kami memang sudah mendengar sebelumnya untuk menghindari pantai lain selain Kuta kalau sudah kelewat sore. Tentu saja kami tidak ingin membahayakan diri kami sendiri. Untuk Pantai Kuta ini sendiri pun ada pesan khusus yang disampaikan oleh Pak Jamanik untuk hati-hati dengan para penjual souvenir. Bahkan jangan sampai menjanjikan dengan sekedar bilang 'nanti' untuk menghindari mereka.

Lewat dari pukul empat kami sampai di Pantai Kuta. Karena memang sedang musim hujan, cuacanya sedang tidak bagus, mendung. Tapi kita tetap antusias, wong udah jauh-jauh dari Jakarta gitu. Langsung kami menghambur ke pantai.

Satu hal yang menarik perhatian kami pertama kali adalah butiran pasir yang besar-besar seperti merica. Salah kalau kita melepas alas kaki kalau telapak kaki kita tidak mau menginjak butiran pasir yang besar-besar itu. Dan itulah yang kita lakukan,haha..

Butiran Pasir Pantai Kuta*
Pantai Kuta ini ternyata memiliki garis pantai yang panjang. Ombaknya bukan termasuk ombak yang besar, padahal saya kira pantai-pantai yang menghadap Samudra Hindia akan memiliki ombak yang besar. Ada juga karang yang berada di tepi pantai, tempat dimana kita baru datang dan jauh di sisi kiri. Kalau di sisi kanan, sepertinya sisi barat, ada perbukitannya. Benar saja sebelumnya si Bapak Sopir bilang tidak ada sunset di Kuta karena tenggelamnya di balik bukit ini.

Karang tempat kami tiba
Sisi lain karang tempat kami tiba

The tourists **

Senja keunguan di Pantai Kuta

Karang yang ada di sisi kiri tadi menarik perhatian saya. Saya susuri pantai untuk mencapainya. Ternyata tidak sedekat yang saya kira apalagi gara-gara si pasir yang memperlambat jalan saya. Tiga orang teman saya mengikuti di belakang. Yang lainnya sepertinya juga, tapi akhirnya hanya empat orang dari kami yang sampai di karang besar tersebut. Oh iya, dua anak kecil penduduk setempat, penjual gelang, entah kenapa mengikuti saya juga. Saya mala minta diantar oleh mereka.

Saya tidak pernah mendengar ada monyet di Pantai Kuta dan kenyataannya pantai itu juga menjadi habitat para monyet. Untuk mencapai karang yang ingin kami tuju, harus melewati sedikit hutan bakau. Tidak saya sangka ternyata pepohonan bakau tersebut menjadi tempat para monyet. Saat kami lewat mereka malah turun dari pepohonan dan intimidating. Ngeri-ngeri seru juga sih, haha.. Dua bocah tadi, Muhdan dan War, quite helpful, setidaknya menenangkan kami dan memberi tahu untuk mencari ranting atau semacamnya untuk intimidasi balik dan sekedar jaga-jaga. Dan akhirnya kami sampai, bagian pantai dengan karang-karang yang besar.

Monyet-monyet penghuni mangrove
Karang besar di sisi kiri pantai

Perbukitan kecil disi kiri pantai, 
Benar sekali, bukan waktu yang cepat untuk mencapai karang tersebut. Waktu kami hanya sebentar disana karena hari beranjak gelap. Sama halnya kami datang, kami harus kembali dengan waktu yang cukup lama ke tempat semula kami tiba. Hanya berfoto sebentar lalu kami kembali.

Nah, ada pengalaman yang tidak mengenakkan dan musti diwaspadai kalau mengunjungi Pantai Kuta ini. Sebelumnya kami sudah diingatkan oleh sopir kami untuk berhati-hati kepada penjual souvenir. Ternyata penjual yang dimaksud adalah anak-anak kecil, tidak seperti yang saya bayangkan. Dan entah bagaimana salah satu teman saya terkena 'jebakan' cuma gara-gara kelepasan bilang 'nanti'. Jadilah kemanapun kami pergi mereka pun mengikuti, benar-benar annoying. Walaupun sebisa mungkin kami tolak dengan baik, they just stayed. Bahkan yang cukup mengagetkan adalah kata-kata yang tidak baik mereka ucapkan which is tidak pantas diucapkan oleh anak-anak sekecil itu. Akhirnya, teman saya memberi uang tanpa mengambil souvenirnya. 

Beda lagi dengan dua anak-anak lain mengantar saya tadi. Saya sadar sih mereka penjual gelang juga. Tiba-tiba saja saat saya menuju karang di sisi kiri yang jauh mereka mengikuti, tidak seagresif itu menawarkan dagangan mereka. Saya pun hanya bertanya apakah mau ke karang yang saya tuju dan mereka mengiyakan. Kami ngobrol panjang lebar membahas banyak hal sepanjang perjalanan menuju karang dan tak sedikit pun mereka menyinggung saya untuk membeli souvenir, jauh berbeda sekali dengan yang saya lihat sebelumnya. Saya pun dalam hati akhirnya berkeinginan untuk membeli gelang dari mereka saat balik nantinya. Dan pada saat kami akan kembali, mereka berdua baru mengutarakan meminta saya untuk membeli gelang. Awalnya saya bilang kalau saya tidak mau dan sepertinya mereka menerima. Tapi memang sudah ada niatan mau beli ya akhirnya saya beli. Terlepas apakah itu adalah 'cara' mereka, setidaknya pendekatan mereka lebih baik dibandingkan anak-anak sebelumnya. Tentu saja hal ini memberikan impression yang baik pula dan tidak semua penjual-anak-kecil-pantai ini semuanya seburuk itu.

Muhdan dan War, anak-anak penjual souvenir