Wednesday, May 1, 2013

Kawah Putih Ciwidey nan Menawan

Finally, here we go, another getaway of mine...

The members
Perjalanan kali ini adalah perjalanan bersama teman-teman kantor saya di daerah Bandung yaitu Kawah Putih, Ciwidey. Sebenarnya bisa dibilang ini adalah jalan-jalan "sambil menyelam minum air" karena trip-nya sendiri trip colongan di tengah-tengah job hunting *ups*. Well, yeaa, saya dan beberapa teman memang kompakan untuk mengikuti job fair sekaligus merencanakan jalan-jalan. So, tidak sepenuhnya terdengar sebagai 'anak nakal' kan? :D

Dua hari penuh kami di Bandung, hari pertama direncanakan untuk menghadiri acara jobfair sedangkan hari kedua untuk eksekusi jalan-jalan colongan tersebut. Saya rasa cerita hari pertama tidak perlu disebutkan di sini walaupun ada sedikit cerita "jalan-jalan ga jelas" di kota Bandung itu sendiri. Mungkin nanti saya simpan untuk diceritakan di lain kesempatan. Dan, mari lanjut ke cerita utama-nya, cerita hari kedua.

Kita mulai dari persiapan terlebih dahulu. Sebenarnya, bahkan sampai H-1 kami tidak mempersiapkan bagaimana nantinya mencapai Kawah Putih itu sendiri. Kami hanya memiliki tujuan Kawah Putih tanpa ada persiapan matang. Belum ada kepastian malam itu akan bermalam di dekat Kawah Putih atau akan menuju sana esok harinya. Teman saya sangat merekomendasikan untuk bermalam di kawasan Kawah Putih saja, selain karena dekat pemandangannya bagus, ada sumber mata air panas,  plus tidak perlu repot-repot menginap di rumah teman kami. Akan tetapi, ketika  dicek by phone, semuanya full booked. Sangat masuk akal karena waktu itu adalah weekend. Jadi, kalau ingin bermalam di daerah ini (kalau tidak salah namanya daerah cimanggu) sebaiknya dipesan jauh-jauh hari. Karena opsi pertama gagal, berarti kami harus merepotkan teman kami untuk tinggal di rumahnya kemudian menuju Kawah Putih esok harinya. Dengan apa menuju Kawah Putih? Kami berencana untuk mencharter angkot. Kami berencana untuk bertolak dari rumah teman kami pukul 7 pagi.

Well, rencana tinggal rencana, apalagi tinggal di Indonesia, pasti ngaret dong ( kidding :p ), that morning was really messed up (tapi seru euy..) Pukul tujuh beberapa orang masih mengantre mandi. Mau bagaimana lagi hawa Bandung memang membuat orang jauh-jauh dari air waktu pagi hari. Untungnya waktu itu saya mandi pukul 5 pagi,brrr (keren kan? *sesumbar* :p). Ada lagi yang lain mencari sarapan sekaligus mencari angkot untuk dicharter. Yang lain lagi, seperti saya, duduk manis di depan TV. Sekitar sejam kemudian, we're all set up, mandi sudah, sarapan sudah, angkot sudah menunggu di depan rumah, ready to go.. !!(Bagi yang ingin mempunyai referensi charteran angkot, untuk 8 orang waktu itu kami kena charge 330ribu. Saya kurang begitu tahu ini termasuk murah atau mahal karena tidak tahu pasaran harganya)

Tanda Masuk Kawasan Kawah Putih
Berdasarkan info dari teman saya, perjalanan diestimasi sekitar dua jam. Walaupun naik angkot, menurut saya tidak seburuk itu. Apalagi kalau perjalanan bersama teman-teman, apapun kondisinya pasti tetap menyenangkan,bukan? Pilihan menggunakan angkot ini saya rasa sangat tepat terutama jika menginginkan budget yang sedikit dengan massa yang banyak. Selama selang waktu dua jam kami habiskan untuk mengobrol, singing together dan pastinya tidur mengingat hari sebelumnya cukup melelahkan. Hal yang perlu diwaspadai ketika melakukan perjalanan saat akhir minggu adalah macet. Beruntung kami hanya mendapati sebentar saja. Sehingga, dalam waktu sekitar dua jam kami benar-benar mencapai Kawah Putih.

Sekitar pukul 10 lebih kami tiba di tempat tujuan kami, Kawah Putih Ciwidey. For your information, tiket untuk memasuki Kawah Putih adalah 15 ribu rupiah per orang. Tiket ini dibeli 5km sebelum memasuki kawasan wisata. Perjalanan 5 km ke kawasan wisata dapat ditempuh dengan kendaraan sendiri atau menggunakan kendaraan yang disediakan oleh pengelola. Apabila menggunakan kendaraan yang disediakan dikenakan biaya 25 ribu rupiah per orang. Tapi, kami memilih untuk membawa serta angkot ke atas dengan tambahan biaya 150 ribu rupiah. (silakan dihitung.. akan lebih murah membawa mobil ke atas jika rombongan lebih dari 6 orang :D )

Sunny day, cool weather, I think it was perfect! Langsung saja kami menghambur turun dari angkot. Beberapa dari kami antre dulu di kamar mandi sebelum 'terjun' ke kawah. Satu hal yang menarik perhatian saya, which is good, adalah ada semacam medical center untuk penanganan pengunjung yang sangat mungkin keracunan belerang. Ya...Kawah Putih ini memang mengeluarkan gas belerang. Papan peringatan pun dipasang sebagai langkah preventif. Jempol!!

Memasuki Kawah Putih kami tak perlu dikhawatirkan masalah tiket lagi (karena sebelumnya saya pikir begitu). Jadi tinggal masuk saja mengikuti jalur yang ditunjukkan. Jalur masuk dan jalur keluar kawah dibedakan tersendiri jadi lebih terorganisir. Lagi-lagi papan pertunjuknya sangat memudahkan. Sebelum menuruni tangga menuju kawasan kawah, kami pun disambut oleh lantunan musik dari kecapi.

Pemain Kecapi

pemandangan kawah putih

pemandangan kawah putih

pemandangan kawah putih


pemandangan kawah putih

Pada saat menuruni tangga menuju kawah, keindahan kawah putih mulai terlihat di balik pepohonan. Sesampainya di ujung turunan, hamparan danau kawah bernuansa hijau tosca membentang. Yang membuat tempat ini dikenal Kawah Putih adalah hamparan tanah yang bersisian dengan danau tesebut. Diseberang danau terlihat semacam bukit. Lengkap sudah pemandangan indah disana, danaunya, hamparan tanah disisi danau, bukit di seberang, dan pepohonan yang cukup unik.

Berdasarkan arah jalurnya, kami diarahkan ke sisi kiri (dari arah datang). Seperti yang telah diperingatkan oleh papan petunjuk, gas belerang langsung menyeruak. Oh iya, apabila ingin menggunakan masker, sebelum memasuki kawasan ada penjual masker. Saya sendiri kurang tahu harganya karena tidak membeli. Saat itu, kalau baunya menyengat saya menggunakan jaket untuk menutupi hidung,hehe..Jika ingin menyiapkan lebih awal dan khawatir harga masker yang dijual di sana mahal, bisa saja membeli sebelum berangkat.

Di sisi kiri ini, kami mengambil beberapa foto. Ada terdapat beberapa spot yang bagus untuk berfoto. Hal yang perlu diwaspadai banyaknya pengunjung yang datang. Hal ini akan membatasi kita untuk mengambil foto mungkin tidak mendapatkan spot yang diinginkan, musti mengantre, atau kemungkinan munculnya 'objek-objek' yang tidak diinginkan dalam foto kita. Kenapa saya sangat concern mengenai foto-memfoto karena memang inilah yang menjadi nilai jual tempat wisata ini. Mungkin ada baiknya kalau melakukan perjalanan saat weekday yang less crowded.







Selesai di sisi kiri, kami menuju sisi kanan. Di sisi kanan kawah lebih sedikit 'tanah-putih'-nya. Pinggiran danau langsung banyak area pepohonan. Pada saat menuju sisi kanan ini, cuaca mendadak mendung dan gerimis. Tentu saja kami percepat 'ritual ambil foto' di kawasan ini. Dan memang hanya satu spot yang kita ambil. Oh iya, dalam perjalanan menuju sisi kanan ini, terdapat gua yang katanya peninggalan belanda. Tapi, harap hati-hati juga karena gua ini juga mengeluarkan gas belerang (ada papan peringatannya). 

Sekitar pukul 12 kami kembali menuju angkot untuk pulang. Kami bergegas karena saya harus mengejar bus ke Semarang dan teman lainnya mengejar kereta ke Jakarta. Pun memang dijadwalkan untuk pulang sekitar makan siang. Apalagi, cuaca sepertinya tak kunjung membaik.

Acara jalan-jalan colongan ini pun ditutup dengan unexpected traffic jam. Oh God!! Jadwal makan siang bersama gagal total karena mengejar waktu masing-masing. Beruntungnya, kami masih on schedule.