Wednesday, April 17, 2013

Bagaimana Cara Membuat Surat Keterangan Bebas Narkoba?

Pertanyaan itu seketika terlintas pada saat saya diwajibkan memberikan Surat Keterangan Bebas Narkoba ( selanjutnya akan saya sebut SBN) dalam application saya ke suatu institusi. Sebagai masyarakat modern yang sudah kenal mbah google (halah) refleks saya langsung googling. Sialnya, tidak banyak artikel atau blog yang mengulas tata cara membuat SBN ini. Setidaknya saya ingin mengetahui lokasinya saja untuk daerah Jakarta atau sekitarnya . Usut punya usut saya hanya menemukan satu blog yang menjelaskan dengan cukup baik. Sisanya hanyalah komentar-komentar yang kurang menjelaskan secara terperinci.

Dari blog yang saya temukan tersebut saya diarahkan ke Rumah Sakit Fatmawati (berdasarkan pengalaman si penulis blog). Tapi saya tetap mencari kemungkinan yang lebih mudah bagi saya. Dari beberapa komentar-komentar yang saya baca rumah sakit yang lain yang memberikan pelayanan SBN ini yaitu Rumah Sakit Polri Sukanto yang berlokasi di Kramat Jati, Jakarta Timur. Walau tanpa 'bekal' yang cukup saya putuskan untuk menuju rumah sakit ini. 

Pada awalnya saya ke RS Sukanto ini pada hari selasa. Dan ternyata, untuk pelayanan SBN tidak tersedia pada saat hari selasa. Untuk melakukan tes bebas narkoba ini hanya dilayani pada hari senin, rabu, dan jumat saja. Untuk jam kerjanya, berdasarkan info resepsionis sesuai dengan poli umum. Yang pasti ketika itu saya disarankan untuk datang dari pagi (dan ini akan sangat membantu-nanti akan saya jelaskan lagi) saja karena prosesnya cepat- sehari jadi. Jadi perlu dicatat baik-baik jadwal pelayanannya kalau tidak ingin gigit jari seperti saya.

Keesokan harinya, saya kembali ke RS Sukanto dan benar saja pelayanan untuk membuat SBN dibuka (yaiyalah kalau tidak saya akan ngomel2 ke mbak resepsionis). Namun, saya tidak menjalankan saran mbak resepsionis untuk datang pagi malah saya baru sampai sekitar setengah 12 siang. Sampai di rumah sakit, saya bertemu dengan resepsionis sebelumnya dan dia khawatir apakah masih buka atau tidak poli jiwa- poli untuk melakukan tes bebas narkoba ini. Tapi mbak resepsionis menyarankan untuk langsung saja dicek ke loket pendaftaran. Sampai di loket pendaftaran pun, penjaganya juga khawatir apakah masih buka atau tidak. Kemudian dia melakukan konfirmasi by phone ke poli jiwa. Dari sini, saya simpulkan bahwa memang yang paling safe adalah datang sedari pagi. Dan saya tidak mengindahkan saran mbak resepsionis. Beruntungnya saya masih mendapat pelayanan mengurus SBN ini.

Oke lanjut,, saya sudah sampai di loket pendaftaran dan melakukan pendaftaran. Saya kurang tau alasannya apa, tapi yang pasti saya diarahkan ke loket pendaftaran poli umum-loket 6 oleh resepsionis. Di loket ini, sebagai bentuk pendaftaran, diharuskan mengisi form kecil terlebih dahulu yang kurang lebih menyatakan data pribadi dan poli yang dituju, dalam hal ini poli jiwa tadi. Selanjutnya, sebagai biaya pendaftaran akan dimintai uang sebesar 60 ribu rupiah. Saya menduga-duga biaya ini terdiri dari pendaftaran untuk poli umum 50 ribu dan kartu berobat 10 ribu. Dugaan ini berawal dari tempelan info yang ada di depan loket. Tapi, pada akhirnya saya juga tidak memperoleh kartu berobat. Simply, dugaan ini tidak valid. Kalau mau lebih jelas silakan ditanyakan langsung ke penjaganya. Tambahan lagi, sepertinya biaya pendaftaran akan lebih murah kalau menggunakna askes. Hal ini dikarenakan, mbak resepsionis sempat mempertanyakan apakah saya sebagai pasien umum atau pengguna askes. Selain itu, info yang ditempel di loket menunjukkan bahwa pengguna askes hanya dikenai biaya 30 ribu rupiah saja. Sekali lagi ini kurang valid karena saya hanya menduga. Silakan dikonfirmasi lebih lanjut lagi untuk kepastiannya. Satu lagi, sangat mungkin akan ditanyakan tujuan membuat SBN ini. Dan dari hal ini juga saya tahu kalau pada saat itu banyak bacaleg yang mendaftar SBN :D *ga penting*

Lanjut lagi,, setelah memperoleh kuitansi pembayaran saya disuruh untuk menuju poli jiwa. Poli jiwa ini sendiri lokasinya di lantai dua. Di sini ternyata saya tidak langsung melakukan test. Disini seorang suster akan mencatat biodata kita (berdasarkan KTP, jadi mohon disiapkan KTP-nya juga). Selain itu, kita juga diberikan selembar form yang harus diberikan ke laboratorium dan disarankan untuk "gerak cepat" saja. Selanjutnya saya kembali ke lantai satu  ke loket laboratorium. Di sini pun hanya melakukan pencatatan sebentar dan selanjutnya saya disuruh untuk kembalik ke loket (loket pendaftaran awal tadi) untuk melakukan pembayaran test laboratorium. Kemudian, saya melakukan pembayaran sebesar 160 ribu rupiah dan kembali ke loket laboratorium untuk menunjukkan kuitansinya.

Setelah dikonfirmasi oleh loket laboratorium, saya akan melakukan test bebas narkoba. Tes-nya sendiri menggunakan urine sebagai spesimennya. Sebelum melakukan tes saya disuruh untuk menunggu di ruang tunggu. Karena antriannya tidak banyak, tidak lama setelah saya memasuki ruang tunggu, saya dipanggil. Selanjutnya saya diberikan tabung tempat urine dan diantar bapak dokter ke kamar mandi untuk mengambil sampel. Di sini lah yang menyebalkan, pengambilan sampel urine harus dilihat oleh dokter (diawasi dari belakang) dan saya termasuk orang yang risih ketika kencing dan diperhatikan orang. Jadilah, saya tidak berhasil kencing pada saat itu dan ditunda (siall..) Dokter sendiri menyarankan kepada saya untuk minum terlebih dahulu karena tesnya memang mau tidak mau menggunakan urine. Kalau hari  itu saya tidak berhasil ya harus di hari berikutnya. Seketika saya mencari air mineral dan langsung saya tenggak satu botol 600ml air putih tersebut. Akan tetapi, hal tersebut tidak membantu banyak karena hasrat untuk buang air kecil tidak kunjung datang. Setelah kira-kira setengah jam, saya meminta dokter untuk mencobanya sekali lagi. Percobaan kedua tidak berjalan dengan lancar, tapi yang terpenting urine saya keluar (yeay..) Tapi, hampir saja direject karena terlalu sedikit (damm*t!!). Namun, si dokter akan mencoba mengecek hasilnya mudah-mudahan bisa. Dari sini saya sarankan, untuk melakukan tes narkoba yang menggunakan urine sebagai spesimennya harap diperhatikan bahwa anda termasuk orang yang mudah buang air kecil dalam kondisi diawasi. Jika tidak, mungkin dari beberapa waktu sebelumnya kencing, atau minum air sebanyak-banyaknya atau apapun yang akan membantu buang air kecil. Atau mungkin, perlu datang pagi hari sekali (seperti yang saya singgung sebelumnya) karena pada saat pagi hari akan sangat mudah buang air kecil kan? :D

Setelah berhasil memberikan urine kepada dokter, kita tinggal menunggu hasil dari lab saja. Untuk menunggu hasilnya ternyata tidak di laboratorium tetapi harus kembali ke poli jiwa. Setelah menunggu sekitar 15 menit, hasilnya diantar ke poli jiwa. Disini suster akan mengisi form lagi untuk kemudian diberikan ke kita. Selanjutnya, tibalah kita di proses terakhir yakni dicek oleh dokter poli jiwa (mungkin anda akan bingung, karena dokternya berpakaian  polisi :D ) Oleh dokter ini, waktu itu saya ditanya apakah kenal narkoba, kemudian saya jawab kalau saya tahu dari info atau berita yang beredar di media. Selanjutnya akan dicek lengan dan leher, sepertinya untuk mengetahui semacam bekas suntikan atau apalah. Kemudian dokter menyatakan "clear". Pengecekan dokter poli ditutup dengan pertanyaan tujuan SBN tersebut. Setelah dijawab, akan diapprove SBN dengan tanda tangan dokter di SBN tersebut.

Sekitar setengah satu siang, akhirnya saya memperoleh SBN saya yang terdiri dari dua jenis form. Apabila ingin memperoleh legalisir, suster menyarankan untuk fotocopy sekitar tiga lembar dan dibawa ke bagian dokpol untuk proses legalisasi. Akan tetapi saya tidak melakukan legalisir untuk SBN tersebut, jadi saya kurang mengetahui prosesnya.

Secara keseluruhan proses pembuatan SBN mudah dan cepat karena saya hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam saja. Petugas-petugasnya juga ramah dan profesional, bahkan saat itu jam makan siang dan entah kenapa mereka tidak makan siang malah mengurus dokumen saya. Dokter poli pun 'feeling sorry' karena lama menunggunya. Untuk biaya, saya kira relatif, yang pasti jelas uangnya dan tidak perlu 'uang macam-macam'.

Demikian tata cara pembuatan surat keterangan bebas narkoba (SBN) berdasarkan pengalaman saya. Di tempat lain bisa jadi berbeda. Semoga membantu :)


UPDATE!! Sepertinya ada sedikit perubahan sebagaimana yang disampaikan teman-teman di bagian komentar. Silakan cek bagian komentar untuk lebih jelasnya. Terima kasih bagi yang telah memberikan info updatenya :)